4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Kejutan Untuk Papa


__ADS_3

...IPO...


...DAH GITU AJA...


Sandara tak menjawab dan terlihat malu. Ia menutup dadanya dengan kedua tangan. Afro tersenyum karena baginya Sandara masih sama, lugu dan manis. Meskipun wajahnya telah berubah dan ia terlihat lebih dewasa, Afro masih mencintainya.


"Maaf jika aku kasar padamu. Aku hanya merasa ... sudah cukup dipermainkan, Dara. Aku mencarimu selama ini, tapi ... kau seperti hilang ditelan bumi. Kau meninggalkan jejak, tapi tak bisa kutebak ke mana selanjutnya kau akan pergi. Aku selalu memimpikanmu setiap malam," ucap Afro terlihat sedih.


Sandara tersenyum tipis dan kini berganti memegang wajah Afro lembut.


"Kau mencariku?"


"Tentu saja. Namun, setiap hal yang akan kulakukan, harus diketahui dan disetujui oleh ayahmu. Sungguh, Tuan Kai sepertinya masih tak menyukaiku. Ia seperti berpikir jika ... aku masih belum pantas untuk mendampingimu," jawab Afro lesu.


"Sepertinya papa lupa dirinya seperti apa saat menikahi mama," jawab Sandara menatap pria berambut pirang itu lekat yang terlihat berseri di malam yang mulai larut.


"Kita tak bisa terlalu lama di sini, Dara. Aku sengaja menggunakan Pemancar Fatamorgana portabel di mobil dan di ruangan ini agar tak dilacak oleh jajaran ayahmu. Jika aku menghilang terlalu lama, aku bisa benar-benar diseret ke Pengadilan," tegasnya tersenyum miris.


"Aku belum mau pulang. Aku ingin di sini bersamamu, Kak Afro. Aku ... belum siap bertemu papa," jawabnya lirih memeluk Afro kembali.


Afro menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia balas memeluk Sandara dan menciumi kepalanya lembut.


"Dingin."


"Oh, maaf," ucap Afro baru teringat jika Sandara tak mengenakan pakaian meskipun ruangan itu telah terselimuti udara hangat dari mesin.


Saat Afro akan melepaskan pelukan, "Oh!" kejutnya saat merasakan telunjuk kanan Sandara menyelinap di bagian depan celananya dan berhasil mencolek kepala mungil itu.


Afro terlihat tegang saat Sandara menatapnya lekat dan malah semakin memasukkan tangannya ke dalam celana hingga pemuda itu langsung salah tingkah.


"Emph. Beginikah, caramu mengingat kenangan bersamaku?" tanya Afro melirik gadis cantik di depannya yang memasang wajah datar, tapi tangannya dengan sigap bergerilya di dalam celananya.


"Kau ingin kita melakukannya lagi? Kau merindukannya?" tanya Afro berbisik. Sandara tersenyum dan mengangguk.


Afro tersenyum tipis dan melepaskan tangan Sandara perlahan karena ia merasa terhimpit. Afro mematikan beberapa lampu hingga tempat itu bercahaya redup.


Pemuda itu menggandeng Sandara ke sofa panjang dan merebahkannya. Gadis berambut panjang itu terlihat gugup saat Afro melucuti pakaiannya di depannya.


Afro bahkan tak sungkan saat memamerkan keperkasaannya di mana sebelumnya ia masih malu dengan menyelimuti tubuhnya. Namun kini, ia terlihat seperti sudah siap untuk dijamahi.


"Jika aku lepas kendali, itu bukan salahku, oke?" tegasnya mengingatkan dan Sandara terlihat gugup dengan anggukan. "Kurasa, kau sudah cukup besar untuk melakukannya denganku, Sayang," ucap Afro yang kini mendatangi tubuh Sandara dan merobohkannya di atas tubuh gadis cantik itu.


Sandara merasa gugup saat kulitnya bersentuhan dengan pria yang disukainya di mana sebelumnya mereka tak pernah seiintim ini.


Afro menatap wajah baru Sandara lekat yang terlihat begitu cantik tanpa goresan make up di sana. Perlahan, Afro mengecup bibir Sandara lembut seraya mengelus rambut panjangnya yang terasa halus dan wangi.


"Buka bibirmu. Santai saja, jangan ditahan," pinta Afro pelan karena Sandara mengunci bibirnya.

__ADS_1


Gadis cantik itu menuruti permintaan Afro. Perlahan, Sandara mulai terbuai dengan ciuman yang terasa lembut di bibirnya.


Sandara terlena akan sentuhan yang diberikan Afro padanya. Afro tak memaksa, ia melakukannya dengan perlahan seakan waktu terasa begitu lambat.


Sandara yang terobsesi dengan junior Afro dengan sigap mengelus daging panjang itu dan memijatnya.


Afro mulai tak bisa menahan gejolak dalam dirinya lagi karena sentuhan agresif dari gadis yang kini berada di pelukannya.


"Kau sungguh menyukainya ya?" tanya Afro terlihat bergairah.


"Menggemaskan," jawabnya pelan.


Afro mulai kehilangan pikirannya. Ia melepaskan pengait pengurung dua gundukan itu. Sandara terlihat canggung ketika penutupnya dilepaskan dan membuat buah dadanya terlihat.


Afro mendaratkan bibirnya di sekeliling bongkahan itu dengan memberikan kecupan lembut.


Sandara makin tak bisa menahan sensasi aneh yang menyerang tubuhnya. Afro menjilat, menciumi, dan memijat dua benda yang terlihat begitu ranum untuk diincip.


"Ah, pelumasmu keluar, Kak Afro," ucap Sandara saat merasakan cairan lengket di tangannya dari ujung roket itu.


"Ya. Bagaimana denganmu? Apa kau juga keluar?" tanya Afro yang kini menyelipkan tangan kanannya ke dalam pengaman segitiga nikmat itu dan ikut memijatnya.


Tubuh Sandara langsung merespon. Gadis itu terlihat panik karena pertama kali miliknya disentuh oleh tangan seorang pria.


Sandara mulai merintih dan bingung dalam bersikap, tapi Afro malah menjadi bergairah karena gerak-gerik Sandara sungguh polos.


"Ah, lepas, Kak Afro, lepas," pintanya dengan wajah sudah memerah.


"Kau basah," bisik Afro yang merasa puas karena jari nakalnya mampu membuat gadis lugu di hadapannya merasakan hal lain menuju ke tingkat kedewasaan.


Afro yang tak tahan karena gerak-gerik Sandara, dengan sigap melepaskan kain putih segitiga itu dan membuat tubuh polos Sandara terlihat jelas di matanya. Afro semakin bergairah, tapi ia menyadari sesuatu.


Terlihat sebuah bekas luka cukup besar di salah satu bahunya, tapi sudah membaik. Afro menyipitkan mata dan semakin yakin jika Sandara melakukan operasi plastik karena tubuhnya terluka parah.


"Apa ini sakit?" tanya Afro mengelus lembut bekas luka itu.


Sandara menggeleng dan menatap wajah Afro lekat yang terlihat begitu rupawan dalam redupnya cahaya.


"Kau ingin kita melakukannya? Aku malah sangat berharap 'ya'. Aku ingin memberikan kejutan pada papamu sehingga dia tak mungkin bisa menolakku lagi untuk menikahimu," ucap Afro.


Sandara terlihat bingung dan memalingkan wajah. Namun, mata Afro terus mengejar pergerakan bola mata itu. Pemuda berambut pirang itu melihat seperti ada keraguan dalam diri Sandara.


"Ah!" rintih Sandara saat tiba-tiba saja Afro mengarahkan miliknya ke intiimnya.


"Apa hubunganmu dengan Yudhi?" tanyanya berkesan menginterogasi dan Sandara terkejut akan hal itu. Sandara terdiam.


"Ah!" rintihnya lagi saat Afro memegangi dua lututnya lalu melebarkan kedua kakinya seraya mendorong miliknya kuat. Wajah Afro berubah menjadi serius, Sandara terlihat takut.

__ADS_1


"Apa kau mencintainya?"


Sandara menggeleng pelan. "Ah! Emph," rintih Sandara sampai matanya terpejam sejenak saat Afro kembali mendorong miliknya paksa agar bisa masuk ke lubang yang masih tertutup rapat itu.


"Apa kau sudah melakukan hal ini dengannya?" Sandara menggeleng cepat. "Benarkah?" Sandara mengangguk cepat.


"Ah! Aw," rintihnya lagi karena Afro kini semakin agresif memasukkan miliknya, tapi Sandara merasakan sakit di sana.


"Aku harus membuktikannya jika kau benar belum melakukannya dengan bocah tengik itu," tegas Afro terlihat marah seraya terus mendorong miliknya kuat yang masih sulit untuk menembus.


Sandara memejamkan matanya rapat. Wajahnya berkerut seperti menahan sakit. Kedua tangannya mencengkeram kuat pinggiran sofa karena tak mampu lagi untuk kabur dari desakan kuat Afro di tubuhnya.


Mata Afro terkunci pada wajah Sandara seorang. Ia mengamati setiap ekspresi yang ditunjukkan gadis cantik itu saat miliknya sedang diperkosa agar pelurunya bisa masuk ke dalam.


SLUP!


"Emph," erang Sandara dengan tubuh menggeliat saat milik Afro sudah masuk sepenuhnya dan diam di dalam sana.


"Sakit?" Sandara mengangguk dengan setitik air mata di sudut matanya.


"Aku minta maaf, Dara. Aku terpaksa melakukannya. Aku hanya tak ingin kau dimiliki oleh pria manapun. Kita memiliki kisah dan kenangan. Aku tak ingin diriku digantikan oleh siapapun. Kau mengerti yang kuucapkan?" tanya Afro yang tak mendorong miliknya lagi karena Sandara terlihat kesakitan. Gadis berkulit putih itu mengangguk pelan dengan terisak.


"Katakan kau mencintaiku," pinta Afro dengan wajah sendu.


"Aku selalu mencintaimu, Kak Afro. Aku yang memilihmu, bahkan kita juga sudah bertunangan. Aku ingin menjadi pengantinmu," jawab Sandara menahan tangisannya.


Senyum Afro terkembang. Ia mengelus kepala Sandara lembut dan mengecup wajahnya perlahan seraya menghapus air matanya.


"Jangan menangis, aku percaya padamu. Oke, sepertinya kau belum siap. Kita bisa lakukan lain kali. Sebaiknya kita mandi bersama lalu temui papamu. Aku sangat yakin jika dia khawatir padamu. Kau cukup lama meninggalkannya," ucap Afro lembut dan Sandara mengangguk.


Afro melepaskan miliknya perlahan. Sandara menarik napas dalam dengan mata terpejam. Afro terkejut karena alas duduk sofanya yang berwarna putih jadi memiliki noda. Afro meringis, tapi terlihat puas karena ucapan Sandara terbukti.


"Ayo," ajak Afro mengulurkan tangannya, tapi Sandara terlihat seperti orang menahan sakit karena tubuhnya membungkuk. "Kenapa? Nyeri?" Sandara mengangguk seraya memegangi perut bagian bawahnya dengan kening berkerut. "Baiklah."


Afro menggendong Sandara dan membawanya ke kamar mandi. Afro meletakkan Sandara di bath up dan merendamnya dengan air hangat.


Sandara terlihat pucat dan wajahnya masih berkerut menahan sakit. Afro tersenyum saat duduk di pinggir bak menatap ekspresi jarang dari kekasihnya itu.


"Tunjukkan wajah itu saat bertemu Kai, oke?"


"Ha?" tanya Sandara sampai matanya melebar.


"Hem, biar papamu tahu jika kita sudah melakukannya. Kalau perlu, buat sedramatis mungkin. Aku penasaran, seperti apa reaksi Kai ketika mendengar berita mengejutkan itu," ucap Afro tersenyum, tapi Sandara menyipratinya dengan air dalam bath up terlihat kesal.


Afro terkekeh. Ternyata, Sandara tak suka jika membuat ayahnya panik.


***

__ADS_1


uhuy tengkiyuw tipsnya. jangan bilang adegannya nanggung ya. sentil ni. kan kasian dek dara kecakitan ya to. jadi biarkan dek dara adaptasi dulu tar kalo doi trauma kan repot. kwkwkw. anggap aja eps bonus~


__ADS_2