
“Aku belum mendapatkan informasi lebih lanjut,” jawab Ian.
“Aku tunggu kabar selanjutnya. Aku mau Kak Gio jangan terlalu diam. Ini bisa membuat masalah semakin besar!” titah Lampard.
“Oke... aku setuju. Aku akan mendesak Kak Gio membuat pertemuan besar dengan Blue Diamond,” ucap Ian.
"Sekarang kita berangkat ke rumah Alexa!" titah Lampard.
Ian segera menancapkan gasnya ke mansion Alexa. di dalam perjalanan Lampard tidak sengaja bertemu dengan mobil misterius. Lampard menyuruh Ian untuk berjalan pelan-pelan. Ia menajamkan matanya sambil menghela nafasnya secara teratur. Seketika Ian melihat beberapa orang memakai pakaian serba hitam. Orang-orang itu melemparkan beberapa kantung mayat di pinggiran pohon-pohon besar.
Tidak disangka mereka adalah orang-orang yang pernah dilihat pada malam itu. Ian yang sedang menyetir mobil terkejut dengan aksi mereka. Ian pun hanya bisa berkacak pinggang. Ian tidak habis pikir dengan perbuatann mereka yang membuang mayat seenaknya di tempat sepi. Kenapa mereka menaruh mayat itu di sana? Kemudian Lampard berpikir sejenak dan mencari tahu. Ketika ingat wajah ketiga cucunya ia mengurungkan niatnya untuk tidak mencari tahu.
Mau tidak mau Ian pergi ke rumah Alexa. Lampard sedang sibuk pada lamunannya sendiri. Jujur saja mereka terkejut karena di sana ada lagi yang seperti tadi.
__ADS_1
"Ian, Apakah kamu melihat ada sesuatu yang mencurigakan?" tanya Lampard.
"Ya, aku melihatnya tadi. Aku masih ingin mencari apa yang ada saat ini," jawab Ian. "Aku merasa ada sesuatu yang janggal. Kakak tahu kan beberapa hari terakhir aku sering mendengar beberapa pengawal yang melihat aksi mereka."
"Oh ya.... Bagaimana kamu tahu soal itu? Apakah kamu mencari tahu soal tersebut? "tanya Lampard.
"Entahlah ini sangat sulit sekali. Aku masih mencari informasi tentang hal itu. Jika kita simpulkan mereka dari organisasi bawah tanah. Kenapa mereka membuang mayat itu secara bersamaan di tempat terbuka? Kalau orang sipil tidak mungkin. Bayangkan saja jika orang sipil seperti itu, cepat atau lambat mereka akan tertangkap polisi," jelas Ian.
"Rasanya tidak mungkin kalau orang sipil seperti itu. Aku juga berpikiran yang sama sepertimu. Dalam jangka beberapa hari pihak kepolisian akan melacak keberadaannya. Namun mereka sepertinya tidak bisa dilacak," tambah Lampard. "kalau begitu kita segera ke rumah Alexa. Aku sangat merindukan ketiga cucuku. Aku berharap mereka tidak trauma akan kejadian tadi. Jika sampai mereka trauma aku akan memburu siapa dalang di balik ini semuanya. Jujur aku nggak tahu bisa bertahan atau tidak. Karena S&T mulai mengepakkan sayapnya ke daerah Asia. Aku tidak mungkin membagi antara bawah dan atas," terang Lampard.
"Sudah enggak usah terlalu ikut campur. Jika ada yang mengetahui biarkan saja. cepat atau lambat pembuangan mayat tersebut akan viral,"jawab Lampard.
"Apakah di sini ada mafia? "tanya Ian.
"Aku nggak tahu. Kamu tahu kan mafia itu seperti apa? Mereka tidak akan memberitahukan dirinya masing-masing ke setiap orang," jawab Lampard.
__ADS_1
"Apakah itu gangster? "tanya Iyan.
"Ya enggaklah. Mana ada gangster membunuh orang seperti itu. Mereka akan melakukan pembantaian besar-besaran. Jika kamu nggak percaya tanya sama Alexa," jawab lempar.
Di kediaman Alexa seorang gadis perempuan berwajah sendu menangis terus-terusan. Gadis itu merindukan Stella. Ia mencari keberadaan Stella. Namun gadis itu bertemu dengan sang papa yang habis pulang dari rumah sakit.
"Papa," sapa Scar.
Martin yang baru saja datang terkejut melihat anak gadisnya dengan mata sembab. Martin segera menggendongnya dan memeluknya. Kemudian Martin mengajaknya pergi ke kamar. Tapi scarlet menolaknya. gadis kecil itu hanya bisa memegang lengan sang papa. Akhirnya Martin mengajaknya ke Taman.
"Papa, Apakah Kak Stella akan pulang ke sini?" tanya scarlet.
Jantung Martin berdetak kencang. Jika salah satu anaknya berkata seperti itu tandanya Sang Putri sudah tahu kejadian tersebut. Martin hanya bisa menarik nafasnya secara pelan.
Martin bingung mau menjelaskan apa kepada anak-anaknya itu. Martin memandang lekat wajah sang putri. Ada perasaan yang tidak tega bergelayut di hatinya.
__ADS_1