
"Kamu harus mau sayangku," jawab Asmoro yang memandang wajah Stella sambil mendekatkan wajahnya sambil mencium mulut Stella.
Cup.
Seketika wajah Stella memerah karena malu. Ia mencoba membuang wajahnya sambil menutup wajahnya.
"Kamu kenapa?' tanya Asmoro yang pura-pura tidak tahu.
"Aku malu. Kakek tahu enggak sih? Kalau disini itu banyak orang," jawab Stella yang membalikkan badannya sambil merasakan jantungnya berdetak kencang.
Stella terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa. Ia melihat Adelia yang sedang sendiri. Lalu ia meninggalkan Asmoro untuk mendekati Adelia.
"Del," panggil Stella.
"Ada apa kak?" tanya Adelia yang tidak senang aja menatap wajah Stella memerah sambil tersenyum manis. "Hemmpp... sepertinya kakak sedang senang?"
"Bagaimana tidak senang? Jika kakakmu sedang terkena serangan pagi ini dari Kak Asmoro," ledek Hatori yang membawa air mineral lalu disodorkan ke Stella.
""Apaan sih Bang?" tanya Stella sengaja menutupi rasa malunya.
"Aku tahu itu. Jujur saja Kak Asmoro orangnya sangat romantis," puji Adelia.
"Apakah kamu serius?" tanya Stella yang baru mengetahui tentang Asmoro.
"Dia adalah pria dingin. Enggak semua orang yang bisa menyentuhnya," jawab Adelia. "Hanya kak Stella berani menyentuhnya."
"Hmmp... Aku termasuk orang yang sangat beruntung sekali untuk menaklukkan Kak Asmoro?" tanya Stella.
"Iya itu benar," jawab Adelia. "Oh.. ya.. Kak Alexa menyuruhku untuk mengajak kalian untuk membagikan sembako."
"Sepertinya itu hal yang sangat baik sekali. Mumpung hari ini adalah hari Minggu," ucap Stella.
"Sebaiknya kalian tidak perlu ikutan dulu," seru Ian yang baru mengetahui kalau lokasi pembagian sembako itu di tempatnya Patty.
"Kenapa?" tanya Adelia.
"Alexa meminta kalian stand by di rumah," jawab Ian. "karena sebentar lagi Sean, Scarlett dan Edward akan diajak ke sini."
"Intinya kalian enggak boleh ikut. Dikarenakan Alexa membagi sembako di area padat penduduk. Yang dimana tempat itu adalah tempatnya Patty dan Tutik," jelas Asmoro.
"Jadi?" tanya Adelia.
"Jika salah satu ikut dengan Alexa. Kemungkinan besar kalian akan diserang dengan cara membabi buta. Aku tidak mau saat pembagian sembako itu ada insiden yang tidak mengenakkan seperti ini," jawab Asmoro.
"Kakak benar. Aku juga tidak ingin melihat mereka diserang sama mereka. Sudah cukup Stella menderita seperti ini!" geram Hatori yang tidak ingin adiknya menderita lagi.
"Kamu benar," balas Asmoro yang melihat jam. "Lebih baik kita ke apartemenku. Aku sudah meminta mereka ke sana."
"Kenapa kita enggak berkumpul di apartemen papa?" tanya Adelia.
"Enggak mungkin kita akan kesana. Di sana juga ada kakek Yamato. Aku tidak mau menganggu kenyamanan mereka," jawab Asmoro.
__ADS_1
Mereka menganggukan kepalanya tanda setuju. Namun sebelum kembali, Stella bersama Adelia membeli bahan-bahan kue dan menu makanan untuk hari ini.
Sedangkan Hatori mendapatkan telepon dari Agatha untuk segera kembali. Keluarga besar Nakagawa itu akan mengadakan meeting bersama. Mereka akan membicarakan hal serius. demi masa depan perusahaan Ayashi Group.
"Kak," panggil Hatori ke arah Asmoro.
"Ada apa?' tanya Ian.
"Aku kembali dulu ke apartemen papa. Ada yang harus dibicarakan dengan serius," jawab Agatha
"Baiklah," balas Ian yang menganggukan kepalanya.
"Sepertinya kamu membayar belanjaan istrimu dech," bisik Ian ke Asmoro.
"Apakah itu harus?" tanya Asmoro yang menatap Ian.
"Ya... itu harus," jawab Ian.
"Kamu dulu yang bayar. Aku sendiri tidak membawa apapun. Black Cardku berada di apartemen," pinta Asmoro.
Dengan terpaksa Ian kali ini harus mengalah. Ia akhirnya menuju kasir untuk membayar semua belanjaan Adelia dan Stella. Ian sebenarnya tidak keberatan untuk membayar belanjaan milik mereka. Akan tetapi dirinya hanya menggertak Asmoro saja.
Setelah membayar mereka langsung menuju ke apartemen Asmoro. Kedua wanita itu sedang berdiskusi tentang menu apa yang akan dihidangkan untuk hari ini. Adelia ingin membuat cake tidak begitu manis. Lalu Stella ingin membuat pizza.
Sesampainya di apartemen mereka menuju ke dapur. mereka saling memandang sambil memberikan opsi. Yang dimana opsi itu akan melibatkan Ian dan Asmoro.
"Apakah kita membuat cake?" tanya Adelia. "Tapi aku ingin merasakan pizza buatan kamu."
"Kenapa kita tidak akan mendiskusikan ini ke Kak Asmoro dan Kak Ian?" tanya Adelia yang memiliki ide untuk melibatkan mereka.
"Kamu benar," jawab Stella.
"Ayo, kita tanyakan saja! Aku ingin meminta jawaban dari mereka," ajak Adelia.
Mereka akhirnya mencari keberadaan Asmoro dan Ian. Tiba-tiba saja mereka mendengar ada suara pria sedang bernyanyi. Mereka mengerutkan keningnya sambil bertanya, "Siapakah yang sedang nyanyi itu?"
"Entahlah. Tapi kok suaranya seperti aku kenal," jawab Adelia.
"Memangnya siapa dia?" tanya Stella.
"Paling juga suami kakak," jawab Adelia. "Kata Kak Ian, sebelum menikah, Kak Asmoro itu sering melakukan hal yang gila. Contohnya saja menyanyi di apartemennya. Atau juga mengajak Kak Ian berpetualang ke gunung. Atau juga mengajaknya main game."
"Kok aku merasa kalau Kak Asmoro itu tidak mencerminkan sebagai CEO ya?" tanya Stella yang membuat Adelia mengedikkan bahunya.
"Setahuku Kak Asmoro itu memiliki otak di atas rata-rata. Bahkan dirinya sering dinobatkan sebagai seorang pengusaha sukses lima tahun berturut-turut. Aku sendiri saja kaget. Ketika mengetahui kehebatan Kak Asmoro," jelas Adelia.
"Oh.. gitu. Maaf aku tidak tahu kalau dia adalah seorang pengusaha terkenal. Makanya ketika melamarku, Kak Asmoro memberikan aku barang mewah," ucap Stella.
Adelia tersenyum melihat Stella karena pada waktu itu Asmoro melamarnya dengan barang-barang mewah. Ditambah lagi Stella sendiri bingung ingin menerimanya apa tidak?
"Kalau kita disini terus. kapan masalah ini beres?" tanya Adelia.
__ADS_1
Stella memegang daun pintu lalu membuka pintu. Matanya membulat sempurna dan melihat keonaran kedua pria dua dewasa. Ya... Stella memang tidak salah lihat. Mereka sedang melakukan karaokean. Ia juga melihat beberapa CD dari musisi berbagai genre ada. Stella menggelengkan kepalanya sambil mengelus dadanya.
"Ini mah... bisa membuat orang jantungan," ucap Stella yang membuat Adelia tidak sengaja melihat keadaan ruangan itu.
"Kita enggak perlu tanya sama mereka. Lebih baik kita memasak dan membuat dua meni sekaligus. Kalau enggak habis kita bisa memakannya besok," ujar Adelia.
Stella menganggukan kepalanya tanda setuju. ia mengajak sang adik untuk membuat dua menu sekaligus.
"Apakah mereka mau?" tanya Stella.
"Maksud kamu apa?" tanya Adelia balik sambil mengeluarkan bahan-bahan makanan.
"Maksud aku, apakah Sean, Scarlett dan Edward mau makanan seperti pizza?" tanya Stella.
"Ya... mereka mau saja. Mereka bukan tipe pemilih makanan," jelas Adelia.
"Bersyukurlah kalau begitu," ucap Stella yang membantu mengeluarkan bahan makanan tersebut.
"Iya... bahkan makanan pecel sayur mereka suka. Apalagi dihidangkan pada menu sarapan," ujar Adelia yang memberitahukan makanan favorit anak-anak Alexa.
"Wow... sungguh beruntung sekali ya Kak Alexa memiliki anak yang bukan pemilih makanan," puji Stella mengambil pisau dan mengupas sayuran.
"Iya... ketika ada perkumpulan antara ibu-ibu di komplek. Para ibu-ibu itu pada ngiri. Kok bisa mereka makan semuanya," sambung Adelia.
"Jangankan mereka. Aku sendiri juga senang kalau melihat anak-anak kecil itu makan dengan lahap meskipun hanya sayuran saja," ucap Stella.
"Meskipun begitu mereka adalah anak-anak yang sehat. Mereka juga anak-anak yang berbakat dalam segala hal dan bidang. Contohnya saja Sean. Dia sendiri sudah bisa berbisnis kecil-kecilan," sahut Adelia.
"Sepertinya.. Aku ingin memiliki anak-anak seperti mereka," celetuk Stella.
"Jangankan kamu. Aku juga begitu. Yang membuat aku senang itu adalah mereka nurut dan tidak membangkang sedikitpun. Tapi mereka itu suka berbicara dengan kalimat absurd," jelas Adelia.
"Aku tahu itu. Mereka memang sangat lucu sekali ketika berbicara. Ditambah lagi mereka sangat cerdas ketika beradu argumen. Yang sering aku dengar itu Sean sama Kak Asmoro. Mereka berdua kalau sedang bertemu sering banget adu argumen."
"Kamu tahu apa yang mereka bicarakan?"
"Aku nggak tahu itu. Yang aku tahu adalah sains."
"Kalau sains tidak ada masalah. Malahan mereka sangat jago sekali. Yang jadi masalahnya adalah ketika mereka berdebat tentang bahasa gaul yang sekarang lagi happening. Aku bersama Kak Alexa mengangkat tangan dan pergi meninggalkan mereka. Jujur gara-gara mereka adu argumen seperti itu. Kami sering-sering membuka internet dan mencari bahasa gaul. Kalau baik kita pakai. Kalau buruk kita buang. Aku bersama Kak Alexa sering mengarahkan mereka ke dalam kebaikan. Aku berharap mereka tidak akan berbuat onar ketika sudah dewasa."
"Kamu benar. Memang aku akui, kalau keluarga Kak Alexa itu sangat lucu sekali. Sangking lucunya Aku berharap ingin memiliki keluarga seperti Kak Alexa."
"Selamat ya Kak sudah nikah. Sekarang kami akan menunggu detik-detik Kakak mendapatkan momongan baru."
"Ish... Kamu itu bener-bener deh. Sebenarnya Kak Asmoro memang ingin memiliki anak secepatnya.Tapi kita belum dikasih kepercayaan untuk mendapatkannya. Kita harus sabar untuk mendapatkannya."
"Seingatku Kakak nggak bisa masak deh?"
"Kamu itu meremehkan saja. Semenjak tinggal di kontrakan. Aku sudah mulai memasak dengan berbagai macam menu-menu dari luar. Aku sendiri sering membuat eksperimen makanan. Karena aku suka mencoba masakan-masakan yang baru dari internet."
"Apa itu benar Kak? Berarti bakat mama jatuh kita semuanya," tanya Adelia.
__ADS_1