
Gimana sehat2 aja kan? Lele masih masa pemulihan. Alhamdulilah udah membaik cuma mualnya masih gak nahan. Kudu minum obat biar bisa beraktivitas, kalo gak terkapar di kasur. Bsk tgl 28 lele mau swap. Doain hasilnya negatif ya dan bisa update sesuai jadwal lagi. Amin. Trims sudah sabar menunggu. Lele padamu⤠Msh eps bonus dari tips mak Ben.
----- back to Story :
Setibanya di Italia. Doug terlihat gugup akan sesuatu saat Sandara dan Arthur berkunjung ke kediaman mendiang Elios tersebut.
"Di mana kak Afro, Paman Doug?" tanya Sandara menatap ayah dari Zaid lekat.
"Dia sedang dalam perjalanan kemari," jawab Doug tetap berusaha tenang.
"Apa yang kulewatkan?" tanya Sandara masih tak melepaskan kuncian pandangannya pada lelaki itu.
"Biar Afro yang menjelaskan semua. Aku tak memiliki hak untuk ikut campur. Aku hanya bisa menyampaikan, semoga semua bisa diselesaikan dengan hati yang lapang," jawab Doug yang membuat wajah Sandara serius seketika.
"Kabar terbaru tentang Miles? Apa yang kaupunya untukku?" tanya Sandara mengalihkan pembicaraan.
"Ah, pertanyaan bagus," jawab Doug langsung berubah ekspresi lebih santai.
Doug meminta salah satu anak buahnya mengambilkan sesuatu untuknya. Arthur duduk di sofa terpisah dengan Doug duduk di seberang Sandara.
Tak lama, salah satu Black Armys Vesper yang menjaga rumah tersebut mendatangi Doug seraya membawa sebuah koper hitam yang terkunci.
Doug membuka koper itu setelah memasukkan beberapa nomor kombinasi. Sandara diam mengamati dari kejauhan pergerakan jari lelaki itu.
KLEK!
Doug menunjukkan isi koper tersebut kepada Sandara. Kening gadis cantik itu berkerut. Ia mengambil benda berwarna hitam tersebut dan mengamatinya lekat.
"Pager?" tanya Sandara menebak, dan Doug mengangguk membenarkan.
"Menurut informasi yang didapat dari Click and Clack, pager itu adalah bom jarak jauh yang diaktifkan menggunakan sinyal dari satelit milik The Circle dan digabungkan dengan pemancar milik salah satu Mens. Disinyalir ada 500.000 unit yang tersebar di seluruh markas dalam jajaran 13 Demon Heads. Beberapa dari para mafia sudah berhasil menemukan dan mengumpulkannya. Koper ini memiliki penghalang sinyal. Diharapkan, saat bom itu diaktifkan, koper ini menjaganya agar tak meledak," terang Doug seraya menepuk koper tersebut.
"Apakah benda ini ditemukan di kediaman kak Afro?"
Doug mengangguk pelan. "Kami sudah menemukan lima. Namun aku yakin, masih ada yang tersembunyi di tempat yang belum terlacak. Kami masih mencarinya," jawab Doug serius.
Sandara memasukkan kembali benda itu ke dalam koper dan Doug menutupnya. Gadis itu lalu terdiam seperti memikirkan sesuatu. Doug dan Arthur menatap Sandara lekat seperti berusaha menebak isi pikiran gadis cantik itu.
Hingga tiba-tiba, "Oh! Kau sudah datang!" pekik Doug langsung berdiri ketika mendapati Afro telah pulang dengan kursi roda elektrik.
__ADS_1
Sandara segera berdiri dan membalik tubuhnya. Ia mendapati Afro dikawal oleh Trio Bali yang berdiri di belakangnya dan Venelope yang ikut bersama mereka. Kening Sandara berkerut, tapi ia langsung mengembangkan senyuman.
Saat Sandara berlari ke arah lelaki yang ia rindukan, tiba-tiba saja Afro menyerahkan selembar kertas.
Sandara menghentikan langkah dan senyumnya memudar. Ia menerima surat itu dengan gugup. Seketika, matanya melebar.
"Kau menceraikanku?" tanyanya menatap Afro tajam.
"Ini sudah berakhir, Sandara. Kai sudah menyetujuinya," jawab Afro dengan wajah dingin.
Sandara menatap wajah Afro lekat yang balas menatapnya tajam tanpa berkedip dan tanpa ekspresi. Suasana canggung seketika. Arthur dan Doug saling berpandangan. Mereka sudah menduga hal ini akan terjadi.
"Kenapa kaulakukan hal ini padaku? Apa salahku?" tanya Sandara dengan tangan masih menggenggam kertas cerai itu.
"Salahmu? Kau masih bertanya di mana salahmu? Apakah otakmu sudah tumpul sehingga kau tak bisa melihat yang terjadi padaku?" tanya Afro dengan intonasi mulai menekan.
"Dan apa kau tak melihat yang terjadi padaku? Apa wajah ini tak terlihat olehmu, Kak Afro?!" balas Sandara berteriak. Semua orang terkejut.
"Kau meninggalkanku. Kau tak mendengarkan nasihatku sebagai seorang suami. Kini, kau kembali setelah tak ada lagi yang mendukungmu, begitu?"
Napas Sandara memburu. "Sejak dulu tak pernah ada yang mendukungku! Semua kulakukan sendiri! Orang-orang yang melindungiku mati! Aku melakukan banyak hal keji agar bisa bersamamu! Aku berkorban setiap detiknya karena mencintai pria sepertimu! Dan surat cerai yang kauberikan padaku atas semua pengorbananku?!" jawab Sandara dengan mata berlinang.
"Kau ke mana saat aku berjuang sendirian agar bisa bertemu lagi denganmu?" tanya Sandara dengan air mata menetes, tapi tak ada isak tangis di sana. "Aku melindungimu, aku menyelamatkanmu, dan aku tetap mencintaimu saat semua orang membencimu. Aku percaya padamu, Kak Afro. Semua hal buruk yang kaulakukan bisa kumaafkan, tapi kenapa kau tidak?" tanya Sandara dengan suara bergetar.
Trio Bali mengembuskan napas panjang seakan mereka yang tersudut karena ucapan Sandara.
"Itu semua masa lalu. Aku tak melihat ke belakang," jawab Afro tenang dan kembali menatap wajah Sandara yang sudah tergenang air mata.
"Kubunuh Yudi, Jibran, Valentina, Sudan, bahkan yang lainnya agar mereka tak lagi mengusik hidup kita. Kurelakan diriku yang terluka agar kau tak sakit lagi. Setelah selama ini, kenapa kau tetap tak bisa mengerti tentangku?" tanya Sandara dengan air mata kembali mengalir dan tetap berdiri di depan Afro.
Afro menarik napas dalam. "Keputusanku sudah bulat, Sandara. Aku kecewa padamu. Kau tak ada di sampingku sebagai seorang istri. Kau seharusnya mendampingiku saat terpuruk dan sakit. Kau malah sibuk membalaskan dendam dan membunuh orang-orang bahkan tanpa seijinku. Semua yang kaulakukan, karena pemikiranmu sendiri. Dan kau menyalahkanku atas semua keegoisanmu?! Semua hal buruk yang kulakukan, kutanggung sendiri konsekuensinya! Kau yang ingin terlibat! Aku tak pernah menyeretmu! Aku sudah berusaha menghilang dan pergi dari kehidupanmu, tapi kau mencariku! Aku tak pernah memintamu melakukan semua itu! Dan ketika kuminta kau untuk tetap di sisiku, kau malah pergi dengan semua kegilaanmu!" jawab Afro berteriak meluapkan seluruh perasaannya.
Sandara menangis. Ia membiarkan air matanya kali ini menetes di wajah cantiknya, meski terdapat lebam.
Semua orang hanya bisa diam tak ingin ikut campur. Doug dan Arthur telah berdiri dari tempat mereka duduk karena merasa pembicaraan ini akan memanas.
"Pengecut," ucap Sandara mengutarakan perasaannya, dan hal itu membuat mata Afro melebar. "Kau bilang kau mengagumi ibuku. Kenapa kau tak belajar dari kehidupannya dan bercermin pada kehidupan kita?" tanya Sandara yang terlihat berusaha menahan tangisannya. Afro menatap Sandara lekat. "Kau tahu kisah ibuku. Kau tahu bagaimana ia melakukan banyak kesalahan. Para pria itu memaafkannya dan tetap mencintainya, begitupula ibuku," ucap Sandara menatap Afro lekat terlihat begitu sedih.
"Ia membunuh Anita karena mencelakai Erik. Kulakukan hal yang sama dengan membunuh pria yang telah mencelakaimu." Afro menundukkan wajah dengan pandangan tak menentu. "Ia memaafkan Han karena telah mengkhianatinya dengan memilih Ye. Sama sepertiku. Aku bisa melihat kau memiliki hubungan dengan Venelope, tapi aku bisa memaafkannya," sambung Sandara yang membuat Venelope langsung memalingkan wajah. "Ayahku memaafkan ibuku yang berselingkuh dengan Ivan dan tetap mencintainya. Kau menceraikanku, tanpa sepengetahuanku. Bahkan kau menjalin hubungan dengan wanita lain di saat aku berjuang mati-matian untuk kebahagiaan kita?" tanya Sandara menatap Afro lekat yang tertunduk diam. "Kau, lebih buruk dari seorang bajiingan, Kak Afro. Kau lebih hina dari Yudhi, dan kau seorang pengecut. Kau selalu berlindung di balik kekuasaan seseorang. Kau menjijikkan," tegas Sandara mencengkeram kuat surat perceraiannya.
__ADS_1
"Sudah puas menghinaku?" tanya Afro menaikkan pandangan. "Beginikah caramu untuk memperbaiki keadaan?"
"Ya, ini caraku memperbaiki keadaan. Kupastikan, bukan kau yang kecewa padaku, tapi aku. Seperti yang kauinginkan, Kak Afro. Kita bercerai. Aku tak sudi menghabiskan sisa hidupku dengan pria pengecut sepertimu," ucap Sandara dengan wajah datar tak lagi menangis.
Afro dan lainnya tertegun. Sandara dengan cepat menandatangani kertas itu dengan darahnya. Ia menggigit ibu jarinya dan membubuhkan tanda tangan dengan namanya.
"Semoga kau bahagia dengan wanita yang selama ini berperan sebagai pengecut sepertimu," ucap Sandara seraya memberikan kertas itu pada Afro dengan kasar. "Kita pergi, Paman Arthur. Urusan kita selesai di tempat ini. Jika Afro selamat dari serangan Miles, ia sungguh seorang pecundang yang beruntung. Meski aku berharap ia ikut meledak bersama pager-pager itu," ucap Sandara seraya melangkah pergi meninggalkan orang-orang itu.
Arthur terlihat gugup, tapi segera mengikuti Sandara. Doug dan lainnya ikut bingung dalam bersikap.
Afro tertunduk seraya memandangi surat perceraian yang pada akhirnya ditandatangani oleh Sandara. Venelope tak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa diam dan tetap berdiri di belakang Afro.
Selama perjalanan di mobil, Sandara menangis. Ia memalingkan wajahnya dari hadapan Arthur yang menoleh ke arahnya.
"Dara," panggil Arthur iba.
"Jangan katakan apa pun. Jangan," jawab Sandara menyuarakan kesedihannya.
Arthur mengangguk pelan. Ia tetap mengemudi. Hingga Arthur membawa Sandara ke rumah tempat Naomi dan Jordan dulu tinggal.
Sandara diam saja terlihat enggan keluar dari mobil. Arthur masih duduk di bangku kemudi menemani gadis malang itu.
"Kenapa kau tak pulang, Sandara? Apalagi yang kaucari?" tanya Arthur yang akhirnya memberanikan diri bertanya.
"Apakah aku masih punya rumah? Kau tak dengar? Papaku saja menyetujui perceraianku dengan Afro. Dia ... sudah tak menganggapku sebagai anak lagi," jawab Sandara dengan wajah sembab karena banyak menangis.
"Kai tetaplah ayahmu. Mungkin keputusannya terdengar menyakitkan, tapi ia pasti sudah menyadari jika hubungan kalian tak mungkin bisa diselamatkan lagi. Namun, aku bangga padamu. Aku tak menyangka kau masih bisa menghina Afro meski kau juga terluka. Entah bagaimana kau melakukannya, tapi ... itu cukup keren," ucap Arthur memuji.
Sandara tersenyum tipis, dan Arthur ikut tersenyum karenanya.
"Kita istirahat di sini untuk sementara waktu. Lalu, kita temui ibumu, bagaimana? Kudengar, ia sakit. Tak ada lagi serum yang menunjang hidupnya. Sepertinya ... ia tak akan bertahan lama," ucap Arthur yang membuat mata Sandara melebar.
"What? Apakah ulah Miles?" tanya Sandara berkerut kening.
"Hem. Dia meledakkan laboratorium Jeremy. Tak ada satu pun ilmuwan yang bisa membuat ulang serum penawar itu karena formulanya lenyap. Sedang Jeremy, seperti mengalami penurunan fungsi otak. Ia tak bisa mengingat formula-formula itu. Victor dan timnya sudah berusaha untuk mereplikanya, tapi hasilnya selalu gagal. Temui ibumu, Sandara, selagi masih ada waktu. Jangan sampai kau menyesal," ucap Arthur menatap Sandara lekat.
Sandara mengangguk pelan. Ia terlihat gugup akan sesuatu. Arthur terlihat senang karena Sandara mau mendengarkan nasihatnya.
Sandara melihat Arthur menyiapkan keberangkatan dengan pesawat pribadi Amanda menuju ke Jepang dari layar ponselnya.
__ADS_1
Arthur lalu mengajak Sandara untuk masuk ke rumah dan akan pergi meninggalkan Italia dua hari kemudian.