
"Kapan mereka ke sini Kak?" tanya Stella sambil tersenyum manis.
"Kenapa kamu nanyakan ketiga kurcaci milik Alexa?" tanya Asmoro yang tiba-tiba saja cemberut.
"Sepertinya, kakek cemburu sama mereka?" tanya Stella balik.
"Kakek nggak pernah cemburu sama mereka. Kakek sangat merindukan ketiga kurcaci itu. Dari tadi kok belum datang. Padahal aku sendiri sedang bermain game bersama Edward dan Sean," jawab Asmoro yang sangat merindukan ketiga cucunya itu.
"Mungkin mereka terkena macet di jalan," ucap Stella dengan jujur.
"Mungkin saja," ujar Asmoro yang merentangkan kedua tangannya. "Kemarilah istri kecilku. Peluklah kakekmu ini."
Stella langsung berhambur dipelukkan Asmoro. Wanita muda itu langsung menyembunyikan kepalanya di dada sang suami. Diam-diam mereka menciptakan hal-hal romantis walaupun sederhana.
"Besok aku akan terbang Manchester. Aku ingin kamu ikut bersamaku. Soal dokumen perjalananmu, biar Ian yang mengurusnya," ucap Asmoro.
"Memangnya Kakak ada pekerjaan di sana?" tanya Stella.
"Ada. Kita seminggu di sana. Aku di sana mengurusi satu hotel yang sedang bermasalah," jawab Asmoro.
"Memangnya kenapa hotelnya Kak?" tanya Stella.
"Ada salah satu orang yang tidak menyukaiku. Orang itu ingin menjatuhkan aku di dunia bisnis," jawab Asmoro.
"Mengerikan sekali Kak."
"Sepertinya kamu harus belajar tentang masalah ini. Jika kamu sudah menguasai semuanya. Kamu sudah tidak kaget lagi. Banyak sekali orang-orang yang ingin menjatuhkanmu. Kamu masih berada di dalam rumah. Jika kamu sudah keluar, kamu harus kuat menghadapi dunia keras ini. Kamu juga adalah cucu dari Yamato Nakagawa. Yang di mana Yamato Nakagawa adalah seorang pembisnis dari Jepang. Beliau adalah orang yang cukup tangkas dalam berbisnis. Makanya kamu harus belajar lebih giat lagi," jelas Asmoro yang memperingatkan Stella agar kuat menjalani hidup kedepannya.
"Memang benar apa yang dikatakan oleh kakak. Kalau begitu ajarin aku untuk melihat dunia yang kejam ini," ucap Stella.
Asmara tersenyum menatap mata indah milik Stella. Ia merangkul tubuh Stella dan menekannya hingga maju. Setelah itu Asmoro langsung mengeksplor bibir milik Stella. Entah kenapa Asmoro merasakan sensasi yang tidak pernah dirasakan. Tangannya sudah masuk ke dalam baju Stella. Ketika ingin memegang benda yang menggantung di dada Stella, Asmoro tersenyum sambil berkata, "Lebih baik kita habiskan waktu siang ini di dalam kamar."
"Lalu bagaimana dengan anak-anak?" tanya Stella.
"Biarkan saja. Biarkanlah mereka bermain dengan Ian dan Adelia. Mereka sangat cocok sekali ketika mengajak ketiga kurcaci. Malahan mereka dinobatkan sebagai orang tua yang kocak ketika ada orang yang melihatnya," jawab Asmoro yang mulai mengedipkan matanya untuk memberikan kode.
"Tunggulah mereka. Biarkanlah mereka menyapa kita. Aku yakin mereka akan mencarimu," ucap Stella yang membuat Asmoro mulai memainkan benda kesayangannya itu.
"Lain kali aja. Lagian Ian tahu di mana mainan mereka semua. Apalagi pizza dan cake-nya sudah jadi," celetuk Asmoro yang tidak akan melepaskan Stella sedikitpun.
Tiba-tiba saja setelah mulai mendes*h. Suara-suara yang menurut asmara Indah itu keluar dengan sendirinya. Hingga membuat Asmoro semakin bersemangat untuk mempermainkan benda kesayangannya itu.
Lalu Asmoro mulai membuka kancing baju Stella. Ketika kepala asmara masuk ke dalam,
Ceklek.
Pintu terbuka.
Asmoro dan Stella sangat terkejut sekali. Mereka kedatangan Yamato, Anita, Agatha dan juga Hatori. Dengan cepat setelah mendorong Asmoro agar pergi meninggalkannya. Lalu wanita berparas cantik itu pun langsung membenahi bajunya yang hampir berantakan itu.
__ADS_1
"Kalian pada ngapain sih?" tanya Hatori.
"Aku tidak apa-apa," jawab Stella yang tidak sengaja memandang kedua orang tuanya itu.
Dengan cepat Stella lari ke kamar lalu membetulkan pakaiannya itu. Stella tidak menyangka kalau mereka datang duluan. Iya sangat malu sekali menatap wajah Anita. Kenapa adegan seperti ini harus terekspos dengan jelas? Ditambah lagi Stella juga melihat sang papa. Hingga akhirnya ia merutuki kesalahannya.
Sedangkan Adelia sedang membuat minuman. Ia tidak memperdulikan siapa saja yang datang. Ia juga tidak memperdulikan tentang adegan Stella bersama Asmoro di ruang tamu. Ditambah lagi Adelia sangat berkonsentrasi membuat makanan.
"Taraaaaaaaaaaaaa!" seru Adelia yang membuat Ian tersenyum.
"Kamu memang pantas untuk kujadikan istri," ujar Ian yang menaruh ponselnya di kantong celananya itu.
"Apakah itu benar?" tanya Adelia yang mulai menata gelas di meja.
"Ya itu benar. Bahkan aku sendiri saja ingin cepat-cepat menikahimu," jawab Ian dengan jujur.
Mereka tidak sengaja mendengar suara gaduh dari luar. Mereka mendengar apa yang sedang terjadi untuk saat ini.
"Sepertinya di luar anak-anak sudah datang," ucap Adelia.
"Kalau bukan bagaimana?"
"Ya biarkan saja. Kita nggak jadi masalah apa-apa."
"Kalau begitu ya sudahlah kita tunggu di sini aja."
Beberapa saat kemudian ponsel Ian berdering. Ia langsung mengambil ponselnya dan melihat nama yang tertera di layar, "Alexa sudah menunggu di bawah. Ayo kita keluar ke sana dulu. Aku ingin mengajak mereka ke sini."
"Ma, pa," panggil Adelia.
"Ada apa?" Tanya Anita.
"Kami berdua akan mengajak tiga kerja di naik ke sini," jawab Adelia dengan jujur.
"Kalau begitu ya sudahlah," ucap Anita yang memberikan izin.
Ian dan Adelia langsung keluar dari apartemen Asmoro. Sepasang kekasih itu pun merasakan ada sesuatu yang aneh dari Asmoro. Lalu Ian mengajak Adelia untuk menuju ke lift.
"Tiba-tiba saja kak Asmoro sangat aneh sekali," ucap Adelia.
"Kemungkinan besar Kak Asmoro sedang sedang berbuat hal-hal di luar nalar,"' sahut Ian.
Ting.
Pintu lift terbuka.
Mereka akhirnya masuk ke dalam lift. Lalu ion menekan tombol lantai dasar. setelah itu mereka saling berpandangan dan masih kepo tentang Asmoro.
"Dasar Kak Asmoro. Sepertinya dia akan melakukan skandal Di ruang tamunya sendiri. Kemungkinan juga tadi terciduk oleh bapak mertuanya itu," ucap Iyan sambil menghilangkan kepalanya.
__ADS_1
"Memang sangat aneh sekali ya. Aku nggak habis pikir jika pria sudah menikah. Mereka selalu melakukan di tempat yang terbuka," jelas Adelia.
"Makanya itu. Sedari dulu Asmoro ingin memiliki kamar sendiri. jika sewaktu-waktu menikah aku atau siapapun tidak akan ada yang mengganggunya."
"Iya bener sih. Nggak bisa disalahkan juga."
"Tadi ada kakek sama papa."
"Aku tadi cerita sama mama. Kalau kami berdua sedang melakukan eksperimen. Lalu Mama ingin ke sini untuk membantu kami memasak. Berhubung aku sama Kak Stella sudah selesai, maka aku tidak jadi mengajak Mama ke sini."
"Tapi nggak apa-apa mereka berkumpul dengan kita. Lalu bagaimana dengan kakek Yamato? Kita di sini sedang melakukan pesta bersama ketiga kurcaci milik Alexa?"
"Aku nggak tahu harus bagaimana lagi. Jujur kita mengajak ketiga kurcaci itu agar tidak mengganggu kenyamanan kakek dan papa. Semoga saja kakek tidak kaget melihat ketiga kurcaci milik Alexa yang sangat lucu itu dan menggemaskan."
Sesampainya di bawah, Adelia dan Ian langsung melihat keberadaan Alexa dan Martin. Mereka segera mendekat sambil berkata, "Hi."
Sean, Edward dan Scarlett terkejut dengan suara Adelia. Mereka segera berlari menuju ke arah Adelia. Lalu mereka mencari keberadaan Stella.
"Dimana nenek Stella kami?' tanya Scarlett.
"Oh... nenek Stella? Nenek berada di atas bersama Kakek Asmoro," jawab Adelia mendekati Scarlett.
"Sayang," celetuk Sean.
Alexa bersama Martin terkejut karena baru saja melihat keberadaan mereka. Lalu Alexa segera mendekati Adelia sambil tersenyum manis.
"Tolong ya... jaga mereka," pinta Alexa.
"Baik kak," sahut Adelia.
"Akku berencana ingin mengajak kalian untuk melakukan pembagian sembako. berhubung ini di daerah milik Tutik dan Patty, kami mengurungkan niat agar tidak mengajak kalian. Kalian tahukan mereka siapa?" tanya Alexa.
"Mereka provokator. Yang dimana mereka akan mempengaruhi para emak-emak lalu tiba-tiba saja menyerang kekasihku dengan alasan yang jelas," jawab Ian yang mengetahui seluk beluk Patty.
"Baiklah... kalau kalian sudah tahu. Lain kali saja ya... kalian aku ajak," sahut Alexa.
"Enggak apa-apa kak. Lebih baik kita begitu. Biar mereka tidak memancing keributan di tempat umum," ujar Adelia yang sudah mengetahui watak mereka.
"Kalau begitu kami pamit terlebih dahulu," pamit Martin.
Alexa dan Martin pergi meninggalkan mereka. Tak lama kemudian datang Leon sambil membawa tas berisikan laptop.
"Kak," panggil Leon.
"Ada apa?" tanya Ian.
"Sebaiknya kita tidak akan membicarakan masalah ini di sini," jawab Leon.
"Ya... sudah kita ke atas bareng," ajak Ian sambil menggendong Sean. "Gendong Edward."
__ADS_1
"Baik kak," balas Leon.