
Jakarta Indonesia.
Di waktu sore hari, Agatha sedang menikmati nikmatnya kopi yang dibuatkan oleh Anita. Meskipun kopi itu sering dijual di warung-warung, Agatha tidak pernah protes. Malahan ia ingin sekali mengkonsumsi kopi tersebut dengan santai. Lalu bagaimana dengan Anita? Anita tidak memperdulikan akan hal itu. Anita juga tidak pernah protes. Malahan Anita sendiri yang membuatkan kopi yang sedang happening dari awal keluar hingga detik ini.
"Kamu Kalau ada aku mesti minta kopi yang dijual di warung. Apakah kamu nggak malu mau minum kopi seperti itu? Karena kopimu itu harganya sangat murah sekali," tanya Anita yang tidak enak hati kepada Agatha maupun Yamato.
"Apakah putraku sesederhana ini ketika pernah tinggal di Indonesia?" tanya Yamato yang baru saja sadar tentang kesederhanaan Agatha.
"Ya gitu deh pa. Dulu sebelum kami sukses memegang Kurumi. Kak Agatha selalu meminta kopi yang dijual di warung. Aku sangka Kak Agatha tidak memiliki orang tua. Aku aku membiarkan Kak Agatha membeli kopi di warung yang berada dekat rumah. Semenjak itulah Kak Agatha sering banget mengkonsumsi kopi dengan harga murah. Semenjak aku tahu Kak Agatha siapa? Aku sudah tidak mau lagi beli kopi yang berada di warung. Aku usahakan membeli kopi lewat online yang sering dikonsumsi di kantor. Tapi tak Agatha sering menolaknya," jawab Anita sambil menjelaskan kehidupan sehari-hari Agatha.
"Yang murah belum tentu nggak enak. Kamu tahu aku di Jepang sering mengkonsumsi kopi seperti ini. Kalau di sini harganya sangat murah sekali. Kalau di Jepang harganya bisa-bisa membeli nasi uduk delapan porsi sekaligus. Itu juga lagi ada. Kalau nggak ada ya sudah. Habis semuanya di supermarket terdekat," jelas Agatha.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Agatha maupun Anita. Yamato kira kopi itu sangatlah mahal. Akan tetapi Agatha mengatakan kalau kopi tersebut sangatlah murah di negaranya sendiri. Yamato tidak mempermasalahkannya. Bahkan Yamato sendiri mengatakan sangat bersyukur ketika Anita merubah Agatha menjadi orang biasa.
"Semenjak aku mengenal menantuku. Aku tidak pernah mempermasalahkan dirimu menjadi orang biasa maupun orang hebat. Kamu adalah kamu. Tidak perlu menjadi orang hebat maupun orang terkenal sekaligus. Pertahankanlah ciri khas kamu itu. Semakin lama aku sangat bersyukur ketika berada di sini," pesan Agatha.
Mereka sangat bersyukur setelah kejadian di masa silam. Satu persatu mereka menggenggam erat tangan hingga membuat mereka semakin kuat.
"Papa," panggil Hatori yang baru saja datang dan mencari keberadaan kedua adiknya. "Kapan ya kedua adikku akan pulang ke sini. Rasanya aku sangat merindukan mereka."
"Sebentar lagi. Urusan di Manchester sudah selesai. Jadi mereka akan pulang secepatnya. Lalu Bagaimana dengan pekerjaanmu? Apakah kamu akan marah kepada adik iparmu itu?" tanya Agatha.
__ADS_1
"Aku tidak marah sama mereka. Jujur aku selama ini banyak belajar tentang bisnis. Aku sangat berterima kasih sudah mendapatkan jabatan tertinggi di perusahaan S&T. Kak Asmoro dan Kak Ian mengajarkan aku dengan penuh kesabaran. Siap nggak siap aku harus ikut dengan papa untuk membangun perusahaan Ayashi. Lalu bagaimana dengan keluarga Tutik?" tanya Hatori.
"Tenang saja. Mereka tidak akan berbuat ulah lagi. Lihatlah mereka. Mereka sudah tidak ada dukungan dari manapun," jawab Agatha.
"Apakah Liam sudah mundur untuk membantu Tutik?" Tanya Hatori yang sangat penasaran sekali.
"Yang Papa dengar mereka sudah tidak mau membantu dan bekerja sama dengan Tutik. Karena Liam sendiri melainkan diri dari Indonesia ke negaranya," jawab Agatha yang membuat mereka sangat terkejut sekali.
"Kenapa bisa begitu pa? Bukankah mereka sedang mencari sekutu untuk menghajar kita masing-masing?" tanya Anita yang belum paham sama sekali.
"Ada masalah di Jepang dulu. Kalau nggak salah ceritanya begini. Liam itu sering berkunjung ke Jepang dan memiliki seorang teman yang bernama Sadako. Terus dia berhutang ke beberapa klan dengan uang yang tidak tanggung banyaknya. Sampai sekarang aku bersama lainnya sedang memburu Liam. kalau sampai tertangkap, Liam akan habis dengan beberapa klan," jelas Agatha.
Mereka pun semuanya paham dan mengaku lega. Jujur wanita bisa tersenyum kembali. Akan tetapi Anita harus waspada. Dirinya tidak boleh lengah Karena Wanita itu sangat licik sekali.
Malam penuh dengan gemerlap Bintang. Suasana di Kota Manchester sangatlah dingin. Leon dan Ian sangat puas sekali hari ini. Mereka tidak melakukan tugas apapun. Karena mereka sudah melaksanakan tugas di malam hari.
"Masalah di Jakarta dan Manchester sudah selesai. Untung saja uang yang diambil oleh musuhnya Stella direbut kembali. Jujur pada karyawan maupun karyawati tidak akan terlambat untuk menerima upah dalam bulan ini," kata Leon.
"Mereka sangat berambisi untuk mendapatkan sesuatu yang tidak bisa dimilikinya. Coba bayangkan saja, Patty dari dulu ingin menduduki kursi jabatan dari Kurumi. Sedangkan kursi itu sudah disumpah oleh sang pemilik. Jika ada yang menempati kursi itu selain keturunan dari Nakagawa maka tidak ada yang bisa mampu memanjat kursi tersebut," jelas Ian yang duduk bersandar di sofa.
"Namanya ambisi boleh saja. Jangan terlalu menyakiti hati orang lain. Kalau tidak mampu Ya sudah lepaskan saja. Menduduki suatu jabatan tertinggi memiliki beban yang berat di pundak," ucap Leon.
__ADS_1
"Percuma saja kamu memberikan nasehat kepada Tutik dan putrinya itu. Ujung-ujungnya nasehat itu akan mental sendiri-sendiri," ujar Ian.
Kemudian mereka memilih untuk diam. Mereka memandangi layar ponselnya masing-masing. Sedetik dua detik tidak ada telepon yang masuk. Mereka memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing.
Asmoro yang telah memperagakan video panas itu tersenyum bahagia. Betapa tidak, Stella sangat menurut dan dirinya mendominasi permainan. Dengan begitu Asmoro menang untuk memperdaya Stella.
Tiba-tiba saja Stella sadar. Dirinya sudah tidak memakai benang sehelai pun. Matanya melotot sambil menatap Asmoro. Kemudian Stella bertanya, "Kenapa aku berada disini?"
Asmoro sadar kalau Stella masih lupa dengan keadaannya. Kemudian Asmoro menjawab, "bukannya kamu selesai mempraktekkan apa yang terjadi di video itu?"
"Maksud kamu apa? Apakah kamu berbuat yang tidak baik kepadaku lagi?" tanya Stella dengan tatapan horornya.
Asmoro sengaja membuang wajahnya. Tatapan sang istri justru sangat menakutkan. Kemudian Asmoro segera memakai baju dan duduk di sofa.
"Sepertinya kamu takut ya sama aku?" tanya Stella.
"Lebih baik aku ketemu musuh ketimbang melihat tatapan matamu itu. Kamu lebih menyeramkan ketimbang musuhku yang datang kepadaku dan mengajak berperang," jawab Asmoro yang tidak mau menatap mata Stella.
"Kamu ini sangat aneh sekali. Kamu berbuat tapi kamu takut. Ksatria takut melakukan hal-hal seperti tadi?" tanya Stella sambil tersenyum manis.
"Kamu nggak marah sama aku?" Tanya Asmoro.
__ADS_1
"Buat apa aku marah sama kamu?" Tanya Stella balik.
"Karena kamu menghadapi seperti itu. Lazada tatapanmu itu sangat menakutkan ketimbang aku bertemu dengan musuh besarku," jawab Asmoro yang berkata jujur. "Lalu apakah kamu sadar ketika bermain disini tadi?"