Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Kekesalan Membuahkan Hasil.


__ADS_3

"Belum saatnya untuk berperang. Biarkan saja mereka menikmati keindahan di muka bumi ini. Hingga waktunya akan tiba."


Jawab Asmoro yang membiarkan sang musuh berkeliaran terlebih dahulu.


"Kenapa Kakak membiarkannya saja? Mereka sudah membuat kekacauan di muka bumi ini."


Jawab Martin yang mulai berdebar dengan Asmoro.


"Apa yang dikatakan oleh kak Martin benar Kak. Kita nggak bisa terus-terusan begini. Kalau kita masih terlalu tenang seperti ini tidak menjadi masalah. Pikirkan masalah lainnya. Seluruh manusia di muka bumi ini bagaimana? Mereka membutuhkan hidup damai tanpa ada gangguan hal seperti itu."


Kesal Ian yang membuat Asmoro menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu rapatkan barisan. Aku akan membicarakan ini dengan Kak Gio. Setelah mendapatkan persetujuan dari Kak Gio, kita bisa menyerang markas Exodus!"


"Nggak bisa begitu kali. Kalau begitu ajak Stella dan Adelia bergabung dalam barisanmu. Ajarkan mereka semua persenjataan. Setelah itu kamu temukan sumur tua itu di pinggiran kota Tokyo. Kalau kita menyerangnya sekarang. Aku akan memberikan waktu kamu selama tiga bulan ke depan. Jika lebih maka seumur hidup tidak bisa ditemukan lagi. Sang nenek sihir itu akan hidup abadi selamanya."


Jelas Kuncoro yang tiba-tiba saja muncul dan memberikan perintah.


"Tiga bulan!"


Pekik Asmoro.


"Ya itu benar. Hubungi semua Ibra, Ivan dan Gio. Mereka akan membantumu saat ini juga."


Sambung Kuncoro.


"Kenapa harus tiga bulan ke depan?"


Tanya Martin.


"Karena di waktu inilah mereka muncul. Sumur itu akan terbuka setiap lima tahun sekali. Kalau kalian menundanya. Maka Merry bisa berbuat anarki. Karena dia adalah jelmaan nenek sihir. Setelah ditutup kamu bisa membunuhnya dengan cara mudah."


"Apakah ada tahapan-tahapan untuk menghabisi nenek sihir itu?" 


Tanya Ian.


"Ada. Kamu harus menutupnya tepat pada bulan purnama yang sedang bersinar. Kamu bakar saja itu sumur. Jika sudah terbakar Itu sumur. Api itu akan menjadi api abadi. Yang di mana api itu tidak akan pernah padam sama sekali. Jadi bisa dipastikan, Merry tidak akan pernah muncul lagi."


Jawab Kuncoro yang membuat Asmoro kesal.


Braaak!


Asmoro menggebrak meja karena kesal dengan Kuncoro. Bagaimana bisa dirinya baru mendapatkan informasi sekarang? Kenapa tidak dari dulu Kuncoro mengatakannya? Kenapa ia harus menunggu hingga nanti-nanti.

__ADS_1


Sebenarnya Asmoro menahan kekesalan yang mendalam. Ketika dirinya ingin menyerang, Kuncoro selalu saja menghalanginya. Ia benar-benar tidak sanggup melihat generasi muda hancur gara-gara mereka. Asmoro sangat muak sekali untuk saat ini.


"Kenapa kamu bilang sekarang? Kenapa nggak bilang dari kemarin-kemarin!"


Asmoro membentak Kuncoro karena menahan kekesalan sedari dulu.


"Maaf. Setelah sekian purnama aku semedi. Aku mendapatkan kabar dari langit. Bahwa langit akan memberikan kesempatan kepada kalian untuk menutup rapat sumur tua itu. Berita ini aku dapatkan satu jam yang lalu. Jadi kalau kalian marah. Jangan marah ke aku. Ke beberapa dewan langit tanah yang memberikan perintah secara mendadak seperti ini."


Jelas Kuncoro yang sebenarnya tidak ingin mempermainkan mereka.


Mereka memilih untuk diam karena perintah ini sangat gila sekali. Asmara dari tadi memperhatikan Kuncoro berubah menjadi sangat kesal. Bayangkan saja dirinya harus menuruti perintah dari langit. Mau tidak mau Asmoro mengambil buku dan melemparkannya ke Kuncoro. Tapi buku yang dilemparkannya hanya bisa tembus pandang. Jujur Kuncoro hanya bisa diam saja sambil menggelengkan kepalanya.


"Sudah kubilang. Akun ini tidak bisa disentuh ataupun dilempar buku seberat dua ton." 


Ucap Kuncoro sambil meledek Asmoro.


"Cih… sombong sekali kamu menjadi makhluk tak kasat mata."


Asmoro semakin kesal terhadap Kuncoro. 


"Aku bukan makhluk tak kasat mata. Aku nyata tapi tidak pernah bisa tersentuh."


Ledek Kuncoro sambil menahan tawanya. 


Martin dan Ian sangat kesal terhadap kedua orang itu. Bisa-bisanya pada malam hanya bercanda. Martin yang tidak percaya dengan omongan Kuncoro terpaksa berdiri. Ia lalu mendekatinya sambil menyentuh Kuncoro.


"Seandainya kalau dia hantu. Orang itu akan berbayang. Tapi kenapa kok dirinya merasakan ada yang tidak beres sama sekali. Ingin memukulnya, ia pun tidak bisa-bisa sampai saat ini. Hingga akhirnya Martin menendang Kuncoro. Saat tendangan itu, Martin tidak merasakan apapun sama sekali. Martin akhirnya frustasi dan kembali ke tempat duduknya sambil menggerutu kesal. 


"Iyan, Apakah kamu mau mencobanya?" 


Tanya Asmoro yang mempersilakan asistennya itu mencoba memukuli Kuncoro.


"Setelah aku melihat kak Martin yang ingin membunuhnya. Aku tidak akan mencobanya lagi. Karena orang itu memiliki kekuatan super. Bisa dikatakan orang itu berubah dengan sendirinya."


Jelas Ian.


"Okelah… setelah ini kita tidak usah menganggapnya ada maupun tidak ada. Aku sangat kesal sekali kepada orang itu. Bisa-bisanya kita dipermainkan yang namanya Kuncoro sialan. Jika saja kalau dirinya manusia akan aku gantung di gunung Alpen sana. Biar sekalian dirinya kedinginan."


Perintah Asmoro yang benar-benar ingin membiarkan Kuncoro tetap diam.


"Semua informasi tentang cairan berwarna biru itu ada berada di tanganku semua. Jika kamu ingin membunuhku tidak akan pernah bisa."


Ujar Kuncoro yang tiba-tiba saja berbayang.

__ADS_1


"Sudah itu saja informasinya tentang sumur tua itu. Jika kamu ingin pergi maka panggilan namaku sebanyak tiga kali. Setelah itu aku akan memberikan kalian petunjuk."


Pamit Kuncoro.


"Kalau aku nggak mau gimana?"


Tanya Asmoro sambil meraih bukunya.


"Silakan kamu tersesat di dalam hutan itu selama sepuluh tahun lamanya."


Jawab Kuncoro yang tiba-tiba saja menghilang.


"Bisa nggak sih? Orang itu nggak muncul saat kami meeting seperti ini?"


Tanya Martin dengan kesal.


"Bisa. Kalau kita mengganti topik pembicaraan. Yaitu tentang bisnis atau yang lainnya. Kalau kita membicarakan soal cairan berwarna itu, mereka tetap saja datang dan memberikan informasi secara mendadak seperti tadi."


Jawab Asmoro sambil membaca buku tersebut.


"Apakah informasi itu sangat valid sekali?"


In menanyakan karena dirinya sangat ragu terhadap informasi itu. 


"Aku juga ragu. Tapi Entahlah kita coba saja. Jujur saja Aku sama seperti kalian yang memendam kekesalan. Ingin aku Serang markasnya Exodus. Tapi orang itu selalu menghentikanku. Katanya kalau menghancurkan markasnya itu percuma. Kita hanya menghabiskan waktu dan biaya saja."


Jelas Asmoro yang membuat kedua pria itu mulai menganalisis keadaan. 


"Jadi, petaka nya mulai dari cairan warna biru?"


Tanya Ian yang tiba-tiba saja paham. 


"Fifty fifty. Satu ya satu tidak. Kalau yang iya, aku yakin mereka membuat obat itu memakai campuran yang di mana tidak akan bisa ditemukan oleh sembarang orang. Yang kedua bisa saja mereka memakai bahan kimia lainnya. Mereka sengaja mencampurkannya hanya demi mendapatkan obat yang berkualitas terbaik."


Jawab Asmoro. 


"Sebenarnya aku masih menunggu Raka dan Ibra untuk memberikan tes obat tersebut."


"Kata Kak Ibra. Hari ini tesnya bisa diambil."


Sahut Ian. 


"Kita pergi ke sana saja. Kita tidak perlu menunggu lama lagi. Soalnya aku sangat penasaran akan cairan biru itu."

__ADS_1


Ajak Asmoro. 


"Martin, Apakah kamu mau ikut denganku?" 


__ADS_2