
Tentu saja, para sipil yang berada di sekitar tempat itu terkejut saat melihat sebuah mobil meledak hebat hingga kobaran asapnya membumbung tinggi.
Beruntung, Jibran, Valentina dan Sandara berhasil melompat meski mengalami lecet di beberapa bagian tubuh. Sayangnya, anak buah Jibran tewas terpanggang karena gagal meloloskan diri.
Jibran dan Valentina segera bangun meski terlihat kesakitan. Mereka menarik tangan Sandara untuk segera pergi dari jalanan karena pria bertopeng itu masih mengejar dari sebuah mobil sedang yang ia kendarai.
"Hehehe, kaburlah, tapi aku akan tetap mengejar," ucapnya mengincar Sandara dan dua orangnya yang kini berlari dengan tergopoh memasuki sebuah gang.
Mobil sedan itu berhenti dalam posisi melintang di depan gang sempit yang tak bisa ia masuki.
Pria yang mengenakan topeng setengah wajah itu menoleh dan sengaja membuka kaca jendelanya. Sandara menghentikan langkah dan melihat pria itu tajam dengan napas tersengal.
"Kaburlah selagi kau bisa, Sandara Liu. Namun, aku akan datang lagi dan mengambil semuanya!" ucapnya lantang.
Mata keduanya saling beradu. Sandara berdiri di tengah jalanan gang di mana Valentina dan Jibran berdiri di belakangnya tampak waspada. Tiba-tiba saja, DOR! DOR! DOR!
"Argh!" rintih pria bertopeng itu ketika Sandara melangkah maju dengan pistol dalam genggaman menembakinya.
Lelaki itu segera menekan gas penuh mobilnya. Namun, siapa sangka, tembakan Sandara mengenai lengannya meski tak membunuhnya.
"Gadis sialan. Lihat saja, akan kubalas!" pekiknya kesal dan menjauh dari lokasi kejadian.
"Dara! Kita harus segera pergi!" pinta Valentina mendekati Sandara yang terlihat begitu marah.
PLAK!
"Oh!" kejut Valentina saat Sandara menampik tangannya dengan wajah dingin.
"Dara!" panggil Jibran karena Sandara berlari kencang seraya memasukkan kembali pistol miliknya di balik pinggang meninggalkan mereka.
Jibran dan Valentina terpaksa mengejar Sandara yang dirasa mencari keberadaan Afro. Benar saja, Sandara mematung di trotoar saat melihat Afro terluka parah hingga wajahnya tertutupi darah saat dibopong oleh Trio Bali memasuki mobil.
"Ya Tuhan. Kak Afro!" panggil Sandara dengan mata berkaca dan kembali berlari mendatangi suaminya yang tak sadarkan diri. "Om," panggil Sandara melihat Trio Bali dengan pakaian ikut berlumuran darah karena menyelamatkan Afro.
"Ngapain kamu ke sini? Isteri gak tau diri! Liat aja, Dara. Kamu bakal nyesel seumur idup!" teriak Made mendorong pundak Sandara kuat hingga gadis cantik itu melangkah mundur terlihat kaget.
Sandara shock melihat tubuh Afro berlumuran darah, dan ada yang aneh dengan salah satu kakinya. Nyoman menatap Sandara tajam yang berdiri mematung di luar mobil dudukkan tengah.
"Meski Om bukan dokter, tapi Om yakin, Afro harus diamputasi. Lihat, Dara! Lihat! Afro bakal lumpuh karena kamu! Afro kehilangan salah satu kakinya!" teriak Nyoman menunjuk Afro yang dibaringkan di bangku tengah dan Toras di bagasi belakang.
Sandara membungkam mulutnya. Ia menangis saat dirinya dilarang oleh Trio Bali untuk ikut dengan mobil mereka.
Trio Bali yang terlihat kecewa pada gadis itu meninggalkan Sandara yang menangis terisak di pinggir jalan usai melihat penderitaan sang suami.
"Hiks, Kak Afro," panggilnya sedih yang kini berlari mengejar mobil itu dengan air mata sudah menggenangi wajahnya.
Valentina dan Jibran yang ikut melihat kejadian naas itu saling memandang terlihat bingung. Mereka akhirnya mendatangi Sandara yang roboh di pinggir aspal menangis terisak.
"Dara," panggil Valentina seraya berjongkok dan menepuk bahu Sandara.
Namun, DOR! DOR! BRUK! BRUK!
"AAAAA!" teriak para warga sipil di sekitar saat mendengar suara tembakan.
Orang-orang berlarian menyelamatkan diri karena aksi teror di sekitar mereka.
__ADS_1
Jibran dan Valentina tergeletak dengan peluru bersangkar di dada mereka. Darah merembes dari balik baju dua orang itu yang terlihat begitu kesakitan.
Sandara menggenggam pistol yang ia ambil dari balik pinggang. Gadis itu berdiri di hadapan dua orang yang memegangi dada mereka dengan tatapan keji.
"Sudah cukup bantuan kalian. Terima kasih dan sampai jumpa," ucapnya dingin.
DOR! DOR!
Sandara mengambil dompet dan ponsel milik Valentina serta Jibran. Ia juga melepaskan sebuah kalung dengan medali yang tergantung di leher Valentina lalu mengenakannya.
Gadis cantik itu ikut melepaskan sebuah cincin di jari Jibran lalu memasangnya di ibu jarinya karena benda itu terlalu besar jika dipakai di telunjuknya.
Sandara berjalan begitu saja dengan wajah dingin ke sebuah mobil yang berhenti di tengah jalan dengan seorang wanita di dalamnya terlihat ketakutan.
"Hei," panggilnya dengan wajah dingin dan pistol terarah ke wajah wanita malang itu. "Antarkan aku. Menolak, kau mati," pintanya dengan bahasa Inggris dan wanita itu mengangguk.
Sandara duduk di bangku samping kemudi. Wanita itu terlihat gemetaran dan menahan tangisannya saat ia membawa penumpang gelapnya ke suatu tempat.
Ternyata, Sandara meminta dibawa ke sebuah rumah sakit. Sandara langsung menuju ke IGD di mana ia yakin jika Afro di bawa ke tempat tersebut.
Benar saja, Sandara melihat Made melakukan panggilan di luar ruangan tersebut. Sandara bersembunyi di balik dinding koridor seraya merapikan dirinya yang terlihat berantakan.
Wajahnya begitu serius saat mengikuti Made yang menuju ke parkiran di mana ia juga yakin jika Toras masih berada di bagasi belakang mobil dalam keadaan tak sadarkan diri.
Benar saja, "Oh!" kejut Made saat ia merasakan kepala belakangnya ditodong sebuah moncong pistol.
Made mengangkat kedua tangannya ke atas dan mematung seketika.
"Masuk ke mobil," pinta Sandara, dan Made menghembuskan napas pelan. Ia memilih untuk menurut dan menutup kembali bagasi belakang.
Sandara menurunkan moncong pistol dan kini mengarahkan ke pinggang pria Bali itu. Made masuk dan duduk di bangku tengah dengan Sandara mengikutinya masih mengarahkan moncong pistol.
"Bagaimana keadaan kak Afro?" tanya Sandara sedih.
Made menghisap kuat rokoknya dan malah menghembuskan asap pekat itu ke wajah Sandara.
Gadis cantik itu memejamkan mata seraya menahan napas. Ia mengibaskan asap itu dengan satu tangannya dan mendapati wajah dingin Made yang menatapnya tajam.
"Anak pak Sutejo yang melakukannya, bukan aku. Dia sudah mengincar Afro dan aku sejak pernikahan," ucapnya yang membuat kening Made berkerut. "Aku bertemu salah satunya usai ia menabrak kak Afro," sambungnya terlihat serius dengan ucapannya.
Made masih diam dan terus menghisap rokoknya, dan kepulan asap itu tetap ia tujukan ke wajah Sandara.
Gadis itu terlihat berusaha bersabar dengan sikap melecehkan dari pria di depannya. Sandara seakan tahu jika pria itu marah padanya karena Afro terluka parah hampir tewas.
"Aku akan menyelesaikan semua. Jadi, tolong jaga kak Afro untuk sementara waktu. Bawa dia kembali ke Italia. Aku mencintainya. Meskipun kak Afro pada akhirnya cacat atau lumpuh, aku masih mencintainya. Aku akan merawatnya. Aku minta maaf atas sikapku. Tolong sampaikan padanya. Kau ... bisa melakukannya?" tanya Sandara, tapi Made tak menjawab dan terus merokok.
"Itu urusanmu, bukan urusanku apalagi orang lain. Katakan sendiri. Om sudah tak peduli sama kamu. Sikapmu sama saja dengan kakak-kakakmu yang lain," ucap Made lalu melambaikan tangan mengusir keberadaan gadis cantik itu.
Sandara terlihat sedih, tapi ia menurut. Sandara membuka pintu mobil dan keluar. Namun, ia masih berdiri di samping pintu.
"Toras harus tetap bersamaku. Berikan dia padaku," pintanya, tapi Made menggeleng.
"Kaubilang akan menyelesaikan semuanya. Kerjakan sendiri tanpa orang lain. Kausudah menyianyiakan banyak kesempatan dan kebaikan dari semua orang yang tulus membantumu. Salah satunya, Afro. Dia akan jadi penyesalanmu seumur hidup, Dara. Ingat itu baik-baik. Pergilah, selesaikan urusanmu tanpa harus membuat Afro dan lainnya terluka," pinta Made tegas, dan Sandara hanya tertunduk diam.
Gadis itu melangkah pergi terlihat lesu seperti bingung dengan apa yang akan ia lakukan. Made masih melihat pergerakan Sandara saat puteri Kai mengeluarkan sebuah ponsel seperti menghubungi seseorang.
__ADS_1
Made diam saja ketika Sandara melangkah pergi meninggalkan kawasan rumah sakit hingga sosoknya tak terlihat.
Saat Made mengusap keningnya yang mendadak terasa berat, tiba-tiba ....
"Woah! Bikin kaget aja!" pekik pria itu ketika Toras bangun seraya memegangi kepalanya.
Made mematikan bara rokok dengan memasukkannya ke dalam botol air mineral yang masih tersisa air sedikit. Ia menatap Toras saksama yang terlihat bingung.
"Hoi, hoi!" panggilnya garang.
Kening Toras berkerut. Ia menatap Made terlihat bingung.
"Dara menitipkan kamu ke Made. Dia sedang menyelesaikan urusannya. Dia bilang, kamu diminta menyiapkan misi selanjutnya. Jadi, apa yang harus Made bantu?" tanya pria Bali itu santai seraya memeluk sandaran duduknya.
Toras diam sejenak seperti berpikir serius. Made lalu membuka kaos yang dipakainya dan memperlihatkan punggungnya.
Ia menunjukkan sebuah tato ular ciri khas Vesper dengan kombinasi huruf dan angka di bawah gambar. RR-15. Toras tampak terkejut.
"Sandara meminta agar aku menyiapkan pasukan Mirror dan pasukan Pria Tampan limpahan Jonathan di Turki, kediaman Ahmed. Lalu, persenjataan dari Sudan, serum dari Perusahaan Farmasi Elios di Italia, dan juga tim HURI telah berkumpul di sana," jawabnya serius.
Made diam sejenak. Ia tak menyangka jika strateginya untuk memancing Toras berhasil karena kawannya masih dalam pengaruh cuci otak Sandara.
"Oke. Kita akan ke sana. Namun, kita harus obati luka dulu. Ayo," ajak Made ke rumah sakit dan Toras mengangguk.
Di ruang IGD salah satu rumah sakit di Sudan.
Afro yang mengalami koma dan harus diamputasi seperti dugaan Nyoman sebelumnya, membuat Trio Bali sedih.
Tentu saja, hal ini mengejutkan Kai dan para mafia lainnya usai mendengar hal tersebut, termasuk Arjuna.
Kawan semasa di Camp Militer itu langsung bergegas pergi ke Sudan ditemani oleh Simon, Tulio dan Max.
Dua hari setelahnya. Rumah Sakit Sudan.
Arjuna tampak begitu pilu saat melihat kondisi kawannya di balik pintu ruang isolasi. Afro menjalani pemeriksaan dengan banyak alat menopang demi kelangsungan hidupnya. Sayangnya, Afro belum boleh dijenguk.
"Siapa yang melakukannya?" tanya Arjuna dengan napas menderu melihat Trio Bali di luar ruang isolasi.
"Sulit untuk menjabarkannya. Awalnya, ulah Sandara karena Afro mengejar isterinya yang tak tahu diri dengan menghilang tiba-tiba tidak berpamitan," jawab Wayan. Praktis, mata Arjuna melebar.
"Lalu ... saat Afro mengejar, ada yang menabrak hingga jadi seperti ini. Namun katanya, Dara melihat pelakunya. Orang itu salah satu anak Sutejo. Mobil Dara juga diledakkan. Anak buah Jibran mati, termasuk Jibran dan Valentina yang tewas karena ditembak. Namun, kita belum tahu siapa pelaku penembakan itu karena polisi masih mengusut. Hanya saja, kalau mendengar dari berita para saksi mata, ada cewek yang menembak. Semoga saja bukan Dara, kalau ya ... bisa gawat dan urusannya panjang," sambung Made.
Saat orang-orang itu terlihat serius mendiskusikan kejadian ini, tiba-tiba saja, muncul sebuah tayangan dari salah satu media yang berhasil mendapatkan rekaman CCTV atas aksi penembakan di televisi rumah sakit.
Wajah Sandara terlihat jelas terekam di sana. Praktis, mata Arjuna dan lainnya melebar seketika.
"Baru juga digibahin sudah muncul beritanya. Haduh," keluh Nyoman langsung menggaruk kepala.
Namun, Trio Bali langsung terkejut saat mata Arjuna menatap mereka tajam seperti menusuk wajah. Trio Bali menelan ludah.
"Siapa Jibran dan Valentina? Katakan yang sejujurnya, atau aku tak segan mengurung kalian di sebuah pulau terpencil milikku sampai mati," tegasnya mengancam dengan Simon dan Max langsung mengepung tiga anggota Red Ribbon tersebut.
Tiga pria Bali itu pucat seketika.
***
__ADS_1
uhuy tengkiyuw tipsnya. lele padamu❤️ para reader LAP yg mau meet up sm lele boleh ya bagi kalian yg ada di sekitaran jogja. dm ig aja buat janjian atau japri wa😁