
"Kamu nggak salah mengatakan itu semuanya. Jujur saja Adelia sangat syok sekali mendapati sebuah kenyataan tentang ini semua," jawab Gio yang menatap wajah sang adik bingung.
"Aku juga sependapat sama Kak Gio. Jika disembunyikan masalah ini, kemungkinan besar Adelia mendapat masalah berat. Kamu tahu kan kalau keluarganya Tutik itu memiliki ambisi untuk menguasai seluruh aset Kurumi," sahut Winda.
"Aku takut Adelia akan marah," ucap Lampard sambil menatap langit-langit.
"Aku yakin Adelia tidak akan marah. Justru kita sudah memberitahukan terlebih dahulu. Jika terjadi serangan terhadap dirinya, Adelia bisa membuat ancang-ancang agar menghindari amukan keluarga gila itu," kata Winda.
"Jujur saja posisi mereka sangat sulit sekali. Aku tidak tahu apakah mereka mampu bertahan atau merekalah yang merebut semuanya," kata Lampard.
"Kamu tahu bagaimana Alexa mengamuk?" tanya Gio.
"Apa hubungannya dengan Alexa?" tanya Lampard balik.
"Sebentar lagi Alexa akan mendidik mereka untuk menjadi wanita tangguh. Aku yakin Alexa mampu mengubah mereka menjadi wanita pemberani," jawab Gio yang membuat Lampard melotot sempurna.
"Apakah kakak yakin soal itu?" tanya Lampard.
"Kamu pernah mendengar cerita tentang malam pertama mereka? Pas waktu itu Martin masih tidak beres otaknya. Malam pertama Martin di banting oleh Alexa. Bayangkan saja Alexa memiliki tubuh mungil bisa membanting Martin begitu saja," jawab Gio yang membuat Winda menganggukkan kepalanya.
"Untung saja aku tidak menikahi Alexa," ujar Lampard yang membuat Gio menganga lebar.
"Kenapa ya kita tidak menjodohkan Alexa sama Lampard? Betapa bodohnya Aku menjadi seorang ibu," kesal Winda yang membuat Lampard mulai terpojok.
"Meskipun Kakak menjodohkan aku dengan Alexa. Hanya dalam waktu beberapa nol koma nol detik aku akan menolaknya," sahut Lampard yang tidak mau dijodohkan dengan Alexa.
"Kamu benar. Aku juga menjadi pria bodoh di hadapan Lampard," kesal Gio.
"Kalau begitu saya terima kasih banyak. Untunglah Martin yang menjadi korban utamanya," balas Lampard yang tersenyum mengembang sambil meledek kedua kakaknya itu.
Setelah berbincang bersama Winda, Adelia berlari untuk menuju dapur. Ia memutuskan untuk menemui Stella. Namun Ian langsung mencegahnya dan memeluk Adelia.
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apa Del?" tanya Ian yang merasakan sang kekasih bersedih.
"Aku tidak apa-apa. Tapi hatiku sakit. Kenapa Ibu tidak mau cerita soal ayah dan kedua saudaraku itu," jawab Adelia sambil menatap wajah Ian.
"Ibu tidak salah sama kamu. Cepat atau lambat pasti ibu cerita. Tapi kami sengaja mendahuluinya. Karena hidupmu dalam bahaya. Cepat atau lambat keluarga tantemu akan menghabisi keturunan Kanagawa. Aku harap kamu mengerti soal itu. Aku harap kamu tidak kecewa dan tidak marah terhadap ibumu," pinta Ian.
Yang dikatakan Ian dan Lampard benar adanya. Tidak seharusnya Adelia marah. Ibunya sengaja merahasiakan masa ini agar anak-anaknya selamat dari bahaya.
Di sisi lain sang ibu juga mencari keberadaan kedua anaknya itu. Namun apa daya dirinya belum bisa mencarinya. Anita belum bisa pergi ke Jakarta. Menurut informasi dari temannya, keluarga Tuti semakin bengis saja. Mau tidak mau Anita mengurungkan niatnya.
"Aku ingin pulang ke rumah ibu dan memberitahukan sesuatu. Aku menemukan saudara kembarku," pinta Adelia.
"Kamu bisa pulang sekarang. Tapi, Bagaimana si kembar yang akan mencarimu? Ditambah dengan sang tuan muda mu itu?" tanya Ian yang membuat Adelia tersenyum bahagia.
"Ah rasanya... Aku ingin bertemu mereka. Aku sudah rindu kepada mereka. Boleh ya aku pulang?" tanya Adelia ke Ian.
"Sembuhkanlah wajahmu itu. Wajahmu masih bengkak dan membiru. Nanti mereka akan kabur melihatmu karena ketakutan," jawab Ian yang mulai tertawa.
Adelia sangat kesal sekali terhadap Ian. Bisa-bisanya Iyan mengatakan itu tanpa ada salah sama sekali. Namun Adelia sangat mencintai Ian begitu juga dengan sebaliknya. Mereka berdua berharap bisa menikah secepatnya.
"Apakah kamu tidak mau ketemu dengan Stella?" tanya Ian.
"Apakah Stella mau menerimaku?" tanya Adelia takut.
"Kenapa kamu takut seperti itu? Bukankah kalian sudah mengikat janji di bawah pohon mangga milik tuanmu itu? Bahkan janji itu membuat kalian tidak terpisahkan?" tanya Ian yang membuat Adelia terkejut.
"Semoga saja setelah tidak takut sama aku lagi. Kakak tahu kan masalah wajahku ini kayak monster," jawab Adelia.
"Kalau begitu ayo kita temui," ajak Ian sambil menggenggam tangan mungil Adelia.
Kedua makhluk berbeda jenis itu melangkahkan kakinya menuju ke Stella. Di sana Adelia melihat adik kembarnya meringis kesakitan. Ia tidak tega melihat sang adik kesakitan seperti itu. Kenapa ini harus terjadi? Satu kalimat yang berada di hati Adelia.
__ADS_1
"Aku tidak tega melihat adikku seperti itu," bisik Adelia sambil memejamkan matanya.
"Tulang ekornya dan tulang punggungnya terkena peluru secara bersamaan. Sampai sekarang luka itu belum kering. Tapi syukurlah Stella tidak menjadi lumpuh. Kemungkinan besar beberapa minggu ke depan Stella akan baik-baik saja," ujar Ian.
"Adelia," panggil Lampard sambil mendekati Ian.
"Iya tuan," sahut Adelia.
"Bisakah ibumu disuruh ke sini?" tanya Lampard memiliki firasat yang buruk.
"Untuk apa Ibu saya ke sini?" tanya Adelia.
"Sebelumnya aku minta maaf lagi. Ini masalah gawat. Aku nggak mau nakut-nakutin kalian. Cepat atau lambat mereka akan menyerang Ibu kalian di Surabaya. Aku ingin memastikan keamanannya saja. Aku harap ibu kamu mau tinggal bersama kami. Soal pekerjaan membuat kue itu gampang sekali. Kemungkinan besar kue itu bisa didistributorkan ke restorannya Alexa atau pusat perbelanjaan milik Snowden Groups dan Taurus Corps. Jadi aku mohon tolong hubungi ibumu. Jika sudah siap Aku yang akan menjemputnya," pinta Lampard dengan tulus.
"Baiklah tuan. Kemungkinan besok pagi aku akan menghubungi Ibu. Jika Ibu mau akan aku beritahu kepada tuan Ian. Maafkanlah kami yang menjadi beban untuk kalian," ucap Adelia.
"Aku tunggu kabarnya," balas Lampard.
Akhirnya Lampard meninggalkan mereka. Sementara itu Adelia memberanikan diri untuk bertemu Stella. Jantungnya mulai berdegup kencang dan merasakan gejolak di dalam hatinya.
Kenapa ini terjadi pada saudara kembarnya itu? Kenapa hidup saudara kembarnya itu sangat menderita sekali? Andaikan mereka tidak terpisah, kemungkinan besar mereka bisa saling melindungi satu sama lain.
Saat masuk ke dalam Sinta yang membantu Stella melihat Adelia. Iya sangat terkejut sekali melihat kemiripan wajah Adelia dan Stella. Lalu Adelia menatap Sinta dan bertanya, "Bagaimana kabar Stella?"
"Kabarnya baik-baik saja. Baru saja saya kasih obat penenang," jawab Sinta.
Melihat Stella terlelap tidur rasanya dilihat tidak ingin membangunkannya. Kemudian Adelia memutuskan untuk keluar dari kamar dan melihat Ian dengan wajah sendu.
"Aku masih belum bisa menemuinya," bisik Adelia.
"Kalau begitu besok saja. Stella harus tetap tenang untuk menjalani pengobatan lukanya itu. Aku harap kamu tidak marah lagi," balas Ian yang membuat Adelia kesal.
__ADS_1
"Suka banget ya... Lihat aku kesal begini?" tanya Adelia yang meninggalkan Ian sendirian.