
“It’s all up to you. Itu terserah kamu. Jika kamu mempertahankannya maka aku akan membantumu untuk melindunginya,” jawab Martin dengan tulus.
“Apakah Alexa tidak mencari keberadaan Agatha?” tanya Lampard lagi.
“Aku tidak akan menyuruh Alexa untuk mencarinya. Aku akan menyuruh Jacob yang akan melakukannya,” jawab Martin.
“Baiklah aku setuju pendapatmu. Sore ini aku akan berangkat ke rumah sakit,” ucap Martin.
“Aku ikut,” seru Martin.
“Aku akan menunggumu di depan,” balas Lampard sedang beranjak berdiri dan keluar dari ruangan itu.
Saat berjalan pelan, Lampard memikirkan nasib Stella ke depan. Jika boleh memilih dirinya akan mengajak Stella ke Eropa. Karena menurut lambat sendiri, itu jalan yang sangat bagus. Kemungkinan besar Stella tidak akan dikejar oleh Exodus. Tiba-tiba saja Lampard memiliki rencana untuk menjebak wanita yang telah menganiaya Adelia. Dengan otak cantiknya, Lampard tersenyum iblis hingga membuat para pelayan ketakutan. Alexa yang lewat pun tidak sengaja menangkap Lampard tersenyum mengerikan. Kemudian Alexa mendekatinya sambil bertanya, “Ada apa papa kok tersenyum seperti itu?”
“Besok kamu akan tahu berita di entertainment,” jawab Lampard dengan bahagia sambil meninggalkan Alexa yang sedang bengong.
“Apa maksud Papa?” tanya Alexa yang tidak paham.
Lampard pergi meninggalkan Alexa tanpa harus berbicara banyak. Katanya sedang bermain-main untuk menciptakan ide mengerjai anaknya John Smith. Ia akan berdiskusi dengan Martin untuk menjalankan rencana yang akan diadakan nanti malam.
Sementara itu Martin keluar dengan berpakaian rapi. Alexa melihat Martin keluar segera bertanya, “Mau ke mana?”
“Aku akan ke rumah sakit sebentar untuk menengok Adelia,” jawab Martin.
“Kalau begitu baiklah. Salam buat Adelia semoga cepat sembuh,” pinta Alexa ke Martin.
“Oke... akan aku sampaikan jika sudah sampai,” balas Martin sambil mencium mulut Alexa dan pergi meninggalkannya sebentar.
Melihat kepergian Martin, Alexa menjadi tidak tenang. Semenjak Stella di rumah banyak masalah bergulir seperti bom waktu. Jujur, Alexa sangat berat untuk menghadapi kenyataan ini. Ia juga mengingat ketiga anaknya yang masuk dalam perangkap bahaya. Alexa berdoa agar masalah ini cepat selesai. Wanita muda itu selalu memantau keadaan dunia bawah tanah dan atas. Meskipun menjadi seorang ibu, Alexa tidak ingin lepas dari dunia bawah tanah. Untung saja Alexa memiliki suami yang baik, penuh perhatian dan pengertian.
Lampard yang sedang menunggu Martin datang mengambil ponselnya dan menghubungi Gio. Ia ingin berkumpul di markas pada malam tiba. Setelah menghubungi Gio, Lampard duduk termenung. Namun tak lama Martin masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobil.
“Sepertinya kamu harus terlibat dalam keusilanku malam ini,” celetuk Lampard.
“Maksud kakak apaan?” tanya Martin yang tidak paham.
“Sudahlah, kita ke rumah sakit terlebih dahulu,” jawab Lampard yang membiarkan Martin bertanya-tanya.
Surabaya Indonesia.
Seorang wanita paruh baya yang selesai membuat kue hatinya berdetak kencang. Wanita itu pun menaruh piringnya di meja sambil melihat asistennya tersebut. Wanita itu memutuskan duduk sambil memegangi jantungnya. Sang asisten yang baru bersih-bersih tak sengaja melihat wanita tersebut dengan keadaan panik.
“Ibu, Ibu nggak papa kan,” seru sang asisten itu sambil memegangi wanita tersebut.
__ADS_1
“Ibu nggak apa-apa. Dua hari ini jantung ibu berdetak kencang. Perasaan ibu kok nggak enak. Apakah Adelia baik-baik saja di sana?” tanya wanita itu.
“Semoga saja Mbak Adel baik-baik saja. Oh iya Bu... Kemarin ada yang nyari ibu tapi mereka tidak bisa memakai bahasa Indonesia. Saat aku tanya mereka hanya menjawab haik.... Seperti logat Jepang,” ucap sang asisten itu.
“Apakah itu benar, Neti?” tanya wanita itu.
“Iya Bu,” jawab Neti nama asistennya.
“Lalu kamu nggak bertanya lagi” tanya wanita itu.
“Bagaimana Aku bertanya, mereka hanya menyadarkan sebuah foto dan menanyakan keberadaan ibu. Aku bilang ibu berada di warung,” jawab Neti.
“Syukurlah, kenapa aku dicari ya? Apalagi yang nyari orang Jepang. Memangnya aku orang penting apa?” tanya wanita itu.
Beberapa saat kemudian ada seorang tetangga datang memanggil wanita itu. Tetangga itu masuk ke dalam dan melihat wanita itu sedang duduk santai.
“Bu Anita,” sapa tetangga itu.
“Ada apa Bu Giman?” tanya Ibu Anita nama wanita tersebut.
“Begini, tadi pagi pas Ibu ke pasar ada yang mencari. Saat aku bertanya dia hanya menjawab haik. Kemudian orang itu menyodorkan ponselnya dan memperlihatkan Ibu pada waktu muda. Dengan keterbatasan bahasa, aku tidak memberitahukan ibu soalnya tidak mengerti,” jawab Bu gimana dengan jujur.
“Sepertinya orang itu lagi ya?” tanya Neti yang menyahut.
“Maksud kamu apa net?” tanya Bu Giman yang mengerutkan keningnya.
“Bukannya kamu bisa memakai bahasa Inggris?” tanya Bu Giman yang mengetahui Neti bisa memakai bahasa Inggris.
“Sempat aku memakai bahasa Inggris tapi mereka tidak paham apa yang aku katakan,” jawab Neti dengan lesu.
“Tak apa biarkan saja. Jika mereka mencariku suruh saja ke rumah. Aku akan menyambutnya dengan hangat,” pinta Bu Anita.
“Kalau begitu baiklah. Aku akan menyuruhnya masuk,” sahur Neti.
“Oh iya Bu sebelum aku pergi... Aku mau memesan kue ulang tahun untuk Syifa Bu. Minggu depan bisa kan Bu?” tanya Bu Giman.
“Oh iya... Minggu depan kan Syifa ulang tahun. Baiklah kalau begitu nanti aku buatkan kue yang spesial buat Syifa,” ujar Bu Anita dengan senyum hangat.
“Terima kasih Bu.Oh iya dp-nya nanti sore ya nunggu suami saya pulang,” ucap Bu Giman.
“Beres... Tak perlu sungkan-sungkan. Kita kita ini kayak apa aja sih,” sahut Bu Anita. “Oh iya saya dekornya maunya gimana ya?”
“Nanti malam aku ke sini lagi membawa dekor sekalian. Oh iya Adelia nggak pulang ya?” tanya Bu Giman.
__ADS_1
“Adelia sangat betah kerja sama Nyonya Alexa. Katanya orangnya baik dan perhatian,” jawab Bu Anita.
“Maksudnya Nyonya Alexa yang dulu pernah ke sini?” tanya Bu Giman.
“Iya Bu. Bahkan Nyonya Alexa sering membagikan bonus kepada para pelayannya. Kalau Adelia pulang anaknya sering ikut ke sini. Jadi mau tidak mau Adelia harus tetap di sana,” jawab Bu Anita.
“Kenapa Ibu nggak di Jakarta saja? Kan enak bisa dekat dengan Adelia. Sekarang juga Ibu bisa bekerja di sana,” ujar Bu Giman sambil memberikan saran yang baik.
“Belum waktunya. Adelia masih mengumpulkan uang untuk membeli rumah kecil-kecilan di Jakarta,” ucap Bu Anita.
“Ya sudah kalau begitu Bu. Nanti kalau telepon salamin buat Adelia ya Bu?” pinta Bu Giman yang mendapat anggukan dari Bu Anita.
Kemudian Bu Giman berpamitan untuk pulang ke rumah. Ketika mau keluar, Bu Giman melihat beberapa orang yang memakai baju serba hitam. Orang itu memberi hormat kepada Bu Giman sambil bertanya memakai bahasa Jepang.
“Ada apa ya?” tanya Bu Giman.
Salah satu orang tersebut bisa menangkap pertanyaan Bu Giman. Namun pria itu tidak menjawabnya karena tidak bisa memakai bahasa Indonesia. Dengan terpaksa pria itu memakai bahasa Jepang.
“Kore wa hontōni Anita fujin no iedesu ka?” tanya pria itu yang membuat Bu sambil menggarukkan kepalanya.
(Apa benar ini rumahnya Bu Anita?)
Bu Giman pun semakin bingung karena orang itu masih memakai bahasa asing. Namun telinganya menangkap ada kata-kata Anita. Dengan cepat Bu Giman masuk lagi dan memberitahukan kepada Bu Anita tentang tamu tadi. Cepat-cepat Anita keluar kemudian melihat beberapa pria memakai baju hitam sambil melotot.
“Dō shita no? Dōshite itsumo watashi o sagasu no?” Tanya Bu Anita yang memakai bahasa Jepang sampai membuat Bu Giman terkejut.
(Ada apa ini ya? Kok kalian sering mencariku?)
Pria itu pun langsung berbaris sambil memberi hormat, “Anata wa watashitachi no gurandorōdo ni motome rarete imasu.”
(Anda sedang dicari oleh Tuan besar kami).
“Dōiu imidesu ka?” tanya Ibu Anita yang tidak paham.
(Maksudnya?).
“Watashitachi no idaina ryōshu wa, kako 25-nenkan, anata o sagashite imashita,” jawab pria itu lagi.
(Tuan besar kami sudah mencari anda selama dua puluh lima tahun ini).
“Kaiwa o fukameru mae ni. Watashi no ie ni kite kudasai!” titah Anita.
(Sebelum melanjutkan pembicaraan lebih dalam. Lebih baik kalian masuk ke rumahku!)
__ADS_1
“OK madamu,” balas mereka serempak.
(Baik nyonya).