
"Sepertinya Kakak sedang ada masalah besar. Aku tahu masalah itu. Tapi maaf Kak aku nggak bisa menjawabnya juga. Yang kita hadapi adalah anak yang super-super jenius. Saking jeniusnya tuan muda Sean akan bertanya berkali-kali hingga menemukan jawaban yang tepat."
Ucap Adelia dalam hati.
"Aku mau keluar dulu."
Pamit Adelia sambil berdiri dan meninggalkan mereka berdua.
Stella hanya memutar bola matanya dengan malas. Bisa-bisanya ia ditinggalkan Adelia begitu saja. Padahal dirinya ingin bertanya tentang pertanyaan Sean.
Adelia sengaja meninggalkan mereka, melihat interaksi Stella dan Sean. Saat keluar dari kamar, Adelia melihat Sean dan Stella sedang mengobrol. Mereka sedang membicarakan tentang dunia masa anak-anak. Namun hatinya sangat perih sekali. Jujur ketika ia bersama Anita, hidupnya sangat bahagia sekali. Meskipun tanpa ada sang Papa di samping, Adelia menjadi gadis manis yang penurut.
Sayang sekali, Stella harus mengarang cerita ketika Sean bertanya. Ia sengaja mengarangnya, agar Sean tetap bahagia mendengarnya.
Tiba-tiba saja Anita memergoki Adelia sedang bersedih. Anita mengajak Adelia lalu mengajaknya ke dapur. Anita bertanya kenapa dirinya menangis? Hingga akhirnya Adelia menceritakan apa yang telah terjadi pada Stella saat mengobrol pada Sean.
Anita memeluk Adelia sambil menangis bersama. Kedua wanita berbeda generasi itu pun paham. Kalau Stella saat ini telah memanipulasi masa kecilnya. Stella tidak ingin bercerita tentang masa hidupnya yang menderita. Stella tahu kalau sekarang sedang berhadapan dengan anak yang memiliki keceriaan tingkat tinggi. Maka dari itu dirinya harus pandai-pandai merangkai kata. Agar Sean tidak menjadi sedih ketika mendengar kisah hidupnya.
"Sean."
Panggil Stella yang tersenyum hangat di hadapan pria kecil itu.
"Apa Tante?"
Sahut Sean yang melihat wajah Stella.
"Apakah kamu akan makan malam sekarang?"
Tanya Stella dengan serius.
"Aku tidak akan makan malam. Jika kedua adikku belum bangun."
Jelas Sean yang tersenyum manis.
"Kenapa? Nanti mereka akan bangun sendiri dan makan siang sendiri?'
__ADS_1
"Memang. Mereka akan makan malam sendiri. Tapi aku sebagai kakak, nggak boleh meninggalkan mereka makan malam. Karena itu bukan prinsipku."
Ucap Sean.
"Tapi kalau kamu sudah lapar… ya makanlah. Kenapa juga kamu menunggu mereka?"
Tanya Stella yang terharu ketika melihat ketiga kurcacinya Stella akur.
"Kapan mama akan datang kesini?"
"Aku belum tahu. Aku masih belum mendapatkan pesan dari mama kamu itu. Sekarang bersabarlah."
"Aku rindu sama mama."
"Terus kamu nggak rindu sama papa kamu?"
"Papa itu lebih bahaya ketimbang maka. Mama sering sekali dikurung di dalam kamar. Kami dibiarkan begitu saja. Aku kadang-kadang kesal. Untung saja kakak-kakak pelayan cantik itu sangat baik sekali. Mereka sering membantu kami."
"Oh… harusnya kamu juga sayang sama papa kamu. Nggak boleh begitu?"
"Sebenarnya aku sayang banget sama Papa Martin dan Papa Roth. Keduanya orang yang sangat sunat sekali. Aku sangat mengagumi mereka."
"Ya… aku bersama Ed ingin seperti papa. Kecuali Scarlett. adik perempuanku itu memilih untuk menjadi seperti mama. Dia sangat jago melukis. Bahkan beberapa lukisannya itu pernah dipamerin ke galeri seni lukis di Amerika. Ternyata lukisannya sangat laku terjual."
"Makanya… aku kok merasa kalau Scarlett itu memiliki bakat yang cukup unik sekali. Saat Kak Hatori menggambar selalu saja Scarlett mengganggunya. Jujur mereka sepertinya menyatu dalam satu khas yang sama. Bahkan lukisan mereka sangat bagus sekali."
Batin Stella yang merasakan ada sesuatu di dalam Scarlett dan Hatori.
Mereka melanjutkan mengobrol satu sama lain. Mereka sangat akrab layaknya Ibnu dan anak. Selain itu Sean yang sangat ramah sekali terhadap orang memerlukan waktu sedikit dalam waktu penyesuaian. Bisa dikatakan Sean humble dan lucu sekali.
Lalu bagaimana dengan Scarlett? Scarlett sangat mirip sekali dengan Alexa. Selain itu juga Scarlett memiliki bakat menggambar. Saat disana, Stella selalu melihatnya menggambar. Ia tidak menyangka kalau lukisannya itu sudah memasuki ranah internasional.
Ya… Scarlett sangat mudah mendapatkan akses dan koneksi hingga ke internasional. Scarlett adalah lahir dari keluarga pebisnis. Keluarga Snowden adalah keluarga yang dimana banyak sekali yang mengenalnya. Ditambah lagi dengan koneksi dari Asmoro. Bisa dikatakan Asmoro cukup luas cakupannya.
Ketika kelahiran Sean pertama kali. Asmoro sudah mengumumkan kalau dirinya sudah menjadi kakek. Ia juga memposting kalau Alexa adalah jam angkatnya. Ia tidak segan-segan memamerkan aurat adopsinya di publik.
__ADS_1
Lalu bagaimana dengan Gio? Pria paruh baya itu tidak memiliki masalah. Ia membiarkan Asmoro melakukannya. Hal itu bisa membuat sang adik angkatnya bahagia. Ia tidak ingin sang adik angkatnya menderita untuk kesekian kalinya. Gio tahu kalau sang adik saat itu merasakan hati yang terluka ketika patah hati.
Di basement, Asmoro dan Ian sudah sampai. Mereka tidak menyangka kalau para musuh tertangkap pada warga. Mereka diwajibkan untuk mengganti kerusakannya. Bagaimana jadinya kalau mereka tidak mau mengganti biayanya itu? Apakah mereka akan dikejar sama pada warga itu? Entahlah… Asmoro tidak memperdulikan akan hal itu. Ia membiarkan semuanya berjalan apa adanya.
"Aku tidak bisa membiarkan kalau mereka tertangkap pada warga."
Celetuk Asmoro yang tersenyum bahagia.
"Mereka sangat bodoh sekali. Bisa-bisanya meremas datang dengan kecepatan tinggi lalu menabrak mobil didepannya. Dikira itu mobilnya Alexa apa?"
Sahut Ian yang terkekeh lucu membayangkan mereka babak belur di tangan warga.
Mereka sengaja melewati tangga darurat. Mereka sengaja melewati tangga darurat guna untuk berolahraga. Lantai apartemen milik Asmoro berada di lantai enam belas. Maka dari itu mereka memutuskan untuk berolahraga terlebih dahulu.
"Kapan kita terakhir nge-gym?"
Tanya Asmoro yang belum juga capek.
"Hmmm… seminggu sebelum kamu menikah kak."
Jawab Ian sambil mengingat kapan terakhir Asmoro nge-gym."
"Besok hari Senin. Kita nge-gym di tempat biasa."
Ucap Asmoro.
"Baiklah kalau begitu. Aku juga sudah lama nge-gym. Rasanya berkutat di depan banyak dokumen sialan itu, aku lupa nge-gym sama sekali."
"Biasanya kamu paling rajin. Bayangkan saja seminggu bisa tiga kali."
"Bagaimana bisa rajin? Kalau setiap malam terjadi lemburan dadakan? Ingat ini bro akhir bulan."
Asmoro baya terkekeh mendengar keluhan asistennya itu. Akan tetapi Asmoro menyadari akan hal itu. Ia juga merasakan hal yang sama. Hampir setiap hari pekerjaannya banyak. Ia juga tidak bisa menghandle pekerjaannya tersebut. Belum lagi di dunia bawah tanah. Asmoro seakan menghabiskan waktunya di dua dunia sekaligus.
__ADS_1
Akan tetapi sekarang dirinya mendapatkan apresiasi dari sang istri kecilnya itu. Ia sangat bangga sekali karena istri kecilnya mau memahami pekerjaannya itu sebagai ketua mafia. Apakah Stella takut dengan status sebagai istri mafia sekarang?
Justru itu Stella sangat bangga sekali mendapatkan seorang suami mafia. ia tidak akan takut lagi melawan Patty dan Tutik. Jika dirinya dulu mau dijual ke mafia. Maka sekarang dirinya mendapatkan perlindungan yang ekstrak dari Asmoro.