Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Challenge Menghabiskan Uang.


__ADS_3

Tepat jam sebelas siang mereka akhirnya meninggalkan unit apartemen Agatha. Sebelum terbang, mereka memutuskan untuk pergi ke pusat perbelanjaan di pusat kota Jakarta. Mereka berencana ingin menghabiskan waktu dengan membelikan para perempuan pakaian.


"Jadwalku apa di Manchester?" tanya Asmoro.


"Sudah aku kirim lewat email. Kakak bisa membacanya semua. Kemungkinan besar kita akan kesana selama dua Minggu," jawab Ian yang sedang fokus pada mobilnya.


"Dua Minggu?" pekik Adelia.


"Iya dua Minggu," jawab Ian.


"Kok dua Minggu kak," protes Stella.


"Kenapa kalau dia Minggu?" tanya Asmoro kepada Stella.


"Apakah tidak kelamaan?" tanya Stella balik.


''Tidak. Banyak sekali pekerjaan yang harus dikerjakan," jawab Asmoro sambil mengecek email dari Ian.


"Hmmmp... bagaimana dengan nasibku ini?" tanya Stella.


"Nasibmu akan baik-baik saja," jawab Asmoro. "Bukannya kamu sudah memiliki seorang suami? Kehidupan kamu akan terjamin disana."


"Aku tidak bisa bertemu dengan nama papa," jawab Stella.


"Aku sudah meminta izin ke papa kalian. Kalian disana harus mendampingi kami ketika berada di kantor," jelas Asmoro.


"Apakah kalian baik-baik saja?" tanya Stella yang sebenarnya tidak percaya apa yang dikatakan oleh Asmoro.


"Aku baik-baik saja. Aku memang sangat baik sekali. Aku sengaja memberikan tiket gold. Yang gunanya untuk mengajari kalian dalam dunia bisnis. Aku tidak memperdulikan pendidikan terakhir kalian. Cepat atau lambat kalian akan memegang perusahaan pusat Jepang," jelas Asmoro yang memprediksi masa depan Adelia dan Stella.


"Hemmp, aku tidak tertarik akan hal itu," sahut Stella dengan cepat.


"Kenapa kamu tidak tertarik?" tanya Adelia. "Kakak bisa membantu kami untuk mengurusi perusahaan. Aku pernah mendengar kalau papa ingin membuka cabang di beberapa negara Asia."


"Aku lebih ingin memajukan karya benang rajut," jawab Stella.


"kamu bisa melakukannya. Kamu bisa membuat sebuah pabrik di Indonesia," usul Asmoro yang menghadap ke belakang.


"Aku tidak akan melakukannya," tolak Stella yang membuat Asmoro terkejut.


"Kenapa kamu menolaknya?" tanya Asmoro yang bingung dengan pernyataan dari sang istri.


"Aku ingin merajutnya sendiri dengan harga yang cukup mahal. karena kalau memakai tangan lebih rapi dan teliti," jawab Stella yang mengerti menyulam.

__ADS_1


"Lama sayang," ucap Asmoro yang mengerti dengan pekerjaan sulam.


"Kalau pun lama, jadinya sangat bagus sekali. Apalagi cara pembuatannya sangat asyik sekali," jelas Stella yang memberikan pemahaman kepada Asmoro.


"Terserah kamu saja. Intinya kamu harus belajar dari awal lagi untuk mengenal bisnis," sambung Asmoro.


"Yang dikatakan oleh Kak Asmoro benar kak. Kakak harus belajar dari awal untuk belajar bisnis. Suatu hari nanti ilmu itu sangat berguna," jelas Adelia yang membenarkan perkataan Asmoro.


"Hmmp... baiklah," ucap Stella.


Sesampainya di pusat perbelanjaan, mereka langsung masuk. Kedua pria itu tidak memiliki rencana apapun. Mereka sengaja meminta para wanitanya untuk menghabiskan uang.


"Ngapain ya kita kesini ya?" tanya Stella yang bingung harus ngapain.


"Sebaiknya kalian harus menghabiskan uang seratus ribu dolar dari kami," jawab. Asmoro yang memiliki ide gila.


"Seratus ribu dolar?" pekik Stella. "Kalau dijadikan rupiah berapa ya?"


"Coba kakak lihat kurs sekarang," jawab Adelia yang meminta Stella melihat kurs dolar sekarang.


Stella akhirnya mengecek kurs dollar untuk hari ini di internet. Matanya membulat sempurna dan terkejut sekali. Ternyata seratus ribu dolar hampir setara dengan uang satu setengah milyar.


"Satu setengah milyar," ucap Stella dengan lemah.


Kedua gadis itu menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa mereka menghabiskan uang sebanyak itu hingga menjelang malam. Mereka sangat bingung sekali.


"Bagaimana dengan kamu Ian? Aku sekarang memberikan sebuah challenge buat mereka berdua?" tanya Asmoro yang melihat Ian menganggukan kepalanya.


"Itu ide yang sangat bagus sekali," jawab Ian yang menyetujuinya.


"Apakah kalian gila menyuruhku menghambur-hamburkan uang sebanyak itu?" tanya Stella yang tidak suka berbelanja.


"Adelia," panggil Ian matanya tertuju ke Adelia.


"Aku tidak mau. Aku bukan tipe perempuan yang suka menghambur-hamburkan uang," tolak Adelia dengan blak-blakan.


"Kalian ini sangat aneh sekali. Bagaimana bisa kalian menolak uang sebanyak itu?" tanya Asmoro yang bangga dengan istrinya.


"Berikan uang lima juta saja kepada kami," pinta Stella dengan serius.


Ian sangat bingung sekali kepada Adelia. Ia mengambil dompet dan mengambil black card. Lalu ia menyodorkan ke arah Adelia, "Belanja sana. Kalau bisa habiskan uang itu."


Asmoro juga melakukan hal yang sama. Asmoro malah memberikan kartu platinum. Yang dimana kartu itu berisi uang sebanyak satu juta pound. Asmoro tidak mengatakan nominalnya ke Stella.

__ADS_1


Kedua wanita itu akhirnya menganggukan kepalanya. Mereka mengambil kartu itu dari tangan masing-masing para pria. Ian meminta Asmoro berpisah. Ian ingin menghabiskan waktu bersama Adelia.


"Lebih baik kita berpisah sementara waktu. Nanti kita berkumpul untuk sementara waktu," pita Ian.


"Ide kamu sangat bagus sekali," ucap Asmoro yang menggandeng tangan Stella.


Mereka akhirnya berpisah hingga malam menjelang. Asmoro tahu kalau Ivan sedang beristirahat. tidak akan membangunkan sang pilotnya terlebih dahulu. Akhirnya Asmoro mengajak Stella menjelajahi pusat perbelanjaan itu.


"Kamu mau beli apa?" tanya Asmoro.


"Aku belum menemukan apa-apa," jawab Stella.


"Kamu bisa membeli baju dengan pudel baru. Kamu sangat cantik sekali. Tubuhmu memiliki keindahan. Kamu memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Lalu tinggi kamu semampai. Bisa dikatakan kamu sangat mirip model di dalam hatiku," ucap Asmoro yang tidak sengaja menggombali Stella.


"Hmmp... baiklah. Aku akan membeli pakaian satu saja," jawab Stella yang tersenyum malu kepada Asmoro.


Mereka menjelajahi toko pakaian dari satu ke lainnya. Asmoro sengaja meminta Stella mengambil satu setel pakaian.


Sedangkan Stella lebih memilih pakaian kasual. Yang dimana pakaian itu nantinya akan dibuat kerja.


Asmoro tidak marah sama sekali. Asmoro malah bangga terhadap sama istri kecilnya. Karena sang istri kecilnya memiliki selera tinggi.


"Apakah kakak butuh gaun?' tanya Stella yang menawarkan banyak gaun di toko itu.


"Sepertinya itu tidak perlu. Aku sudah membelinya untukmu. Aku memang sangat menyukai jika kamu memakai gaun. Tapi kalau seperti ini, aku tidak mengizinkan," jelas Asmoro yang istrinya tidak boleh memakai gaun di keramaian.


"Why?" tanya Stella.


"Karena tubuhmu adalah milikku semuanya," jawab Asmoro.


Blush.


Wajah Stella langsung memerah. Ia tidak menyangka kalau dirinya benar-benar diincar sama Asmoro.


"Sepertinya kamu sangat malu sekali untuk siang ini," celetuk Asmoro.


"Aku memang sangat malu sekali. Kamunya pakai merayu dan menggodaku secara terus-menerus am seperti ini," jawab Stella.


"Ternyata aku tidak sia-sia belajar menggombal dari Imron dan Jacob. Padahal Imron sendiri adalah produk gagal jika menjalin percintaan kepada seorang wanita," jelas Asmoro.


"Hmmp, kenapa bisa dikatakan produk gagal kak?" tanya Stella yang sangat penasaran sekali dengan Imron.


"Sepertinya kamu ingin tahu ya?" tanya Asmoro yang matanya menuju ke gaun berwarna biru tosca.

__ADS_1


__ADS_2