
"Kamu pernah menyuruhku kuliah. Tapi aku berangkat ke sana. Sesampainya di sana aku memutuskan untuk bekerja di sebuah restoran. Di sanalah aku mulai nakal menjadi calon suami yang tidak memiliki aturan," jawab Agatha yang membuat Anita terkejut.
"Apakah itu benar? Jadi selama ini aku ditipu ya sama kamu?" tanya Anita.
Seketika Agatha tertawa terbahak-bahak mendengar pernyataan Anita. Memang saat itu Anita pernah menyuruh Agatha untuk kuliah. Tapi ujung-ujungnya Agata tidak pernah kuliah sama sekali. Ia lebih memilih bekerja di sebuah restoran untuk menghasilkan uang. Di dalam otaknya bagaimana cara menghasilkan uang sebanyak itu agar bisa menikahi Anita? Memang Agatha itu orang yang sangat unik sekali. Selain unik dirinya sering melakukan hal-hal yang di luar nalar.
"Aku nggak pernah kuliah sama sekali. Tapi aku bisa menguasai ilmu tentang perbisnisan. Setelah aku kembali ke Jepang. Papa menyuruhku kuliah. Mau tidak mau Aku harus pergi kuliah. Kamu tahu kenapa aku harus pergi kuliah? Karena Papa adalah orang yang sangat tegas sekali dan tugas darinya harus dikerjakan. Jika tidak aku akan mendapat hukuman. Hubungannya itu aku dijemur hingga siang," jelas Agatha.
"Kenapa dengan Hatori?" tanya Anita.
"Hatori juga sama. Dia meminta izin kepada bu Gita pergi kuliah. Ujung-ujungnya dia bekerja di sebuah restoran mewah kalau siang. Pagi hari dirinya menjadi tukang buah. Yang di mana Hatori mengirimkan buah-buah itu ke customernya masing-masing. Salah satu customer yang dimiliki oleh Hatori adalah keluarga Snowden. Diam-diam Hatori sudah memiliki tabungan yang cukup banyak. Memang aku sadari pria kecilku itu memiliki sifat seperti diriku. Aku juga nggak berhak marah sama dia. Karena sifat jelekku dibawa oleh Putraku sendiri," tambah Agatha.
"Seharusnya kamu jangan marah gitu. Tapi ada baiknya juga. Kamu kan nggak ngomong siapa dirimu sebenarnya? Coba kalau kamu ngomong Siapa kamu sebenarnya? Terus memiliki perusahaan yang besar di Jepang. Aku yakin Hatori memilih untuk kuliah Karena perusahaan itu akan jatuh ke tangannya," kata Anita.
Agatha mengangguk tanda setuju. Memang dirinya salah tidak mengatakan hal itu kepada putra tercintanya. Tapi ada benarnya juga. Dari jauh Agatha melihat Hatori berjuang keras untuk mendapatkan sesuatu dengan tidak mudah.
"Kamu tahu kenapa aku seperti itu? Aku ingin mendidik anakku untuk mendapatkan sesuatu bukan melalui aku sendiri. Aku ingin mereka meraih impiannya dengan kerja kerasnya. Itulah kenapa aku tidak pernah bilang kalau aku adalah seorang ahli waris. Jika aku bilang mereka akan mudah mendapatkan prestasi melalui nama besarku. Tapi aku nggak mau itu."
"Aku membenarkan perkataanmu. Banyak sekali orang tua mendidik anak-anaknya dengan cara yang berbeda. Aku bangga kepadamu karena Hatori tidak silau dengan hartamu itu. Semoga saja putra kita mengerti akan maknanya kehidupan."
"Aku harap kamu nggak marah."
"Aku nggak marah sama kamu. Aku juga tidak akan dendam sama kamu. Aku sudah membenarkan perkataanmu. Aku teringat dengan nasehat bapak ibuku dahulu. Jika aku memiliki seorang anak. Aku harus menggemblengnya dengan keadaan susah. Tapi kamu sudah melakukannya. Dan sekarang aku mau bilang terima kasih."
Agatha segera menarik tubuh mungil Anita dan memeluknya. Syukurlah... Agatha tidak terkena semburan sama istrinya itu. Pria paruh baya itu tersenyum bahagia dan berharap keadaannya kembali seperti semula.
__ADS_1
Ada kalanya jika kita memiliki seorang anak. Kita harus menggemblengnya dari bawah hingga ke atas. Kita akan tahu di mana kemampuan anak kita sebenarnya. Itulah beberapa kalimat sebelum orang tua Anita meninggal dunia. Memang yang dikatakan itu benar apa adanya.
Siang yang cerah.
"Duh... Hari ini sangat panas sekali," keluh Scarlett sambil mengipasi badan mungilnya itu.
"Dek, mataharinya sangat galak sekali ya," celetuk Edward.
"Apa maksud Kak Ed?" tanya Scarlett yang sedang menunggu Alexa sedang mandi.
"Bayangkan saja, itu matahari bisa membakar tubuh kita," jawab Edward.
"Enggak kak. Mataharinya nggak jahat. Kakak tahu nggak kalau matahari itu sangat berguna sekali bagi manusia?" tanya Scarlett.
"Kalau kata aku mataharinya tetap jahat," jawab Edward yang tidak mau kalah berdebat dari Scarlett.
Seluruh pengawal yang menjaga di situ sangat terkejut sekali dengan penjelasan Scarlett. Mereka tidak menyangka kalau Scarlett memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Diam-diam Scarlett sering menyelinap di ruangan Martin untuk membaca satu buku yang berisi tentang sains. Di sinilah Scarlett paham apa yang dijelaskan tentang alam dan tata surya.
"Yang dikatakan Scarlett itu benar Edward," sahut Alexa yang membawa air botol mineral dan menaruhnya di atas meja. "Adikmu itu sangat pandai jika berurusan dengan ilmu pengetahuan alam. Ketika papamu bekerja di ruangannya. Scarlett sering menyelinap di dalam ruangan tersebut. Scarlett suka membaca buku milik Mama yang berisikan tentang ilmu pengetahuan alam. Memang adikmu kurang lancar membaca tapi keinginannya untuk mengetahuinya itu sangat besar sekali. Kamu boleh mencobanya untuk membaca buku-buku ilmu pengetahuan tersebut. Kalau kamu mau mama akan menemanimu."
Edward tersenyum manis sambil memuji kehebatan sang adik perempuannya itu. Jujur, Edward juga suka dengan membaca. Namun dirinya sangat malu karena kurang lancar membaca.
Akhirnya masalah ini terpecahkan. Para pengawal pun tersenyum sambil memberikan pujian kepada Scarlett. Meskipun Scarlett anaknya usil. Akan tetapi mereka sangat menyayanginya. Jika Scarlett sakit, para pengawal itu pun ikut bersedih.
"Tapi Ma, Aku tidak bisa membaca dengan lancar. Aku takut semuanya salah," ucap Edward bersedih.
__ADS_1
"Nggak usah sedih seperti itu Kak. Nanti Scarlett dan Kak Sean yang mengajarkan Kak Edward membaca. Yang penting sekarang semangat," ujar scarlet sambil menghibur Kakak keduanya itu.
Alexa sangat bersyukur sekali memiliki tiga anak yang lucu-lucu. Mereka sangat kompak ketika salah satu dari mereka sedang kesusahan. Entah kenapa dirinya sangat terharu mendengar Scarlett berkata seperti orang dewasa. Meskipun perkataan mereka sangat absurd dan sering mencontoh perkataan orang dewasa. Bagi dirinya itu tidak jadi masalah. Anggap saja Alexa mendapat hiburan tanpa harus mencarinya jauh-jauh.
"Apakah kalian ingin ikut bersama Mama menjemput Kak Sean?" Tanya Alexa.
"Tapi ma. Nanti Scarlett ingin pergi ke kantor kakek Lampard," jawab Scarlett.
"Ya sudah deh nanti kita ke sana bersama-sama. Mama juga sudah lama tidak ke sana," ucap Alexa yang dipengaruhi oleh teriakan kedua anaknya dengan riang gembira.
"Kalau begitu ikut mama terlebih dahulu," ajak Alexa.
"Memangnya kita mau ngapain ma?" tanya Edward.
"mengganti bajumu dengan baju yang nyaman agar kalian tidak kepanasan seperti itu," jawab Alexa sambil mengulurkan tangannya agar mereka menggenggamnya.
Si kembar itu akhirnya memegang tangan Alexa. Kemudian Alexa menggandengnya hingga masuk ke dalam.
Beberapa saat kemudian datang Martin sambil membuka dasinya. Pria itu melihat istrinya yang sudah cantik sekali, "Kamu mau ke mana?"
"Aku mau pergi menjemput Sean. Sekalian aku ingin mengunjungi papa angkatku. Jujur akhir-akhir ini Aku sangat merindukannya," jawab Alexa.
"Kalau begitu aku ikut. Sepertinya aku ingin memakan kue coklat keluaran terbaru yang akan diproduksi massal oleh papamu itu," jelas Martin.
"Apakah kamu tidak berganti pakaian?" Tanya Alexa.
__ADS_1
"Nggak usah deh. Lebih baik aku memakai baju seperti ini," jawab Martin.
"Kalau begitu aku akan mengganti baju mereka semuanya agar tidak kepanasan," pamit Alexa sambil meninggalkan Martin sendirian.