
"Kamu berada di mana sih?" Tanya Martin yang merasakan Alexa tidak melihat televisi sama sekali.
"Aku berada di taman bersama anak-anak," jawab Alexa hingga membuat Martin menghembuskan nafasnya secara kasar.
"Kamu harus tahu sesuatu. Bahwa Patty sedang membuat masalah. Jujur saja aku sebenarnya kesel sama itu orang. Dia sengaja memancing agar Stella keluar dari sarang. Dia mengatakan kalau dirinya mengandung dengan pria lain," ucap Martin.
"Kalau itu sih nggak masalah. Mau hamil mau nggak terserah dia. Kita kan nggak ada hubungan apa-apa sama mereka. Kenapa Kakak kesal sekali?" tanya Alexa.
"Bukan masalah dia hamil apa enggak? Aku sih sudah mengerti dunia seperti itu. Tapi yang jadi masalahnya dia sedang playing victim. Secara langsung Patty mengatakan kalau dirinya sedang dijebak oleh Stella. Lalu Stella memberikan tubuhnya ke pria hidung belang. Yang jadi pertanyaan, apakah Stella mau melakukan hal sekeji itu kepada Patty?" geram Martin.
"Jujur ini sangat lucu sekali. Bagaimana bisa Stella melakukan hal itu? Sedangkan Stella sering tersakiti begitu hingga mentalnya menjadi down. Aku nggak nyangka orang sekelas Patty langsung membuat pernyataan yang bohong! Aku harap Stella tidak tahu akan hal ini," kesal Alexa.
"Lebih baik kamu memberitahukan kepada Stella dan Adelia. Mereka harus tahu soal ini. Aku harap mereka tidak terpancing akan gosip murahan ini. Jika Stella tidak melakukannya, kenapa harus takut?" saran dari Martin.
"Baiklah akan aku katakan sebenarnya pada mereka. Aku juga tidak ingin menutup-nutupi kasus itu. Supaya mereka paham dengan apa yang dilakukan oleh keluarga sialan itu," ujar Alexa.
"Ya sudah deh aku lanjut kerja lagi. Kalau begitu berhati-hatilah," pamit Martin.
"Kamu juga Kak," balas Alexa.
Beberapa saat kemudian Alexa mendekati mereka. Alexa segera menghempaskan bokongnya dan menatap ketiga anaknya sudah mulai mengantuk. Namun Alexa tidak membiarkan mereka tidur terlalu awal. Bisa dipastikan nanti malam mereka akan merusuh dan tidak akan membiarkan kedua orang tuanya tidur.
Stella dan Adelia tersenyum melihat celotehannya ketiga anak kecil itu. Jujur mereka sangat terhibur sekali ketimbang harus sendiri. Untunglah mereka hidup diantara orang-orang baik. Tuhan sangat adil bagi mereka. Ditambah seminggu ini Tuhan akan memberikan hadiah kecil.
"Anak-anak udah mulai ngantuk nih. Apakah mereka akan ditidurkan?" tanya Adelia.
"Sebenarnya aku tidak ingin menidurkan mereka pada sore begini. Jika mereka tidur jam segini, malamnya akan membuat rusuh dan kami tidak bisa tidur," ujar Alexa.
"Apakah kakak akan menginap di sini?" tanya Adelia.
"Terpaksa aku menginap di sini. Mereka mulai ngantuk. Kalau begitu bantu aku mengantarkan mereka ke dalam kamarnya!" pinta Alexa kepada mereka.
Adelia dan Stella membantu Alexa untuk mengajak ketiga anak kecil itu tidur di kamar masing-masing. Sean yang bersama Stella sudah tidak bisa menahan ngantuknya. Mereka adalah anak-anak yang sangat lucu sekali.
__ADS_1
Setelah berada di kamar mereka membantu membaringkan ketiga anak itu di ranjang. Ketiga wanita itu memperlakukan mereka sangat lembut. Hingga mereka sangat nyaman sekali. Terutama pada Stella, di usianya yang sekarang Stella jiwa keibuannya sudah muncul. Cepat atau lambat dirinya akan menikah. Akan tetapi Stella masih merasakan trauma yang berat.
Selesai membantu Alexa, mereka berkumpul di kamar Stella. Di sana sudah ada Hatori yang baru saja pulang. Kedua gadis itu berhambur di pelukan Hatori. Meskipun ditinggal beberapa jam, mereka saling merindukan.
"Syukurlah kamu pulang," ucap Alexa dengan lega.
Hatori terkejut mendengar suara Alexa. Pria itu langsung melepaskan pelukan kedua adiknya. Hatori segera mendekati Alexa lalu menyapanya, "Nyonya."
"Eh... Jangan panggil aku nyonya. Panggil aku kakak saja. Mulai sekarang kamu bukan lagi seorang pesuruhku. Aku akan mengangkatmu menjadi adik laki-lakiku," ucap Alexa yang membuat Hatori tersenyum bahagia.
Hatori sangat senang sekali mendapatkan keluarga baru. Meskipun Hatori jarang melihat Alexa lebih dekat, namun hattori sudah merasakan kalau Alexa adalah wanita yang sangat baik sekali.
"Maafkan aku Kak yang sering ke sini," ucap Hatori dengan penuh bersalah.
"Tidak apa-apa. Bukankah Mereka ada di sini?" tanya Alexa sambil menunjuk Stella dan Adelia.
"Iya juga sih Kak," jawab Hatori sambil malu-malu.
"Aku jadi nggak enak kalau ke sini terus-terusan," ungkap Hatori yang merasakan hatinya tidak enak sama Alexa.
"Enggak apa-apa. Lagian di sini tempat yang cocok untuk bersembunyi dari keluarganya Tutik," ucap Alexa.
"Baiklah kalau begitu. Tapi aku harap kalian tidak bosan melihat wajahku ini," celetuk Hatori.
"Jujur kami nggak bosen lihat wajahmu. Tapi kami sangat merindukan kamu," hibur Alexa yang membuat Hatori tersenyum.
Hatori sangat bahagia sekali ketika Alexa menyanjungnya. Baru kali ini dirinya mendapat sanjungan yang tulus. Selain itu Hatori mendapat akses untuk bertemu kedua adiknya yang sedang bersembunyi. Kakak yang mana jika melihat kedua adiknya sedang dikejar-kejar oleh penjahat? Hatori tidak rela jika kedua adiknya tertangkap oleh Tuti dan John. Bisa dipastikan mereka dipaksa untuk tanda tangan agar aset Kurumi jatuh di tangan mereka.
Selain itu mereka akan dijual ke mafia di daerah Meksiko sana. Hanya demi mendapatkan keuntungan yang besar. Apalagi mereka masih suci dan belum dijamah oleh orang lain. Semoga Hatori bisa lepas dari mimpi buruk ini.
"Silakan kalian duduk dulu. Ada yang mau aku ceritakan. Tapi aku harap kalian tidak marah dan tidak gegabah untuk menanggapi masalah ini," pinta Alexa.
Kemudian mereka duduk berdampingan. Alexa segera meraih ponselnya dan mencari sebuah berita tentang pernyataan Patty yang dijebak oleh Stella. Buat Alexa kasus ini sangat mengerikan sekali. Hanya demi uang, Patty melakukan segala cara untuk mendapatkannya.Walau memakai cara licik dan menginjak orang tersebut. Sungguh terlalu.
__ADS_1
Sebelum bersuara Alexa menarik nafasnya pelan sambil memejamkan matanya. Dirinya bingung mau menjelaskan Dari mana asal muasal berita itu? Akhirnya Alexa membuang nafasnya secara kasar dan menatap ketiga saudara itu.
"Sebelumnya aku meminta maaf kepada kalian. Aku baru tahu berita ini dari suamiku. Tapi jangan melakukan apapun. Biar bagaimanapun kasus ini telah membuat nama Stella tercemar," ucap Alexa dengan lembut.
"Memangnya ada apa Kak?" tanya Stella yang namanya dibawa-bawa untuk dibahas dalam pertemuan ini.
"Baiklah kakak cerita," jawab Alexa.
Alexa menceritakan saat terima telepon dari Martin dengan waktu cukup lama. Dirinya menceritakan secara detail Kenapa berita itu ada?Sungguh mereka terkejut dan saling memandang satu sama lain. Ketika Alexa menyebut nama Stella dan dituduh melemparkan seseorang dihadapan pria hidung belang.
Hatori yang mendengar berita itu sungguh sangat marah. Bagaimana bisa sang adik dituduh seperti itu? Lagian sang adik kemarin sedang lemas dan terbujur di atas ranjang. Bagi Hatori yang namanya Keluarga Tutik tidak bisa dimaafkan.
Namun Alexa menatap wajah Hatori sambil menggelengkan kepalanya, "Jangan gegabah terlebih dahulu. Aku ingin kalian diam. Dapat atau lambat kita akan membalaskan dendam kepada mereka."
Terpaksa Hatori menuruti keinginan Alexa agar tidak membalas mereka terlebih dahulu. Hatori ingat akan sebuah map yang sudah ditandatanganinya. Di sinilah dirinya tidak berkutik sama sekali. Jika ia berkutik maka kemungkinan besar Lampard akan mundur dari kasus ini.
"Kalau begitu ya sudahlah. aku masih terkekang oleh perjanjian bila yang dibuat Papa Lampard," ucap Hatori.
"Kamu tahu, Kenapa papa membuat surat perjanjian itu?" tanya Alexa yang paham dengan watak bapak angkatnya itu.
"Ya aku tahu itu Kak. Jika aku melanggar, kemungkinan besar papa tidak mau mengurus kasus ini," jawab lah Hatori.
"Itu bukan yang utama. Yang utama adalah jika kalian dalam bahaya besar dan tertangkap oleh mereka, kami akan menarik diri untuk tidak mengurus kalian. Kemungkinan besar kami akan melupakan kalian dan mengejar ambisi untuk menghabisi Exodus," pungkas Alexa yang membuat mereka mengangguk paham. "Kalian bersabarlah... Kami tidak akan menyerang begitu saja. Kami harus memakai taktik yang licik. Jika tidak kami juga yang akan hancur. Makanya aku meminta kalian bekerja sama dengan sungguh-sungguh."
"Baik kak," balas mereka serempak.
"Kembali lagi ke topik semula. Apakah kamu paham dengan taktik anaknya John itu?" tanya Alexa.
"Aku belum paham soal itu," tanya Adelia yang masih bingung.
"Baiklah akan aku ambil kesimpulannya. Kalian harus dengarkan baik-baik soal ini," jawab Alexa dengan serius.
"Kesimpulannya apa Kak?" tanya Hatori.
__ADS_1