Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Permintaan Bocil.


__ADS_3

Beberapa saat kemudian datang Stella melihat Alexa yang kebingungan kepada sang putranya itu. Stella masuk dan menatap wajah Alexa yang menahan emosi. Lalu Stella menawarkan dirinya untuk membangunkannya. Alexa menganggukan kepalanya dan mempersilahkan Stella membangunkannya.


Kemudian Stella mendekati Sean dan duduk di sampingnya sambil menarik selimut, "Sean... Ayo bangun. Nanti kamu telat loh berangkat sekolahnya."


"Baiklah kakak Stella yang cantik," ucap Sean yang bangun sambil membuang selimutnya.


"Cih... Pintar sekali kamu merayu Kak Stella," kesal Alexa. "Giliran mama yang membangunkan kamu malah semakin pulas!"


"Ulu... ulu... Mama jadi ngambek sekarang," ledek Sean. "Apakah mama cemburu sama Kak Stella?"


Sontak saja Stella terkejut melihat Sean yang pandai bersilat lidah sama sang mama. Stella menatap Sean dan menggelengkan kepalanya agar tidak melanjutkan perdebatan ini. Akhirnya Sean menganggukan kepalanya dan tersenyum lucu.


"Mama jangan marah ya... Sean masih sayang kok sama mama," rayu Sean bangun dari tidurnya dan mendekati Alexa.


"Siapa lagi yang marah? Kamu itu mirip sekali sama papamu yang menyebalkan itu!" kesal Alexa.


"Ah... Mama... Meskipun papa menyebalkan tapi mama sering kangen loh," ledek Sean.


"Terserahlah apa katamu. Sekarang kamu pergi mandi sana!" perintah Alexa.


"Baik ma," balas Sean yang masuk ke dalam toilet.


"Maaf... Aku jadi merepotkan kamu," ucap Alexa yang mengambil selimut.


"Apakah nyonya tidak memakai pelayan untuk membersihkan kamar Sean?" tanya Stella.


"Stella... Jangan panggil aku nyonya. Kemungkinan besar umur kita tidak terpaut jauh," ujar Alexa.


"Aku bingung harus memanggil nyonya apa? Aku tidak berhak memanggil orang sembarangan," jawab Stella.


"Berapa usia kamu?" tanya Alexa.


"Beberapa bulan lagi aku berusia dua puluh lima tahun," jawab Stella dengan jujur.


"Kalau begitu panggil aku kakak. Aku tidak mau kamu memanggilku nyonya. Karena aku bukan nyonyamu," pinta Alexa.


"Kalau begitu baiklah," balas Stella.


"Dan kamu jangan sungkan di sini. Anggap saja mansion ini adalah tempat tinggalmu," tutur Alexa dengan lembut sambil membersihkan kamar Sean."Setiap kamar anak-anak aku memang membersihkannya sendiri."


Sedangkan di luar, Gio memarkirkan mobilnya. Gio segera bergegas masuk ke dalam dan mencari keberadaan Martin. Namun sebelum masuk ke ruangan kerja Gio melihat Edward sedang duduk cemberut. Gio mengerutkan keningnya sambil menyapa, "Ed... Kenapa kamu diam?"


"Aku sangka yang datang Kakek Lampard. Ternyata tidak," jawab Edward yang memelas.

__ADS_1


Gio tersenyum lucu dan meraih tubuh mungil Edward. Gio mencium pipinya Edward bertubi-tubi. Sehingga Edward tertawa lucu, "Opa... Ed... Geli."


"Apakah kamu tidak senang jika opa datang ke sini?" tanya Gio yang membuka pintu.


"Senang opa. Ed sangat rindu sekali pada opa," jawab Edward.


Gio masuk ke dalam bersama Edward dan menatap wajah Martin. Martin yang sibuk dengan berkas-berkasnya mengangkat kepalanya dan menatap balik wajah Gio, "Hey... Kak."


"Kamu sibuk?" tanya Gio.


"Sedikit," jawab Martin yang melihat Edward. "Ed... Bisakah kamu keluar dulu. Papa sama opa akan berbicara serius."


"Sebentar pa. Ed mau minta sesuatu ke opa," ucap Edward.


"Baiklah," balas Martin yang mulai fokus lagi.


"Kamu minta apa?" tanya Gio.


"Opa... Aku minta Kakek Lampard untuk menikahi Kak Stella," jawab Edward.


"Apa!" pekik Martin dan Gio secara bersamaan.


"Iya. Kata Kak Sean... Kakek Lampard itu jomblo. Makanya kami akan sepakat menjodohkan kakek dengan Kak Stella," jawab Edward.


Edward menganggukan kepalanya sambil mencium pipi Gio. Gio tersenyum dan menurunkan Edward. Akhirnya Edward memutuskan untuk keluar dari ruangan itu. Sedangkan Gio mendekati Martin dan mengambil berkas dari dalam jasnya. Gio menaruh berkas itu di hadapan Martin sambil berkata, "Misi kali ini aku tidak mengajak Alexa."


"Kenapa?" tanya Martin.


"Misi kali ini sangat berbahaya. Mereka sedang mencari identitas Alexa," ucap Gio yang menghempaskan bokongnya di kursi. "Jika identitas Alexa sampai bocor bisa dipastikan kalian tidak akan aman. Kamu tahu yang kita hadapi adalah kartel obat-obatan terlarang dari Meksiko."


"Apakah selama ini?" tanya Martin.


"Kapal yang mengangkut obat-obatan itu sebenarnya milik mafia dari Meksiko. Jika kita secara terus menerus mengandalkan Alexa. Nyawa kalian dalam bahaya. Kamu tahu kan mereka sangat kejam sekali," jawab Gio.


"Lalu?" tanya Martin yang merasakan jantungnya berdetak kencang.


"Aku ingin Lampard dan Ian bergabung dalam misi ini," jawab Gio. "Oh iya satu lagi markas Blue Diamond di Bangkok semalam diserang oleh mafia kartel obat-obatan Meksiko."


"Apa?" pekik Martin.


"Aku akan menghubungi Lampard untuk meminta informasi lebih lanjut. Karena Lampardlah yang membantu menghabisi mereka," ujar Gio yang meraih ponselnya.


Martin menganggukan kepalanya sambil memegang kepalanya dan memijitnya. Entah kenapa akhir-akhir ini Blue Diamond sering mendapat serangan. Lalu Gio segera menghubungi Lampard.

__ADS_1


Bangkok Thailand.


Lampard yang sedang memasukkan berkas-berkas di dalam tas mendengar ponselnya berdering. Lampard segera mengambilnya dan mengusap lambang hijau tersebut, "Hallo."


"Apakah kamu sibuk?" tanya Gio yang memperbesar volume ponselnya.


"Aku sedang bersiap untuk terbang ke Surabaya," jawab Lampard.


"Lebih baik kamu pergi ke Batam. Aku sama Roth dan Martin akan ke sana!" titah Gio.


"Why? Give me a reason!" titah Lampard.


"Kita tidak akan membahas ini di sini," ujar Gio.


"Baiklah," balas Lampard.


Beberapa saat kemudian datang Ian dengan melemparkan tasnya ke sembarang arah. Lalu Ian duduk di hadapan Lampard dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak, "Kak Gio mengalihkan jet kakak ke Batam."


Lampard menghembuskan nafasnya sambil berkata, "Sudah aku duga!"


"Maksudnya?" tanya Ian.


"Gio menyuruhku untuk membatalkan perjalanan ke Surabaya," jawab Lampard.


"Apakah masalah semalam akan dibahas?" tanya Ian.


"Bisa jadi. Lambang X di belakang leher, menyerang rumah sakit, bertarung sama Blue Diamond tidak mati. Tiga inilah yang membuatku menjadi teka-teki," jawab Lampard.


Teka-teki inilah yang membuat Lampard menjadi bingung. Selesai penyerangan itu, mereka mencoba untuk mencari informasi lambang X. Namun mereka tidak berhasil mendapatkannya. Seluruh informasi tentang lambang X seakan lenyap dari peredaran bumi.


Satu jam berlalu mereka bertolak ke Batam. Mereka meninggalkan Bangkok untuk menuju Batam. Jarak tempuh antara Bangkok ke Batam hanya membutuhkan hampir tiga jam. Sesampainya di bandara Hang Nadim mereka berpapasan dengan Jacob dan Imron. Kemudian Lampard mengerutkan keningnya sambil bertanya, "Kenapa kamu di sini?"


"Aku memang disuruh ke sini. Untuk mencari radar kapal," jawab Jacob.


"Kurang kerjaan kamu," sindir Lampard.


"Ya mau bagaimana lagi. Aku tidak akan cerita di sini. Di sini rawan dengan banyaknya mata-mata orang yang bertato X," bisik Jacob.


"Jika kakak ingin tahu arah jam tujuh. Ada sekelompok orang yang sengaja bergerombol di sana. Sepertinya mereka sedang mengincar Alexa," ujar Imron yang memakai mata elang.


Mereka menganggukan kepalanya karena paham akan situasi di tempat itu. Mereka juga tidak membawa senjata api maupun senjata tajam lainnya. Kemudian mereka bersikap biasa saja agar mereka tidak dicurigai.


Setelah meninggalkan bandara mereka langsung menuju ke hotel Snowden. Mereka memang sengaja berkumpul di sana agar bisa mengecoh para musuh.

__ADS_1


__ADS_2