Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Kecewa.


__ADS_3

"Ketika kami sedang banyak pekerjaan. Kamu bisa menjaganya di kamar Stella. ada juga kamu bisa ikut kami untuk belajar tentang bisnis. Kalau ikut lebih baik kamu melihat saja. Nanti kamu akan paham tentang seluk beluk dunia bisnis sesungguhnya," jawab Ian yang sengaja mengajak Adelia.


"Lalu kenapa Kak Stella juga ikut?" tanya Adelia.


"Stella ikut karena disuruh suaminya. Kak Asmoro juga akan mengajarkan Stella tentang dunia bisnis. Karena kalian adalah calon ahli waris Ayashi," jawab Ian.


"Aku harus meminta izin dulu kepada kedua orang tuaku. Aku tidak bisa tanpa izin mereka," pinta Adelia.


"Tidak apa-apa," ujar Ian.


"Kalau mereka tidak mengizinkanku?" tanya Adelia.


"Kenapa mereka tidak mengizinkanmu? Mamamu sudah bertemu dengan papamu. Aku akan mengajakmu selama beberapa hari ke depan. Lagian di rumah masih ada kakak Yamato dan juga tuan Yamada yang akan menemani mama," jawab Ian.


"Oh my God.. sepertinya ada udang dibalik batu," kesal Adelia.


"Aku nggak mau bersifat buruk dengan kamu. Aku mau kamu ikut denganku. Sekalian untuk mengenal hidup di luar sana itu bagaimana? Suatu Hari nanti perusahaan papamu akan mengepakkan sayapnya hingga ke luar negeri. Cepat atau lambat kamu akan mengetahui dan mengenali banyak karakter pebisnis dari manapun," jelas Ian.


"Ya sudah kalau begitu. Aku akan pulang dan meminta izin kepada mereka terlebih dahulu," ucap Adelia.


"Pergilah terlebih dahulu. Nanti aku akan menyusulmu. Aku ingin memakan nasi teriyaki buatanmu," sahut Ian yang menyuruh Adelia pergi.


"Maafkan Aku," balas Adelia yang segera meninggalkan Ian.


Melihat kepergian Adelia, Ian menilai kalau Adelia memiliki potensi yang cukup besar. Ia tidak akan menyia-nyiakan sang kekasih mengajari dirinya di dunia bisnis sesungguhnya.


Sebelum mereka sampai ke Jakarta, mereka sempat mengobrol tentang si kembar Adelia dan juga Stella. Ian berkata dengan jujur kalau mereka memiliki potensi yang sama di dalam dunia bisnis.


Asmoro mengatakan kalau Adelia memiliki suatu bakat di dalam dunia bisnis. Memang, Adelia sangat jago ketika berbicara bisnis. Lalu Asmoro mengijinkan Ian mengajak Adelia pergi ke Manchester. Di sana mereka akan belajar mulai mengenali karakter pria dan wanita.


Asmoro yang selesai makan langsung mendekati ketiga cucunya. Namun sebelum itu, ia meminta izin kepada Alexa. Ia menceritakan kalau hari ini akan pergi ke Manchester. Lalu Asmoro mengizinkan Alexa untuk tinggal di sini. Penyebabnya adalah ketiga cucunya itu masih betah. Dengan terpaksa Alexa akan stay di sini hingga esok hari.


Lalu bagaimana dengan Stella? Sangat disayangkan sekali, karena Stella akan pergi mengikuti Asmoro. Sebenarnya ia sangat ingin sekali bermain dengan ketiga anak Alexa. Namun apa daya, dirinya harus pergi.


"Kita berangkat siang atau sore?" tanya Ian sambil mendekati Asmoro.

__ADS_1


"Ivan masih tertidur lelap. Dia akan terbangun ketika jam tiga sore. Aku baru sadar kalau Ivan hampir setiap malam mencari informasi tentang Exodus," jawab Asmoro.


"Bukankah Exodus sudah dipegang oleh Jacob dan Imron?" tanya Ian.


"Aku nggak mau mereka mencarinya secara terus-menerus. Bisa dipastikan mereka akan menjadi bulan-bulanan Liam. Oleh karena itu, aku memang sengaja merandom setiap sebulan sekali agar kita mendapatkan informasi yang valid. Jika tidak maka mereka yang akan terbunuh. Aku tidak mau itu," jawab Asmoro.


Ian pun setuju. Ia baru sadar tabiatnya Exodus bisa membunuh orang. Mau tidak mau Asmoro harus melakukannya. Ia harus mengatur strategi agar Exodus tidak melacak orang-orangnya.


"Aku akan mengajak Adelia untuk ikut ke Manchester. Mulai saat ini Adelia harus tahu tentang seluk beluk dunia perbisnisan. Cepat atau lambat dia akan memegang beberapa perusahaan dari Ayashi Groups," jelas Ian.


"Lebih baik begitu. Kalau ada pekerjaan tentang dunia bisnis. Kamu bisa mengajaknya. Jangan lupa ajarkan seluruh karakter orang-orang di dunia bisnis seperti apa? Aku tidak mau jika Adelia maupun Stella dikerjai oleh orang-orang yang tidak ada guna seperti itu. Dan kamu harus membentuk kepribadian Adelia menjadi sangat keras. Jika kamu berhasil dalam poin ini. Dia akan bisa mengimbangimu sebagai istri sahmu," jelas Asmoro.


"Dia sangat lembut sekali menjadi seorang wanita seperti Stella," ucap Ian.


"Justru itu. Aku juga akan membentuk karakternya Stella. Aku tidak akan membiarkan Stella diam seperti batu. Buatlah mereka seolah-olah seperti air yang mengalir dengan sejuk. Tapi menghanyutkan buat para musuh. Inilah yang aku maksud untuk saat ini. Aku yakin kamu mampu melakukannya. Jangan lupa kamu ajarkan juga tentang ilmu militer," sambung Asmoro.


"Apakah itu tidak bahaya bagi mereka?" tanya Ian.


"Justru itu. Semakin mengenal dunia militer. Mereka akan bisa melindungi dirinya sendiri dari bahaya. Begitu juga dengan papa mertuamu itu. Dia pernah ikut wajib militer selama tiga tahun. Sebentar lagi Hatori juga akan ikut wajib militer. Rasanya tidak etis, jika Stella dan Adelia tidak mengenal apa yang namanya militer.Ini sangat penting sekali bagi kehidupan mereka berdua," jawab Asmoro.


"Ada pekerjaan yang cukup rumit sekali. Apakah kau harus mengambilnya atau tidak?" tanya Asmoro.


"Apa itu Kak?" tanya Ian balik.


"Ada seseorang yang ingin menyewa jasaku. Orang itu ingin menghabisi musuh bebuyutannya. Dia menyuruhku membunuhnya melalui tembakan jarak jauh. Untuk saat ini aku sudah tidak mau lagi melakukannya," jawab Asmoro.


"Siapa itu kak?" tanya Ian.


"Dia bernama Fabian. Dia adalah seorang mafia berasal dari Swedia. Dia memiliki musuh yang bernama El Saito. Aku disuruh membunuhnya," jawab Asmoro yang membuat Ian terkejut.


"Bisakah Kakak membatalkan rencana penembakan itu?" tanya Ian.


"Kenapa kamu ingin membatalkan?" tanya Asmoro balik.


"Karena El Saito adalah paman dari Kak Gio. Selama ini beliau sudah sering membantu Black Horizon terutama kawasan Eropa. Jika membunuhnya, Kakak bisa mengakibatkan permusuhan antara Kak Gio dengan kakak sendiri. Aku nggak mau itu terjadi. Selama kita berada di bawah kewenangan Kak Gio. Kita nggak boleh melakukan hal-hal konyol seperti ini," jelas Ian yang tidak mau membuat permusuhan antara Asmoro dan Gio berkembang.

__ADS_1


"Yang kamu katakan itu benar. Aku tidak akan bisa membunuh dia. Aku yakin meskipun jahat, Dia memiliki amal yang baik. Contohnya saja, hampir di setiap negara dia selalu memiliki panti asuhan. Itulah aku ragu menolak ketika mendapatkan pesanan seperti itu," ucap Asmoro.


"Lebih baik akan aku selidiki. Aku tahu orang yang menyewa kakak itu nggak beres. Aku tahu pasti ada dalang dibaliknya. Kalau itu terjadi, apa yang kakak akan lakukan setelah ini?" tanya Ian yang menghambatkan bokongnya di hadapan Asmoro.


"aku juga tidak akan mungkin mengadu domba antara satu dengan lainnya. Menurut track record yang aku tahu. Mereka berdua adalah sahabat mulai dari bayi hingga detik ini. Tapi kenapa orang itu ingin membunuh sahabatnya sendiri? Sepertinya aku harus mencari jawabannya," jawab Asmoro. "Bagaimana dengan keadaan Manchester?"


"Aku sudah berbicara dengan cabang CEO sana. Katanya ini sangat buruk sekali. Aku nggak tahu asal usul masalah itu dari mana? Aku sendiri masih tidak bisa menebak apa yang telah terjadi," jawab Ian.


"Nanti sore kita berangkat. Aku akan mengajak Sheila dan ketiga cucuku berjalan-jalan. Aku sudah lama tidak mengajaknya keluar," ucap Asmoro.


"Sebentar lagi akan ada gosip yang menggemparkan. Cepat atau lambat kakak akan masuk ke dalam majalah gosip. Yang lebih parahnya, jika gosip itu jatuh ke tangan mulut numplek. Di negara ini akan menjadi heboh heboh-hebohnya," sambut Ian.


"Astaga, kenapa sih kamu mengingatkan acara gosip itu kepadaku? Bisa nggak kamu melupakan akun gosip itu. Gara-gara dia aku hampir pingsan," keluh Asmoro yang mendapatkan gelap tawa Ian.


"Tapi jujur, hanya akun gosip itu yang berani mengobrak-abrik kehidupan kakak. Untung saja Kakak saat itu sangat santai dan membiarkannya saja," ujar Ian.


"Kamu mau kalau aku membunuh mereka?" tanya Asmoro.


"Nggak Kak. Gara-gara kak Martin saja kak Asmoro ikut terseret dalam kasus gosip itu. Lebih baik nggak usah dibunuh Kak. Mereka juga cari uang. Mereka juga sedang menghidupi anak dan keluarganya. Jika Kakak nggak terkenal sampai saat ini. Kemungkinan besar Kakak nggak akan dikejar-kejar banyak perempuan," ledek Ian.


"Ah sialan lu. Puas ya lu sekarang ngeledekin gue," kesal Asmoro yang dibuat-buat agar Ian takut. "Lebih baik kamu hubungi Leon untuk mempersiapkan dirinya ikut jalan-jalan pada siang ini di pusat perbelanjaan."


"Ah baiklah," sahut Ian yang berdiri meninggalkan Asmoro untuk menghubungi Leon.


Setelah mengobrol dengan Ian, Asmoro untuk mencari keberadaan Stella. Entah kenapa apartemennya menjadi sangat sunyi sekali. Ia bingung lalu pergi ke kamar. Sesampainya di kamar Asmoro melihat Stella yang baru saja mandi. Ia mengerutkan keningnya sambil bertanya, "Kemana anak-anak?"


"Anak-anak sudah pulang. Kak Martin sudah menjemputnya. Katanya sih mau menemui papa James," jawab Stella.


"Padahal untuk saat ini aku ingin mengajaknya ke pusat perbelanjaan bersamamu," ucap Asmoro. "Tapi mau bagaimana lagi kalau sudah pergi?"


"Lain kali saja ya kita ajak mereka jalan-jalan. Aku sendiri belum puas bermain bersama mereka," jawab Stella.


"Sepertinya kamu sudah pantas untuk menjadi seorang ibu," sahut Asmoro.


"Apakah itu benar Kak?" tanya Stella yang tidak sadar kalau dirinya belum memakai baju.

__ADS_1


__ADS_2