
Di Apartement Theresia, New York.
Arjuna berdiri diam menatap Naomi yang mulai memberikan limpahan pekerjaannya pada Sun.
Lelaki asal Korea yang kini menjadi Sekretaris Perusahaan dan asisten menggantikan Naomi, terlihat serius mendengarkan tiap bimbingan dari seniornya itu.
"Naomi," panggil Arjuna.
Naomi menoleh ke arah Arjuna dengan wajah datar. Senyumnya saat ia bicara dengan Sun sirna ketika berhadapan dengan Tuan Mudanya.
Naomi berjalan mendatangi Arjuna. Anak kedua Vesper terlihat lesu ketika gadis cantik yang dipanggilnya kini berdiri di hadapannya.
Sun memilih tak mau ikut campur dan memasang headphone di telinganya. Ia fokus mengerjakan laporan kerja sembari mendengarkan musik.
Arjuna menggandeng tangan Naomi keluar dari ruang kerja. Naomi pasrah ketika Arjuna membawanya ke kamar.
Arjuna menutup pintu dan kedua tangannya menggenggam kedua tangan Naomi erat.
"Berjanjilah kau akan tetap menerima panggilanku, Naomi. Berjanjilah untuk tetap membalas pesanku. Kau bisa melakukannya 'kan?" pinta Arjuna dengan sangat dan Naomi mengangguk pelan.
Arjuna memeluk Naomi erat. Naomi diam saja tak membalas pelukan Tuan Mudanya. Cintanya untuk Arjuna sudah sirna di malam pria itu mengakui semuanya.
"Aku akan sangat merindukanmu, Naomi. Pegang janjiku jika hanya kaulah yang kucintai meski nanti aku bersanding dengan Tessa," ucapnya dengan suara bergetar.
Naomi memejamkan mata. Perkataan menyakitkan itu datang kembali padanya meski ia berusaha untuk membiasakannya, tapi tetap sangat sulit untuk dilupakan.
"Semoga kau bahagia bersamanya, Tuan Muda," jawabnya berusaha tetap tegar.
Arjuna melepaskan pelukannya dan memegang kedua lengan Naomi erat.
"Kau gila? Mana mungkin aku bisa bahagia. Kaulah kebahagiaanku, Naomi. Aku tahu, kau akan ke Filipina 'kan? Kau akan menerima misi dari mamaku. Semoga, kita berdua bisa menyelesaikan misi kita tanpa kendala dan sesuai harapan, Naomi. Meski kita tak bersama dan berjauhan, tapi percayalah, aku akan selalu mengingatmu dan aku harap kau juga demikian," ucap Arjuna dengan wajah berbinar.
Naomi mengangguk pelan masih dengan wajah datar. Arjuna tersenyum dan mencium bibir gadis pujaannya lembut. Naomi diam saja, tak membalas ciuman Tuan Mudanya.
"Ini, akan menjadi malam terakhir bagi kita berdua, Naomi. Jadi, aku ingin kita menghabiskannya bersama. Ini bukan perpisahan. Aku yakin, kita akan bertemu dan bersama lagi suatu saat nanti. Dan, aku akan sangat mengharapkanmu hadir di sana untuk menemuiku," ucap Arjuna dengan senyum terkembang dan Naomi mengangguk pelan.
Arjuna kembali melakukan aksinya, ia mengajak Naomi bercinta. Namun, malam itu. Naomi seperti sengaja membuat Arjuna menyesal karena telah menyakiti perasaannya.
Arjuna tak bisa berkutik ketika Naomi menyerangnya dengan ganas. Naomi tak memberikan ampun pada kejantanan Arjuna yang terus ia gempur habis-habisan di liangnya.
Arjuna mengerang hebat karena tak menyangka jika Naomi sangat agresif dan dominan.
Nafas Arjuna sampai tersengal ketika Naomi terus menciumi tubuhnya bahkan memberikan banyak gaya bercinta.
Namun, Naomi terlihat seperti tak menikmati sensasi bercinta malam itu. Desahannya bahkan hampir tak terdengar, ia tak mengerang dan merintih.
Wajahnya begitu serius bahkan mampu menahan tangan Arjuna yang berusaha menjamahinya.
__ADS_1
Sedang Arjuna, sampai tak bisa membuka matanya. Ia pasrah akan segala kenikmatan yang Naomi berikan padanya malam itu.
Kedua tangan Arjuna diikat dengan ****** *****. Namun perlahan, Arjuna mulai bisa merasakan kemarahan dalam diri Naomi akan aksi bercintanya malam itu.
Naomi menjambak rambut belakang Arjuna hingga wajah lelaki itu mendongak seperti tak diizinkan untuk menatap wajahnya.
Ciuman Arjuna bahkan ditepis oleh Naomi. Berulang kali mulut Arjuna dibungkam olehnya dengan tangan sembari terus mendorong liangnya kuat hingga milik Arjuna tertelan sepenuhnya.
Naomi juga menutup mata Arjuna dengan menekan kelopak matanya dengan kedua ibu jarinya meski Naomi terus menggoyangkan pinggulnya kuat.
"Naomi, agh!" rintih Arjuna saat Naomi mendorong tubuh majikannya hingga ia jatuh terlentang dengan tangan terikat.
Naomi naik ke pinggulnya dan kembali menggoyangkan miliknya kuat. Arjuna mengerang dan berusaha untuk bangun, tapi Naomi kembali mendorong dadanya.
"Naomi, aku sudah tidak sanggup. Ka-kau, kuat sekali. Agh! Aku mau keluar!" teriak Arjuna dengan nafas tersengal hingga tubuhnya sudah memerah karena Naomi tak sungkan memukul pantatnya bahkan mendorong tubuhnya dengan kasar.
Tiba-tiba, Naomi melepaskan miliknya dan membalik tubuh Arjuna hingga lelaki itu tengkurap di atas kasur.
Arjuna terkejut dan bingung saat akan mengeluarkan cairannya. Ia berusaha bangun, tapi Naomi malah menahan tubuhnya.
Arjuna duduk di atas ranjang dan Naomi memeluknya erat dari belakang sembari mengocok kejantanan Arjuna kuat dengan tangan kanannya.
Arjuna tak bisa menahan cairannya lagi. Sp*rmanya menyembur di atas kasur sangat banyak. Arjuna tak bisa berkutik karena kedua tangannya terikat dan dadanya di pegangi kuat oleh Naomi.
Naomi menyingkir begitu Arjuna sudah melepaskan semuanya. Ia berjalan begitu saja meninggalkan Arjuna sembari memakai pakaiannya kembali.
Nafas Arjuna tersengal. Ia roboh di atas kasur dengan posisi miring. Ia melihat Naomi berwajah datar, tak terlihat lelah sama sekali.
Nafas Arjuna mulai tenang. Ia perlahan duduk di kasurnya meski tubuhnya masih terasa letih.
Naomi melenggang menuju pintu kamar dan keluar tak meninggalkan senyuman. Arjuna terdiam. Perasaan aneh muncul di hatinya.
Ia melihat tangannya terikat kuat dengan celana da*am miliknya. Ia juga melihat cairannya menggenangi spreinya.
Naomi bahkan tak tersenyum dan tak terlihat puas akan aksi bercinta mereka malam itu.
"Apa yang salah? Ada apa dengan Naomi?" tanya Arjuna dengan pandangan tak menentu mencoba untuk mencari tahu apa yang terjadi pada perubahan sikap kawan semasa sekolahnya dulu.
Arjuna segera bangkit meski kakinya terasa lemas. Ia melepaskan ikatan di kedua tangannya dengan giginya. Arjuna kebingungan karena sprei di kasurnya kini kotor terkena cairannya.
"Agh, sial! Akan sangat memalukan jika dibersihkan oleh petugas laundry. Hah! Terpaksa mencucinya sendiri," geram Arjuna sembari melepaskan sprei di kasurnya dan membawanya ke kamar mandi.
Ia mencuci sprei itu di bawah guyuran shower di mana ia tak menyangka jika cairannya cukup banyak.
"Sayang sekali. Jika ini ada di rahim Naomi, pasti sudah menjadi anak yang lucu," gumannya sambil mengucek bekas noda itu.
Arjuna terdiam. "Anak? Menjadi seorang Ayah? Aku rasa ... belum saatnya. Aku belum menguasai dunia. Anak hanya akan menjadi penghambat," gumannya lagi yang kini memeras spreinya itu kuat hingga otot-otot di lengannya terlihat jelas menonjol.
Arjuna membawa spreinya itu ke balkon dan menjemurnya. Ia memandangi suasana malam di kota New York di musim gugur.
__ADS_1
"Aku akan mengajak Naomi jalan-jalan besok pagi. Dia pasti lelah dan sedang tertidur lelap. Ngomong-ngomong, wow! Naomi hebat sekali tadi. Sangat berbeda dengan sebelumnya. Dia ... hebat dalam segala hal. Sayang, dia tak sederajat denganku. Seandainya tak ada status sosial di dunia ini, mungkin ... Naomi-lah calon pengantinku, tapi para manusia terdahulu membuat dinding pembatas itu. Kini ... aku dan Naomi terkena imbasnya," ucapnya sembari memegangi besi balkon dan memandangi indahnya malam.
Arjuna masuk dan tidur di sofa panjang malam itu. Ia menyelimuti tubuhnya yang hanya memakai boxer saja. Arjuna tertidur lelap usai melampiaskan hasratnya.
Namun, pagi itu.
"Naomi pergi dan tak ada yang melihatnya? Tak ada yang dipamiti olehnya?" tanya Arjuna dengan mata melotot lebar.
"Ya, Tuan. Saya juga baru menyadari saat akan meminta nona Naomi sarapan bersama, tapi kamarnya sudah rapi bahkan tak ada barang yang tertinggal kecuali mobilnya," jawab Sun serius.
"Argh! Kenapa dia jadi seperti itu? Dia sekarang pergi seenaknya. Dia sudah tak mematuhiku lagi, Sun," geramnya.
Sun menarik nafas dalam. "Mungkin ... dia sengaja melakukannya, Tuan. Ia tahu Anda akan menikah dengan Tessa. Saya bisa mengerti dengan perasaan nona Naomi. Ia tak ingin dianggap sebagai perusak rumah tangga majikannya. Ia meninggalkan Anda demi kebaikan, Tuan," ungkap Sun sopan.
Arjuna menatap Sun tajam.
"Begitukah menurutmu?"
Sun mengangguk. "Jika nona Naomi tetap berada di samping Anda ketika Tessa sudah menikah dengan Anda, cibiran orang-orang akan datang padanya bertubi-tubi. Tessa juga pasti akan cemburu karena ada wanita lain di sisi suaminya. Banyak ucapan buruk yang akan nona Naomi terima. Bahkan, emm maaf jika ini terdengar sedikit menyinggung," ucap Sun tiba-tiba gugup.
"Apa itu, Sun?"
"Saat nona Naomi menjadi Sekretaris Perusahaan dan asisten Anda. Ia pernah dicap sebagai ... wanita simpanan Anda. Mungkin Anda tak pernah mendengarnya, tapi itu pernah menjadi sebuah rumor di Perusahaan. Saya diberitahu agent M dan S tentang hal itu. Mungkin sebab itu, nona Naomi cenderung lebih suka bekerja di lapangan ketimbang di Perusahaan. Cibiran-cibiran itu ... menyakiti hatinya," ungkap Sun pada akhirnya.
Mata Arjuna melebar seketika.
"Siapa yang mengatakan hal menjijikkan itu? Wanita simpanan? Mereka pikir Naomi wanita rendahan? Sembarangan bicara! Akan kurobek mulutnya!" geram Arjuna.
"Anda sibuk di luar, Tuan. Wajar jika Anda tidak tahu. Banyak pegawai bermuka dua di dalam Perusahaan dan selama ini, nona Naomi bersabar menghadapi bahkan melindungi mereka. Tentu saja dengan alasan keberlangsungan Perusahaan."
Nafas Arjuna menderu, ia terlihat begitu marah. Sun berdiri diam menatap Tuan Mudanya seksama.
"Temukan orang-orang itu. Sekap mereka. Biar aku sendiri yang memberikan mereka pelajaran," perintah Arjuna.
Sun mengangguk dan segera melaksanakan tugas dari majikannya. Arjuna berpaling pergi untuk menemui anak buah Sandara.
Red Ribbon ikut menginap di Apartemen Theresia. Arjuna ingin tahu kronologi kejadian usai ia tinggal pergi bersama Naomi saat itu.
ILUSTRASI
SOURCE : PINTEREST
***
Jangan lupa utk memeriahkan acara Room Mafia 1th. Kemarin udah lomba Ozom dan hadiahnya pulsa 50k, kaos, tumbler. Lumayan kan๐
Nah besok tgl 7 jam 4 sore ada lomba lagi. Kuy segera ikutan ya. Lele tunggu partisipasinya. Gak perlu daftar!๐ฅณ
__ADS_1
Tengkiyuw tipsnya. Lele padamu๐๐๐