
"Saya belum berani membicarakan soal pernikahan ini ke ibu," ucap Adelia.
"Ya saya tahu itu. Kamu pelan-pelan saja dan beritahu kepada ibu. Saya berani jamin kalau Ian adalah pria lembut," ujar Winda yang pernah berbicara dua mata dengan Ian.
"Baiklah nyonya. Nanti kalau saya pulang, saya akan memberitahukan kepada ibu," sahut Adelia.
Beberapa saat kemudian datanglah Gio. Pria paruh baya itu sedang membawa setangkai bunga mawar. Lalu bunga mawar itu diberikan ke arah Winda.
"Kamu berada di sini?" tanya Gio.
"Ya Aku ada di sini. Cuma memeriksa berkas-berkas yang telah aku kerjakan tadi siang," jawab Winda sambil meraih bunga mawar itu.
"Kalau begitu saya pamit dulu tuan dan nyonya," pamit Adelia sambil beranjak berdiri.
"Jangan dulu. Aku ingin bicara kepadamu," seru Gio.
"Ada apa tuan?" tanya Adelia.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu tentang keluarga kamu?" tanya Gio yang mulai serius.
"Baiklah Tuan," jawab Adelia yang sebenarnya takut sama Gio.
Tidak sengaja dia melihat Adelia yang ketakutan. Kemudian Gio menyuruhnya duduk terlebih dahulu. Sebelum mengeluarkan suara, tiba-tiba saja datang Ian. Pria itu melihat Adelia bersama Dio dan Winda.
"Kak," panggil Ian.
"Kamar untuk Stella sudah aku siapkan," ucap Gio.
"Ada di atas atau di bawah Kak?" tanya Ian.
"Ada di bawah. Kamar itu terletak di samping dapur. Hanya kamar lantai bawah yang kosong. Selebihnya berada di lantai dua atau tiga Jika lapar tidak berkenan bisa menggantinya ke lantai dua ataupun tiga," jawab Gio.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Kak. Lebih baik di lantai bawah. Jika Stella kita taruh di lantai atas, maka dirinya tidak bisa bergerak dan turun ke bawah," sahut Lampard di ambang pintu.
"Terserah kamu saja. Yang penting Stella aman dari mereka," kata Gio.
"Apakah Stella masih di mobil?" tanya Winda.
"Sudah aku pindah ke kamar," jawab Lampard.
"Apakah kamu memakai ambulans?" tanya Gio.
"Tidak," jawab Lampard. "Aku ke sini membawa beberapa pengawal. Aku takut mereka akan menyerang secara mendadak di jalanan."
Tak sengaja Lampard mendapat senggolan dari Ian. Pria tua itu tidak sengaja membicarakan dunia mafia di hadapan Adelia. Seketika Lampard sadar dan menatap Ian yang masih memberikan kode.
"Sudah lupakan saja," ucap Lampard yang meninggalkan mereka.
"Tunggu," seru Gio.
"Mumpung ada Adelia. Kita harus memberitahukan sesuatu kepadanya. Masalah ini tidak bisa ditutup seperti ini. Cepat atau lambat Adelia harus tahu," jawab Gio dengan serius.
Lampard segera mengganggukan kepalanya. Dirinya tidak akan mungkin menutupi masalah ini sampai jauh. Ia berharap Adelia mengetahui semuanya.
"Adelia," panggil Lampard.
"Ada apa tuan?" tanya Adelia dengan gugup.
"Aku harus memberitahukan sesuatu kepadamu. Ini sangat penting bagi kamu dan ibumu. Aku harap kamu kuat menerimanya. Cepat atau lambat kamu dan ibumu dalam bahaya besar. Sebelumnya aku minta maaf kepadamu. Soalnya kasus ini tidak ada hubungannya denganku. Aku bersama lainnya sudah mengetahui semuanya," ujar Lampard dengan serius.
Adelia terkejut dan mengangkat wajahnya. Iya melihat wajah Lampard dengan serius. Lalu hatinya bertanya-tanya, ada apa sebenarnya? Sepertinya Tuan Lampard sangat serius sekali. Kenapa Tuan Lampard menyerempet ke ibuku. Sebenarnya ada apa?
"Maaf tuan," ucap Adelia dengan lirih. "Sebenarnya ada apa dengan saya dan ibu saya?"
__ADS_1
"Kamu harus tahu sesuatu. Pernahkah ibu kamu berbicara tentang keluarga besarmu?" tanya Lampard.
"Maksud Tuan apa?" tanya Adelia yang tidak paham sama sekali.
"Apakah kamu tidak tahu siapa ayahmu sebenarnya?" tanya Lampard.
"Aku tidak tahu soal itu. Setiap aku bertanya, Ibu pasti menjawabnya ayah sudah tidak ada di dunia ini. Aku juga bertanya, Kenapa aku tidak memiliki saudara seperti lainnya? Ibuku menjawabnya Kamu adalah anak tunggal," jelas Adelia.
Lampard menghela nafasnya sambil merasakan hatinya sakit. Apa yang dikatakan oleh sang ibu benar apa adanya. Kemudian Lampard menyimpulkan kenapa sang Ibu berkata seperti itu? Karena sang ibu takut melihat ada bahaya di depan.
Lampard merasakan kesedihan yang mendalam oleh Anita. Ia paham Kenapa Anita berkata seperti itu kepada Adelia? Mau tidak mau Lampard harus menjelaskan silsilah keluarga Adelia. Kalau tidak mereka tidak akan bersatu seperti keluarga lainnya.
Bagaimana dengan Agatha? Kemungkinan besar Lampard akan menurunkan beberapa mata-matanya untuk mencari keberadaan Agatha. Namun Lampard merasakan firasat kalau Agatha akan segera ke sini.
"Baiklah akan aku katakan sesuatu. Aku harap kamu paham dan tidak akan marah kepada ibumu. Jika kamu tahu semuanya aku mau kamu tutup mulut. Soal penyerangan yang mendadak kepadamu ada hubungannya dengan ibumu," Lampard menghela nafasnya dan menatap wajah Adelia yang masih terkejut.
"Baiklah tuan," balas Adelia.
"Sebenarnya ayahmu masih hidup. Kamu memiliki dua saudara kembar. Mereka juga masih hidup. Yang satu sudah kamu temukan. Yang satu belum. Kemungkinan besar yang satu berada di Jakarta. Dia adalah seorang laki-laki yang bernama Hatori," ucap Lampard yang menjelaskan asal usul keluarga Adelia.
Adelia menunduk dan tidak tahu harus berkata apa. Dirinya semakin bingung dengan apa yang dikatakan oleh Lampard. Di sisi lain ia menahan emosinya agar tidak marah kepada sang ibu. Dalam hatinya Adelia serasa dibohongi oleh ibunya.
"Aku tahu kamu kecewa. Tapi kedudukan kamu saat ini dalam keadaan bahaya. Kamu dan Stella memiliki wajah yang sama persis. Kamu adalah saudara kembar Stella," tambah Lampard.
"Jika kamu tidak percaya, apa yang dikatakan Lampard? Aku memiliki bukti fix buat kamu. Diam-diam aku bersama Martin telah mengambil sampel darahmu untuk dicocokkan kepada Stella. Aku meminta pihak rumah sakit untuk melakukan tes DNA. Dan kamu tahu hasilnya apa? Kamu memiliki dari yang sama dengan Stella. Jujur kami sangat terkejut sekali ketika kalian sedang mengobrol. Kami melihatmu seperti tidak ada jarak sekalipun," imbuh Gio sambil menyodorkan surat tes DNA. "Ambilah surat itu."
Adelia terpaksa mengambil surat itu dan melihat hasil tes DNA tersebut. Lalu ia membuka dan membacanya. Ada rasa bahagia yang terselip di dalam relung hatinya. Di sisi lain dirinya masih mencerna Ada apa ini?
"Sekarang kamu harus tahu semuanya. Tentang penyerangan kemarin itu karena ulah anak dari tantemu sendiri. Yaitu Tutik. Orang itu bersama suaminya telah menyingkirkan ibumu dari rumah ayahmu. Sedangkan ayahmu pergi meninggalkan Jakarta untuk menetap ke Tokyo. Aku tahu ayahmu sedang memiliki rencana agar bisa menghancurkan tante kamu itu. Dan harus kamu tahu tentang Stella yaitu saudara kembarmu. Di luar sana Stella hidupnya sangat menderita sekali. Ketika usianya sepuluh tahun Stella sudah dijadikan budak oleh mereka. Jam tiga pagi Stella sudah disuruh bangun dan membersihkan rumah. Jika semuanya tidak bersih maka saudaramu itu disiksa. Yang lebih parahnya lagi Stella tidur di dalam gudang tanpa ada alas apapun," jelas Lampard yang tidak tega menceritakan hidup Stella ke Adelia.
"Jadi aku?" tanya Adelia yang merasakan jantungnya berdenyut hebat.
__ADS_1