Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Menggemaskan.


__ADS_3

Melihat sang istri sedang kesal, Asmoro menjadi bahagia. Bukannya marah malahan ia ingin menggodanya habis-habisan. Bahkan Asmoro segera menarik tangan Stella dan memeluknya.


"Jangan pernah kesal sama aku seperti itu. Kamu kalau kesal sama saja seperti anak bayi yang sangat menggemaskan sekali. Aku baru tahu kalau dirimu itu sangat lucu. Bahkan saking lucunya, kamu berhak mendapatkan ciuman dari aku," ucap Asmoro dengan penuh percaya diri.


Stella memegang dada Asmoro sambil menggelengkan kepalanya. Ia merasa kalau dirinya sedang dikerjai oleh Asmoro. Akan tetapi Asmoro hanya bisa tersenyum dan memandang wajah ayu sang istri.


"Sekarang kamu bebas boleh ke mana saja. Tapi kamu tetap saja dikawal oleh pengawal Black Horizon maupun Klan KG. Kamu harus berhati-hati juga. Mereka belum puas Karena kamu belum jatuh ke bawah. Itu saja nasehatku," ucap Asmoro.


"Sebenarnya aku ini anak rumahan. Aku malas sekali jika keluar dari rumah tanpa ada yang harus dicari. Bisakah kamu memberikan aku pekerjaan? Agar aku tidak jenuh di rumah," tanya Stella yang meminta Asmoro memberikan pekerjaan.


"Tenang saja. Aku akan memberikan kamu pekerjaan setelah memiliki Asmoro Junior. Kamu bisa merawatnya dan mengajaknya bermain bersama. Tapi jangan lupakan yang seniornya," jawab Asmoro sambil tersenyum tengil.


"Maksud kamu apa?" tanya Stella.


"Maksud aku, kamu jangan pernah melupakan aku sedikitpun. Jika kamu fokusnya kepada Asmoro kecil. Bisa-bisa Asmoro kecil akan aku ungsikan kepada papamu itu. Biar saja Asmoro kecil akan mengganggu nenek dan kakeknya itu," jawab Asmoro yang tidak rela kalau Stella harus berbagi dengan anak-anaknya.


"Kamu ini sangat aneh sekali. Kamu itu sangat pencemburu sekali. Kamu itu tidak pernah memikirkan perasaanku ini. Masa kamu cemburu pada putra-putrimu sendiri. Ini sangat aneh sekali," kesal Stella.


Asmoro hanya tersenyum dan menatap wajah sang istri. Sebenarnya ia tidak marah sama sekali. Ia hanya berpura-pura marah saja. Agar Stella tetap saja memperhatikannya dan menyayanginya.


"Aku sebenarnya tidak marah sama kamu. Itu adalah pekerjaan yang mulia buat kamu. Cepat atau lambat kita akan memiliki seorang putra maupun Putri. Aku sudah tidak sabar menunggunya. Sepertinya aku harus menghajarmu setiap hari. Agar mereka cepat hadir ke dunia ini," bisik Asmoro yang membuat tubuh Stella meremang.

__ADS_1


Dengan cepat Stella melepaskan Asmoro dan menjauhinya. Jujur setelah menikah, Stella selalu saja memperhatikan Asmoro. Yang awalnya jutek dan dingin seperti kulkas berjalan. Diam-diam memiliki otak mes*m. Tak pernah terbayangkan di dalam otaknya itu, kini Stella harus menghadapi kemes*man sang suami.


"Kalau kamu mau pulang pulang saja. Aku akan membantu Mama memasak terlebih dahulu. Adelia bersama Kak Hatori sedang berjalan-jalan. Mereka sedang menikmati waktu berdua tanpa ada gangguan siapapun," pinta Stella.


Tak sengaja Anita mendengar Stella mengusir Asmoro dari apartemennya. Ia masuk ke dalam ruangan keluarga dan melihat mereka sedang mengobrol.


"Kenapa kamu usir suamimu itu Stella? Biarkanlah dia di sini. Siapa tahu nanti Asmoro membicarakan soal bisnis dengan papa dan kakekmu," ucap Anita dengan lembut.


"Masalahnya sekarang dia sedang memiliki banyak pekerjaan. Makanya dia nggak mau datang ke sini sama sekali. Eh, ujung-ujungnya ke sini," kata Stella dengan jujur.


"Tadi ada Martin ke apartemenku. Setelah Martin pergi, apartemenku Menjadi sepi. Makanya aku putuskan sekarang ke sini. Agar aku bisa menemanimu," sahut Asmoro yang berkata jujur.


"Atau kamu tidur saja di kamarnya Stella. Mama yakin di sana kamu bisa beristirahat sambil menunggu Stella selesai memasak," pinta Anita yang membiarkan Asmoro di sini.


"Itu bisa diatur. Lebih baik aku di sini dan menunggu istriku ini selesai memasak," Asmoro memilih untuk duduk kembali sambil menatap Stella.


"Kamu serius mau menungguku? Aku hari ini tidak kemana-mana. Aku ingin bermalam di sini dalam waktu beberapa hari saja," tanya Stella yang menatap wajah Asmoro.


"Kalau mau bermalam di sini nggak apa-apa. Aku kan sudah memiliki kamar sendiri," jawab Asmoro dengan penuh kemenangan.


"Kamar di sini hanya satu saja yaitu kamar utama yang dipakai oleh Papa dan Mama. Kamu hanya tidur bersamaku di kamarku sendiri. Meskipun kecil Kamu jangan marah sama aku. Aku memang sengaja mengambil kamar kecil agar bisa membersihkannya sendiri," jelas Stella.

__ADS_1


"No problem. Pergilah memasak. Jangan biarkan perutku ini lapar," pinta Asmoro sambil mengusir Stella untuk pergi ke dapur.


Stella hanya memutar bola matanya dengan malas. Jujur dirinya sangat kesal terhadap Asmoro. Ingin marah juga percuma. Karena baginya Asmoro itu adalah pelita hidupnya.


Sementara itu Anita sudah pergi dahulu. Ia sekarang sedang mempersiapkan banyak bahan makanan. Namun sebelum memasak, Agatha sengaja mencegahnya agar tidak memasak.


"Kamu lagi apa?" tanya Agatha.


"Aku ingin memasak untuk makan malam," jawab Anita.


"Lebih baik kita pergi ke pusat perbelanjaan. Aku di sana sudah membooking satu tempat untuk keluarga besar Kanagawa. Di sana Aku sengaja meminta Papa James dan Mama Linda untuk datang. Jujur aku sengaja melakukannya demi merayakan kepulanganku ke Indonesia. Di sisi lain aku menghubungi Nano dan juga Niwa untuk datang kesana,'' jelas Agatha.


"Apakah kamu mengumumkan tentang pernikahan putrimu itu?" tanya Anita dengan serius.


''Asmoro sengaja memintaku untuk memberitahukan kepada mereka. Mereka juga berhak tahu kalau Asmoro sudah memiliki Seorang istri. Di sisi lain keluarga Snowden harus tahu tentang kenyataan ini," jawab Agatha.


Anita hanya menganggukkan kepalanya. Ia sangat bahagia tentang keputusan sang suami. Sebenarnya ia juga sudah lama tidak menambahkan dirinya di hadapan keluarga Snowden. Sejujurnya Anita sendiri ingin sekali menemui mereka. Namun niat itu diurungkan begitu saja. Anita tidak boleh gegabah untuk mendapatkan sesuatu. Bisa-bisa nyawa dirinya terancam oleh ketamakan mereka berdua.


"Selama ini aku ingin sekali menemui Papa James dan Mama Linda. Berhubung aku tidak dapat menemuinya. Jadi aku harus mencari waktu yang tepat. Kamu tahu kan, John dan Tutik sengaja menyebarkan anak buahnya untuk mencari keberadaanku. Kalau datang ke sini maka nyawaku yang melayang. Bagaimana dengan putra-putriku itu? Aku tidak bisa melihatnya lagi jika mereka membunuhku," tanya Anita sambil mengelus dadanya itu.


Agatha paham apa yang dimaksudkan oleh Anita. Ia juga sangat khawatir tentang anak istrinya itu. Lalu Agatha mendekati Anita sambil berkata, ''Kamu sekarang sudah tidak boleh takut lagi melawan mereka. Karena kamu sekarang adalah nyonya Agatha. Jangan pernah menyerah dan biarkan balas dendammu itu semakin berkobar. Aku tahu jiwa dan perasaanmu ini belum bisa terpisahkan begitu saja."

__ADS_1


__ADS_2