4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Bongkar*


__ADS_3

Hallo, gift away tumbler menanti di novel Marcopolo. Info lengkapnya baca di eps Light Angel-Casanova. Free ongkir untuk 3 pemenang selama 3 periode lomba. Kuy kuy!


Ini eps lele bayar utang pas up 1 eps beberapa hari lalu karena gak ada vote koin masuk. Begitupula bsk cuma up 1 eps aja kecuali sogokan tetiba masuk😍


----- back to Story :


ILUSTRASI


SOURCE : INSTAGRAM



Veracruz, Mexico, Dermaga Yacht.


Mereka tiba pagi itu di Mexico. Carloz telah tiba lebih dulu dan meminta pertemuan di dermaga kecil tempat yacht berlabuh.


Mereka bicara dalam bahasa Spanyol. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


"Carloz," sapa Arjuna saat menyalaminya. Ayah dari Lucy-Yohanes menyambut jabat tangan tersebut. "Bagaimana? Kau sudah menyelidikinya?" tanya Arjuna seraya melepaskan jabat tangan.


"Ya. Beberapa kenalanku mengatakan jika tempat itu sudah lama ditempati oleh mafia baru. Namun, mereka mengaku jika anak buah Vesper. Oleh karena itu, tak ada yang berani mengusiknya," jawab Carloz menyampaikan.


"Tapi, menurut pengakuan Lucy, Yohanes dan Vesper, tempat itu sepenuhnya ditinggalkan. Jadi ... tempat itu memang diakuisisi oleh mafia lain dengan mengaku orang dalam jajaran Vesper. Kita harus menyelidikinya," tegas Jose dan diangguki semua orang.


"Oke, berkumpul," pinta Arjuna dan semua orang mendekat. "Carloz, apa kau masih ingat seluk-beluk tempat itu?" tanya Arjuna meliriknya dengan kedua tangan di atas meja.


"Ya. Aku juga sudah mendapatkan gambaran posisi orang-orang yang menjaga tempat itu dari kawanku. Namun, kita harus hati-hati. Mereka bersenjata," tegas Carloz.


Arjuna dan lainnya mengangguk paham.


"Selain itu, sebelum pabrik tersebut meledak, Tessa sudah berhasil merebut dengan mengaku sebagai Lucy. Aku cukup yakin, jika mantan pacarku itu membuat perombakan untuk sistem keamanan," sambung Arjuna.


"Mantan pacar? Wedyan, Junet ngaku si Tessa pacarnya. Turun pangkat dari calon isteri," celetuk Biawak Hijau.


Saat pria gemuk itu tak sengaja melihat Arjuna, senyumnya sirna seketika karena tatapan tajam dari putera Han tersebut.


"Jangan mulai, Om. Juna sensitif dengan kata-kata itu. Jangan sebut lagi atau Juna gak sungkan nembak kaki Om lagi dengan senapan paku," ancam Arjuna menunjuknya dan Biawak Hijau meringis. Semua orang memilih diam.


"Oke, back to topic. Ini adalah denah dari bangunan yang Lucy kirimkan padaku dan telah ku print. Aku sudah menandai beberapa tempat para penjaga bersiaga. Jumlah mereka cukup banyak sekitar 50 orang, ini yang terlihat, sisanya entah. Mengenai pekerja di pabrik tersebut, aku tak tahu ada sipil atau tidak. Informasiku kurang untuk mengusut lebih jauh," ucap Carloz sembari membentangkan sebuah peta dalam gulungan kertas ukuran 1x1 meter.


"Kita akan menyelidikinya lebih lanjut. Bisakah meminta bantuan dari pantauan GIGA untuk melihat dari atas? Jika ya, itu akan sangat membantu," pinta Arjuna dan Biawak Putih segera menghubungi Q yang berada di New York.


Arjuna memandangi peta itu seksama seperti mencoba mencari celah dan mengingat seluk-beluk tempat tersebut, meski ia baru pertama kali datang ke sana dan malah terlibat dengan No Face.

__ADS_1


"Oke. Q sedang mencoba untuk meretas sistem," ucap Biawak Putih menyampaikan dengan ponsel dalam genggaman dan Arjuna mengangguk paham.


Biawak Hijau segera menyalakan tablet sebesar 14 inch untuk menerima visual dari tangkapan GIGA SIA. Anak buah Andreas dibuat takjub akan teknologi yang dimiliki para mafia dalam jajaran 13 Demon Heads.


"Oke. Earphone yang diberikan oleh Carloz adalah alat komunikasi kita selama menjalankan misi di lapangan. Kalian akan mendengar semua laporan yang masuk dari anggota yang bertugas. Jika kalian ingin menjawab atau mengirimkan laporan, cukup tekan layar sentuh. Sistem otomatis akan memutus ucapanmu ketika ia mendengar kata-kata 'Roger that' atau 'Copy that'. Bagaimana, kalian mengerti?" tanya Arjuna dan orang-orang itu mengangguk meski terlihat ragu. "Oke, aku tak yakin dengan ekspresi kalian. Kita praktek," sambung Arjuna dengan hembusan nafas pelan.


Arjuna menekan earphone di telinga kanan dan lampu indikator warna biru menyala. Anggota tim barunya itu dibuat takjub karena tak pernah melihat cara berkomunikasi seperti itu.


"Samuel, masuk," panggil Arjuna mengetes.


"Oh, aku mendengarmu, Sea," jawabnya senang.


"Itu karena kita berdekatan. Jika kau jauh, aku tak bisa mengengar yang kau ucapkan. Jika kau ingin menjawabnya, tekan layar sentuh itu," jawab Arjuna terlihat mencoba bersabar.


Samuel mengangguk paham. Arjuna tersenyum getir saat pria brewok itu menekan dengan gugup. "Sea, hallo, kau mendengarku?" tanya Samuel yang berdiri di depannya dengan jarak 2 meter.


"Oke. Kau paham? Katakan yang aku bilang tadi," jawab Arjuna dengan wajah datar.


"Mm ... roger that?"


"Hem, oke. Kalian lihat? Lampu biru itu padam. Tandanya, ucapan dia sudah terputus tanpa harus menekannya. Jika ingin mengirimkan informasi lagi, cukup tempelkan telunjukmu saja pada papan sentuh. Oke?" tegas Arjuna dan semua orang mengangguk mantab. Kali ini, Arjuna yakin jika semua orang sudah mengerti.


"Oke lalu selanjutnya. Pengenalan senjata buatan Vesper Industries, buatan cendikiawan orang-orang ibuku," sambung Arjuna sembari menunjuk beberapa koper hitam yang dibawa oleh dua BIAWAK dan Carloz.


Orang-orang itu terlihat tak sabar untuk melihatnya. Dua BIAWAK membuka koper dan menunjukkan beberapa benda.


Arjuna keluar dari yacht di hari yang mulai terik sembari memakai topi dan kacamata hitam untuk menutupi sosoknya.


Ia berpenampilan casual seperti anak muda kebanyakan mencoba menutupi tatonya yang garang.


Arjuna berjalan mendekati sebuah Cafe dekat pinggir pantai seorang diri dan mengambil sebuah bangku. Ia melihat sekitar di mana Cafe tersebut tak memiliki kamera pengawas dan jauh dari CCTV traffic light. Arjuna seperti menunggu seseorang.


Pemuda Asia itu memesan sebuah air mineral untuk menemaninya. Dan tak lama, datang tiga buah mobil SUV dan parkir di halaman Cafe tersebut.


Arjuna beranjak dari dudukkannya dan berjalan mendatangi tiga mobil tersebut dengan mata mengawasi sekitar di balik kacamata hitamnya.


"Kau punya nyali memanggil kami, Kim Arjuna," ucap Martin sembari melepaskan kacamata miliknya.


Arjuna ikut melepaskan kacamata dan diam tak menjawab. Muncul Ivan Benedict, Bojan dan Sun dari dua mobil SUV lainnya. Jendela mobil terbuka dan terlihat beberapa Pion D yang menunggu di dalam. Arjuna menghela nafas.


"Aku mengaku salah. Aku memang brengsek dan pecundang. Happy?"


"Hem, lumayan. Katakan itu di hadapan semua orang. Pengadilan 13 Demon Heads tetap menunggumu. Jordan, dia sangat menginginkan kehadiranmu untuk duduk di kursi eksekusi itu, Kim Arjuna," sahut Bojan berdiri di samping Martin.

__ADS_1


Arjuna kembali diam dengan hembusan nafas pelan dan pandangan tertunduk.


"Tuan Muda. Anda kelihatan baik-baik saja," sapa Sun dan Arjuna mengangguk membenarkan.


"Jadi ... kau yakin, jika itu anggota The Circle? No Face?" tanya Ivan dari alat suara yang membaca gerakan isyarat di tangannya.


"Hem. Ciri-ciri yang dikatakan oleh orang-orangku menunjuk kepada mereka. Saat aku bersama Tessa dan ikut dalam beberapa perjalanan mereka, tanpa mereka ketahui, aku meletakkan beberapa 'Galundeng' di beberapa tempat. Aku mendengar pembicaraan mereka, terutama saat masih ada Sandara yang disekap. Aku rasa, Sun juga menyadari hal tersebut," jawab Arjuna menunjuk Sun dan putera dari Agent M tersebut mengangguk.


"Sun?" tanya tiga anggota Dewan Senior langsung menoleh ke pria yang selalu tersenyum itu.


"Maaf. Masih banyak hal yang kusembunyikan dari kalian semua. Bahkan, nyonya Vesper dan ayahku tak tahu. Ini rencanaku dengan Tuan Muda saat kami sepakat untuk menjadi budak Tessa dan kelompoknya," jawab Sun terlihat gugup.


Mulut semua orang menganga karena merasa dipermainkan. Tiba-tiba, Ivan mencengkeram kuat kemeja di dada Arjuna hingga mata pemuda itu terbelalak.


"Kau, membodohi kami selama ini?" tanya Ivan melotot tajam.


"Hem. Aku sengaja membuat kalian berpikir aku berkhianat. Tak kusangka, itu berhasil. Sun juga sempat tertipu awalnya, tapi tak kusangka dia sangat peka," ucapnya secara tak langsung memuji Sun dan pemuda itu mengangguk dengan senyuman. "Aku tahu kalian membenciku selama ini, jadi ... sedikit saja aku berulah, kalian pasti akan menghujatku. Yah, itulah takdirku, tapi ... aku mulai terbiasa, meski ada beberapa hal tak terduga seperti hilangnya Sandara dari pengawasanku, Tessa mencampakkanku dan ... aku terdampar sampai di sini. Jujur, itu kecerobohanku," jawabnya mengalihkan pandangan.


Ivan terlihat begitu marah hingga ia tak bisa berkata-kata dan hanya melotot tajam pada putera dari Vesper tersebut.


"Sialan! Dasar bocah tengik! Kemarin Sun sudah membodohi kami semu, sekarang kau. Lalu nanti kejutan apa lagi? Ternyata ayahmu juga bersandiwara dan tak mengalami luka serius? Kalian sungguh keluarga bencana," geram Bojan.


Ivan melepaskan cengkeraman dan mendorong Arjuna kuat hingga pemuda itu mundur menabrak tembok.


"Sun juga memiliki rahasia? Wow, apa itu?" tanya Arjuna ikut kaget.


"Nanti akan aku beritahu, Tuan Muda," jawab Sun sopan. Arjuna mengangguk pelan.


"Soal ayahku, itu juga di luar dugaan. Orang-orang ini, mereka sangat sulit diterka. Mereka seperti memiliki kode tertentu untuk saling bertukar informasi," ucap Arjuna dan dibenarkan oleh Sun.


"Oh, ya? Seperti apa?" tanya Martin heran.


"Kedipan mata," sahut Sun dan praktis, para anggota Dewan senior itu berkerut kening seketika.


"Ya, itu benar. Aku tak menyangka kau menyadarinya, Arjuna. Kau jeli juga," sahut Pion Diego dari dudukkan mobil.


"Kalian tahu dan selama ini diam saja?" pekik Martin langsung melotot dan melihat para Pion yang duduk dengan santai dalam mobil.


"Kalian tak bertanya dan kami tak menjawab. Itu adalah kesepakatan sepele dan harus ditaati," jawab Pion Damian santai.


Tiga anggota Dewan dibuat kesal setengah mati oleh orang-orang di sekitarnya baik kubu mereka sendiri dan The Circle pecahan Jonathan.


***

__ADS_1


tengkiyuw tipsnya. besok satu atau 2 eps ya?? tentang visual babang Juna, silakan kepoin sendiri ya. Banyak fake akun yg comot foto dia tapi yg lele punya ori punya doi. Kwkwkw



__ADS_2