Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Anita Kanagawa.


__ADS_3

Beberapa orang tersebut akhirnya memasuki rumahnya Anita. Mereka duduk di sofa secara berhadapan. Bu Anita yang melihat Bu Giman sedang bengong langsung menepuk pundaknya. Bu Giman pun terkejut dan memandang Bu Anita.


“Ternyata Ibu bisa mengenali bahasa mereka?” tanya Bu Giman.


“Saya kan pernah kerja di Jepang. Jadi saya tahu bahasa Jepang meskipun agak lupa sedikit,” jawab Bu Anita. “Ya sudah Bu. Saya masuk terlebih dahulu.”


Bu Anita pun masuk dan menyuruh mereka bersantai. Ia berpamitan pergi ke dapur untuk mempersiapkan minuman.


“Nety,” panggil Bu Anita.


“Iya Bu,” sahut Neti.


“Apakah sirupnya masih ada?” tanya Bu Anita.


“Sudah habis Bu. Aku lupa bilang ke ibu untuk membeli yang baru,” jawab Neti.


“Kalau begitu bikin es teh saja,” suruh Bu Anita.


“Memangnya tak apa-apa dikasih es teh?” tanya Neti.


“Nggak apa-apa. Mereka juga manusia kok. Ya udah gih bikin dulu,” ucap Bu Anita yang mempersiapkan beberapa gelas kosong.


Bu Anita membantu Neti untuk menyiapkan es teh manis. Sedangkan orang-orang berbaju hitam sedang menikmati keindahan rumah Bu Anita. Salah satu dari mereka tidak sengaja melihat Bu Anita sedang menggendong anak kecil. Pria itu membatin kalau anak kecil itu adalah anak tuhan besarnya. Namun pria itu mencari keberadaan anak kecil tersebut. Pria itu tidak menemukannya sama sekali. Ia sangat bersedih sekali dan hatinya seakan teriris pisau. Dalam hatinya pria itu dapat menemukan anak-anaknya tuan besar.


Selesai membuat teh Bu Anita menghidangkan kepada para tamunya. Mereka pun tersenyum dan memuji kebaikan Bu Anita. Setelah itu Bu Anita duduk di sofa single.


“Dare ga watashi o sagashiteimasu ka?” tanya Bu Anita.


(Siapa mencariku?)


“Watashitachi no omo,” jawab pria tadi yang mengajaknya bicara.


(Tuan besar kami).


“Anata no namae wa nanidesu ka?” tanya Bu Anita.


(Siapa nama kamu?).


“`Watashinonamaeha hamutarōdesu, madamu,” jawab Hamtaro nama pria itu.


(Nama saya Hamtaro, nyonya).


“`Jā, dare ga koko ni kuru yō ni tanonda no?” tanya Bu Anita dengan mata menyelidik

__ADS_1


(Lalu, suruh siapa kalian ke sini?)


“Agasa Kanagawa to iu na no idaina shishō ni meijite kudasai,” jawab Hamtaro.


(Suruh tuan besar kami yang bernama Agatha tanagawa).


Mendengar nama Agatha, seketika tubuhnya melemas. Entah kenapa hatinya berdetak kencang dan tidak beraturan. Ia meneteskan air matanya sambil berkata, “Anata wa watashi ni uso o tsuite imasu ka?”


(Apakah kamu bohong kepadaku?).


“Watashitachiha madamu ni usowotsuku koto wa dekimasen. Watashitachiha agasa-san kara anata o sagasu yō ni meiji raremashita. Nanitozo gorikai tamawarimasu yō onegai mōshiagemasu,” jawab Hamtaro yang menunduk ketakutan.


(Kami tidak berani berbohong nyonya. Kami disuruh Tuan Agatha untuk mencari anda. Kami harap nyonya mengerti pada keadaan).


“Watashi no otto wa mada ikite imasu ka?” tanya Bu Anita yang menahan air matanya keluar deras.


(Apakah suamiku masih hidup?)


“Agasa-san wa mada ikite imasu. Sā wa madamu o sagashiteimasu. Watashi ga koko ni kuru mae ni masutā wa watashi ni itta,`anata ga hontōni misesu o aishite irunara,” jawab Hamtaro yang masih menunduk karena nyonya Anita mulai menangis.


(Tuan Agatha masih hidup. Tuan sedang mencari Anda nyonya. Sebelum saya ke sini, Tuan mengatakan kepada saya, Kalau tuan sangat mencintai nyonya).


Bu Anita langsung menangis sesenggukan. Ia tidak mengira kalau sang suami masih hidup. Tapi kenapa, dirinya ditinggal pergi begitu saja. Ia juga diusir dari rumah tanpa ada alasan apapun. Bu Anita menggeleng dan mengatakan bahwa Agatha berbohong kepadanya.


“Agasa wa watashi ni uso o tsukimashita. Agasa wa nidoto watashi o aishite kuremasendeshita. Otoko wa yakusoku o yabutta. Ano hito no koto wa mō shin'yō dekinai,” ucapkan itu yang masih menangis.


Hamtaro dan lainnya hanya bisa menghembuskan nafasnya. Ia tidak menyangka kalau nyonyanya sangat menderita sekali. Mereka hanya diam sambil memegang dadanya merasakan kesedihan Nyonyanya itu. Mereka menunggu sampai sang Nyonya berhenti menangis.


Beberapa menit kemudian Bu Anita ngambil tisu untuk membersihkan air matanya. Wanita paruh baya itu melemparkan senyum agar tidak membuat suasana menjadi canggung. Setelah itu Bu Anita meminta maaf dan mengajaknya makan siang bersama.


“Ano otoko wa koko ni kuru no?” tanya Bu Anita.


(Apakah pria itu akan datang ke sini?).


“Kono-ken ga owattara, dai ryōshu ga koko ni kurudeshou. Watashitachi wa anata to wakai ojōsan o mamoru tame ni koko ni imasu,” jawab Hamtaro.


(Tuan muda akan ke sini setelah masalahnya selesai. Kami akan di sini untuk melindungi anda dan Nona muda).


“Naze anata wa watashi no sewa o shinakereba naranai nodesu ka?”  Bu Anita.


(Kenapa kalian menjaga saya?)


“Ōgosho ga madamu no sewa o suru yō ni ittakaradesu. Madamu ga tazunetara, watashitachiha kotaeru koto ga dekimasen. Dai tonosama ga kuru no o machimasu,” sahut Hamtaro.

__ADS_1


(Karena tuan besar menyuruh kami menjaga nyonya. jika Nyonya bertanya, kami tidak bisa menjawabnya. tunggu tuan besar datang ke sini).


“Doko ni sunde imasu ka? Hoteru ni tomatte iru nante iwanaide. Hoteru ni taizai suru to, watashi no mendō o miru node wa naku, rimōto de kanshi shimasu,” ujar Anita yang menatap mereka ketakutan.


(Kalian tinggal di mana? jangan bilang kalian tinggal di hotel. Kalau tinggal di hotel kalian bukan menjaga saya melainkan memantau saya dari jarak jauh).


“Koko ni rinsetsu suru ie o sagashiteimasu. Shikashi, genjitende wa mitsukatte imasen. Watashitachi wa shibaraku hoteru ni taizai shinakereba narimasendeshita,” jawab Hamtaro.


(Saya sedang mencari rumah yang berdekatan di sini. Tapi saat ini kami belum menemukannya. Terpaksa kami tinggal di hotel untuk sementara).


“Sonogo, 2-kai ni taizai shimasu. Goshujinsama ga kuru made, tada nori sasete agemashou. Wakarimasu ka!” perintah Bu Anita.


(Kalau begitu tinggal di lantai dua sana. Aku akan memberikan kalian tumpangan gratis sampai Tuan kalian datang. Apakah kalian mengerti!)


Mereka tersenyum dan menatap wajah Bu Anita yang baik. Entah kenapa mereka merasakan ada kehangatan saat memandang wajah wanita itu. Mereka langsung menyetujui permintaan Bu Anita. Begitu juga dengan Bu Anita sendiri, wanita itu memang sengaja menampung mereka. Sifat keibuannya mulai muncul saat melihat kelima pria itu seperti ketakutan. Meskipun mereka adalah utusan sang suami namun Bu Anita tetap menerimanya. Tanpa pikir panjang mereka langsung pergi ke hotel untuk mengemasi semua barang-barangnya.


Tokyo Jepang.


Agatha yang selesai membersihkan mejanya langsung meraih jasnya. Ketika ingin memakainya Agatha mendapatkan sebuah pesan dari Hamtaro. Ia membaca pesan itu sambil tersenyum manis. Ternyata selama ini istrinya masih hidup dan tetap cantik. Hatinya membuncah dan ingin memeluknya segera mungkin.


Beberapa saat kemudian Agatha menghubungi asistennya untuk datang ke ruangannya. Hanya beberapa menit sang asisten pun datang. Lalu asisten itu membungkukkan badannya sambil menyapanya, “Selamat sore Tuan Agatha.”


“Bagaimana jadwalku minggu depan?” tanya Agatha yang berdiri lalu memakai jasnya.


“Jadwal anda beres. Oh iya tuan... Dua hari ke depan anda pergi ke Jakarta untuk bertemu dengan Giovanni Banderas dan Martin Snowden,” jawabnya lagi.


“Sebentar?” potong Agatha. “Ada kunjungan apa ya?”


“Apakah Tuan lupa mengajak kerjasama di bidang ekspedisi bersama Snowden Groups dan Taurus Corps?” tanya sang asisten. “Dan Tuan bersikeras akan datang ke Jakarta sendiri.”


“Mungkin aku lupa. Terus bagaimana dengan Black Horizon?”


“Harusnya minggu depan anda ke Jakarta untuk bertemu Giovanni Banderas. Tapi besok pagi anda harus pergi ke Jakarta untuk meyakinkan Giovanni Banderas bekerja sama dalam bidang ekspedisi,” jawab sang asisten.


“Berapa hari saya di sana?” tanya Agatha lagi.


“Hanya dua hari tuan,” jawab asistennya lagi yang merasakan sang Tuan ingin marah.


“Limpahkan pekerjaanku ke Masatoshi untuk beberapa Minggu. Aku akan mengumpulkan anak-anakku dan juga istriku untuk melakukan pernikahan ulang!” titah Agatha.


“Lalu, Bagaimana anda mengajak kerjasama Black Horizon untuk melindungi anak-anak anda?” tanyanya.


“Itu semua udah aku atur. Jika aku sudah menemukan semuanya maka aku meminta mereka untuk melindunginya. Aku ingin bekerja sama dengan mereka untuk mengusir Exodus dari Asia,” jelas Agatha. “Dan kamu... harus bersiap-siap jika aku membutuhkanmu!”

__ADS_1


“Maaf tuan, pengawal yang anda perintahkan, apakah sudah menemukan Nyonya Anita?” tanya sang asisten.


 


__ADS_2