
Sandara gugup saat Ibunya mengajukan sebuah pertanyaan mematikan untuknya. Jantung Sandara berdegup cepat meski ia berusaha untuk tetap tersenyum. Mata Vesper masih menatap wajah Sandara lekat yang memandangi Afro dari balik jendela.
"Aku sudah tak mencintainya lagi, Mah," jawabnya lesu.
Mata Vesper menyipit. "Kenapa?"
"Ia tak menghargai usahaku yang berubah menjadi seperti yang ia mau. Aku kecewa padanya. Kak Afro juga menghinaku dengan mengatakan aku seperti tante-tante. Padahal, aku mempelajari cara bermake-up dan bergaya layaknya wanita dewasa dari Atit. Aku tak meragukan ajarannya," jawab Sandara mengutarakan isi hatinya.
Vesper terdiam. Ia terlihat shock akan pengakuan anak gadisnya tersebut. Meski Sandara tak melihatnya, tapi Vesper tahu jika Sandara jujur dengan ucapannya.
Baru Vesper akan berucap, suara letusan kembang api mengejutkan semua orang yang sedang bercengkrama di sekitar Kastil.
Kembang api terlihat memukau di langit malam. Meski Vesper dan anak buahnya tak menyalakan kembang api karena akan menarik perhatian militer Inggris, mereka masih bisa melihatnya dengan jelas dari atas menara saat kembang api itu di luncurkan dari kota terdekat.
"Kita temui papamu. Apa kau sudah mengucapkan ulang tahun untuknya?" tanya Vesper tersenyum dan Dara menggeleng.
Sandara melepaskan pandangannya dari sosok Afro yang berlari keluar dari ruang kaca bersama yang lain untuk melihat kembang api meski waktu belum menunjukkan pukul 12 malam.
"Dara? Kau sudah di sini?" tanya Kai terkejut saat ia bertemu anak perempuannya di lorong.
Sandara mendekati Ayahnya dan memeluknya erat. Senyum Kai merekah dan Vesper ikut tersenyum bahagia melihatnya.
"Happy birthday, Papa. Kau Papa terhebat yang kumilki. Semoga kau berumur panjang dan selamat dari segala petaka yang datang di hidupmu," ucap Sandara mendoakan terdengar tulus meski berkesan keji.
"Terima kasih, Sayang. Kelahiranmu adalah berkah terindah di kehidupan Papa," jawab Kai sembari membelai lembut rambut anak gadisnya.
Tak lama, para penghuni Kastil muncul saat orang-orang itu melewati lorong di mana koridor tempat Sandara berdiri adalah jalan menuju ke menara di sisi timur.
Vesper berjalan berdampingan bersama Sherly terlihat membicarakan hal serius. Ivan berjalan bersama Doug setelah mengantarkan Tuan Robert kembali ke kamar di mana ia sudah terlalu tua untuk ikut pesta di malam tahun baru.
Sandara berjalan bersama Ayahnya di barisan paling belakang dengan langkah pelan. Kai menyadari jika ada hal yang disembunyikan dari anak gadisnya.
"Apa yang kau pikirkan, Dara? Jika itu mengganggumu, katakan saja. Jika itu sebuah pertanyaan, tanyakan saja. Papa akan berusaha memberikan solusinya," tanya Kai menatap anaknya lekat yang terlihat murung.
"Papa. Apa yang membuatmu mencintai mama padahal kau sadar jika cinta mama bukan hanya untukmu, tapi untuk ayah Han juga? Kenapa kau rela membaginya? Apa kau tak sakit hati dan kecewa?"
Kai terkejut akan pertanyaan anak gadisnya yang terasa menohok hatinya. Namun ia sadar, jika Sandara sudah cukup dewasa dan mengerti akan ungkapan hati yang akan ia sampaikan.
__ADS_1
"Di dunia ini, siapa yang mau berbagi cintanya untuk orang lain, Dara? Kecuali orang itu tak waras, putus harapan atau sudah cinta mati," jawabnya santai.
Sandara melangkah perlahan dan menatap wajah Ayahnya lekat yang tersenyum entah hal apa yang lucu.
"Sayangnya, Papa termasuk dari semua kategori itu. Menggelikan," sambungnya terkekeh.
"Papa. Apa salah jika kita berubah seperti yang orang itu mau? Misal, mama ingin agar Papa menjadi pria kuat seperti paman Drake atau Seif. Maaf bukannya menyinggung, tapi aku merasa fisik Papa sangat lemah," ucapnya gugup.
Kai kembali tersenyum lalu merangkul pundak Sandara lembut. Sandara tertunduk. "Papa tahu jika Papa lemah. Mamamu juga tahu keterbatasan Papa, tapi mamamu menerima Papa apa adanya. Ia tak pernah menuntut Papa untuk menjadi seperti ini dan itu yang menjadikan Papa mirip orang lain. Semua orang memiliki kharismanya masing-masing, Sayang. Apa kau mau jika disamakan dengan Sherly?" tanya Kai meliriknya. Sandara menggeleng cepat. "Meski orang yang kau cintai ingin kau seperti Sherly? Kau tak mau berubah sepertinya? Merubah rambutmu menjadi pirang atau mungkin melakukan operasi plastik agar fisikmu sepertinya? Kau tak mau?" tegas Kai.
"Aku bukan Sherly. Aku adalah aku dan aku tak mau berubah menjadi seperti wanita lain meski orang yang kucintai sangat menginginkan aku sepertinya. Itu berarti ... orang itu tak mencintaiku apa adanya, Papa. Ia tak melihatku. Ia melihatku seperti sosok wanita yang ia inginkan," jawabnya langsung menghentikan langkah.
Kai terkejut, tapi ia kembali tersenyum.
"Semua orang yang mengenalmu, menyukai sikapmu yang manis, tak berulah dan cerdas, Dara. Jangan menjadi seperti orang lain hanya karena keinginan seseorang dengan menghancurkan prinsip dan jati dirimu. Aku dan mamamu sering berselisih paham, bahkan sampai sekarang ada beberapa hal yang masih Papa tidak mengerti tentang mamamu. Namun, mamamu tak menuntut Papa agar bisa memahami dirinya, tapi hal itu membuat Papa sedih karena tak bisa seirama dengan jalan pikirannya," ucap Kai dengan wajah sendu.
Sandara terdiam mendengar penjelasan panjang dari Kai sepanjang lorong hingga mereka sudah sampai di tangga menuju menara.
"Eh, Papa mau ke toilet dulu. Kau duluan saja, nanti Papa akan menyusul," ucap Kai yang berbelok ke koridor di sisi barat dan meninggalkan Sandara yang masih berdiri melihat kepergian ayahnya.
DEG!
Jantung Sandara berdebar kencang tak karuan. Ia mengenali suara lelaki yang bicara di belakangnya meski ia memunggunginya. Sandara berdiri mematung bahkan mulutnya serasa kaku hingga tak bisa menyuarakan isi hatinya.
"Apa kau masih mencintaiku?" tanya Afro yang melangkah di sisinya dan kini, wajahnya terlihat jelas di hadapan Sandara.
Mata Sandara tak bisa lepas dari sosok pria yang sempat mengecewakan hatinya. Afro berdiri diam, menunggu jawaban dari Sandara tentang perasaannya.
"A-aku ... a--"
PRANGG!!
"AAAA!!"
"DARAAA!" teriak Afro lantang saat jendela samping Sandara berdiri pecah dan muncul sebuah penjerat seperti jaring yang memperangkap tubuh gadis Asia tersebut.
Afro segera menggerakkan tubuhnya. Tangannya berhasil memegang jaring besi yang ia kenali siapa pemiliknya.
__ADS_1
Kedua tangan Afro menahan penjerat itu saat sebagian tubuh Sandara sudah berada di luar bingkai jendela. Afro menggunakan kedua kakinya untuk menahan pada dinding bingkai, beradu kekuatan dengan penarik jerat itu.
Mata Afro melebar saat ia melihat dari balik pohon di kejauhan asal tali penjerat. Sosok pria berambut putih membidik tubuhnya dengan laser merah tepat di pundak kirinya.
DOR!
"KAK AFROOO!" teriak Sandara lantang saat telinga kiri Afro tertembak dan cengkeraman kedua tangannya terlepas.
Sandara berteriak lantang dan tak bisa melawan ketika tubuhnya yang terperangkap di tarik oleh penjerat besi hingga sosoknya hilang di balik rimbunnya pepohonan.
"Arghhh! Aggg!"
"AFRO!" teriak Kai lantang seraya berlari kencang saat melihat putera dari mendiang Elios mengerang kesakitan memegangi telinganya yang berdarah hebat di lantai.
Kai kebingungan dan panik ketika melihat jendela pecah di depannya. Kai melongok keluar dan melihat para tentara Black Armys tergeletak tak sadarkan diri di beberapa sudut tempat dan mendapati kepulan asap putih menyeruak seperti salju di bawah.
Kai segera mengeluarkan ponselnya dan mengaktifkan GIGA. Alarm TERMINATOR ia nyalakan. GIGA segera mengunci sinyal Sandara yang masih terlacak oleh pantauannya.
"Kai!" panggil Vesper yang berlari kencang menuruni tangga diikuti oleh beberapa orang bersenjata.
"Cepat! Bawa Afro ke ruang medis," pinta Sherly. Afro segera dipapah oleh Doug dengan ia ikut bersamanya.
Ivan berlari menuju pusat kendali untuk melihat keadaan dari pantauan CCTV dan sistem keamanan.
"Mereka memanfaatkan suara ledakan dari kembang api. Kurang ajar dan bagaimana bisa Black Castle disusupi?!" pekik Vesper kesal melongok keluar dari jendela yang pecah mengamati sekitar.
"Mereka membawa Sandara, Sayang. Ia pasti sudah diincar saat meninggalkan Italia," tegas Kai.
"VESPER!" panggil Ivan lantang dari persimpangan lorong yang mengejutkan sang Ratu dan Kai. Keduanya menoleh seketika. "Robert! Dia tewas!"
"What?!" pekik Kai dan Vesper bersamaan.
***
uhuy! makasih tipsnyaš lele numpang tips buat beli kuotaš aduh lele ngantuk berat. ngetik pake hp jam 1 dini hari pula. tremoršµ semoga gak ada typo berhamburan. amin~
__ADS_1