Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Kejahilan Stella.


__ADS_3

"Itu benar," jawab Asmoro.


"Boni sangat licik juga," puji Jacob yang mengagumi kelihaian Boni.


"Itu benar," jelas Asmoro yang tidak menutup kemungkinan akan mengambil ilmu Boni untuk dijadikan rencana selanjutnya.


"Sepertinya kakak harus mencopy sifat liciknya itu," saran Imron.


"Iyalah. Semakin banyak musuh mengganggu kita. Kita bisa mengambil ilmu itu unutk dijadikan strategi selanjutnya. Aku yakin semuanya akan berjalan dengan baik," ucap Asmoro yang mengambil saran dari Imron.


Setelah memilih senjata, mereka langsung pergi ke garasi. Mereka akhirnya memilih dua mobil yang akan dipakai oleh mereka unutk menuju ke perusahaannya itu.


Mobil satu keluar yaitu mobil sport yang berwarna hitam milik Asmoro langsung melesat jauh. ternyata pria paruh baya itu memiliki taring saat mengemudi. Skillnya bisa disamakan dengan pembalap lainnya. Begitu juga dengan Ian dan lainnya. Mereka kalau di daerah eropa langsung menancpkan gasnya hingga akhir tujuannya.


Selama di Indonesia mereka tidak pernah memakai mobil sport dengan harga fantastis. Mereka sengaja membeli mobil yang berjenis suv. Karena mereka tidak ingin berkebut-kebutan dengan lainnya.


Stella yang gelisah di dalam hatinya hanya bisa berdoa. Ia tidak ingin Asmoro celaka. Namun apa daya, Asmoro harus melakukan tugasnya telebih dahulu. Ia tahu kalau pekerjaan ini sangta berat sekali. Bahkam ia harus mencari cara agar bisa melakukannya.


"Kamu kenapa kak?" tanya Adelia.


"Aku tidak apa-apa. Hatiku sangat kacau sekali," jawab Stella.


"Kenapa dengan kamu?" tanya Natalie.


"Apakah mereka semuanya akan baik-baik saja?" tanya Stella yang masih ragu dengan pekerjaan Asmoro.

__ADS_1


"Aku sendiri tidak tahu. Kamu tahu kan mereka bekerja melawan bahaya? Aku pun sering. Mereka sengaja melawan bahaya itu agar bisa menyelesaikan pekerjaan. Aku yakin semuanya baik-baik saja. Papa memang orangnya sangat hebat ketika menyusun strategi untuk melawan para musuh. Beliau tidak akan pernah menyerah sedikitpun," beber Natalie tentang fakta Asmoro sebenarnya.


Sedangkan Asmoro sendiri sudah sampai ke perusahaan. Benar saja perusahaan itu dijaga oleh orang-orang bukan suruhannya. Asmoro dapat menebaknya karena mereka adalah orang-orangnya Boni. Ternyata selama ini kliennya itu telah mempermainkannya. Untung saja sebelum berangkat ia memakai jaket anti peluru. Diam-diam Asmoro ingin mengajaknya berperang dan menghabisi mereka semuanya.


"Bagaimana? Ini adalah perusahaanku. Kenapa orang-orang tidak ada guna menjaga perusahaanku," tanya Asmoro yang menatap Jacob untuk melakukan sesuatu.


"Apakah kita akan berperang?" tanya Jacob.


Mereka berada di mobil yang berbeda. Mereka berdiskusi dengan memakai HT. Melalui HT mereka bisa mengamati apa yang akan terjadi nanti. Jarak antara mobil dan perusahaan hanya empat meter saja. Akankah mereka bisa menyentuh perusahaannya? Jawabannya adalah entah.


"Kita kembali saja ke rumah. Kita tidak bisa menghancurkan perusahaan itu. Kita harus menghancurkan Boni terlebih dahulu. Mumpung ada kalian berdua, bantu aku melacak keberadaan Boni," perintah Asmoro yang menancapkan gasnya lalu kembali ke rumah.


Rencana malam ini ingin menyergap orang-orang seperti itu. Akan tetapi mereka akan muncul satu persatu. Mereka yakin Boni bersembunyi di suatu tempat. Mereka harus memancing Boni muncul agar tidak terjadi peperangan hebat.


Sebenarnya Asmoro ingin membuat keributan. Akan tetapi Asmoro teringat pada istri kecilnya yang sangat khawatir dengan keadaannya. Ia tidak akan melakukan hal yang gila sebelum meminta izin kepada sang istri kecilnya itu.


"Kenapa masalah ini semakin runyam? Ada apa sebenarnya di perusahaanku ini? Apakah aku harus stay di sini untuk sementara waktu?" tanya Asmoro di dalam hatinya dan tidak ingin berisik mengganggu Stella sehingga sedang tidur.


"Itu terserah kamu. Kalau aku disuruh stay di sini ya sudah. Aku menuruti apa kata hatimu. Semakin lama perusahaan itu harus diurus. Apakah aku yang melawan mereka?" tanya Stella yang tahu kegundahan hati Asmoro.


"Mereka bukanlah musuhku. Mereka adalah pamanku dan orang lain. Mereka sengaja melakukannya demi menghancurkan karirku di dunia bisnis. Besok pagi aku akan bekerja di ruangan kerjaku sambil memeriksa seluruh dokumen-dokumen yang sudah diambil oleh Leon," jawab Asmoro yang sengaja mengelus-ngelus punggung Stella.


"Aku harus belajar. Aku ingin belajar untuk menguasai semua perusahaanmu. Aku harus melawan mereka dan meminta kembalikan perusahaanmu. Jika tidak maka aku akan membawa Klan KG ke sini untuk mengobrak-abrik mereka agar keluar dari perusahaan," jelas Stella walau tertidur tapi pembicaraannya masih berlanjut.


"Aish... Kenapa kamu berubah menjadi seperti itu?" tanya Asmoro sambil tersenyum lucu.

__ADS_1


"Karena aku tidak mau melihat kamu menderita seperti ini. Tuh lihat perusahaan kamu yang sudah dibangun bertahun-tahun. Masa kamu mau nganggurin begitu saja. Siapa tahu nanti perusahaan itu akan berguna buat anak-anak kamu," jawab Stella sambil meraba dada Asmoro.


"Lepaskanlah tanganmu," perintah Asmoro yang membuat Stella semakin menjadi.


"Lagian juga kamu memiliki kulit sangat lembut sekali seperti ini. Jadinya aku semakin betah untuk memegangnya dan mengelus setiap hari," ucap Stella yang sengaja mengerjai Asmoro.


"Megang sih megang. Tapi jangan kayak gini," lirih Asmoro yang membuat Stella membuka matanya dan langsung tertawa.


"Kamu itu sangat lucu sekali. Aku kira kamu adalah pria yang cukup dingin. Tapi kamu orangnya ceplas-ceplos kalau ngomong. Sudahlah tidur sana. Aku juga sangat mengantuk sekali. Kamu adalah seseorang yang di mana membuat aku tersenyum," ujar Stella.


Asmoro langsung mematikan ponselnya dan lampu yang berada di dalam kamar tersebut. Mereka memutuskan untuk tidur hingga pagi hari.


Tepat jam 06.00 pagi, Stella sudah mulai pergi dari kamar Asmoro. Sore kemarin mereka sepakat untuk memasak bersama. Mereka makanan ringan untuk sarapan pagi.


Para wanita pun memang sangat bahagia ketika berurusan dengan dapur. Mereka berempat semakin semangat untuk membuat menu pasangan masing-masing. Sedangkan para pria masih berada di alam mimpinya.


"Kalian mau bantu nggak?" tanya Stella.


"Bantu apa?" tanya Adelia.


"Aku ingin ke perusahaan milik Kak Asmoro. Aku yakin di sana ada masalah besar. Aku pengen banget apa yang telah terjadi di Perusahaan itu. Sehingga Kak Asmoro sudah sangat kacau sekali hidupnya ini," jawab Stella.


"Oh oke. Kalau begitu tenanglah. Kita akan menyusun rencana untuk mengetahui apa yang telah terjadi," sahut Natalie dengan senang hati.


"Apakah kita akan pergi dari sini nanti siang?" tanya Stella yang membuat Natalie menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Kita tidak akan mungkin keluar dari mansion ini. Kita juga tidak bisa kemanapun tanpa seizin bapak Asmoro," jawab Natalie yang patuh pada perintah Asmoro.


"Kenapa aku tidak boleh pergi tanpa Kak Asmoro untuk mengunjungi perusahaannya?" tanya Stella.


__ADS_2