
Afro melaju kencang dengan mobilnya menuju ke titik yang diyakininya bisa menemukan Sandara.
Penglihatan Afro menajam, matanya sibuk memindai sekitar saat melewati jalanan gelap itu sendirian. Hingga akhirnya, CITT!
"Hah! Hah!" Afro turun dari mobil dan menemukan sebuah jejak sepatu baru saat menyusuri pinggir sungai.
Afro membiarkan mobilnya menyala untuk menerangi sekitar. Ia berjalan mengikuti jejak itu hingga akhirnya menghilang begitu saja.
Afro langsung menghentikan langkah. Ia berdiri dan matanya memindai sekitar mencari hal apapun yang mencurigakan. Hingga tiba-tiba, BROOM!
"Hei! Hei!" teriak Afro lantang, saat mobilnya yang ia tinggal dimasuki oleh seseorang dan dimundurkan.
Mata Afro melebar. Ia melihat seseorang mencuri mobilnya. Afro mempercepat laju larinya, tapi mobilnya dengan gesit berputar dan mulai melaju meninggalkannya.
Dengan sigap, Afro mengeluarkan remote pengendali jarak jauh dari dalam saku celananya.
Seketika, PIP! Mobil itu berhenti karena mesin mati. Afro semakin kencang berlari saat melihat pintu mobilnya akan dibuka, tapi lagi-lagi, PIP! KLEK! Seluruh pintu telah terkunci dari pengendali jarak jauh dalam genggamannya.
Afro berhasil mendekati mobilnya dan langsung berdiri di samping pintu kemudi dengan napas tersengal.
"Dasar pencu—" Seketika, mata Afro melebar ketika mendapati seorang gadis menatapnya dengan mata terbelalak. Netra keduanya saling beradu. Afro mematung saat dua bola mata cantik itu ikut terpaku.
PIP! KLEK! CEKLEK!
Mata Afro masih terkunci pada sosok di balik jendela mobilnya. Afro membuka pintu dengan pengendali di tangannya.
Afro menarik pintu samping dudukkan kemudi mobilnya lebih lebar. Ia berdiri di samping seorang gadis berambut panjang yang menutupi sebagian wajahnya.
"Kak Afro?" panggil gadis itu lirih.
"Dara?" balas Afro menatap dua mata itu lekat.
Perlahan, genangan air muncul di dua mata indah gadis itu. Gadis itu mengangguk pelan dan pada akhirnya, air mata itu menetes perlahan.
Afro langsung memeluk Sandara erat sampai matanya bergerak tak beraturan. Sandara balas memeluk pria yang dulu sangat ia harapkan bisa menjadi suaminya.
Afro melepaskan pelukannya dan terlihat kesulitan untuk berkata-kata karena matanya sibuk memindai sosok di depannya.
"Oh!" kejut Sandara saat penutup wajahnya dibuka oleh Afro dan pemuda itu terlihat kaget dengan temuannya.
"Kau ... apa yang terjadi?" tanya Afro mengulurkan tangan perlahan terlihat ragu.
Sandara memalingkan wajah dengan pandangan tertunduk. Afro mengurungkan niat memegang wajah dari gadis yang selalu dirindukannya, meski kini telah berubah.
__ADS_1
Sandara tak bicara, ia hanya tertunduk tak berani menatap mata pria yang memandanginya lekat.
"Kau bisa ceritakan nanti. Kita pergi dari sini," ucap Afro pelan dengan senyuman dan Sandara mengangguk.
Gadis cantik itu menggeser dudukkannya dan kini duduk di sebelah Afro yang mengemudikan mobilnya. Mata Afro masih sibuk mengamati Sandara yang telah berubah sejak terakhir kali mereka bertemu beberapa tahun silam.
"Jangan takut. Aku akan melindungimu. Kau percaya padaku 'kan?" tanya Afro dan Sandara mengangguk pelan.
Afro menarik napas dalam. Ia segera melaju kendaraannya kencang meninggalkan wilayah gelap tak ada pemukiman di sekitar tempat itu.
Afro dan Sandara terdiam selama perjalanan. Hingga tiba-tiba, Afro mengaktifkan Pemancar Fatamorgana portabel yang terpasang di mobilnya. Praktis, pergerakan Afro yang tadinya terpantau oleh Kai hilang dari tampilan GIGA.
"Afro kabur! Temukan dia!" teriak Kai langsung tersulut emosi karena merasa ditipu oleh Afro.
Red Ribbon kembali dibuat pusing. Sandara belum ditemukan dan kini Afro menghilang. Malam terasa semakin panjang bagi anggota Red Ribbon dan anak buah Afro karena aksi gila yang dilakukan oleh keturunan Elios tersebut.
"Kita mau ke mana?" tanya Sandara bingung karena mobil menuju ke perkotaan, tapi Afro hanya tersenyum dan terus mengemudikan mobilnya sampai ke sebuah kawasan apartemen.
"Pakai penutup wajahmu," pinta Afro saat membawa mobilnya masuk ke halaman gedung bertingkat tersebut lalu turun ke basement.
Sandara mengikuti perintah Afro dan membiarkan dirinya di bawa ke tempat yang tak diketahui.
Hingga akhirnya, mobil telah terparkir dengan sempurna. Afro mengajak Sandara turun dan menggandengnya. Sandara terlihat gugup karena sudah lama sekali ia tak bertemu dengan Afro dan bersentuhan dengannya.
Afro tak menjawab dan hanya tersenyum seraya menoleh ke arah Sandara yang tampak bingung dengan perlakuannya.
Tak lama, mereka tiba di lantai 10. Sandara terlihat kagum saat pintu lift terbuka. Tampak sebuah ruangan cukup besar di dominasi warna gelap dengan pemandangan kota malam hari dari balik jendela.
Afro mengajak Sandara masuk ke dalam. Sandara melangkah perlahan terlihat gugup, tapi ia menyadari jika di tempat itu hanya ada mereka berdua.
Tiba-tiba saja, Afro yang sudah melepaskan jaket tebalnya memepetnya ke dinding. Sandara terkejut saat Afro melepaskan topi, masker penutup wajah dan jaket tebalnya dengan tergesa.
Sandara merasa seperti dirinya ditelanjangi dan hanya menyisakan bra, celana jeans dan sepatu boots yang masih ia kenakan.
"Speak!" perintah Afro yang membiarkan pakaian Sandara berserakan di lantai.
"Kau gila! Apa yang kaulakukan, Kak Afro!" teriak Sandara terlihat begitu marah hingga napasnya tersengal menatap pria di depannya tajam.
Perlahan, senyum Afro terkembang. Sandara terlihat bingung saat Afro memeluknya erat lalu melepaskannya perlahan.
"Ini sungguh kau. Aku pikir ... kau ... orang lain yang sengaja dibuat mirip sepertimu. Suaramu memang seperti Sandara, tapi wajah ini ...," ucap Afro pelan seraya menyentuh pipi kanan Sandara dengan telunjuknya. Sandara terdiam terlihat bingung.
"Kau ... tak percaya jika ini aku?" tanya Sandara terlihat sedih.
__ADS_1
"Jawab pertanyaanku dengan cepat untuk membuktikannya. Hanya Sandara asli yang tahu tentang kejadian itu. Salah menjawab, aku akan membawamu saat ini juga kepada Kai, ayah Sandara," tegas Afro. "Tetap tatap aku, berani kau berpaling, kuanggap kau berbohong," sambungnya dan Sandara mengangguk pelan seraya menatap mata Afro lekat yang menatapnya tajam.
Afro terdiam untuk beberapa saat dengan kedua tangan ia julurkan untuk mengapit kepala Sandara seperti mengurungnya. Sandara berdiri terpepet tembok dengan tubuh dan wajah Afro tepat di hadapannya.
"Ceritakan tentang rumah persembunyianku di Perancis."
"Rumah itu milik mendiang ibumu. Berada di Pagny Sur Meuse. Terakhir yang kuingat, kau meledakkannya dengan aku, kak Juna, Tessa, dan Sun di dalam sana," jawab Sandara pelan.
Afro tersenyum miring.
"Katakan padaku, seperti apa ketukan yang menandakan jika Sandara datang ke rumahku," tanya Afro tajam.
Sandara mengangkat tangan kanannya dalam bentuk mengepal seperti akan mengetuk pintu.
"Totototok! Tok! Tok!" ucapnya seraya mempraktekkan seperti mengetuk pintu di hadapan Afro.
Pemuda tampan itu menyipitkan mata. Sandara kembali menurunkan tangan dan masih menatap mata Afro lekat dengan wajah sendu.
"Bagaimana dengan kereta api?"
"Kita menuju stasiun mengendarai sepeda. Kau menjadi kakek tua. Aku meninggalkanmu uang. Kau juga memasak untukku. Dan ... pertama kalinya kau mengizinkanku untuk menyentuh milikmu. Kau bilang jika tak dikeluarkan akan sakit jadi aku terus mengocoknya sampai tanganku pegal," jawabnya lugu.
Praktis, mata Afro melebar. Ia langsung menangkap wajah Sandara dan terlihat begitu terkejut.
Sandara berdiri dengan gugup karena Afro malah mengamati setiap inci tubuhnya dan merabanya. Sandara memejamkan mata ketika Afro seperti mencari sesuatu di tubuhnya.
"Kau tak memakai pelacak. Apa ditanam dalam tubuhmu?" tanya Afro saat ia berjongkok dan melepaskan celana yang Sandara pakai.
"Aku bahkan tak membawa uang dan lainnya, Kak Afro. Hanya diriku," jawabnya pelan dan pasrah yang kini mengenakan pakaian dalaam saja.
Senyum Afro terbit. Ia memeluk Sandara untuk kesekian kalinya seraya mencium bibirnya sampai matanya terpejam. Sandara terkejut, tapi perlahan, ia membalas pelukan dan ciuman itu.
"Kau ke mana saja?" tanya Afro sedih. Sandara diam tak menjawab. "Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau sampai merubah wajahmu dan ... apakah ... kau melakukan sesuatu dengan dadamu? Seingatku terakhir kali, tak sebesar ini," tanya Afro menujuk buah dada Sandara yang terlihat lebih besar dari yang terakhir, meski telah tertutupi rambut panjangnya.
Sandara diam terlihat malu. Ia menutup dadanya dengan kedua tangan. Afro tersenyum karena baginya Sandara masih sama, lugu dan manis. Meskipun wajahnya telah berubah dan terlihat lebih dewasa, Afro masih mencintainya.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
Uhuy tengkiyuw tipsnya jeng Carmen. Lele padamu❤️
__ADS_1