
Tidak banyak bicara Martin mengajak mereka masuk ke dalam lift. Untung saja saat itu lift tidak rusak. Di saat mereka masuk, tiba-tiba saja Hatori berlari dengan kencang dan masuk ke dalam lift.
"Maaf," ucap Hatori.
"Tidak apa-apa," sahut Martin sambil menekan angka dua puluh delapan.
Mendengar suara Hatori, Scarlett mencari keberadaannya. Kemudian Scarlett menemukannya dan mendekati Hatori. Dengan jahilnya tangan mungilnya itu menarik jas bahwa Hatori sambil berkata, "Paman... Aku minta gendong.''
Dengan senang hati Hatori membungkuk dan mengangkat tubuh mungil scarlet. Pria itu dengan pelannya menggendong scarlet sambil bertanya, "Ada gerangan apa gadis kecil berada di sini?"
"Aku ingin main bersama Kak Stella," jawab Scarlett.
"Kamu benar. Di sini Kak Stella dan Kak Adelia ada. Kamu ingin main bersama mereka?"
"Ya Aku ingin main bersama mereka."
"Kalau begitu tunggu ya."
Scarlett hanya mengangguk dan menuruti keinginan Hatori. Sedangkan Alexa baru sadar kalau putrinya sudah berada di dalam gendongan Hatori. Setelah itu Alexa mendekati Scarlett sambil merentangkan kedua tangannya, "Ayo ikut mama sayang. Paman hattori sebentar lagi ingin bekerja.''
"Tidak apa-apa kak. Biarkan aku menggendong Scarlett," ucap Hatori.
"Maafkan aku yang telah merepotkanmu," ujar Alexa yang tidak enak hati sama Hatori.
"Tidak apa-apa Kak," balas Hatori.
Ting.
Pintu lift terbuka.
Mereka akhirnya keluar lalu menuju ke ruangan Asmoro. Namun Scarlett menatap wajah Hatori sambil berkata, "Paman paman... Tujuanku ke sini hanya untuk bertemu paman. Bukan bertemu sama kakak-kakak itu."
"Maksud kamu apa? Bukankah tadi kamu ingin bertemu dengan Kak Stella dan Kak Adelia?" tanya Hatori.
"Memang. Aku memang sengaja ingin bertemu mereka. Setelah melihat paman. Aku memutuskan untuk menemani Paman saja," jawab Scarlett sambil menyunggingkan senyumnya yang manis itu.
"Cobaan apalagi ini Tuhan. Gadis ini sangat manis sekali. Kalau begini caranya aku tidak bisa membendung rasa Ini ke gadis kecil ini. Jujur saja gadis kecil ini sangat lucu sekali," batin Hatori.
"Ayolah paman... Aku ingin bermain sama paman," ajak Scarlett.
"Sebenarnya, Paman masih banyak pekerjaan. Nanti kalau pekerjaan Paman tidak selesai. Tuan Asmoro bisa marah-marah kepada paman," tolak Hatori.
"Baiklah kalau begitu. Bisakah Paman mengantarkan aku ke ruangan Tuan Asmoro?" tanya Scarlett yang memohon untuk diantarkan ke ruangan Asmoro.
Hatori hanya menganggukkan kepalanya dan menuju ke ruangan Asmoro. Sementara yang lainnya sudah sampai dan mengobrol. Ketika masuk Scarlett mencari keberadaan Asmoro.
__ADS_1
"Paman," panggil Scarlett.
"Ada apa?" tanya Hatori.
"Turunkan aku ke bawah," pinta Scarlett.
Akhirnya Hatori menurunkan Scarlett sambil tersenyum manis. Kemudian Scarlett berlari menuju ke Asmoro. Lalu scarlet berteriak, "Kakek."
"Kemarilah sayang. Kamu nggak rindu pada kakek?" tanya Asmoro yang bingung karena Scarlett masih mengenali wajahnya.
"Kenapa Scarlett masih mengenaliku sebagai kakeknya? Dari mana dia tahu kalau aku masih kakeknya? Padahal wajahku sudah berubah menjadi lebih muda. Ceritanya aku sedang menutupi identitasku. Rasanya aku tidak bisa berbohong sama anak kecil," batin Asmoro.
Dengan senyum sumringahnya, Asmoro merentangkan kedua tangannya sambil menunggu kedatangan cucunya itu. Dengan cepat Scarlett menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan Asmoro.
"Kakek jahat," kesal Scarlett.
"Jahat kenapa?" tanya Asmoro sambil mengangkat tubuh mungil Scarlett dan memangkunya.
"Kenapa kakek tidak pernah ke Mansion? Haruskah aku setiap hari ke sini untuk menemui kakek?" tanya Scarlett sambil merajuk.
"Maaf... Kakak sedang sibuk dengan pekerjaan yang sedang menumpuk di meja itu," tunjuk Asmoro ke arah meja kerjanya.
kemudian Scarlett melihat tumpukan demi tumpukan yang berada di meja itu. Ia ingin memarahi Asmoro namun tidak tega. Tiba-tiba saja Scarlett memeluk Asmoro sambil bertanya, "Kapan kakek mengajak jalan-jalan Scarlett lagi?"
"Kalau begitu aku setuju kek. Aku ingin turun," jawab Scarlett yang meminta turun ke bawah.
"Memangnya kamu mau ke mana?" tanya Asmoro yang menatap curiga.
"Aku ingin bermain dengan paman Hatori. Tapi kakek harus berjanji denganku. Jika pekerjaannya belum selesai, kakek dilarang memarahinya. Jika kakek memarahinya, Scarlett tidak mau ke sini lagi dan menjenguk kakek," ancam Scarlett.
Dengan terpaksa Asmoro mengiyakan permintaan Scarlett. Dirinya tidak bisa membayangkan sama sekali, jika Scarlett tidak mengunjunginya lagi. Ia bingung ketika tidak mendapatkan kabar dari scarlet. Lalu Asmoro menatap Hatori sambil memberikan kode untuk menjaga Scarlett.
"Jaga cucuku!" perintah Asmoro.
"Baik tuan," sahut Hatori.
Setelah mendapat mandat dari Asmoro, Scarlett segera mendekati Hatori. Ia memegang jas bagian bawah milik Hatori sambil tersenyum manis.
"Ayo paman... kita bermain," ajak Scarlett.
"Baiklah," balas Hatori yang mengajak Scarlett keluar.
Kemudian Hatori membawa Scarlett menuju ke ruangannya. Dengan penuh kesabaran Hatori memegang tangan mungil Scarlett sambil bertanya, "Apakah kamu sudah makan?"
"Aku sudah makan," jawab Scarlett.
__ADS_1
"Kirain kamu belum makan," ucap Hatori.
"Paman ini gimana ini?' tanya Scarlett sambil cemberut.
"Gimana apanya?" tanya Hatori balik.
"Perutku agak ndut. Karena aku makan kebanyakan," jawab Scarlett.
"Ya... bagus. Berarti kamu sehat," ucap Hatori sambil mengajak Scarlett masuk ke dalam.
"Bagus apanya?" tanya Scarlett yang berbicara seperti orang dewasa yang membuat Hatori bingung.
Jujur saja Hatori semakin bingung mendengar perkataan Scarlett. Gadis berusia lima tahun itupun sudah berbicara layaknya orang dewasa. Sedangkan anak seusianya yang sering ditemuinya memilih bermain dengan anak-anak seusianya.
"Duduklah disana," suruh Hatori sambil menunjuk sofa kosong.
Scarlett menganggukan kepalanya sambil menuju ke sofa. Kemudian Hatori mendekati Scarlett untuk membantunya duduk di sana.
Tiba-tiba saja naluri ayahnya keluar tidak sengaja. Namun disisi lain Hatori sangat menyukai gadis kecil itu. Ia ingin sekali melihat gadis kecil itu tumbuh dewasa lalu menikahinya. Tapi itu tidak mungkin ia lakukan. Ia memilih perasaan itu jauh-jauh. Dirinya tidak mau dikatakan sebagai perusak anak-anak.
"Kamu mau main apa?" tanya Hatori.
"Memangnya Paman punya apa?" tanya Scarlett.
"Aku tidak memiliki apa-apa. Maafkanlah paman kamu ini yang tidak memiliki mainan apapun," jawab Hatori berkata dengan jujur.
"Kalau begitu aku boleh meminta pensil dan kertas?" tanya Scarlett.
"Baiklah. Paman akan memberikannya," sahut Hatori sambil menuju ke mejanya. "Tunggu disana."
"Oke paman Hatori yang tampan," puji Scarlett yang membuat Hatori menganga seakan tidak percaya jika ada yang memuji dirinya.
"Ini sangat aneh sekali. Kenapa Scarlett bisa memuji diriku seperti ini? Padahal usia segitu dirinya belum mengenal pria tampan? Apakah Scarlett korban dari drama-drama yang sering disetel pada malam hari itu yang ada di televisi?" tanya Hatori dalam hati.
"Paman," seru Scarlett.
Seketika Hatori terhenyak kaget. Ia langsung mengambil kertas itu beserta pensil dan penghapus ya. Lalu dirinya menuju ke arah Scarlett sambil tersenyum, "Memangnya kamu ingin menulis apa?"
"Aku cinta kamu dalam bahasa Jepang," jawab Scarlett yang tidak main-main.
"Apakah kamu serius dengan jawaban kamu itu?" tanya Hatori sambil mengerutkan keningnya,
"Aku serius paman," jawab Scarlett.
"Bagaimana caranya kamu bisa menulis huruf kanji seperti itu?" tanya Hatori sambil menaruh kertas itu di meja.
__ADS_1