Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Ada Apa Dengan Stella?


__ADS_3

"Aku menemukan tato lambang X di leher mereka," jawab Ian.


"Apakah mereka Samurai X?" tanya Lampard.


"Bukannya lambang X di Samurai X di pipi?" celetuk Raka.


"Yang dikatakan oleh Raka benar. Ini lain lambang X mereka berada di belakang leher," jawab Ian. "Aku yakin mereka bukan orang biasa. Mereka sepertinya tergolong dalam organisasi gelap."


"Apakah kamu mengambil foto lambang itu?" tanya Lampard.


"Sudah," jawab Ian.


"Kalau begitu kirim saja ke Imron. Biar Imron yang menyelidikinya!" perintah Lampard.


Ian segera menganggukan kepalanya dan langsung mengirimkan foto itu ke Imron. Beberapa saat kemudian dokter keluar, "Selamat malam tuan."


"Bagaimana keadaan perempuan itu?" tanya Lampard.


"Keadaannya baik tuan," jawab dokter itu.


"Apakah saya bisa menjenguknya?" tanya Lampard.


"Silakan tuan," ucap Dokter yang mempersilakan Lampard masuk.


Kemudian mereka masuk ke dalam dan melihat perempuan itu yang sedang berbaring. Lampard mendekati perempuan itu dan bertanya, "Siapa namamu?"


"Namaku Stella Marlina Kanagawa. Tuan cukup memanggilku Stella," jawab Stella nama perempuan itu.


"Apakah kamu seorang penculik anak-anak?" tanya Lampard.


"Aku bukan penculik anak-anak," jawab Stella yang menggelengkan kepalanya. "Apakah wajahku mencerminkan seorang penculik?"


"Bisa iya bisa tidak," jawab Lampard asal.


Stella menghembuskan nafasnya secara kasar. Baru kali ini dirinya dituduh sebagai penculik anak-anak, "Aku bukan penculik tuan. Jika saya menculik buat apa di hotel mewah milik keluarga Snowden. Lebih baik saya menculik anak-anak yang berada di kompleks perumahan atau juga di tempat padat penduduk."


Mata Lampard menatap ke mata Stella. Lalu Lampard mulai menyelidiki suatu kebohongan. Namun Lampard tidak menemukan kebohongan itu. Lampard mengaku lega karena wanita ini tidak berbahaya.

__ADS_1


"Siapa orang tadi?" tanya Lampard.


"Dia adalah anak buah Harlem kekasihku. Aku disuruh ikut dengannya," jawab Stella. "Harlem akan menjualku ke mafia."


"Apa!" teriak mereka bersamaan.


"Maksud kamu apa?" tanya Lampard yang tidak paham.


"Aku ingin dijual ke kartel obat-obatan terlarang di Meksiko," jawab Stella yang bingung menjelaskannya.


"Apa penyebabnya kamu dijual ke sana?" tanya Raka yang mengerutkan keningnya.


"Aku tidak tahu kenapa dijual ke sana," jawab Stella. "Salahku apa sama dia?"


"Mana aku tahu salahmu apa?" ketus Lampard.


Mata Stella membulat sempurna dan menatap tajam ke wajah Lampard. Stella tidak terima jika pria yang di depannya itu berbicara ketus. Lalu Stella menjawab, "Aku juga tidak tahu salahku apa. Lagian juga aku tidak ingin mendapatkan jawaban dari tuan."


"Jangan menatapku seperti itu!" geram Lampard.


"Ah... Tuan... Tuan jangan galak-galak apa sama aku. Jika galak aku bisa mendoakan tidak mendapatkan kekasih dalam waktu dekat ini," jawab Stella dengan asal.


"Ah... Tidak tuan. Aku lupa," jawab Stella.


"Kamu ingin dijual ke kartel obat-obatan terlarang di Meksiko. Lalu kamu enggak tahu apa alasannya. Kenapa kamu enggak tanya apa penyebabnya?" tanya Raka lagi.


"Itu benar tuan. Tuan lindungilah aku dari kekasihku itu. Aku mohon kepada tuan," pinta Stella yang memohon ke Lampard.


"Aku tidak bisa memutuskan sekarang. Beberapa hari lagi aku ke sini," ucap Lampard.


"Hmmp... Maksudku aku ingin tuan menyembunyikanku di tempat yang aman," pinta Stella sekali lagi.


Lampard berpikir sejenak dan mencari tempat yang aman. Lalu Lampard teringat akan mansion Alexa yang sangat luas sekali. Lalu Lampard memutuskan untuk menitipkan Stella ke mansion Alexa untuk sementara waktu.


"Kalau begitu baiklah. Aku akan meminta Raka untuk mengurus semua keperluanmu itu agar segera keluar malam ini," jawab Lampard.


Raka akhirnya meninggalkan mereka untuk mengurusi keperluan Stella. Sedangkan Lampard masih bingung dengan alasan Stella. Lalu Lampard mulai bertanya sekali lagi kepada Stella. Tetap saja Stella menjawab tidak tahu.

__ADS_1


"Persiapkan dirimu! Karena sebentar lagi aku mengajakmu pulang!" titah Lampard.


Mansion Nakagawa.


John yang sedang bersantai dikejutkan dengan kedatangan Harlem dengan berjalan sempoyongan. Lalu John mengerutkan keningnya sambil bertanya, "Kamu kenapa?"


"Maaf tuan... Saya gagal membawa Stella ke sini," jawab Harlem yang kesakitan.


Amarah John mendidih seperti gunung yang akan meletus. Baru kali ini Harlem gagal membawa Stella. Bagaimana bisa Harlem yang memiliki ilmu bela diri yang mumpuni kalah telak? Dengan sorot matanya yang tajam John mendekati Harlem dan memberikan bogem mentah di perutnya. Hingga Harlem jatuh tersungkur ke lantai.


"Bodoh!" teriak John yang berapi-api.


Harlem perlahan bangun sambil menahan kesakitan. Harlem membungkuk sambil mengatakan fakta sebenarnya, "Tuan... Ada dua orang yang menyerang kami. Mereka seperti kesetanan saat membunuh para pengawal. Hingga pengawal yang tuan kirim tidak ada hidup sama sekali."


Saat mendengar penjelasan Harlem, John semakin murka. John tidak mengira kalau dirinya bisa dikalahkan begitu saja. Lalu John membuat rencana untuk menyerang habis rumah sakit itu.


Di dalam perjalanan Lampard menghubungi Alexa. Tak sengaja ponsel Alexa diangkat oleh Scarlett. Mereka berbicara dengan santai. Sesekali Lampard tertawa terbahak-bahak karena mendengar celotehan Scarlett. Lalu bagaimana dengan keadaan tadi? Ah... Rasanya Lampard sudah lupa itu.


Sesampainya di mansion mewah milik Alexa. Mereka masuk ke dalam dan mencari keberadaan Alexa. Tak lama Scarlett yang memakai baju tidur bermotif Tweety berteriak memanggil Lampard, "Kakek!"


Lampard tersenyum dan mendekati Scarlett kemudian menggendongnya. Scarlett menciumi Lampard berkali-kali. Hingga Lampard membalas satu ciuman di pipi gadis itu. Sementara Stella yang mendemgar Lampard dipanggil kakek matanya membulat sempurna. Jadi pria yang menyelamatkan dirinya adalah kakek-kakek. Tapi kenapa wajahnya masih tampan? Ini tidak mungkin menurut Stella. Beberapa saat kemudian datang Sean dan Edward untuk mendekati Lampard dan Ian. Pandangan mereka berubah melihat wajah Stella yang familiar itu. Dengan sopannya Sean bertanya, "Bukannya kakak ini yang tadi menabrak kakek?"


"Benarkah itu kak?" tanya Edward.


"Ya itu benar," jawab Scarlett yang sedari tadi memandanginya sambil tersenyum manis. "Kakek... Scar mau turun."


"Baiklah," balas Lampard sambil mencium pipi chubby Scarlett.


Lampard segera menurunkan Scarlett dengan hati-hati. Namun sebelum itu Scarlett mengingatkan sambil berbisik, "Kek... Hati-hati encok."


"Kamu harus mengobati kakek kalau encok datang. Kamu kan calon dokter kakek," ucap Lampard.


"Baik... Baik... Scar akan mengobati kakek. Bahkan Scaf ingin menjadi dokter pribadi kakek seperti paman Raka," ujar Scarlett yang menunjukkan wajah imutnya.


Di atas Martin memperhatikan apa yang sedang dibicarakan oleh Lampard dan Scarlett. Ian hanya mengedikkan bahunya karena tidak tahu isi percakapan antara kakek dan cucu perempuannya itu.


Setelah itu Scarlett mendekati Stella dan memegang tangannya. Kemudian Scarlett mengajaknya duduk di sofa, "Ayo kak duduk di sofa!"

__ADS_1


Stella yang mendapat perlakuan manis dari Scarlett sangat terharu. Stella menilai kalau Scarlett adalah anak yang baik dan menggemaskan. Setelah mereka duduk bersama Scarlett menatap wajah Stella dan memujinya, "Kak Sean, kak Ed, kakak ini sangat cantik sekali ya?"


__ADS_2