Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Taktik Exodus.


__ADS_3

"Bagaimana kalau kita mencari kesalahan mereka?" tanya Nathalie.


"Mereka itu sudah salah buat kita. Kamu tahukan apa kesalahannya? Yaitu menyelundupkan obat-obatan terlarang masuk ke dalam Asia,'' jawab Lampard. "Sesuai perjanjian para gangster dan para mafia di Asia. Mereka tidak akan mengijinkan obat-obatan terlarang beredar di kawasan Asia Tenggara terutama di negara kita ini.''


"Ya... Nat... apa yang dikatakan papamu itu benar. Jika mereka menyebarkan atau mengusik daerah Asia Tenggara, maka mereka tidak akan selamat. Bisa-bisa Black Horizon dan Blue Diamond akan menghancurkan pengiriman barang itu ke sini,'' tambah Martin yang menjelaskan semuanya.


"Setahuku yang tidak bisa dilarang itu hanya mafia kartel obat-obatan terlarang dari Meksiko?" tanya Nathalie.


"Ya... mereka yang mengirimkan kesini sudah diperingatkan oleh Pablo Osvaldo agar tidak ke daerah Asia Tenggara. Hanya satu mafia yang tidak bisa diperingatkan oleh mereka yaitu Exodus. JIka begini kita terpaksa turun tangan untuk menghabisinya,'' jelas Lampard.


"Jangan dulu pa. Orang-orang yang di bawah naungan Exodus sangat berbahaya dan licik. Mereka melakukan trik silence,'' pinta Nathalie.


''Trik Silence yang dimana mereka terdiam dan sunyi. Di dalam kesunyian itu mereka tidak melakukan pertarungan apapun. Mereka sengaja menunggu musuh menyerang. Jika musuh mulai menyerang mereka tetap terdiam. Mereka akan mengeluarkan pengawal khususnya yang sudah mengkonsumsi obat-obatan yang sudah dibuatnya sendiri. Sang penyerang itupun akan kewalahan dan kalah. Nah saat sang penyerang sudah lelah maka sang bosnya beserta para petinggi Exodus keluar dan menghabisi mereka dengan sadis. Itulah cara kerja mereka. Aku sudah menyelidikinya,'' jelas Nano yang paham teknik penyerangan Exodus.


"Berarti papa sudah tahu ya selama ini?" tanya Nathalie.


"Papa tahu dari paman kamu tuh yang bernama Pablo Osvaldo. Dari dia papa mendapatkan banyak informasi tentang seluruh mafia yang berada di daratan Amerika,'' jawab Nano.


"Kejam, sadis, licik dan bengis. Empat kata buat Exodus,'' ucap Lampard.


"Ya... itu benar. Jadi jika kalian menyerang anak buahnya itu. Kalian harus memukul area ulu hati atau jantung. Cara itu sangat efektif sekali dan mereka tidak akan bangkit lagi,'' tambah Nano.


"Sudah aku tebak,'' ucap Lampard dengan tersenyum iblis.


Beberapa saat kemudian ponsel Lampard berdering. Lampard segera mengambil ponselnya dan melihat nama yang tertera di layarnya. Lampard mengusap ikon hijau dan menyapa orang yang berada di seberang sana.


"Hallo,'' sapa Lampad.


"Hallo kak,'' sapa Leon.


"Ada berita apa?" tanya Lampard.


"Kami sudah menangkap dua orang yang menembak Stella,'' jawab Leon.


"Oh... baguslah. Tunggu aku di markas,'' balas Lampard segera memutuskan sambungan teleponnya.


"Ada berita apa?' tanya Jacob.

__ADS_1


"Leon berhasil menangkap dua orang yang menembak Stella. Aku harus ke sana,'' jawab Lampard yang segera berdiri dan meninggalkan mereka.


"Apakah papa butuh orang untuk menghabisi mereka?" tawar Nathalie.


"Huaha... boleh. Jika kamu enggak keberatan," sahut Lampard.


"Sepertinya itu mengasyikkan,'' seru Nathalie yang berdiri.


Jacob, Nathalie dan Lampard segera meninggalkan rumah sakit. Mereka keluar melalui jalur khusus yang sudah disediakan oleh Raka. Setiap melangkah Lampard sangat waspada karena kejadian yang lalu tak mau terulang lagi.


Setelah keluar dari jalur khusus itu mereka disambut oleh sopir yang sudah menunggunya. Mereka segera masuk ke dalam sambil berkata, "Joe... selalu waspada! Jangan lengah sedikitpun!"


"Baik kak,'' balas Lampard.


Joe segera menancapkan gasnya dan mulai keluar dari rumah sakit. Mereka terdiam dan matanya mulai awas sambil menyusuri jalan. Tak lama mereka berpapasan dengan mobil Imron. Imron langsung menghentikan mobil Lampard dan keluar.


"Ada apa?" tanya Nathalie.


"Entahlah,'' jawab Lampard.


Jacob segera mendekati Imron lalu bertanya, "Ada apa?'


"Gawat... sistem keamanan jaringan cyber milik S&T diserang oleh orang tidak dikenal,'' jawab Imron yang membuat Jacob panik.


"Apakah itu benar?' tanya Jacob.


"Iya itu benar. Mereka sengaja menyerangnya untuk mencari sesuatu,'' jawab Imron.


"Sejak kapan?' tanya Jacob lagi.


"Mulai malam kemarin. Tapi semalam aku bisa mengendalikan serangan itu bersama Ian. tapi sekarang lebih parah,'' jawab Imron.


"Oke.. aku izin dulu ke kak Lampard sekaligus memberitahukan kalau ada masalah gawat pada perusahaan,'' pinta Jacob.


"Baiklah kalau begitu. Aku bersama Roth akan meluncur kesana,'' balas Imron.


Jacob segera masuk ke dalam mobil lalu memberitahukan kalau ada masalah gawat. Lampard pun terkejut dengan berita itu. Lampard segera memerintahkan Joe untuk segera ke perusahaan. Joe pun menuruti kemauan Lampard.

__ADS_1


Hatori yang selesai makan merasakan punggungnya tersayat-sayat oleh pisau. Ia meringis kesakitan sambil mengepalkan tangannya. Ia memutuskan untuk berbaring di ranjang dan memejamkan matanya. Tak lama ia merasakan ada jarum yang dimasukkan ke dalam pembuluh darah di tangan kirinya. Pria muda itu berteriak mengadu kesakitan sehingga Pak Kusno dan Bu Gita berbondong-bondong masuk ke dalam. Mereka tidak sengaja melihat Hatori yang sangat tersiksa itu. Bu Gita segera meraih tangan Hatori dan menggenggamnya dengan erat.


"Ada apa kamu?'' tanya Bu Gita yang semakin panik.


"Aku enggak tahu Bu. Punggungku sakit seperti tersayat pisau dan tanganku terkena jarum besar. sakit sekali ibu!" teriak Hatori.


Pak Kusno menghampiri Hatori lalu mulai memeriksa keadaan Hatori. Pak Kusno bingung tidak menemukan apa-apa di dalam tubuh pria muda tersebut. Lalu Bu Gita mulai memandang ke arah Pak Kusno sambil bertanya, "Apakah Hatori terkena santet?"


"Ha,'' pekik Hatori. "Aku terkena santet.''


"Ibu jangan berpikiran yang aneh-aneh. Kasihan Hatori yang sedang sakit seperti ini,'' ujar Pak Kusno.


"Dari tadi Hatori kesakitan seperti ini. Selesai membeli nasi uduk punggungnya terkena besi panas. Dan sekarang mengadu kesakitan karena ada yang menyayatnya Tangannya juga terkena tusukan jarum,'' jelas Bu Gita.


"Iya... kita tidak bisa menyimpulkan penyakit apa yang diderita oleh Hatori. Kalau begitu bapak akan mengantarkan Hatori ke rumah sakit,'' sahut Pak Kusno yang tidak terima kalau Hatori terkena santet.


"Mungkin saja aku terkena santet pak,'' sahut Hatori yang mengiris.


"Kamu itu ngomong apa toh?" kesal Pak Kusno langsung memberikan sebuah perintah. "Ya... Udah kamu pake baju sana. Bapak tunggu di depan!"


Selesai memberi perintah, Pak Kusno meninggalkan Hatori dan Bu Gita. Bu Gita segera mengambilkan baju dan memberikannya ke Hatori.


"Pake baju sana. Sebelum bapak kamu mengamuk!" perintah Bu Gita.


Terpaksa Hatori menurut apa perkataan Pak Kusno. Meskipun meringis kesakitan, Hatori segera memakai bajunya. Pria bertubuh kurus dan memiliki kulit putih seperti susu itu keluar mendekati Pak Kusno.


"Pak,'' panggil Hatori.


"Apakah kamu sudah selesai?" tanya Pak Kusno.


"Sudah pak,'' jawab Hatori. "Pak... apakah papa akan kesini?"


"Bapak enggak tahu. Katanya papa lagi sibuk kerja,'' jawab Pak Kusno.


"Selalu saja kalau begitu. Kalau sakit begini papa tidak datang,'' gerutu Hatori.


"Ayo berangkat!" ajak Pak Kusno.

__ADS_1


__ADS_2