
Kesepuluh Kolektor sepakat untuk memberikan bantuan kepada Yudhi untuk membalaskan dendam Ahmed yang tewas mengenaskan.
Iskra mengajak para Kolektor menuju ke halaman belakang di mana pasukan berkerudung miliknya telah berkumpul di sana.
Di tengah udara dingin minggu pertama bulan Januari, hati semua orang memanas karena kekejaman No Face.
Terlihat, beberapa petugas wanita berkerudung abu-abu menyiapkan sebuah papan sasaran tembak di halaman tersebut. Yudhi dan para kolektor terlihat serius seketika.
Iskra memberikan kode dengan sebuah telunjuk kanan yang ia angkat ke atas. Seorang wanita berkerudung hitam melangkah maju dengan sorot mata tajam.
Seketika, DOR! DOR! DOR!
Yudhi terkejut karena wanita itu terlihat begitu sigap dan bidikannya tepat sasaran. Pakaian yang dikenakannya hanya kamuflase untuk menutupi persenjataan di dalamnya.
Senyum Yudhi terkembang, ia merasa pilihannya sangat tepat meminta bantuan kepada Kolektor dan pasukan berkerudung.
Tak lama, suara tepuk tangan riuh terdengar memuji kehebatan wanita berkerudung hitam tersebut dengan pakaian seperti seorang suster.
Wanita itu kembali berdiri tegap dan merapikan pakaiannya. Semua persenjataan di balik kerudung dan jubahnya tertutup rapat, seperti seorang penganut agama yang taat.
"Mengesankan dan tak diragukan lagi," ucap Yudhi memuji dan orang-orang di sekitar tempat itu mengangguk sependapat.
Iskra berbicara dalam bahasa Bulgaria dan para wanita berkerudung itu mengangguk paham. Mereka berbaris rapi dan masuk ke sebuah ruangan meninggalkan halaman presentasi. Begitupula Yudhi dan para Kolektor, mereka kembali masuk ke ruang koleksi.
"Oke. Kini, jabarkan pada kami tentang detail penyerangan," pinta Iskra dan Yudhi mengangguk siap.
Di tempat Jonathan berada, Ceko.
Sierra dan Venelope ia masukkan ke dalam sebuah ruangan yang lebih tepatnya penjara. Dua mantan pemimpin No Face itu tak henti-hentinya memanggil nama Jonathan dari balik pintu kayu yang tertutup rapat karena di kurung.
Di ruang kerja Jonathan. Click and Clack terlihat gugup saat Bos mereka melakukan panggilan kepada Lysa dengan men-speaker suaranya. Namun, pandangannya terkunci pada dua bodyguard yang berdiri di depannya.
"Hallo? Ya, ada apa, Nathan?"
"Tobias mana, Kak?" tanyanya to the point.
"Toby? Oh, dia sedang berada di Serbia. Kenapa?"
Praktis, mata Jonathan melebar seketika. Click and Clack saling berpandangan seperti berpikiran jika dugaan mereka tepat.
"Ngapain Tobias ke Serbia?"
"Kenapa kamu tanyanya ketus gitu? Emang ada apa? Kak Lysa gak mau jawab. Kamu ngomongnya gak sopan," tanya Lysa terdengar marah.
__ADS_1
"Oh, jadi ... Kak Lysa lindungi suami penjahatmu itu ya? Oke, oke," jawab Jonathan dengan anggukan kepala.
"Kamu kenapa sih? Kak Lysa gak suka dengan nada bicaramu," tegas Lysa.
"Jadi benar, alasan keluar dari anggota dewan dan ngaku untuk menjalankan bisnis legal cuma akal-akalan aja? Licik juga, tapi ... okelah. Nathan udah sadar. Sekalinya penjahat sampai mati tetap penjahat."
KLEK! TUT ... TUT ... TUT!
Jonathan langsung memblokir nomor Lysa dan melemparkan ponselnya kasar ke atas meja. Ia terlihat marah dan nafasnya memburu.
"Jadi ... Tobias?" tanya Clack dan Jonathan mengangguk.
Jonathan lalu beranjak dari ruangannya dan berjalan keluar diikuti oleh dua bodyguard-nya menuju ke ruangan tempat Sierra disekap.
"Minta 10 anggota dari tim Bunga di Ceko untuk ke Serbia cari Tobias. Siapkan keberangkatan, kita akan ke Serbia nemuin manusia iblis itu," tegas Jonathan menunjuk saat di depan pintu yang mengurung Sierra.
"Yes, Boss," jawab dua pria berkepala gundul itu mantap lalu pergi melaksanakan perintah Jonathan.
Salah satu penjaga di depan kamar membuka pintu yang terkunci dari luar untuk Bos besar mereka. Jonathan masuk dan mendapati Sierra duduk di pinggir ranjang terlihat lesu sedang mengobati luka di tangannya. Pintu kembali di tutup agar sandera mereka tak kabur.
"Oh!" kejut Sierra saat Jonathan mendatanginya dengan sorot mata pembunuh.
Sierra ketakutan. Ia merangkak di atas kasur menjauh dari Jonathan yang semakin dekat mendatanginya hingga ia terpepet sandaran kasur. Sierra pucat dan tak bisa kabur ke mana pun.
Jonathan melirik kedua tangan Sierra di mana gadis itu kembali meneteskan air mata karena tak bisa melawan. BRUKK!
"Ahhh, hiks, apa maumu? Aku lelah, Jonathan. Bunuh saja aku," pintanya yang jatuh tersungkur di atas kasur.
Jonathan mengibaskan tangan kanannya karena beberapa helai rambut Sierra tercabut dan tersangkut di celah-celah jarinya. Jonathan naik ke atas ranjang dan menatap Sierra tajam.
"Aggg!" rintih Sierra lagi yang kini terlentang di atas kasur karena Jonathan memegangi lehernya kuat dengan satu tangan, meski tak mencekiknya. Nafas Sierra menderu hingga dadanya naik-turun karena kesulitan bernapas dan panik.
"Apa yang Tobias lakukan di Serbia? Apa dia memiliki rekanan? Rumah? Atau sebuah markas yang tak kuketahu?" tanya Jonathan menatap Sierra tajam.
"Aku ... aku tidak tahu ... aggg!" rintih Sierra lagi saat wajahnya dicengkeram dan didorong kuat hingga kepala belakangnya cekung ke dalam kasur.
"Kau anaknya, pasti tahu," tegasnya.
"Semua markas The Circle dan No Face sudah kami tunjukkan seperti permintaanmu. Kami tak memiliki apapun di Serbia. Sungguh, aku tak bohong," jawabnya dengan wajah merah padam dan dua tangan bergetar mencoba melepaskan cengkeraman Jonathan di wajahnya.
"Arrrghhh! Bagaimana bisa tak tahu?! Kau harus tahu! Harus!" teriak Jonathan lantang dengan mata terbelalak lebar lalu mendorong tubuh Sierra ke samping dengan kedua tangannya hingga gadis cantik itu jatuh dari atas ranjang ke lantai cukup keras.
Sierra menangis dengan tubuh tengkurap di lantai yang dingin. Jonathan memejamkan matanya rapat dalam posisi bersimpuh di atas kasur.
BRUKK!!
__ADS_1
Pemuda itu terlihat lelah dengan semua masalah yang datang padanya secara tiba-tiba dan terus-menerus.
Jonathan menutup wajahnya dengan kedua tangan lalu menghembuskan nafas panjang melihat langit-langit kamar seraya merentangkan tangan.
Perlahan, amarah Jonathan reda karena mendengar Sierra menangis, tapi Jonathan diam saja. Namun, pemuda itu akhirnya bergulung sampai ke pinggir ranjang dan mendapati Sierra menangis sampai sesenggukan hingga kedua tangannya bergetar.
Jonathan tengkurap di pinggir ranjang dan tangan kanannya terjulur ke bawah. Sierra terkejut saat Jonathan menggapai rambutnya lagi dengan jemarinya.
Tangis Sierra reda, dan ia terlihat ketakutan. Gadis cantik itu tak berani melihat Jonathan, dan tetap memunggunginya.
"Jangan menangis, atau kurobek mulutmu," ucapnya yang membuat Sierra langsung membungkam mulutnya rapat.
Sierra ketakutan dan mendekatkan kedua tangannya di depan dadanya. Jonathan tiba-tiba mencengkeram kuat gaun bagian punggung Sierra dengan kedua tangannya. Sierra panik, tapi tak bisa melawan saat tubuhnya ditarik ke atas.
BRUK!
"Diam. Aku lelah," ucapnya pelan seraya memeluk Sierra dari belakang.
Gadis bermata biru itu terkejut, dan hanya bisa pasrah dengan yang Jonathan lakukan. Ia tetap memunggungi pemuda yang kini memiliki tato di kedua tangannya. Ia tak bisa kabur ke mana pun karena Jonathan mendekapnya erat.
Perlahan, Sierra bisa merasakan dekapan Jonathan melemah. Ia mendengar dengkuran lirih. Sierra menyadari jika pemuda itu telah tertidur lelap.
Sierra menarik nafas dalam dan menenangkan hatinya. Ia mencoba untuk membalik tubuhnya untuk memastikan hal itu, dan usahanya berhasil. Jonathan tetap dalam posisinya.
Saat Sierra akan bangun, ia malah terpaku dengan sosok pria yang menyiksanya terlihat damai dalam tidurnya. Perlahan, Sierra kembali meletakkan kepalanya. Ia menatap Jonathan lekat.
Tiba-tiba saja, ingatan lamanya kembali saat Sierra yang pernah menjadi kekasih Jonathan muncul di pikirannya.
Sierra terlihat kaget sampai tubuhnya tersentak, dan hal itu membuat Jonathan kembali bergerak. Sierra segera memejamkan matanya pura-pura tertidur.
Jonathan membuka matanya yang sayu dan menatap gadis yang tidur di sampingnya dalam.
Cukup lama pemuda itu memandanginya dan semakin merapatkan tubuhnya ke gadis yang dulu pernah dicintainya. Jonathan kembali memejamkan mata dan tertidur.
Senyum Sierra terkembang, ia merasa nyaman dengan pelukan Jonathan. Kini, ia tak lagi memberontak dan memilih untuk menemani mantan kekasihnya tidur di malam yang mulai larut.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
uhuy tipsnya abis😆 lele nguantuk gaes, mau ikutan bobo ah. sayangnya bukan wajah ganteng bang zayn malik yang terlihat tapi babang monster. sib nasib😩 aku mau crazy up simulation ah bisa gak yaa😁
__ADS_1