Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Stella Mulai Beraksi.


__ADS_3

“Memang aku sudah berbohong selama kamu. Aku memang tidak jujur sama kamu. Jika aku jujur kamu akan ketakutan seperti ini. Tapi melihat adanya ayahmu yang tidak jujur sama kalian. Hatiku mulai goyah. Pasti kalian kecewa dengan papamu. Karena papamu sudah menyembunyikan sebuah hati dirinya kepada kalian,” jelas Asmoro. 


“Aku ingin jujur sama kamu saat ini juga. Jika aku tidak jujur. Suatu saat nanti kamu pasti kecewa dengan keadaanku. Ditambah lagi jika beberapa musuh dariku menculikmu dan mengatakan sebenarnya. Hatiku pasti sakit sebenarnya. Maka dari itu aku putuskan jujur sama kamu,” tambah Asmoro. “Selain itu juga aku memiliki misi untuk melindungi kamu dari Patty dan Tutik. Mereka memang orang yang serakah dan sangat menginginkan kematian kamu. Sebab kamu adalah ahli waris di Kurumi Company. Itulah masalah utamanya aku harus melindungi kamu.” 


Terkejut atas pernyataan dari Asmoro, Stella menundukkan wajahnya. Ia tidak menyangka kalau dirinya memang terancam dalam bahaya. Disisi lain ia berharap akan ada yang melindungi dirinya. Agar tidak dijual oleh mereka ke tangan mafia. 


Stella hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar. Lalu ia bangun dari duduknya dan mendekati Asmoro sambil memeluknya. 


“Maafkan aku! Aku memang tidak menghargai kamu sebagai suami. Aku merasa nyaman berada disampingmu. Kamu adalah sosok yang sangat tepat bagiku,” ucap Stella yang menahan air matanya. 


“Hey... istriku. Aku sangat bahagia bisa melindungi kamu dari mereka. Aku sangat beruntung sekali mendapatkan kamu. Please... izinkanlah aku berkata jujur. Aku ingin menjaga keharmonisan rumah tangga kita hingga akhir hayatmu,” ucap Asmoro yang membuat Stella menangis terharu. 


Bagaimana tidak? Sejauh ini Asmoro di mata Stella menunjukkan sifatnya baik-baik saja. Asmoro bisa dikatakan pria yang sangat hangat. Meskipun awalnya pertemuan mereka sangat menyebalkan. Ditambah lagi dengan bahasa yang dipakai Asmoro saat itu masih kasar dan membentak Stella. Namun saat ini hingga menutup matanya Asmoro ingin berbuat baik kepada istri kecilnya itu. 


Asmoro terkejut mendengar Stella menangis. Ia langsung melepaskan Stella dan menarik tangannya hingga jatuh ke pelukannya. Asmoro menatap wajah Stella sambil berkata, “Jangan menangis lagi. Aku tidak mau melihatmu menangis. Aku ingin melihatmu tertawa dan bahagia.”


“Aku tidak menangis. Tapi aku bahagia bisa menjadi bagian hidupku,” ucap Stella dengan setulus hati. 


“Ceritanya kamu bucin nich sama aku,” ledek Asmoro. 


Plak!


Tangan mungil Stella memukul lengan Asmoro sambil menahan malu. Ia tidak menyangka Senior meledeknya habis-habisan. Jujur ya sangat malu sekali  dan langsung menutup wajahnya sambil berkata, “Aku tidak bucin sama kamu.”


“Lalu apa?” tanya Asmoro. 


“Ah... sudahlah... aku ingin keluar dari sini,” kesal Stella yang kesal terhadap Asmoro. 


“Kamu kesal apa bucin?” tanya Asmoro sambil meledek Stella terus-terusan. 


“Argh... jangan meledekku seperti itu,” jawab Stella yang merengek manja. 

__ADS_1


Cup. 


Bibir tipis Asmoro langsung mendarat di bibir mungil Stella. Stella langsung terdiam dan berkata, “Aku tidak akan berkata jujur kali ini.” 


“Kenapa kamu tidak berkata jujur?” tanya Asmoro yang terus-terusan meledek Stella. 


Stella hanya tersenyum manis sambil menatap wajah Asmoro. Ia memilih diam dan meraih ponselnya di kantong celananya. Beberapa saat kemudian datang Ian bersama Rinto. Mereka berdua langsung masuk ke dalam dan melihat Asmoro bersama Stella. 


“Gawat bro,” celetuk Yudhi. 


“Kenapa memangnya?” tanya Ian yang melemparkan berkas-berkasnya di meja. 


“Ada beberapa orang yang menaruh semacam obat di bahan makanan biskuit,” jawab Rinto yang membuat mereka terkejut dengan sempurna. 


“Apa!” pekik mereka secara bersamaan. 


Stella yang tidak pernah bergaul dengan makanan hanya terdiam dan tidak berkata. Ia juga terkejut dan matanya sangat marah sekali. Ia tidak akan membiarkan masalah ini terus terjadi. 


Asmoro, Ian dan Rinto terkejut. Mereka tidak menyangka kalau Stella bis menggeram seperti itu. 


“Kamu tenang saja. Kami tidak akan membiarkan mereka hidup dengan damai,' ujar Ian.


Brakkk!


Suara gebrakan meja nyaris terdengar hingga keluar. Asmoro benar-benar dibuat bingung dan bisa menghembuskan nafasnya. Ia memegang tangan Stella dan mengelus-elus rambut Stella. Namun amarah Stella tidak bisa reda seketika. Stella akhirnya menarik tangannya paksa dari tangan Asmoro. Akan tetapi Asmoro masih saja memegangnya dengan erat. 


“Kamu jangan berbuat hal yang aneh. Kamu dalam bahaya jika memergoki orang itu dengan cepat,” jelas Asmoro yang tetap memegang tangan Asmoro. 


“Tapi orang itu sudah memberikan obat yang akan menghancurkan generasi selanjutnya!” bentak Stella. “Aku tidak akan bisa membiarkan mereka hidup!” 


Glek. 

__ADS_1


Sekilas Asmoro melihat sorot mata tajam Stella. Asmoro juga teringat akan kejadian tadi siang. Yang dimana Kuncoro, Guntur dan Sheila muncul secara tiba-tiba. Mereka menceritakan ada beberapa orang yang ingin menaruh beberapa obat. Seketika Asmoro mengusap wajahnya. Ia tidak mungkin bisa membendung amarah Stella dan membiarkannya. 


“Panggil pasukan kamu Rinto!” perintah Asmoro saat ini juga. 


“Apakah itu benar?” tanya Rinto yang tidak percaya dengan apa yang didengarnya itu. 


“Ya.. aku percaya pada Stella,” jawab Asmoro. 


Perintah yang tidak bisa dibantahkan akhirnya dikerjakan oleh Rinto. Ia menghubungi pasukan tersembunyi. Setelah menghubungi mereka, Rinto mulai bersiap-siap.


“Apakah jam istirahat sudah selesai?’ tanya Asmoro. 


Ian langsung melihat jam dan menggelengkan kepalanya, “Mereka belum selesai istirahat sama sekali.”


“Kalau begitu lebih baik kita kesana dan mengecek bahan biskuit itu,” anak Stella yang tiba-tiba saja semangat. 


Mereka terpaksa menganggukan kepalanya dan menuruti keinginan Stella. Mereka berdiri dan meninggalkan ruangan itu. Mereka langsung menuju ke dalam pabrik. 


Di dalam perjalanan menuju kesana, Asmoro menentang tangan Stella. Asmoro tidak mau melihat Stella mengamuk dan membuat kekacauan. Begitu juga dengan Ian dan Rinto. Mereka merasakan ada sesuatu yang aneh dalam diri Stella.


Mereka mengenal Stella yang memiliki sifat yang lembut dan tutur kata yang baik. Namun kenapa dirinya berubah menjadi drastis seperti ini? Entahlah.. hanya Asmoro yang tahu dengan keadaan sang istri.  


Sesampainya di depan pabrik, mereka langsung masuk untuk menuju ke tempat dimana pembuatan bahan makanan. Dalam jarak semeter, Stella sudah mencium aroma yang tidak mengenakkan. Diam-diam perasaan Stella sudah tidak enak. Mungkin setelah sekarang dibimbing oleh Ratu Noe. Sebab Ratu Noe pun tidak akan mungkin membiarkan mereka memasukkan obat-obatan itu ke dalam bahan makanan. Jika sampai lolos kemungkinan besar perusahaan Asmoro akan bangkrut seketika. 


“Kapan waktunya ekspor keluar?” tanya Stella dengan serius.


“Besok bareng-bareng akan keluar dan dibawa oleh kapal,” jawab Ian.


“Ini tidak bisa dibiarkan. Tarik semua bahan-bahan tersebut agar tidak keluar dari pabrik ini hanya untuk sementara waktu!” perintah Stella dengan tegas. 


“Apa maksud kamu?” tanya Asmoro sambil memandang wajah Stella.

__ADS_1


__ADS_2