Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Rencana Keluarga Nakagawa.


__ADS_3

"Sepertinya. Kamu jago sekali membuat cake. Sedangkan aku menyukai masakan Italia. Aku belajar membuat pizza ketika usiaku lima belas tahun. Yang di mana dulu aku pernah bekerja di makanan cepat saji orang Italia asli. Makanya aku diam-diam belajar sedikit demi sedikit agar bisa menguasai membuat pizza," jawab Stella.


"Sepertinya kita sangat cocok sekali. Bagaimana kita memadukan antara masakan tradisional dengan masakan modern? Kemungkinan besar kita akan membuat restoran," ucap Adelia.


"Rasanya itu tidak mungkin deh," sahut Stella.


"Mungkin aja. Kalau aku yang meminta kalian untuk membuat makanan unik itu?" tanya Asmoro yang baru saja keluar dari ruangan karaokenya itu.


"Rasanya itu tidak mungkin deh Kak. Lagian juga makanan ini biar kami yang konsumsi. Kalau untuk makanan sekaliber restoran, kami akan menyerah dan tidak ingin mengecewakan para pelanggan," jawab Stella dengan blak-blakan.


"Kalau aku mau bagaimana? Soalnya di Eropa maupun di Amerika aku memiliki banyak hotel," ucap Asmoro.


"Nggak usah Kak. Kalau nggak enak pelanggan Kakak kabur. Selain itu juga Kakak akan dikomplain habis-habisan sama mereka. Lebih baik Kakak membuat makanan yang seperti biasanya. Itu hanya saranku saja," jelas Adelia.


"Ya udah nggak apa-apa. Aku tidak akan memaksa apapun darimu," ujar Asmoro yang tidak memaksa kehendaknya. "Kalian mau masak apa?"


"Tadi, Kami ingin menanyakan tentang menu hari ini," jawab Stella.


"Memangnya kalian masak apa?" tanya Asmoro sekali lagi.


"Kami sedang memasak cake untuk anak-anak. Terus dilanjut lagi pizza. Tapi apakah makanan itu akan habis?" tanya Adelia yang ragu atas jawabannya.


"enggak apa-apa titik bikin aja sekalian yang banyak. Anak-anak suka sekali ngemil jika berada di sini. Aku sendiri sepertinya tidak mempunyai stok makanan di dalam kulkas," jawab Asmoro yang mempersilakan mereka bereksperimen untuk memasak.


"Kalau begitu baiklah," balas Adelia.


"Siapa yang tadi membuka ruang karaokeku?" tanya asmara Yang menatap wajah mereka berdua.


"Maaf. Kami hanya meminta pendapat tentang menu hari ini," ucap Stella yang merasa bersalah kepada Asmoro.


"Ya udah tidak apa-apa. Aku tidak marah sama kalian. Beginilah Asmoro aslinya. Ketika kami berada di apartemen. Kami sering melakukan hal-hal gila seperti ini. Jujur cara ini bisa membuat mengurangi stres kami dalam pekerjaan," jelas Asmoro.


"Tidak apa-apa. Orang bisa berbuat gila itu bukan berarti dirinya gila. Aku tahu pekerjaan Kakak sangat banyak. ketika semuanya menumpuk tidak karu-karuan, Kakak sengaja meluangkan waktu untuk mengecek semuanya. Bahkan aku sendiri tidak sanggup melihatnya. Belum lagi Kakak mengadakan pertemuan klien di luar kantor," sahut Stella mengetahui pekerjaan Asmoro yang berat.


"Kamu benar," kata Asmoro yang membenarkan perkataan Stella. "Ya sudah terusin saja memasaknya. Aku akan stand by di hadapan hp-ku. cepat atau lambat Alexa akan menghubungiku dan menyuruh turun ke bawah. Di sanalah kami bisa mengajak tiga kurcaci itu naik ke atas."

__ADS_1


"Aku sangat merindukan mereka," ucap Stella.


"Bersabarlah. Mereka sedang perjalanan menuju ke sini. Kamu bisa mengajaknya bermain jika sudah sampai," sahut Asmoro yang segera meninggalkan mereka.


"Ternyata tidak kusangka Kak Asmoro memiliki sifat baik," puji Adelia.


"Kamu belum tahu saja kalau Kak Asmoro itu ketua mafia. Jika kamu tahu kalau Kak Asmoro ketua mafia. Kamu sendiri akan terkejut mendengarnya," ucap Stella dalam hati.


"Kalau begitu ayo kita memasak," ajak Stella.


Sampai saat ini Adelia belum tahu kalau Asmoro dan juga sang kekasih adalah anggota mafia. Bagaimana jadinya jika dirinya tahu kalau mereka anggota mafia? Padahal Adelia sendiri sangat takut ketika berhadapan dengan mafia. Mendengar namanya saja Adelia hanya bisa pasrah. Karena Adelia suka melihat film-film berbau mafia.


Sementara di apartemen satunya. Agatha, Yamato dan Hatori sedang berdiskusi. Mereka sengaja menutup ruangan kerjanya itu. Agatha sendiri ingin membicarakan nasib Kurumi ke depannya. Namun Hatori menggelengkan kepalanya.


Melihat Sang putra menggelengkan kepalanya, Agatha sepertinya ragu. Namun dirinya akan menanyakan hal ini kepada Hatori.


"Kamu kenapa?" tanya Agatha.


"Bolehkah aku memberikan saran kepada papa?" tanya Hatori.


"Bagaimana perusahaan itu dijual saja? Sedangkan uang yang kita peroleh bisa membangun perusahaan cabang," jelas Hatori.


"Kamu benar. Kenapa tidak terpikirkan olehku untuk menjual perusahaan itu? Lagian juga itu perusahaan masih berada di tanganku seluruh dokumen-dokumennya," jawab Agatha yang membuat Yamato tersenyum.


"Bagaimana pendapatku kek?" tanya Hatori.


Yamato hanya mengacungkan jempol tanda setuju. Lalu ya mata memuji kehebatan Hatori. Ternyata Hatori memiliki sifat seperti Agatha. Bahkan darahnya Hatori memiliki darah Yamato.


"Kamu benar. Lebih baik dijual ketimbang dipertahankan. Kalau dipertahankan mereka akan menyerang Stella secara terus-menerus," ucap Yamato yang menyetujui saran dari Hatori.


"Dengan siapa kita menjualnya?" tanya Hatori.


"Biarkanlah kakek yang membelinya. Perusahaan itu akan menjadi perusahaan cabang Ayashi. Yang di mana perusahaan itu akan dipegang oleh Yamada," jelas Yamato.


"Jika Yamada ditaruh di Jakarta, Bagaimana dengan aku?" tanya Agatha.

__ADS_1


"Jadikanlah putramu sebagai asisten terlebih dahulu. Maka kamu diam-diam bisa mengajarinya memegang perusahaan sendiri. Setelah sukses kamu bisa pensiun dan tinggal bersama Anita. Biarkanlah perusahaan pusat Hatori bersama Stella dan Adelia yang memegangnya. Aku yakin adik-adikmu memiliki bakat bisnis. Atau enggak Asmoro dan Ian dikirim ke Tokyo untuk membantu kalian," jawab Yamato.


"Menurutku Kak Ian sama Kak Asmoro jangan dilibatkan dalam perusahaan terbesar ini. Aku kasihan sama mereka. Mereka sudah memegang dua perusahaan besar sekaligus. yaitu perusahaan pribadi milik Asmoro sendiri dan juga perusahaan S&T Company. Hampir setiap hari aku bersama Kak Ian tidak pernah ada habisnya mengurus dokumen-dokumen penting dua perusahaan tersebut bersamaan," jelas Hatori.


"Yang kamu katakan itu benar. Jadi masalahnya mereka berdua bisa nggak menjadi penasehat kamu?kakek nggak ingin meminta mereka untuk menjadi karyawan tetap. Yah itung-itung kalau kamu memiliki masalah titik kamu bisa meminta mereka untuk memecahkan masalah tersebut. Aku tahu mereka sudah Malang melintang di dunia bisnis," sambung Yamato.


"Yang dikatakan oleh kakek benar. Kamu harus belajar dari mereka. Mereka berdua tidak perlu diragukan lagi. Di tangan mereka kedua perusahaan tersebut bisa menjadi besar. Bahkan mereka sanggup membawa perusahaan itu hingga ke internasional," tambah Agatha yang memberikan saran kepada Hatori. "Ada juga Alexa dan Martin. Mereka berdua memiliki ketangkasan dalam berbisnis. Aku harap kamu mau mengambil keputusan sekarang juga."


Beberapa saat kemudian Anita masuk dengan membawa teh hijau hangat beserta cemilannya. Setelah itu Anita menghidangkan buat mereka semuanya. Setelah selesai Anita meminta izin untuk berkunjung ke apartemen Asmoro.


"Papa," panggil Anita sambil menatap Agatha.


"Kamu itu memanggil siapa? Manggil aku atau memanggil papa?" tanya Agatha.


"Aku sedang memanggil kamu. Aku ingin berkunjung ke apartemennya Asmoro. Di sana nanti ada kedatangan tiga kurcaci milik Alexa. Terus aku ingin membantu mereka memasak," jawab Anita yang tidak mengalihkan perhatiannya sama sekali.


"Ya sudah deh. Kamu pergi saja sama Hatori. Kami di sini mau meeting tentang perusahaan cabang maupun pusat," jelas Agatha.


"Baiklah kalau begitu. Nanti kalau sudah selesai nyusul ya? Di sana Adelia dan Stella sedang bereksperimen untuk memasak cake dan juga pizza," ujar Anita yang membuat mereka matanya melotot.


"Wah kalau gini rasanya tidak bisa ditinggalkan. Ayo pa... Kita pergi ke apartemen Asmoro. Kedua cucu Papa sedang memasak," ajak Agatha.


"Apakah itu benar?" tanya Yamato dengan wajah berbinar.


"Ya itu benar," jawab Agatha.


Setelah itu Yamato berdiri dan tersenyum bahagia. Ia membayangkan Bagaimana kedua cucunya itu memasak pizza maupun cake? Seketika Yamato rindu kepada mendiang istrinya. Hampir setiap hari Minggu, mendiang istrinya sering memasak cake ataupun pizza. Inilah yang membuat dirinya benar-benar rindu.


Kemudian mereka langsung menuju ke lantai atas. Sebelum mereka keluar, Yamada yang selesai bersih-bersih melihat Yamato. Tanpa banyak bicara Yamato menarik Yamada untuk ikut ke apartemen Asmoro. Tidak bisa terbayangkan jika kakek Yamato bertemu dengan ketiga anak-anak Alexa. Semoga saja kakek Yamato tidak stres menghadapi mereka semuanya.


Asmoro yang sedang menunggu telepon dari Alexa sedang bermain game online. Asmoro bermain dengan Sean dan juga Edward. Kedua anak kecil itu memang memiliki bakat bermain game online sejak kecil. Untung saja Alexa bisa mengatur mereka agar tidak keseringan bermain ponsel. Mereka berdua sangat menurut dengan Alexa.


"Kak," panggil Stella.


"Ada apa?" tanya Asmoro yang mengangkat wajahnya lalu melihat wajah Stella.

__ADS_1


__ADS_2