Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Mencari Alasan.


__ADS_3

“Maunya sih begitu. Aku sudah menghubungi Nina untuk segera pulang ke Manchester. Sedari dulu kakek Al sering menghilang dari pandangan anak-anaknya. Padahal mereka ingin sekali merawat kakek Al dengan penuh kasih sayang. Ketika berada di rumah anaknya, kakek Al selalu menghilang. Saat aku tanya mereka tidak tahu alasannya. Aku pun juga sama. Aku pernah hidup bersama kakek Al hanya seminggu saja. Diam-diam kakek Al juga menghilang. Makanya aku memang sengaja tidak mengajaknya hidup bersama di Indonesia. Bisa dipastikan kakek Al menghilang. Aku harap kamu paham dengan penjelasanku ini,” jawab Asmoro.


“Jadi selama ini anak-anaknya nggak salah? Ya kalau aku pikir beliau memiliki keras kepala yang cukup besar. Padahal keluarganya dulu sangat menginginkan dirinya hidup bersama. Tapi kenapa kok suka menghilang seperti itu?” tanya Stella.


“Jangankan kamu. Aku sendiri saja tidak tahu kenapa menghilang begitu saja. Biarkanlah jika orang tua itu tidak bisa diurus. Aku bisa melaporkannya ke dinas sosial. Agar beliau ada yang merawatnya. Memang aku tidak ingin menjadi seorang durhaka pada orang tua. Namun kenyataannya beliau tidak bisa dikendalikan begitu saja. Dengan terpaksa aku harus melakukannya,” jelas Asmoro.


Untuk saat ini keluarga kakek Al maupun Asmoro tidak ada yang salah sama sekali. Bahkan mereka pun melepaskan tangannya agar tidak merawat kakek Al. Namun Asmoro sudah memiliki cara agar kakek Al menurut. Mau tidak mau Asmoro akan melaporkan sang pamannya kepada dinas sosial yang berada di daerahnya. Jujur bagi Stella akan menjadi serba salah. Stella juga mengatakan hal yang sama dan mendukung keinginan Asmoro.


“Kalau begitu terserah Kakak. Aku sebenarnya juga tidak ingin durhaka kepada beliau. Tapi kalau kayak gini ya terpaksa kita melakukannya,” ucap Stella yang mengambil keputusan yang sama.


“Tapi, Kenapa kamu pergi dari sisiku? Padahal aku duduk di sampingmu?” tanya Asmoro sambil tersenyum jahat.


“Ah iya aku lupa. Sebenarnya aku ingin membuat menu makan malam bersama mereka. Aku harus pergi sekarang. Karena hari sudah sore dan mau menjelang malam,” jawab Stella yang mencari alasan agar lepas dari jeratan Asmoro.

__ADS_1


“Pergilah sesukamu. Aku yakin kamu akan kembali setelah ini,” suruh Asmoro sambil menatap ke arah Stella.


Stella tersenyum kegirangan lalu menuju ke arah pintu. Sementara itu Asmoro mengunci pintu melalui ponselnya. Bahkan Asmoro menyalakan peredam sumber suara agar Stella tidak berteriak. Setelah berhasil melakukannya, Asmoro membuka kemejanya dan melemparkan ke segala arah.


Stella memegang knob pintu itu. Lalu dirinya mencoba memutar knob itu sambil berulang kali. Akan tetapi Stella tidak bisa melakukannya.


“Duh, Kenapa sih pintu itu tidak bisa terbuka sama sekali?” tanya Stella dalam hati.


Asmoro berjalan ke arah Stella lalu memeluknya dari belakang. Dengan jahilnya Asmoro menghembuskan nafasnya di leher Stella. Tiba-tiba saja Stella meremang dan merasakan ada sesuatu yang aneh di dalam tubuhnya.


“Kakak ngapain sih? Aku kan pengen masak sore ini,” tanya Stella yang tiba-tiba saja ingin keluar dari kamar itu.


“Memangnya ini sudah sore ya?” tanya Asmoro yang sebenarnya hari ini itu adalah waktu siang.

__ADS_1


“Memang sudah sore Kak. Aku sedang berencana memasak bebek goreng,” jawab Stella yang membiarkan Asmoro melakukannya.


“Kamu nggak boleh pergi begitu saja. Kamu harus bertanggung jawab dalam beberapa hari ini. Diam-diam kamu berani membangunkan benda pusakaku itu. Tapi kamu nggak pernah bertanggung jawab untuk menidurkannya lagi. Sekarang kamu harus merasakan saat-saat yang indah seperti ini di atas ranjang bersamaku,” bisik Asmoro yang seketika membuat sang istri terhipnotis dan melakukannya.


Memang juara itu Asmoro. Meskipun usianya sudah bisa dikatakan paruh baya, namun Asmoro sangat lihai sekali membuat Stella tidak bisa berkutik sama sekali. Jangankan Stella, para musuh pun bergidik ngeri ketika melihat Asmoro. Bahkan mereka menyerah satu persatu tanpa harus melakukan penyerangan kembali.


“Akhirnya kamu terhipnotis juga. Kamu harus melakukannya denganku siang ini juga,” ucap Asmoro yang memasang wajah mafianya itu.


“Terserah kamu saja. Aku pasrah dengan keadaanku ini. Kakak mah memang juara untuk merayuku melakukan yang tidak kenal waktu,” puji Stella sambil menunduk dan menatap roti sobek yang dimiliki Asmoro.


“Itulah aku. Jangankan kamu. Para musuh pun langsung memasang bendera putih setengah tiang karena menyerah kepadaku. Mereka tidak ingin berperang denganku,” bisik Asmoro sambil tersenyum membelai rambut Stella.


“Apa benar begitu kak?” tanya Stella.

__ADS_1


__ADS_2