
"Janganlah tegang seperti itu. Aku janji tidak akan melahapmu," jawab Asmoro yang tidak menoleh sedikitpun.
"Ah... rasanya itu kata yang menyeramkan buat aku," ucap Stella.
"Memangnya kamu tahu apa kata itu?" tanya Asmoro.
"Sedikit aja. Aku hanya mendengar perkataan itu dari bibirku," jawab Stella yang menunduk.
"Ternyata kamu sudah terkontaminasi oleh bos gilamu itu," kesal Asmoro yang mengetahui Farrel.
"Sepertinya aku sangat merindukan Tuan Farrel," ucap Stella yang mengingat kebaikan tentang Farrel.
"Kamu bisa menemukan setelah menikah. Kemungkinan dia masih sangat sibuk sekali," jelas Asmoro.
Stella menganggukkan kepalanya dan menatap Asmoro. Ia diam-diam memegang kepalanya karena bingung. Ini sangat aneh sekali baginya. Bagaimana bisa Asmoro tidak marah sama sekali. Ketika dirinya sedang menyinggung nama pria lain.
Merasa ditatap Asmoro paham apa yang dimaksud oleh Stella. Ia tersenyum sambil berkata, "Aku tahu kamu bingung sama aku."
"Ya aku memang bingung. Kenapa kamu tidak melarangku ketika membicarakan pria lain?" tanya Stella
"Aku tidak marah sama kamu. Aku sudah mengenal siapa bosmu itu. Kamu jangan khawatir. Aku tidak akan marah seperti orang-orang lain ketika berdua sedang membicarakan pria. Aku ingin kamu nyaman bersamaku," jawab Asmoro lalu menghentikan mobilnya karena sudah berada di depan kantor catatan sipil.
__ADS_1
"Rasanya ini sangat aneh sekali. Seharusnya kamu marah. Banyak sekali orang-orang jika bersama kekasihnya tidak mau membicarakan orang lain. Terutama yang dibahas adalah seorang pria," ucap Stella.
"Baiklah kalau begitu. Lebih baik kamu ngomong secara terbuka. Ketimbang kamu tutupi dan membuat aku semakin curiga. Padahal aku sendiri orangnya terbuka," jelas Asmoro.
"Berarti kamu tidak marah?" tanya Stella.
"Aku tidak marah sama sekali. Aku harus bersikap sabar kepadamu. Begitu juga dengan aku. Lama-lama aku akan mengatakan diriku yang sebenarnya siapa. Aku bagaimana. Sifatku bagaimana. Hobiku apa dan sebagainya. Lalu aku berteman dengan siapa? Itulah kenapa kita saling terbuka satu sama lain. Jika tidak ya sudahlah. Hubungan seperti itu tidak akan menjadi sehat," jawab Asmoro yang menjelaskan hubungan sebenarnya. "Dalam menjalin hubungan, kita tidak boleh menjadi yang terhebat. Kita tidak boleh ke kanak-kanakan. Kita juga tidak boleh saling tertutup. Itulah kenapa aku memintanya kepadamu untuk saling jujur."
Stella akhirnya tersenyum manis. Inilah yang dinamakan hubungan yang sehat. Tidak perlu ditutup-tutupi dan berkata secara blak-blakan. Walau itu menyakiti perasaan daripada tidak sama sekali. Jika tidak jujur kemungkinan besar hubungan itu akan hancur dengan sendirinya. Ditambah lagi menuruti ego.
"Ingatlah... Jika kamu ada masalah maupun enggak enak di hati. Lebih baik kamu ngomong sejujurnya. Ketimbang kamu memendam dalam hati. Aku nggak mau kamu seperti itu," jelas Asmoro.
Entah kenapa hati Stella sangat bahagia sekali. Baru kali ini ada seorang pria yang tulus ingin hidup bersamanya. Asmoro tidak canggung untuk menceritakan masalah besarnya. Bukankah setiap menikah harus berdiskusi dengan jujur bersama pasangannya?
Mereka akhirnya keluar dan masuk ke dalam ruangan catatan sipil. Di sana mereka disambut oleh pegawai catatan sipil. Kemudian mereka diarahkan ke meja lain. Mereka di sana hanya menandatangani surat tersebut. Lalu petugas mensahkan akta pernikahan tersebut.
Setelah selesai Asmoro mengajak Stella kembali. Jujur baru kali ini Asmoro menikah. Meskipun dirinya usianya sudah mencapai kepala lima. Namun dengan cepat.
"Maafkan Aku. Aku harus pergi ke kantor. Aku tidak bisa mengajakmu. Karena siang aku bersama Ian akan menghabiskan waktu di luar. Aku harap kamu mengerti hal itu. Oh iya ponselmu. Nanti setelah datang ingin memberikanmu sebuah ponsel. Yang di mana ponsel itu sudah diberikan keamanan tingkat tinggi. Jika ada yang melacakmu melalui nomor ponsel itu. Akulah orang pertama yang mendapatkan berita dari ponselmu itu," jelas Asmoro yang melajukan mobilnya ke apartemen.
"Kamu tidak memberikan aku ponsel. Tidak apa-apa sama sekali," sahut Stella.
__ADS_1
"Kamu jangan bicara seperti itu. Jika aku mau menghubungimu. Apakah aku harus menghubungi Adelia atau Hatori. Sementara aku tidak akan menghubungi nomor itu," ucap Asmoro.
"Rasanya kamu sangat memaksa sekali. Kenapa sih kamu kok suka maksek-maksa gitu?" tanya Stella.
"Aku nggak maksa kamu. Tapi aku serius.nggak mungkin kan aku menghubungi kamu setiap menit di ponsel orang lain. Mereka akan terganggu oleh sifatku ini. Yang lebih sialnya. Sang pemilik ponsel sedang berpergian jauh. Apalagi posisinya itu sedang berada di tempat lain. Mana ada aku suruh orangnya langsung pulang. Kan aneh. Terus aku diledek nggak bisa beliin kamu ponsel gitu ya?" kesal Asmoro.
"Sedari dulu aku tidak tertarik dengan ponsel. Lebih baik berikan aku benang sulam dan jarum. Aku ingin membuat rajutan khusus. Siapa tuh nanti aku bisa menjualnya," jawab Stella.
"Hanya itu saja yang kamu minta. Nanti malam bareng-bareng itu akan sampai di apartemenmu.
Setelah itu kamu buatin gih jaket rajut. Soalnya aku sering bepergian ke Eropa. Yang lebih sialnya lagi kalau aku sudah sampai sana. Itu menandakan ada turun salju. Karena itulah aku memintamu jaket rajut darimu," sahut Asmoro yang membuat Stella ersenyum manis.
"Aku setuju itu. Makanya aku memang ingin memintanya. Aku harap kamu bisa mengirimkan aku banyak benang. Sebab tubuhmu itu sangat besar sekali," jelas Stella.
"Boleh. Aku akan memberikan kamu banyak benang," sahut Asmoro dengan bahagia.
Mulai hari ini kebahagiaan Stella adalah milik Asmoro. Asmoro tidak akan pernah menyia-nyiakan pernikahan ini. Sudah cukup baginya hidup menyendiri. Lama-kelamaan dirinya merasakan ada sesuatu di dalam hatinya. Asmoro tidak akan mengatakan terlebih dahulu. Akan tetapi ia sengaja menyimpannya terlebih dahulu.
Bagaimana dengan Stella? Gadis manis itu ingin teriak saja. Ia tidak percaya kalau hari ini sudah berstatus sebagai istri. Ia sendiri sangat terkejut atas statusnya itu. Namun dirinya masih bingung dengan semuanya.
Ketika sampai Asmoro mengantarkan Stella ke apartemen kedua orang tuanya. Setelah itu Asmoro langsung pergi meninggalkan apartemen itu. Sebelum pergi pria bertubuh kekar itu teringat akan Patty. Seandainya sang istri dan keluarganya masih di sini. Patty masih bisa keluar masuk. jujur saja otaknya mulai berpikir dan mencari cara agar Patty tidak mengganggunya lebih dalam.
__ADS_1
"Kalau seperti ini caranya. Cepat atau lambat Patty maupun Tutik akan mengejar mereka. Aku harus mencari cara dan tidak mau kedua orang gila itu mengusik keberadaan keluarga Kanagawa. Aku harus membicarakan ini dengan semua orang. Mereka harus pergi dari apartemen sini. Bagaimana caranya ya? Sementara Agatha telah membeli apartemen itu dari Martin?" tanya Asmoro dalam hati.