4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Jadilah Ibuku*


__ADS_3


Minggu kedua Bulan Februari.


Cassie telah tiba di Kastil Borka. Vesper memperlakukan gadis malang itu seperti anaknya sendiri.


Semua orang yang tinggal di bangunan megah bak istana itu dibuat terheran-heran dengan sikap baik sang Ratu di mana ia tak menaruh kebencian sedikit pun pada generasi No Face tersebut.


"Bagaimana? Kau suka masakan yang disajikan oleh para Black Armys level M milikku?" tanya Vesper dengan senyum terkembang usai menikmati sarapan bersama dengan calon ibu dari cucunya di ruang makan berdua saja.


Cassie mengangguk pelan. Wajahnya mulai terlihat berseri lagi. Vesper bahkan tak sungkan untuk menyisir rambut gadis itu dan malah membuatnya menjadi beberapa model yang berbeda setiap harinya.


Vesper juga tahu jika Cassie menyukai gaun. Ia bahkan memberikan semua koleksi gaunnya kepada gadis cantik itu.


Han sampai geleng-geleng kepala karena isterinya seperti sudah tak waras, tapi semua orang terlihat bahagia karena Vesper selalu tersenyum tiap harinya semenjak kedatangan Cassie di rumahnya.


Vesper juga mengajak Cassie berjalan-jalan mengelilingi Kastilnya setiap pagi seraya menyirami tanaman dan memetik beberapa bunga untuk diletakkan di vas bunga di kamarnya.


Hari itu, Vesper mengajak Cassie untuk menemaninya memberi makan ikan piranha dengan bangkai mayat dari jasa pembersih.


"Sayang," panggil Han seraya berjalan mendekat ketika Vesper melemparkan potongan tangan ke dalam aquarium. Sedang Cassie, duduk di depan kaca berisi ikan karnivora itu seraya menikmati potongan buah segar dalam mangkuk.


"Hem?" jawab Vesper dengan senyum terkembang di mana sarung tangannya sudah berlumuran darah.


Han menarik napas dalam. "Kenapa harus ikan piranha? Ada ikan koi yang lebih manusiawi untuk diberikan makan. Terlebih ... ada wanita hamil di depanmu," tanya Han pelan seraya melirik Cassie yang memasang wajah datar.


"Oh, Cassie tak keberatan. Benar 'kan, Cassie sayang?" tanya Vesper dengan senyum merekah dan gadis cantik itu mengangguk pelan.


Han menggaruk pelipisnya yang mendadak terasa gatal entah apa penyebabnya.


"Oke. Aku ... ingin pergi ke Jerman menjenguk Arjuna. Kau sebaiknya tetap di rumah saja. Akan kusampaikan salammu padanya," ucap Han pelan. Vesper mengangguk seraya mengayunkan tangannya meminta Han mendekat.


Suami tertua Vesper melangkah pelan dan kini berdiri di samping isterinya yang menuruni tangga mendatanginya.


"Emph!" erang Han dengan suara tertahan saat Vesper tiba-tiba mencium bibirnya, tapi kedua tangannya yang berlumuran darah memegang wajah pria Asia itu. "Jiah! Dasar gila!" pekik Han kesal langsung mundur dengan mata melotot.


"Oh, aku lupa. Maaf, Sayang. Aku mencintaimu. Hati-hati," ucap Vesper dengan senyum menawan lalu melepaskan sarung tangannya dan membuangnya ke tempat sampah.


Han mendesis kesal dan merasa jijik dengan dirinya sendiri. Han pergi dengan menggerutu meninggalkan lokasi akuarium.


Tanpa Cassie sadari, senyum tipis terbit di wajahnya saat melihat Han pergi dengan marah-marah. Namun, Vesper menyadarinya. Perlahan, sang Ratu mendekati gadis berambut pirang itu.


"Cassie?"


"Hem?" jawabnya kembali memasang wajah datar.


"Saatnya minum vitamin kehamilanmu. Ayo," ajak Vesper seraya mengulurkan tangannya yang telah dicuci. Cassie meraihnya dan meninggalkan mangkok buah yang telah kosong di kursi.


Keduanya berjalan berdampingan dan bertemu dengan beberapa orang di koridor. Cassie melihat Vesper yang selalu tersenyum ketika berpapasan dengan anak buahnya bahkan tak segan mengangguk pelan.


"Kenapa kau melakukannya?"

__ADS_1


"Hem?" tanya Vesper menoleh.


"Kenapa kau tersenyum dan mengangguk saat bertemu bawahanmu?"


"Oh. Karena ... aku menghargai jerih payah mereka dan kesetiaan orang-orang itu dengan tetap mengabdi padaku. Kenapa? Jika kau merasa berterima kasih padaku, tersenyumlah. Aku tahu, senyum bagimu adalah kematian. Namun, aku sudah pernah mati, Cassie. Aku yakin, senyumanmu tak akan membunuhku. Senyummu bagiku adalah ... sebuah ucapan terima kasih," ucap Vesper menatap gadis di sampingnya lekat yang memandanginya dengan wajah datar.



Keduanya masuk ke dalam kamar dengan nuansa pastel merah muda. Vesper menjadikan Cassie bak puteri di rumahnya. Ia mendandaninya dan mengajarinya banyak hal.


"Vesper," panggil Cassie pelan usai meminum vitamin kandungannya.


"Yes?" jawab Vesper seraya merapikan tatanan rambutnya yang terlihat berantakan di kaca rias kamar Cassie.


"Bolehkah ... aku memanggilmu Ibu? Maukah ... kau menjadi Ibuku?"


Vesper terdiam untuk beberapa saat, lalu senyumnya terkembang. "Tentu saja, Sayang."


"Mom?" Vesper tersenyum dan mengangguk. "Boleh aku memelukmu? Baumu enak seperti kopi," sambung Cassie yang membuat Vesper menunjukkan gigi putihnya.


"Ehem. Mungkin akan lebih baik jika kau mengatakan, 'Aroma tubuhmu enak seperti kopi, Mom."


Cassie mengangguk dan mengulang perkataan Vesper barusan. Vesper mendekatinya dan memeluknya. Vesper lalu memegang wajah Cassie lembut dengan kedua tangannya.


"Penampilanmu sudah seperti puteri raja, Cassie. Namun, seorang puteri juga harus memiliki adab dalam berbicara dan bersikap. Kau, masih belum memilikinya. Oleh karena itu, kita akan menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari dan mempraktekkannya. Setuju?" tanya Vesper dengan senyum terkembang dan Cassie mengangguk.


"Hal pertama. Senyum itu penting. Kita akan belajar hal mudah, tapi akan terasa sangat sulit untukmu. Tersenyum. Oke?" ucap Vesper menatapnya lekat dan Cassie mengangguk.


"Oke. Cukup membuka mulutmu sedikit seperti menarik napas pelan," ucap Vesper duduk di depannya seraya mempraktekkan gaya tersebut dan Cassie mengikutinya. "Good. Lalu, tarik ujung bibirmu ke samping perlahan," sambung Vesper penuh penekanan dan bicara dengan hati-hati.


Perlahan, senyum Vesper terkembang. Ia terlihat senang karena usahanya untuk membuat Cassie tersenyum setelah 1 jam lamanya akhirnya berhasil.


"Lihat. Kau sangat cantik, Cassie. Senyummu begitu indah dan menawan. Jonathan pasti akan menyukainya saat ia kembali nanti dan kau menyambutnya dengan senyum manismu itu," ucap Vesper seraya memperlihatkan wajahnya yang tersenyum di hadapan cermin.


Cassie bertahan dengan senyumnya, meski terlihat tegang, tapi terlihat ia menyukainya.


"Apakah Jonathan akan suka jika aku berwajah seperti ini?" tanya Cassie bicara dengan kaku karena mempertahankan senyumnya.


"Tentu saja. Tak hanya Jonathan, tapi semua orang," jawab Vesper dengan senyum terpancar. Namun perlahan, senyum Cassie meredup dan wajahnya kembali serius. Vesper menatapnya saksama.


"Di mana Jonathan?" tanyanya menatap Ibu barunya lekat.


Vesper menggeleng. "Dia diculik. Namun aku yakin, itu ulah ayahmu, Miles. Banyak rumor tentang insiden yang terjadi belakangan ini, Cassie," jawab Vesper ikut serius.


"Insiden?"


"Hem. Jonathan sepertinya marah padamu karena kau pergi darinya tanpa berpamitan dan tak memberikan alasan. Kau menghilang bersama Miles. Jonathan mencintaimu, Cassie. Sikapmu ini ... membuat Jonathan sedih dan kecewa. Jika kau sungguh mencintainya, kenapa kau tak sabar menunggunya?" tanya Vesper menatap Cassie lekat.


"Miles mengatakan ibuku masih hidup. Dia menjanjikan padaku jika aku ikut dengannya, aku bisa bertemu dengannya. Oleh karena itu, aku ikut. Namun ternyata, Miles berbohong. Ia sengaja melakukannya dengan membuatku mengatakan semua hal yang aku ketahui selama ini tentang 13 Demon Heads. Meliputi ... barang-barang yang pernah kucuri dari markas para anggota Dewan, termasuk kau," jawabnya sendu.


Wajah Vesper berubah datar seketika. Ia menatap Cassie lekat yang tak berani memandangnya.

__ADS_1


"Kau dikurung di rumah kaca itu tanpa tahu apapun?" Cassie menggeleng. "Semua persenjataan di rumah kaca itu dari barang-barang hasil curianmu selama ini?" Cassie mengangguk. Vesper menarik napas dalam seraya memejamkan mata sejenak. "Lalu ... apakah Miles mempertemukanmu dengan ibumu?"


Cassie menggeleng terlihat sedih. "Ibuku memang sudah mati. Miles berbohong padaku. Ia sengaja menipuku. Dan aku ... tak memiliki keberanian untuk kabur darinya karena ini," jawabnya seraya memegangi perutnya yang besar.


Vesper menatap Cassie lekat dan mengangguk pelan.


"Kau ... ingin menebus dosamu?" Cassie akhirnya mengangkat wajahnya dan kini menatap Vesper sendu disertai anggukan. "Lahirkan bayimu dengan selamat. Aku berjanji akan mengurusnya. Sebagai gantinya, temukan Jonathan. Selamatkan dia. Kau tahu yang harus dilakukan," ucap Vesper tegas dengan dagu terangkat menunjukkan kekuasaannya.


Cassie mengangguk dan Vesper tersenyum tipis.


"Kau akan melahirkan sebentar lagi. Kau harus tetap dalam pengawasanku sampai saatnya tiba. Aku tak menerima bantahan," tegasnya menunjuk dan Cassie mengangguk.


Vesper memegang kepala Cassie lembut dan tersenyum. "Kau gadis yang baik dan tangguh, Cassie. Sayangnya, kau lahir di keluarga yang mendidikmu dengan cara salah. Semoga ... aku bisa memperbaikimu selagi sempat."


Cassie tak menjawab dan langsung memeluk Vesper erat. Sang Ratu balas memeluknya dengan senyuman.


Namun tanpa mereka sadari, kedekatan keduanya dipotret oleh seseorang karena pintu kamar Cassie tak ditutup rapat.


Pria yang memakai seragam Black Armys tersebut berjalan menjauh sembari mengirimkan foto tersebut ke sebuah nomor ponsel.


TRING!


"Lihatlah. Dia lebih sayang dengan keturunan No Face ketimbang dirimu, Lysa. Dia tak datang menjengukmu dan adikmu Arjuna yang jelas-jelas terluka parah. Dia mengirimkan Han untuk mewakilinya karena sibuk dengan tujuannya sekarang untuk mencari Jonathan. Jangan lupa, Jonathan pemegang aset terbesar peninggalan Erik dan Charles di mana ibumu menanamkan sahamnya di sana. Ini semua sudah direncanakan. Buktikan ucapanku. Han akan berkunjung dan mengatakan 'Maaf, Ibu kalian tak bisa datang, tapi kalian tahu jika dia sangat menyayangi kalian berdua'."


Mata Lysa bergerak tak beraturan saat membaca pesan tersebut. Ia mematikan ponselnya dan meletakkannya di samping tempat tidur.


"Lysa?" panggil Yuki saat memasuki kamarnya dengan senyum terkembang.


"Yes?" jawabnya dengan senyum paksa duduk di pinggir ranjang.


"Apakah kau sudah menelepon nyonya Vesper tentang warna gaun yang harus dikenakan saat pernikahanku nanti?" tanya Yuki menatap sahabatnya lekat dari bingkai pintu.


"Ya. Baru saja kulakukan."


Yuki mengangguk pelan, meski terlihat keraguan di wajahnya. "Kau tak apa?"


"Ya. Aku hanya ... lelah. Aku butuh istirahat. Aku ... ingin tidur sebentar," jawabnya kaku dan Yuki mengangguk lalu menutup pintu.


Lysa merebahkan tubuhnya dengan posisi miring. Ia menelengkupkan kedua tangannya sebagai alas bantal. Ia memejamkan mata dan teringat akan semua foto yang dikirimkan oleh Tora setiap harinya sejak kedatangan Cassie di Kastil Borka.


"Dia ... lebih menyayanginya," ucapnya terlihat sedih lalu memejamkan mata.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


Meskipun ini lendir masih betah nyangkut di tenggorokan dan paru2 tapi udh feel better lah. Kemarin lele udah mulai up Marcopolo ya. Rencana akan lele tamatin segera.


__ADS_1


Baiklah stok novel cetak Simulation sisa 3 ya. Semoga yg masih pada nabung kebagian😁 Amin. Terima kasih tipsnya❤️ Banyak uy 😍Eps ini bonus buat nutup yg audio book. Jangan lupa boom like audio book lele biar dapet bonus eps di bulan berikutnya yg kayaknya tetep end desember aja. Kwkwkw😆


__ADS_2