
"Apa yang kamu katakan?" tanya Asmoro sambil menatap wajah Ibra dengan menyalang.
"Yang aku katakan benar apa adanya. Yang sanggup melindungi mereka berdua tanpa bantuan kamu. Kamu tahu kan kalau Ian adalah seorang pria dengan penuh kelembutan," jelas Ibra.
"Lembut sih lembut. Istri satu saja membuat bingung. Apalagi istri dua," kesal Martin yang tidak mau menduakan Alexa.
"Kamu itu lucu ya. Dulu kamu sering mengejar-ngejar wanita lain. Tapi kenapa kamu sekarang bucin banget sama Alexa?" tanya Ibra.
"Ceritanya lain bro. Alexa adalah wanita sangat istimewa buatku. Jika melirik wanita lain maka aku bisa menyakiti hati istriku. Aku bangga terhadap istriku itu," jelas Martin.
"Yang dikatakan kak Martin benar. Istri satu saja udah bingung apalagi dua. Aku merasakannya hingga saat ini. Tapi aku sangat bahagia ketika istriku menjadi wanita tangguh dan bisa melakukan apapun," tambah Leon.
"Syukurlah. Aku hanya memancing kalian saja. Aku juga sependapat dengan kalian. Cepat atau lambat aku akan mencari seorang wanita untuk dijadikan seorang Istri," ujar Ibra yang membuat Martin terkejut.
"Jadi selama ini kamu belum menikah?" tanya Martin sambil melotot.
"Kenapa aku harus berkata seperti itu?" tanya Ibra.
"Bukannya Sean suka sekali menjodohkan orang-orang yang belum menikah?" celetuk Leon.
"Ah ide bagus itu. Nanti aku akan mencari foto-foto anak gadis dari para kolegaku. Aku akan menyerahkan foto-foto tersebut Sean dan si kembar," jawab Martin.
"Aku setuju idemu itu Leon. Rasanya aku tuh sudah tidak sabar lagi tentang perjodohan ini," jelas Asmoro.
Seketika Ibra mengusap wajahnya dengan kasar. Entah kenapa dirinya harus pasrah menghadapi kenyataan seperti itu. Mau tidak mau Ibra harus mengalah pada Martin.
"Terserah kamu saja. Aku hanya bisa mengatakan terima kasih," ucap Ibra.
"Hidup kamu sangat pasrah sekali. Pria setampan kamu mana ada jomblo seumur hidup. Bisa-bisa kamu dikejar oleh seseorang wanita," jelas Martin.
"Aku tidak menampik dengan masalah besar seperti ini. Kisahku dengan Asmoro hampir sama. Tapi bedanya ketika pernikahan menjelang kekasihku meninggal ditabrak kontainer," ucap Ibra dengan jujur.
"Jadi itu masalahnya. Kalau begitu carilah wanita lain lagi untuk dijadikan seorang Istri," ujar Asmoro.
__ADS_1
"Aku sangat disibukkan sekali dengan urusan pekerjaan. Mana sempat aku mencari seorang istri untuk saat ini," kesal Ibra.
"Kalau begitu tunggulah keputusan dari Putraku itu," balas Martin.
"Jangan lama-lama. Nanti aku bisa bosan menunggunya," sahut Ibra.
Selesai pemeriksaan Stella bersama Roses datang. Mereka masuk ke dalam ruangan Raka sambil memandang wajah Asmoro. Setelah itu Roses berpamitan dan meninggalkan ruangan itu.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Asmoro.
"Tunggu tiga jam lagi kita bisa memperoleh hasil akhirnya," jawab Stella.
"Kalau begitu kita ke kantor terlebih dahulu. Nanti sore kita akan ke sini untuk mengambilnya," ucap Asmoro.
"Nggak usah ke sini. Nanti aku titipkan kepada pengawal agar mengirimkan surat itu kepadamu," ujar Raka yang baru saja datang.
"Kalau begitu ya sudahlah. Berarti aku akan di sana hingga sore tiba," sahut Asmoro.
"Kamu nggak periksa kesehatanmu?" tanya Raka kepada Asmoro.
"Kalau begitu aku pamit terlebih dahulu," pamit Asmoro.
Setelah berpamitan Asmoro menggandeng tangan Stella untuk meninggalkan ruangan Raka. Lalu Leon dan Willi berjalan di belakangnya dengan jarak kurang lebih dua meter saja. Sesampainya di lobby mereka tidak sengaja melihat Patty. Stella langsung menunduk lesu dan ketakutan.
Merasakan Stella ketakutan, Asmoro segera memegang pundak Stella. Pria itu langsung merangkul Stella sambil berbisik, "Jengan takut kamu menghadapi wanita ular itu. Kamu harus kuat dan jangan menyerah."
Dalam hati, Asmoro merasakan kalau Stella sangat trauma sekali bertemu dengan Patty. Akan tetapi Asmoro akan menjadi perisai buat Stella. Tak sengaja Patty melihat Stella sedang berangkulan dengan Asmoro. Hati Patty menjadi panas dan mendekatinya.
"Dasar wanita j4l4ng!" Teriak Patty.
"Lawan mereka! Jangan diam saja seperti ini! Jika kamu tidak bersalah maka lakukanlah! Aku akan berada di belakangmu!" bisik Asmoro yang membuat Stella mengangguk paham.
Dengan tekad yang kuat, Stella sudah tidak mau dituduh lagi oleh Patty. Dengan penuh semangat Stella mendekati Patty dan langsung...
__ADS_1
Plakkkkkk!
Tangan Stella mendarat sempurna di pipi Patty. Ia sudah sangat geram sekali dengan perlakuan Patty yang sedari dulu menindasnya. Hingga akhirnya Stella mengeluarkan sumpah serapahnya.
"Jika kamu menuduhku seperti ini. Maka ketahuilah karena yang kamu tuduhkan itu tidak benar! Aku sudah cukup bersabar untuk menghadapi kamu. Bilang sama ibumu itu! Jangan mentang-mentang dirimu sebagai orang kaya yang merebut dari seseorang. Kamu bisa menindas seseorang seenaknya saja!" geram Stella yang membuat Asmoro tersenyum. "Aku bisa menuntutmu jika aku ingin melakukannya!"
Patty tidak terima ketika mendapatkan perlakuan seperti itu. Dirinya dilihat para pengunjung sambil berdecak kesal. Tanpa basa-basi Patty menuduhnya dengan kata yang tidak pantas dikatakan. Apalagi para pengunjung itu adalah orang yang cukup berkelas.
Salah satu pengunjung yang mengenalnya langsung berbisik ke pengunjung lainnya. Mereka terkejut dengan apa yang didengarkan itu. Mereka baru sadar kalau wanita itu adalah seorang model dan pemain film yang cukup terkenal. Mereka tidak menyangka kalau Patty melakukan hal yang tidak patuh.
"Apakah itu Patty Smith seorang model yang sangat cantik sekali?" tanya salah satu pengunjung.
"Ya... dia adalah Patty. Patty yang dimana memiliki seorang prestasi. Tapi kok kelakuannya seperti itu ya?" bisik pengunjung lainnya.
Merasa banyak orang yang membicarakan, Patty langsung pergi meninggalkan Stella. Namun sebelum melangkahkan kakinya, Patty menatap tajam ke arah Stella sambil berkata, "Akan aku tuntut kamu sekarang juga! Kamu akan membusuk di dalam penjara!" bentak Patty.
"Lakukanlah semau kamu. Yang namanya maling tetap saja maling. Tidak akan pernah mengaku sama sekali," ejek Stella sambil menatap tajam wajah Patty.
"Kau!" bentak Patty.
"Enggak usah takut seperti itu. Kalau salah mengaku saja. Aku tidak keberatan kok. Oh iya... gerak-gerik kamu sudah diperhatikan oleh banyak orang. Cepat atau lambat kamu akan mendapatkan hadiah dari mereka," ucap Stella.
Dengan geramnya Patty menarik Eman prianya itu sambil memasang wajah muram. Wanita itu langsung pergi meninggalkan rumah sakit itu dengan penuh amarah.
Sedangkan Asmoro memegang tangan Stella sambil memujinya, "Kamu sangat hebat sekali melawan Patty."
"Aku takut," rengek Stella yang membuat Asmoro semakin semangat memiliki Stella.
"Ayo... kita ke kantor," ajak Asmoro.
"Sekarang?" tanya Stella yang menatap wajah Asmoro.
"Iya... masak mau besok sih? Tuh calon adik ipar kamu sudah protes sedari tadi," jawab Asmoro dengan senyuman yang merekah.
__ADS_1
"Ayo," seru Stella yang kembali ceria.
"Ayo kemana?" tanya Asmoro yang membuat Stella tertawa lucu.