Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Bertemu Lagi.


__ADS_3

"Tapi Tuan Agatha memiliki alasan yang kuat untuk menyembunyikan masalah ini," jawab Pak Kusno. "Sekarang kita banyak-banyak berdoa agar mereka selamat dari Titik."


"Amin," balas Bu Gita dengan cepat.


S&T Company.


"Apakah jadwalku hari ini?" tanya Lampard yang menyalakan laptopnya.


"Hari ini tidak ada jadwal sama sekali," jawab Ian.


"Oh... baguslah. Aku bisa bersantai," ucap Lampard yang menyunggingkan senyumnya.


"Bagaimana anda bisa bersantai? Anda harus menandatangani berkas-berkas yang menumpuk seperti Gunung Semeru yang sedang erupsi itu," ledek Ian.


"Berarti luber?" tanya Lampard yang membuat sang asisten jengah.


"Ya begitulah kisahnya," kesal Ian.


"Kalau begitu seluruh divisi suruh kumpulkan semuanya!" perintah Lampard. "Malam ini aku harus lembur bersama berkas-berkas sialan itu!"


Ian hanya terkekeh melihat Lampard yang frustasi. Bisa-bisanya sang atasan mengatakan kalau ingin santai. Ian memang sengaja mengosongkan hati ini untuk tidak melakukan pertemuan dengan siapapun.


"Aku memang sengaja mengosongkan jadwal hari ini. Semua orang protes keras ingin meminta tandatangan darimu. Banyak pesan masuk ke aplikasi hijau yang gambarnya telepon. Jika tidak mengabulkan permintaan mereka. Bisa dipastikan mereka hai ini mogok dan memilih untuk tidur di perusahaan," celetuk Ian yang membuat kalimat untuk memprovokasi keadaan.


"Kamu memang pandai memprovokasi keadaan," kesal Lampard. "Kalau begitu bantu aku untuk mengerjai semuanya."


Ian menganggukan kepalanya sambil memutar bola matanya dengan jengah. Ingin rasanya Ian melemparkan sang bos ke Samudera Pasifik.


"Katanya kamu nyariin aku sekretaris?' tanya Lampard.


"Mau perempuan apa laki-laki?" tanya Ian.


"Bedanya?" tanya Lampard yang melihat sang asisten menatap curiga.


"Kalau perempuan aku harus membuka lowongan. Kalau laki-laki aku sengaja mengambilnya di Taurus Corps. Orangnya sangat berkompeten dan cekatan. Bisa menguasai lima bahasa asing sekaligus. Dia memang sangat pandai sekali akan urusan kantor dan pemilihan buah," jelas Ian.


"Pemilihan buah?" tanya Lampard yang mulai curiga.


"Iya... jika kakak ingin membeli buah untuk perusahaan. Kita bisa memakainya. Dia juga sangat pandai untuk menentukan kualitas buah terbaik," jawab Ian yang membuat Lampard menganggukan kepalanya tanda setuju.


"Kalau begitu aku mau memakainya," sahut Lampard sambil memegang pulpen. "Hitung-hitung aku enggak perlu mencari mencari ahli buah."


"Baiklah," balas Ian.


"Kapan datang?" tanya Lampard.


"Sesuai jam karyawan datang sekitar jam delapan," jawab Ian yang membuat Lampard memeriksa jam tangan.


"Waduh... kita kepagian," celetuk Lampard.


"Mau sarapan dulu?' tanya Ian.


"Carikan aku makanan yang ringan. Aku enggak mau makan nasi pagi ini," jawab Lampard.


"Okelah... aku akan turun ke bawah mencari sarapan," balas Ian segera meninggalkan ruangan tersebut.


"Apakah kamu tidak memakai pengawal untuk memesan makanan?" tanya Lampard.


"Aku tidak bisa mempercayai orang begitu saja. Soal makanan aku memang sendiri yang turun tangan untuk memastikan tidak mengandung racun," jawab Ian yang menganggukan kepalanya tanda paham.


"Kalau begitu baiklah," balas Lampard yang mulai larut dalam pekerjaannya.

__ADS_1


Ian segera meninggalkan ruangan itu sambil menghela nafasnya. Dalam hatinya Ian meminta maaf kepada Lampard. Karena selama ini dirinya selalu turun tangan soal makanan.


Bukan berarti Ian terlalu ikut campur dalam kehidupan Lampard. Ia ingin kakak besarnya itu terhindar dari musuh yang berusaha membunuh Lampard. Ia memang sangat pandai mendeteksi racun dalam makanan Lampard.


Sedangkan Lampard, dirinya tidak menjadi masalah. Ia tidak pernah marah sama sekali kepada sang asistennya. Ia sangat bersyukur sekali bahwa sampai detik ini masih ada yang melindunginya.


Hatori yang baru saja turun dari angkutan massal melihat betapa besarnya gedung S&T Company. Matanya tidak berkedip sama sekali. Karena dirinya sangat gum sekali dengan gedung itu.


"Benar apa yang dikatakan oleh orang. Kalau gedung itu sangat epic. Orang yang bekerja di sana sangat beruntung sekali," batin Hatori.


Plakkkkkk!


Sebuah tangan besar tepat mendarat di pundak Hatori. Hatori yang sedang melamun tiba-tiba saja terkejut. Matanya melihat wajah seseorang yang menurutnya sangat familiar sekali.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Hatori yang bingung.


"Aku memang bekerja di sini. Aku adalah seorang asisten CEO di perusahaan ini," jawab pria itu.


"Apakah itu benar?" tanya Hatori.


"Perkenalkan namaku Ian Erlangga. Kamu bisa memanggilku Ian saja," jawab Ian nama pria itu sambil membawa paperbag yang berisi biskuit dan susu untuk Lampard.


"Namaku Hatori Kanagawa. Kamu bisa bisa memanggilku dengan Hatori," ucap Hatori yang tersenyum ramah.


"Ngapain kamu ke sini?" tanya Ian.


"Aku memang disuruh ke sini untuk membantu Tuan Lampard," jawab Hatori.


"Kalau begitu ikut aku saja. Aku akan mengantarkan kamu ke Tuan Lampard," ajak Ian.


"Tidak apa-apakah?" tanya Hatori yang tidak enak hati.


Mereka masuk ke dalam dan melihat suasana lobi sangat sepi sekali. Memang pagi-pagi jarang ada yang berkeliaran. Semua pada sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


Ian yang menatap matanya awas sedang memeriksa keadaan. Ia memang sengaja untuk mendeteksi penyusup ke dalam. Jika tertangkap dengan Ian, maka penyusup itu tidak akan keluar dari sana. Ian juga tidak segan-segan membunuh sang penyusup jika berhubungan dari pihak lawan.


Ting!


Pintu lift terbuka.


Mereka masuk ke dalam dan melihat ada seseorang wanita muda masuk ke dalam. Lalu wanita itu menutupnya sambil membawa berkas dan tidak sengaja melihat Ian.


"Pak Ian," panggil wanita itu.


"Ada apa Bell?" tanya Ian.


"Apakah Pak Lampard ada di tempat?" tanya wanita itu.


"Ada," jawab Ian memilih untuk diam.


"Oh... iya pak. Berkas yang Anda minta tentang arus kas sudah aku siapkan," ucap Bella yang membuat Ian menganggukan kepalanya.


"Apakah kamu membawanya?' tanya Ian.


"Iya," jawab Bella yang mulai mencuri pandang ke Ian.


Mengerti apa yang dilakukan oleh Bella, Ian menghela nafasnya secara kasar. Wanita itu sengaja mencari perhatian ke Ian agar mengajaknya mengobrol. Namun Ian malah jenuh dan memperingatkan Bella.


"Jaga sikapmu Bel! kamu sudah memiliki seorang suami! bukankah kamu sedang hamil sekarang?" tegas Ian yang membuat Bella malu dan menunduk.


Ting!

__ADS_1


Pintu terbuka.


Mereka akhirnya keluar dari lift itu. Lalu Ian mengajak Hatori untuk menuju ke ruangan Lampard. Sementara Bella terus saja mengikutinya.


Ian yang sadar diikuti langsung memberinya jalan. Ia memberikan jalan itu agar Bella masuk ke dalam.


"Kok Pak Ian tahu kalau wanita ingin menggoda?" tanya Hatori yang sedari tadi penasaran.


"Dia adalah wanita penggoda. Bahkan seluruh karyawan priaku sering digodanya. Tapi untung saja mereka tidak terlalu memperdulikan. Sepertinya kamu paham dengan apa dilihat tadi?" tanya Ian.


Hatori hanya cengengesan melihat Ian. Dirinya memang paham akan hal itu. Rata-rata dirinya berteman dengan orang seperti itu.


"Tunggu di sini!" tegas Ian yang membuat Hatori menganggukan kepalanya.


Ian bergegas masuk ke dalam. Ia tidak sengaja melihat Bella mulai menggoda Lampard. Namun Lampard tidak pernah tergoda sama sekali dengan wanita seperti itu. Ia akhirnya memilih diam saja dan menunggu reaksi Lampard.


"Pak," panggil Bella.


"Ada apa?' tanya Lampard yang masih fokus pada pekerjaannya.


"Penjualan bulan ini agak menurun," jawab Bella yang tidak memiliki data-data akurat.


"Benarkah itu?" tanya Lampard yang mengetahui penjualan bulan ini stabil.


"Iya itu benar pak,' jawab Bella. "Aku bisa memberikan bukti-bukti yang akurat."


"Bukankah pekerjaan itu dikerjakan oleh orang-orang di divisi pemasaran? Kenapa pekerjaan itu jatuh ke divisi keuangan?" tanya Lampard yang memiliki pertanyaan menohok untuk Bella.


"Aku hanya melihatnya sekilas," jawab Bella yang mulai mencari jawabannya.


"Bukankah kamu memiliki tugas sendiri?" tanya Lampard dengan datar.


Jujur dua pertanyaan yang dilontarkan oleh Lampard langsung membuat Bella terdiam. Bella tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut. Karena tugas Bella hanya mengurusi pembelian barang mentah saja.


"Kalau bukan bidang kamu, buat apa kamu mengurusinya? Sedangkan kamu sendiri suka salah mengerjakan tugas-tugas kamu. Atau kamu di sini hanya menjadi wanita penggoda?" tanya Lampard dengan serius.


Mata Bella membelalak sempurna. Ia tidak percaya apa yang dikatakan oleh Lampard? Meskipun Lampard memakai suara datar, Bella tidak bisa berkutik sama sekali.


"Kalau begitu saya undur diri dulu," pamit Bella dengan wajah memerah karena malu.


Dengan langkah tergesa ya, Bella segera meninggalkan ruangan tersebut. Jujur saja hatinya sangat sakit sekali ketika dituding sebagai wanita penggoda. Memang kenyataannya begitu, Bella adalah seorang penggoda.


"Ada-ada saja," keluh Lampard.


"Ternyata enggak mempan ya?" tanya Ian yang membuat Lampard malas.


"Ya enggak mempan. Aku tidak tertarik dengan wanita seperti itu," jawab Lampard yang membuat sang asisten menganggukan kepalanya tanpa paham.


"bagaimana dengan Stella?" tanya Ian.


"Stella adalah gadis manis yang pernah aku temui," jawab Lampard yang tidak sadar memuji Stella.


"Calon sekretarisnya sudah datang. Kakak pasti tahu siapa dia," kata Ian.


"Memangnya siapa dia?" tanya Lampard.


"Namanya Hatori Kanagawa," jawab Ian.


Sontak saja Lampard terkejut dengan nama Hatori Kanagawa. Ternyata pria muda yang sedang dicarinya sudah muncul di hadapannya. Lalu Lampard menatap wajah Ian sambil bertanya, "Apakah kamu serius dengan jawaban itu?"


"Memangnya ada apa?' tanya Ian.

__ADS_1


__ADS_2