
"Kita berangkat jam lima sore nanti. Mengingat sebentar lagi ada meeting dengan divisi keuangan maka aku tunda dulu untuk sementara," jawab Ian.
"Bisa nggak kita bisa lihat cuman sehari saja? Aku nggak mungkin ngasih perusahaan ini ke Martin. Mengingat Martin yang sudah memegang dua perusahaan itu," jelas Lampard.
"Tenanglah... Aku sudah mengusahakan hanya satu hari saja. Kamu menyerang saja. Biarkanlah aku yang menghavakuasi mereka bersama Jacob," pinta Ian.
"Baiklah kalau begitu. Aku tidak ingin lama-lama di Manila," balas Jacob.
"Oh iya... Kamu sedang mengembangkan antivirus baru bersama Alexa," Lampard menatap ke arah Jacob.
"Iya itu benar. Jika kau tidak memperbarui antivirus yang kita pakai, kemungkinan besar mereka bisa menghancurkan kita," jelas Jacob.
Akhirnya mereka sepakat untuk pulang pergi dalam waktu sehari. Mengingat mereka memiliki pekerjaan yang sangat banyak. Ditambah lagi dengan musuh sudah mulai bergerak.
Jacob yang baru saja duduk melihat ponselnya yang sudah berdering dari tadi. Jacob mengerutkan keningnya sambil menatap layar ponselnya tersebut.
"Kenapa dengan kak Martin? Tiba-tiba saja dia menghubungiku siang-siang begini? Apakah kak Martin tidak bekerja?" tanya Jacob bertubi-tubi.
"Martin berada di Mansion. Hari ini sepertinya tidak berada di kantor. Mungkin saja Martin sedang malas untuk ke mana-mana. Mengingat musuh sudah bergerak dengan cepat," jawab Lampard.
"Aku hampir melupakan itu. Beberapa hari ini aku juga sudah melihat musuh bergerak. Kemungkinan besar Thomas sang kaki tangan Liam akan menetap di sini sampai menemukan Stella. Itulah informasi yang aku dapatkan dari seseorang," jelas Jacob.
"Masih sempet-sempetnya mencari Stella ternyata. Baiklah... Jika Stella sudah menjadi wanita tangguh, aku yakin mereka tidak akan mau menangkap Stella," sahut Lampard sambil membayangkan Stella bangkit.
"Sepertinya kakak sangat bahagia sekali?" jawab Jacob. "Jika Stella bangkit dan menjadi wanita tangguh."
"Aku tidak sia-sia menggembleng Stella. Aku bisa mengendalikan Stella. Kemungkinan besar Stella akan menjadi wanita yang sangat kuat sekali. Setelah menjadi wanita yang kuat, aku harap Stella bisa melawan mereka terutama pada adik angkatnya itu," tegas Lampard.
"Aku setuju soal itu. Lama-lama aku juga tidak mau masalah ini berlarut-larut. Mengingat benua Eropa sudah dikuasai oleh Exodus membuat para mafia maupun gangster yang hidup di sana terancam bahaya," imbuh Ian.
Mansion Gio.
Stella dan Adelia sedang menikmati kudapan kecil buatan para pelayan. Mereka tidak habisnya membicarakan masa kecilnya dahulu. Adelia yang mendengar kisah Stella menangis. Karena Adelia sendiri tidak tega dengan sang kakak menderita seperti itu.
Tiba-tiba saja Adelia teringat. Kalau dirinya pernah merasakan tubuhnya kesakitan hampir setiap hari. Ia tidak pernah cerita kepada Anita. Adelia memang sengaja tutup mulut soal itu. Karena dirinya sering melihat sang ibu bersedih. Entah kenapa Adelia memeluk Stella sambil berkata, "Andaikan kita di sana berdua. Aku bisa merasakan rasa sakit kakak bersama-sama."
"Biarkan saja. Biar aku yang menanggungnya. Perkataan papa benar. Jika kamu sama Kak Hatori berada di rumah itu. Kemungkinan besar kalian tidak akan selamat. Itulah mengapa aku yang menjadi perisai kalian. Jujur mereka adalah orang-orang jahat yang haus akan aset kita sendiri. Padahal aset itu ditujukan buat kita bertiga. Kenapa mereka ingin merebutnya?"
__ADS_1
Jujur dirinya juga sedih sekali. Kenapa mereka sangat membenci keluarganya? Padahal ia sering membantunya apapun yang diminta. Ditambah lagi mereka yang haus dengan kekuasaan.
Dari kejauhan, Alexa bersama si kembar dengan Sean melihat mereka sedang menangis. Entah kenapa hati mereka langsung sakit. Jujur Alexa bisa merasakan kegundahan mereka. Alexa tidak menyangka kedua gadis itu hidupnya sangat menderita.
"Kenapa dengan Kak Stella?" tanya Sean.
"Kemungkinan juga kakakmu itu sedang lihat film sedih. Mereka saling meluapkan perasaannya. Sama kayak Scarlett dan kamu Sean. Ketika Mama melihat film sedih. Kamu juga ikut-ikutan menangis," jawab Alexa.
"Benarkah itu? Sepertinya aku tidak ikut-ikutan menangis? Mataku hanya kelilipan saja," dusta Sean yang membuat Alexa tertawa.
Melihat Alexa tertawa Sean kesal dan melipat kedua tangannya di dada. Dengan wajah cemberutnya Sean pergi meninggalkan Alexa dan lainnya. Kemudian Sean mendekati Kakak kembar itu sambil bertanya, "Kenapa kalian menangis seperti itu? Apakah kalian tidak malu dengan aku sang pria tampan ini?"
Mendengar suara imut dari Sean, Adelia dan Stella melepaskan pelukannya. Kemudian mereka melihat Sean sedang memasang wajah cemberut. Seketika mereka tertawa terbahak-bahak. Jujur kedua gadis itu merasa terhibur atas kedatangan Sean.
Entah harus bagaimana lagi, Sean harus mengungkapkan perasaannya. Mengingat dirinya masih kesal karena ulah sang mama.
"Kakak," panggil Sean.
Adelia dan Stella menghentikan tawanya sambil melihat Sean. Lalu Adelia merentangkan kedua tangannya. Agar Sean memeluknya. Sontak saja Sean langsung berhambur di dalam pelukan Adelia. Karena Sean sangat merindukan Adelia.
"Kakak apa kabarnya?" tanya Sean.
"Aku ke sini bersama mama dan si kembar," jawab Sean.
Lalu Adelia memangku Sean dan mendekapnya. Beberapa saat kemudian Alexa dan si kembar mendekati mereka. Mereka melihat Sean sedang dipangku Adelia tersenyum manis. Bagaimana tidak Sean sudah mencuri hati Adelia terlebih dahulu.
"Kenapa wajahmu cemberut seperti itu?" tanya Stella yang membuat Sean tersenyum kembali.
"Idih... Pakai tersenyum segala dirimu itu," ledek Alexa.
"Biarin," kesal Sean langsung memasang wajahnya cemberut lagi.
"Bener-bener deh Ini anak. Mirip banget sama Martin," keluh Alexa.
"Bener juga Kak. Sean sangat mirip sekali dengan kak Martin. Kalau kata aku Sean itu hanya numpang hidup di dalam perut kakak saja," ucap Stella yang membuat Alexa mengangguk.
"Nah iya kan. Kenapa kok bisa-bisanya Sean mirip sekali dengan Martin?" tanya Alexa.
__ADS_1
"Jangan menyesal seperti itu ma. Mama kan tahu kalau aku sangat lucu sekali," jawab Sean sambil tersenyum manis.
Scarlett yang melihat sang kakak sangat narsis hanya bisa menepuk jidatnya. Jujur saja scarlet ingin memukul sang kakak. Bisa-bisanya sang kakak penuh percaya diri mengatakan itu? Baginya itu tidak mungkin.
"Kamu kenapa anak manis?" tanya Stella sambil merentangkan kedua tangannya.
Kedua Kakak adik itu langsung berhambur dipelukkan Stella. Entah kenapa mereka sangat merindukan Stella. Terkadang mereka mengingat kejadian di mana Stella ditembak. Hal itu membuat mereka menjadi sangat ketakutan sekali. Ketakutan bila harus kehilangan Stella.
Ketiga anak Alexa sudah menganggap Stella adalah kakak angkatnya. Mereka berharap Stella menikah dengan kakeknya itu. Namun mereka belum tahu jika sang kakek akan menikahi Stella. Begitu juga dengan sang mama. Sang Mama juga tidak tahu jika papa angkatnya itu menikah dengan Stella. Kesimpulannya di sini adalah mereka sama-sama tidak tahu. Kesimpulannya di sini adalah bahwa Sang papa angkat Alexa akan memberikan kejutan tanpa diketahui mereka.
"Kakak," panggil Scarlett.
"Iya sayang," sahut Stella.
"Apakah kakak sudah sembuh?" tanya Scarlett.
"Sudah sembuh sayang. Kita bisa bermain lagi kok. Tenang saja jangan bersedih begitu," jawab Stella dengan lembut.
Kemudian mereka memutuskan untuk mengobrol dengan suasana santai. Di sini Mereka sangat menikmati obrolan demi obrolan. Terutama yang membuka obrolan itu adalah Sean dan adik-adiknya.
Ketika Sean berkata serius, Adelia dan Stella malah tertawa. Entah kenapa Sean sangat lucu sekali. Hal itu bisa menghibur di saat mereka sedang sedih.
Bagaimana dengan Alexa dan kedua adiknya itu? Mereka hanya menggelengkan kepalanya saat Sean curhat. Yang terlebih lagi Sean curhat tentang sekolahnya itu. Jujur obrolan hari ini sedang dikuasai oleh Sean.
Tak lama Alexa melihat ponselnya berdering. Lalu Alexa meraihnya dan menatap nama yang berada di ponselnya itu. Seketika Alexa menggeser icon hijau itu sambil menyapa, "Halo Kak."
"Ada di mana kamu?" tanya Martin yang berada di kantor sedang melihat infotainment.
"Aku berada di Mansion papa Gio," jawab Alexa yang berdiri meninggalkan mereka. "Ada apa kak? Apakah ada masalah di kantor?"
"Sejauh ini aku masih bisa menanganinya. Aku lihat infotainment yang isinya tentang Patty," jawab Martin yang muak dengan berita tersebut.
"Bukankah dia artis?" tanya Alexa.
"Artis dadakan sekarang. Bisa-bisanya dari kemarin membuat berita sangat jelek sekali."
"Maksudnya apa? Apakah dia membuat masalah yang sekarang lagi viral itu?"
__ADS_1
"Yang mana lagi? Viral yang bagaimana? Orang hidupnya penuh dengan settingan biar terkenal," ujar Martin.
"Lalu kakak sepertinya kesel sekali sama itu orang?" tanya Alexa.