Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Aku Bukan Pria Tua.


__ADS_3

“Janganlah berpikiran negatif. Kemungkinan besar kamu memiliki saudara kembar yang entah dimana. Tapi kamu enggak tahu dimana keberadaannya. Kemungkinan besar saudara kamu itu terkena musibah jadinya kamu ikut merasakannya,” jelas Ibra yang malas menjelaskan tentang ilmu santet.


“Mana ada dok saya memiliki saudara? Kata papa saya adalah anak tunggal. Jika saya anak tunggal berarti aku tidak memiliki saudara,” jawab Hatori yang menjelaskan siapa dirinya.


“Kalau kamu memiliki saudara bagaimana?” tanya Ibra.


“Jika memiliki saudara, saya akan senang dan tidak akan menolak hal itu. Dan saya tidak akan kesepian , “ ucap Hatori yang bersedih karena tidak memiliki saudara. “Kalau itu namanya apa dok?”


“Jika seperti itu artinya adalah kamu sama saudaramu itu memiliki ikatan batin yang kuat,” ujar Ibra.


Seorang suster cantik masuk ke dalam dan melihat percakapan Ibra dan Hatori. Suster itu menghampiri Ibra sambil menyapa, “Dok.”


“Iya sus,” sahut Ibra. “Oh... ya... apakah sudah selesai laporan CT Scan pasien atas nama Hatori?” tanya Ibra.


“Sudah,” jawab suster itu sambil menyodorkan hasil laporan CT scan itu ke arah Ibra. Kemudian Ibra meraihnya dan membuka hasil CT scan tersebut lalu memeriksanya secara mendetail.


“Bagus... tidak ada yang mencurigakan di dalam tubuh kamu,” puji Ibra dengan tulus. “Kamu tidak memiliki riwayat penyakit apapun. Jadi kesimpulannya kamu sehat.”


“Apakah aku bisa pulang dok?” tanya Hatori.


“Ya... detik ini kamu bisa pulang,” jawab Ibra.


“Dok, bolehkah saya bertanya lagi?” tanya Hatori.


“Apa itu?” tanya Ibra yang mencurigakan.


“Dokter bisa enggak menyembuhkan hati yang terluka karena ditinggal pacar?” tanya Hatori yang membuat Ibra dan suster cantik itu membelalak sempurna.


“Apakah itu kamu?” tanya Raka.


“Iya dok,” jawab Hatori asal.


“Lebih baik kamu lupakan dia dan mencari yang lain. Sudah itu saja,” jawab Ibra yang tidak pandai soal percintaan.


Hatori menganggukan kepalanya dan berpikir sejenak. Setelah itu Hatori bertanya lagi, “Bagaimana caranya saya melupakan dia?”

__ADS_1


“Lebih baik kamu healing dan bekerja keras. Aku jamin kamu bisa melupakannya,” jawab Ibra.


Hatori akhirnya menganggukan kepalanya tanda setuju. Kemudian Hatori menatap wajah Ibra dan sang pemilik wajah itupun terkejut. Setelah itu sang pemilik wajah berkata, “Ya sudah kamu boleh pulang.”


“Terima kasih dok,” jawab Hatori.


“Sus, segera urus pasien ini pulang!” perintah Ibra yang memberikan CT scan itu ke suster.


“Baik dok,” balas suster itu.


Ibra segera melangkahkan kakinya menuju ke kantornya. Sementara Hatori tersenyum melihat suster itu yang cantik. Ketika dibantu, Hatori menolaknya dan mengucapkan terima kasih. Namun sebelum pulang Hatori berkenalan dengan suster itu. Sang suster itu memperkenalkan dirinya dan bertukar nomor ponsel.


Markas Besar Black Horizon.


Lampard yang sudah sampai di markas besar langsung melihat beberapa pengawalnya yang sudah berjajar rapi di depannya. Lampard membubarkan mereka karena tidak perlu ada kata sambutan buat dirinya. Lampard sangat berbeda dari ketua mafia-mafia lainnya. Karena ia sendiri tidak mau diperlakukan secara istimewa.


“Kita langsung saja ke ruangan bawah tanah saja!” perintah Lampard.


“Siap,” sahut Ian yang masih setia mengekorinya.


Mereka akhirnya pergi ke ruangan bawah tanah. Di sepanjang lorong berada di sana hanya ditemani oleh lampu-lampu kecil yang tidak terang. Lampard sengaja membuat lampu itu sedikit redup dan temaram.


“Baik,” balas Ian.


Setiap dua bulan sekali Lampard selalu mensterilkan tempat ini dari musuh. Lampard tidak mau kecolongan jika ada musuh yang membaaur menjadi pengawal Black Horizon. Hal itu bisa membahayakan seluruh keluarga besar Snowden. Bagaimana dengan Blue Diamond? Tugasnya sama juga apa yang dilakukan oleh Black Horizon. Kedua organisasi bawah tanah itu sengaja melindungi keluarga Snowden dan tiga perusahaan tersebut. Mereka bukan sekedar pengawal biasa. Akan tetapi mereka adalah pengawal yang memiliki otak di atas rata-rata. Sang ketua memang sengaja memilih para pengawal itu untuk dijadikan karyawan di seluruh divisi perusahaan. Agar bisa mencegah para musuh yang menyelinap masuk ke dalam perusahaan.


“Buka!” perintah Lampard dengan aura pembunuh.


“Baik tuan,” balas pengawal itu sambil membuka pintu dan mempersilakan Lampard dan Ian masuk. “Silakan Tuan.”


Lampard segera masuk dan melihat kedua orang itu yang sudah terikat dengan rantai. Lalu Lampard mendekatinya sambil menatap orang itu dengan senyum mematikan.


“Kak... sebelum berbicara lebih baik aku periksa terlebih dahulu. Apakah ada alat pengintai di dalam tubuh mereka?” tanya Ian yang mengeluarkan alat untuk memeriksa sebuah chip perekam di dalam tubuh kedua pria itu. Lalu Lampard menganggukan kepalanya sambil melipat kedua tangannya di dada. Dengan tatapan tajam dan sorot kematian, Lampard ingin menghabisinya sekarang juga. Pria paruh baya itu pun tidak habis pikir, kenapa mereka melakukannya di tempat umum? Sedangkan di sana masih banyak anak-anak kecil sedang bermain. Meskipun dirinya memiliki image kejam dan pembunuh, Lampard tidak akan melakukan hal itu di tempat umum. Apalagi saat itu sedang ramai sekali pengunjung sedang berolahraga.


Sebelum melakukan eksekusi, Lampard meraih ponselnya lalu menghubungi Alexa. Lampard menanyakan sesuatu tentang ketiga cucunya tentang psikisnya. Alexa berbicara kalau si kembar sangat terpukul dan menangis. Sekarang si kembar ingin mencari keberadaan Stella. Hati Lampard sangat teriris mendengar ucapan Alexa. Memang pagi tadi seharusnya menjadi momen ceria dan bahagia. Namun gara-gara orang ini suasana menjadi kacau dan sendu. Setelah menelepon Alexa, Lampard segera mendekatinya dan bertanya kepada Ian, “Apakah aman?”

__ADS_1


“Aman,” jawab Ian.


Lampard menganggukan kepalanya sambil tersenyum devil. Wajah yang biasanya ramah, penuh senyum kini menjadi menakutkan. Ian sang asistennya mulai merasakan ada yang mengamuk di dalam tubuh bosnya itu. Jika boleh memilih, Ian tidak akan berada disisinya saat-saat begini.


“Kamu... kamu!” tunjuk Lampard satu persatu dengan nada tegas dan mematikan. “Dari mana asal kamu!”


Mereka memutuskan untuk bungkam dan tidak bicara sepatah kata pun. Mereka masih santai dan menganggap orang berada di depannya itu adalah seorang pria tua yang lemah.


“Dari mana asal kalian!” tanya Lampard dengan nada tegas.


Mereka tetap saja diam dan menyunggingkan senyumnya. Kedua pria ini seakan-akan mengejek Lampard. Jujur mereka tidak menyangka kalau yang dihadapinya adalah pria sudah tua. Pantasnya pria itu berada di rumah sambil menggendong cucu.


“Aku tanya dari mana asal kalian?” tanya Lampard dengan aura pembunuh.


Pengawal yang berjaga di sana mulai merinding ketakutan mendengar suara Lampard dengan aura pembunuhnya. Mereka memejamkan matanya agar tidak terjadi pembantaian besar-besaran yang dilakukan Lampard.


“Jika kamu enggak mau jawab, biarkan seluruh alat-alatku yang bekerja. Kemudian tubuhmu aku kirimkan ke dalam liang lahat!” tegas Lampard. “Dari mana kalian!”


Mereka bergeming tidak bicara apapun. Mereka tidak akan memberitahukan asalnya dari mana? Keempat kali Lampard bertanya dengan pertanyaan yang sama. Namun tidak ada jawaban yang lolos keluar dari mulut kedua orang itu. Mau tidak mau Lampard mengambil pisau kecil tajam dan berkilau. Lalu Lampard mendekati mereka sambil melemparkan senyuman devilnya.


“Aku bertanya sekali lagi kepada kalian dengan pertanyaan yang sama. Jika kamu tidak menjawab terpaksa aku menguliti tanganmu!” titah Lampard. “Dari mana asal kalian?”


Lampard akhirnya menunggu mereka mengeluarkan beberapa kata. Tapi Lampard tidak menemukan suara dari mereka. Dengan geramnya Lampard mengarahkan pisau itu ke wajah salah satu pria tersebut.


“Aku sudah bosan menunggu kamu bicara. Kamu tahu kan jika berbicara pada orang yang lebih tua harus dijawab. Jangan diam saja begini! Itu namanya tidak sopan sama orang lebih tua. Seharusnya kamu menghormatinya dan say hello kek,” jelas Lampard. “Jika kamu tidak menjawab ya sudah. Aku pilih pisau ini bicara!”


Lampard sudah geram dengan kelakuan mereka berdua. Lalu Lampard mengangkat pisau itu dan menancapkan ke paha pria itu.


Jleb.


Argh!


Pria itu berteriak kesakitan. Wajah yang seakan mengejek dan meremehkan hilang seketika. Sekujur tubuhnya mulai mengeluarkan keringat dingin. Tubuhnya mulai bergetar dan lemas.


“Aku tadi bertanya kenapa tidak menjawab?” tanya Lampard yang melihat pria itu kesakitan.

__ADS_1


“Am... am... am... pun tuan,” jawab pria itu.


“Tidak ada kata ampun buat kamu. Pertama kamu sudah meremehkan aku karena sudah tua. Memang aku sudah tua. Tapi apakah aku pria tua yang lemah? Tidak. Aku bukan pria tua lemah tidak bisa ngapa-ngapain?” tanya Lampard.


__ADS_2