
Ya kalian mau ke mana sih?" tanya Anita yang mendekati Stella sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Kami mau pergi ke rumahnya kak Alexa. Berhubung Kak Alexa sedang kerepotan merawat anaknya. Kami memang ingin membantunya," jawab Stella.
"Oh yang tuan muda Sean itu?" tanya Anita.
"Iya ma," jawab Adelia. "Ketimbang Mama di sini sendirian. Lebih baik Mama ikut dengan kami saja. Kak Alexa selalu menanyakan mama. Kapan Mama main ke sini? Itulah kenapa Adelia pengen sekali mengajak Mama ke sana."
Anita menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lalu menatap Agatha. Agathapun menyetujui kalau Anita ikut dengannya.
Rumah sakit Snowden.
Seorang wanita muda dikejutkan atas pertengkaran suster dan wanita paruh baya. Wanita itu tidak mau membayar biaya perawatannya. Wanita itu mendekatinya dan sangat terkejut sekali. Bukankah wanita paruh baya itu bernama Tutik?
"Apakah wanita tua itu adalah Tutik?" tanya Rinda nama wanita muda itu di dalam hatinya.
Semakin lama wanita paruh baya itu langsung memaki-maki sang suster dan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas. Dengan kesalnya Rinda merutuki wanita tua itu.
Jujur saja perkataannya itu tidak pantas buat Rinda. Bukankah umur Wanita itu sudah kepala lima. Lalu kenapa perkataan yang tidak baik itu keluar dari mulutnya. Apalagi orang yang berobat itu adalah orang-orang elit. Mau tidak mau Rinda mendekatinya sambil bertanya, "Ada apa ini? Kok kalian saling bertengkar seperti ini? Untung saja tidak ada Pak Raka di sini."
"Maaf Nyonya Rinda. Kami sebagai kasir berhak menagih kepada pasien tersebut," tunjuk kasir ke arah wanita paruh baya itu.
"Iya itu memang betul," ucap Rinda. "Lalu apa salahnya?"
"Salahnya adalah wanita itu tidak mau membayar tagihan rumah sakit ini. Katanya kami mematok harga dengan mahal. Setelah itu kami menjelaskan seluk beluk perawatan Nyonya itu. Kami malah mendapat makian dan omongan yang tidak enak," jelas sang kasir.
__ADS_1
"Kalian nggak salah. Kalian sudah melakukan prosedur rumah sakit ini. Bolehkah aku lihat apa isi tagihan itu?" tanya Rinda.
Wanita paruh baya itu pun memilih untuk diam. Ia tidak akan mau membayar harga yang sudah tertera di bill. Lalu suster yang di sebelah sang kasir memberikan rincian sebagai berikut.
Rinda pun melihat rincian rumah sakit itu. Ia meneliti satu persatu apa saja yang ada di sana. Beberapa saat kemudian datang Ibrahim dengan wajah dinginnya. Ibra mendekati Rinda sambil bertanya, "Ada apa? Kok saya melihat kalian pada tegang seperti ini?" tanya Rinda.
Selang berapa menit kemudian, Ibra datang melihat kekacauan seperti itu. Matanya tidak sengaja menangkap wajah Tutik sang wanita paruh baya itu. Lalu pandangannya beralih kepada Rinda. Ia akhirnya mengerutkan keningnya sambil bertanya kepada sang kasir, "Ada apa sebenarnya? Ketika aku datang kalian kepada tegang?"
"Maafkan kami Tuan Ibra. Ibu itu tidak mau membayar tagihan rumah sakit," jawab sang kasir dengan tegas.
"Sudah aku duga. Sebenarnya aku tahu kalau keluarga John itu sangat pelit sekali. Sangking pelitnya tagihan Rumah sakit pun tidak mau membayarnya. Bagaimana ini jika Raka dan kak Martin tahu?" tanya Ibra dalam hati.
Jujur Ibra tidak mau menolong Tutik. Karena Tutik sendiri adalah seorang pengusaha terkenal. Saking terkenalnya banyak orang yang mengetahui sifat jelek Tutik. Bahkan dirinya juga tidak tahu kalau setiap hari menjadi bahan bulian.
Selesai memeriksanya Rinda mendekati Tuti dan menjelaskan tentang biaya peserta perawatannya itu. Sedangkan suster yang berada di samping sang kasir, sudah menjelaskannya berkali-kali. Namun Tutik tidak mau membayar tagihan tersebut.
"Semuanya rincian dan laporan kesehatannya pun benar. Tidak ada yang salah dengan tagihan ini. Tapi kami nggak bisa menanggung biaya rumah sakit ini. Kecuali kalau sang direktur mau mengurangi sedikit saja. Kami harus menguranginya," jelas Rinda yang membuat Tutik tetap tidak mau membayar.
"Maaf saya tidak akan membayar rumah sakit itu. Karena anda telah mematok harga dengan sangat mahal sekali. Coba bayangkan saya pingsan di sini hanya beberapa jam. Lalu saya disuruh membayar rumah sakit ini sebanyak sekian juta!" kesal Tutik yang pelitnya minta ampun.
"Maaf... Anda harus tetap membayar rumah sakit itu. Kami meminta maaf atas tidak kenyamanan Anda di sini. Jika anda ingin keluar dari sini. Maka bayarlah tagihan rumah sakit ini terlebih dahulu," tegas Rinda.
"Siapa direktur di rumah sakit ini? Saya ingin menemuinya," tanya Tutik sambil memandang wajah Rinda dengan menyalang.
"Anda tidak perlu begitu nyonya. Masalah ini akan selesai jika anda membayarnya. Direktur Kami jarang ada di tempat," ucap Rinda dengan santainya.
__ADS_1
"Pokoknya saya nggak mau tahu. Panggilkan segera direktur rumah sakit ini!" bentak Tutik.
Sebenarnya direktur Rumah sakit berada di ruangannya. Ibra pun mengetahui soal itu. Namun tanpa disadari oleh para suster. Kalau Ibrahim itu adalah wakil direktur Rumah sakit tersebut. Jadi jika ada apa-apa Ibra juga sering turun tangan. Namun kali ini Ibra tidak akan memberikan keringanan sekaligus.
"Gue nggak akan mau ngasih uang keringanan itu. Lebih baik gue mau ngasih uang keringanan itu buat orang-orang yang kurang mampu saja," bisik Ibra yang meninggalkan Rinda di sana.
"Sial... Gue harus menghadapi Mak Lampir seperti ini. Mau tidak mau gue harus putar otak agar mereka mau membayar tagihan rumah sakit itu," kesal Rinda di dalam hatinya itu.
Kemudian mereka beradu argumen lagi. Rinda tidak mau memotong biaya rumah sakit itu. Sedangkan yang lainnya bergidik ngeri dan ketakutan. Karena Tutik sudah memaki-maki Rinda dengan suara tegangan tinggi.
Mau tidak mau Tutik akhirnya mengalah. Iya malu karena di depannya itu ada CCTV tersembunyi. Bahkan ada beberapa pengunjung yang sengaja mengambil adegan itu. Mereka langsung menyebarkan video itu ke sosial medianya masing-masing.
Apa jadinya jika sifat Tutik yang anggun itu ketahuan pelitnya di dunia? Entahlah. Banyak makhluk hidup di muka bumi ini sangat jengah terhadap kelakuannya Tutik.
"Ya sudah kalau begitu saya bayar. Saya tidak akan meminta potongan lagi. Dan untuk anda semoga diberikan ketabahan. Cepat atau lambat suami saya yang akan membalasnya!" tegas Tutik sambil menakuti Rinda.
Rinda menghembuskan nafasnya secara kasar. Sungguh sial pada pagi ini. Kenapa dirinya bertemu dengan orang-orang seperti ini di pagi hari? Padahal pagi ini Rinda ingin menikmati waktu yang indah di kota Jakarta.
Selesai masalah itu Rinda melangkahkan kakinya menuju ke ruangannya. Lalu dengan kesalnya, Rinda duduk di kursinya.
Sebenarnya masalah ini tidak usah perlu dibesar-besarkan. Entah kenapa dirinya merasakan ada yang aneh dengan keluarga itu. Beberapa saat kemudian suster datang sambil membawa teh manis. Kemudian sang suster meminta maaf kepada Rinda atas kejadian tadi.
"Maafkan saya. Saya memang memberikan bukti nyata tentang biaya pengobatan itu," ucap suster tersebut sambil menaruh teh manis itu di depan Rinda.
Melihat sang suster, Rinda menyuruhnya duduk. Lalu Rinda bertanya, "Siapa nama kamu?"
__ADS_1