4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Pura-pura


__ADS_3

September Minggu Kedua.


Di sisi lain. Lysa akhirnya kembali ke Jerman. Ia dalam pengawasan khusus oleh orang-orang di perusahaannya yang kini harus ikut terlibat dalam kehidupan bos mereka.


Lysa mengurung diri di kamar, tapi ada pelayan yang tinggal untuk mengurusnya.


Ruang tengah apartemen Marlena.


Mereka bicara dalam bahasa Jerman. Terjemahan.


"Bagaimana?" tanya seorang wanita paruh baya menatap seorang lelaki di depannya.


"Ini lebih buruk ketimbang gempuran yang dilakukan oleh militer saat itu terhadap perusahaan Marlena. Di tangan Lysa, aku tak yakin jika perusahaan akan bertahan jika kondisi bos kita terus seperti ini," jawab seorang pria dengan rambut sudah beruban.


"Han, Kai, bahkan Vesper tak bisa dihubungi. Apakah benar, kabar yang mengatakan jika mereka sudah pensiun dari dunia mafia? Bagaimana bisa mafia besar seperti mereka melepaskan kekuasaan begitu saja? Sekarang kita harus bagaimana? Para Pion tak ada untuk membantu kita. Jujur kuakui, keberadaan mereka cukup membantu, meski awalnya aku cemas karena perangai Tobias yang tak lazim," sahut seorang wanita berambut sebahu dan berkacamata.


Orang-orang itu duduk dengan wajah cemas dan terlihat tegang.


"Selama ini, hanya kita berlima yang tahu siapa Lysa sebenarnya, termasuk orang-orang yang masih memegang kendali di Perusahaan. Namun, entah kenapa, meskipun mereka mafia, tapi aku tak merasa takut atau terusik. Malah, ada rasa nyaman karena keamanan yang mereka berikan. Hanya saja, jika kondisi perusahaan terus seperti ini, kita bisa bangkrut," tegas seorang pria berkacamata sampai keningnya berkerut.


"Kira-kira ... siapa dalam jajaran dewan yang bisa membantu kita tanpa harus melibatkan Lysa? Jujur, melihat kondisinya, aku tak yakin jika ia bisa memimpin perusahaan. Ia ... seperti orang depresi," tanya salah seorang wanita dengan rambut digulung ke atas.


"Oh! Bagaimana dengan sultan Javier? Maksudku ... meskipun mereka telah bercerai, tapi aku yakin, dia bisa membantu," sahut pria beruban.


"Kau yakin?" tanya wanita rambut sebahu, dan diangguki oleh pria itu. "Hem, aku punya nomor beliau. Baik, akan kucoba hubungi. Semoga ... kita mendapatkan kabar baik," ucapnya ragu dan diangguki semua orang.


Kediaman Javier, Oman.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


"Aku mengerti. Baik. Akan kubantu. Bukan karena Lysa, tapi ... karena perusahaan itu akan menjadi milik Fara nantinya selaku penerus kepemimpinan. Aku akan terbang besok dan langsung menuju ke perusahaan," jawab Javier dengan wajah datar duduk di singgasananya.


"Lysa? Aku tak peduli. Dia bukan isteriku lagi, dan aku ... tidak mencintainya. Aku rasa, jawabanku ini cukup tegas. Jadi, jangan tanyakan lagi soal hubunganku dengannya. Dia yang membuat semuanya menjadi rumit dan dipenuhi dendam. Kalian pasti mengerti yang kukatakan," sambung Javier tenang. "Bagus. Sampai jumpa. Salam."


King D menatap ayahnya lekat termasuk Fara yang kini ikut dengannya. Javier meletakkan ponselnya di meja samping ia duduk.


Mereka bicara dalam bahasa Indonesia.


"Baba. Apa mimi sakit?" tanya King D terlihat sedih. Javier tersenyum.


"Mimimu wanita kuat. Dia bisa mengatasinya. Jadi ... besok Baba akan ke Jerman dan sepertinya akan sedikit lama di sana. Kalian tak perlu ikut. Kalian akan aman bersama nenek dan kakek. Jadi, Baba akan meminta kepada bibi Buffalo untuk menjemput kalian. Oke?" ucap Javier seraya mengelus kepala kedua anaknya.


"Oke," jawab Fara dan King D bersamaan. Javier tersenyum lebar.


Di tempat Sandara berada.


Siapa sangka, gadis cantik itu kini harus berurusan dengan 'Kolektor' yang mengirimkan pasukan pembunuhnya untuk menghabisi nyawa Sandara.


"Dara!" teriak Biawak Putih lantang saat Sandara jatuh tersungkur di atas rumput.


Mereka kembali ke Turki di mana Sandara berencana untuk melihat kembali gua peninggalan Lucifer karena ia yakin jika ada petunjuk yang tertinggal dan belum terpecahkan.


Namun, siapa sangka dirinya malah bertemu dengan para wanita berkerudung di mana tempat itu telah diawasi sebelumnya oleh Sudan.


"Agh!" erang Sandara saat melemparkan pisau-pisau tajamnya yang disembunyikan dalam kostum khususnya yang kini menjadi pakaian tempurnya.


SWING! JLEB! JLEB!


"Bangun, cepat! Bidikan bagus!" ucap Biawak Putih seraya membangunkan Sandara saat gadis itu berhasil mengenai dua wanita berkerudung yang berlari ke arahnya, siap untuk menangkapnya.


DODODODOOR!!


"Mati kau, Sandara!" teriak Sudan yang muncul dari sebuah helikopter dengan senjata gatling.


Sudan memberondong anak buah Sandara yang sedang melintas di atas padang rumput menuju ke Black Stone.


Suara erangan kematian terdengar bersahut-sahutan karena mereka tak mampu melawan peluru-peluru tajam itu. Satu per satu, anak buah Sandara tewas.


Biawak Putih dan Sandara panik. Keduanya bergegas berdiri dan berlari kencang memasuki hutan menghindari serangan brutal itu.


"Jangan kabur, Sandara! Inilah akibat kau mengkhianatiku dan malah membunuh anakku! Tiada ampun bagimu!" teriak Sudan marah dengan moncong senjata kini ia arahkan ke dua manusia yang bersusah payah menghindari tembakan.


Namun, saat Sandara dan Biawak telah berhasil memasuki hutan, dari arah kediaman Ahmed, para pasukan berkerudung datang.

__ADS_1


Langkah Sandara dan Biawak Putih terhenti seketika. Mereka panik karena sudah terkepung dan tak memiliki tempat untuk lari.


"Hah, hah, gak ada jalan lagi, Dara!" seru Biawak Putih dengan napas tersengal hingga rambut gondrongnya basah.


Sandara melihat sekitar dan akhirnya menarik tangan Biawak menuju ke sebuah tempat. Keduanya berlari kencang dengan tergesa.


Biawak Putih bingung saat Sandara tiba-tiba menghentikan langkah dan menekan sebuah batang pohon. Tak diduga, GREK!


"WAAAA!" teriak Biawak Putih saat tanah yang dipijaknya bergeser. Biawak Putih jatuh ke dalam lorong dengan cepat dalam kegelapan. Sandara bergegas mendekati lubang dan ikut melompat.


BRUKK!


"Wadoh!" rintih Biawak Putih saat tubuhnya ditabrak oleh Sandara yang meluncur dengan cepat dan mengenai punggungnya.


Sandara bergegas berdiri dan menekan tombol lagi untuk menutup jalan masuk ke gua itu. Sandara berdiri dengan kepala mendongak ke atas untuk memastikan jika mereka tak diikuti. Sayangnya ....


"Mereka menyusul kita! Sial! Mereka tahu jalan masuknya!" pekik Sandara gusar saat lubang itu kembali dibuka.


"Dara!" pekik Biawak Putih sembari menunjuk ke arah kursi batu.


Tempat Jonathan dulu menemukan gua peninggalan Lucifer pertama kali berikut wasiatnya. Sandara merasa terkepung dari dua sisi dan tak mungkin lolos.


Biawak Putih dengan sigap mengeluarkan sebuah granat dari dalam sakunya. Sandara melihat granat itu dan menatap pria yang menyelamatkannya lekat.


"Ini Rainbow Gas terakhir. Dan sayangnya, tidak ada serum penawar. Kita gak mungkin lolos, Dara," ucap Biawak Putih pasrah.


Napas Sandara tersengal. Ia masih diam saja lalu melihat sekitar seperti memikirkan sesuatu.


Tiba-tiba, matanya melebar. Ia berlari mendekati kolam di mana dulunya ikan lele besar tinggal di dalamnya.


Sandara melemparkan bola cahaya portabel ke dalam kolam itu untuk memastikan dugaannya. Biawak Putih segera mendekat dan ikut melihat dalam kolam.


"Oke, aku paham," ucap Biawak Putih dengan anggukan dan Sandara ikut mengangguk.


BYUR!


Sandara melompat ke dalam kolam dengan sigap. Biawak Putih segera melemparkan Rainbow Gas ke arah bawah prosotan begitu ia melihat bayangan datang dari lorong itu.


Biawak Putih ikut melompat. Ia mendekati bola cahaya yang Sandara gunakan. Ternyata, kolam itu tak begitu dalam. Sandara menggerakkan tangannya seperti mengajak ke suatu tempat.


Biawak Putih berenang mengikuti Sandara yang membawa bola cahaya itu sebagai penerang. Terdengar dalam samar, suara erangan dari pihak Sudan yang terkena dampak dari gas membuat buta tersebut.


Sandara terus berenang melawan arus yang memasuki sebuah lorong bawah air dalam kolam. Sandara berusaha keras saat tubuhnya tak mampu melawan kuatnya arus yang masuk.


Biawak Putih mendorong Sandara kuat dari belakang. Akhirnya, Sandara bisa melewati arus itu, meski ia harus merayap di dinding lorong.


Ternyata, lorong itu membawa mereka ke sebuah tempat yang lebih luas. Napas Sandara tercekik dan terlihat sudah tak mampu bertahan lagi.


"Uhuk! Ohok!" Sandara mengeluarkan gelembung udara dari mulutnya.


Wajah gadis itu pucat dengan otot menegang. Sandara tak sanggup naik ke permukaan karena sudah kehabisan napas. Tubuhnya lemas dan ia tergolek dalam air dalam.


Namun dengan sigap, Biawak Putih segera mendorong tubuh Sandara ke permukaan. Jam tangan yang digunakan oleh pria berambut gondrong itu berkedip saat ia berhasil membawa Sandara naik.


SPLASH!


"Hah! Hah! Dara!" pekik Biawak Putih panik karena Sandara memejamkan mata dengan tubuh lunglai.


Namun tak lama, NGENGG!!


"Woiii! Sebelah sini!" teriak Biawak Putih melambaikan tangan, meski tubuhnya timbul tenggelam karena membawa beban.


"Untung kamu selamat. Cepet, cepet, Sudan mulai gak waras! Kita harus pergi dari sini," sahut Biawak Cokelat segera menaikkan kawannya dengan menggapai tangannya.


Biawak Kuning menarik tubuh Sandara ke atas perahu karet dengan kuat. Sandara tak sadarkan diri dengan tubuh basah kuyup.


Lucy dengan cepat mengemudikan perahu itu menuju ke tepian di mana lorong itu menembus ke Black Sea.


Biawak Kuning melakukan CPR di mana ia yakin jika Sandara masih hidup dan bisa diselamatkan.


"Serius? Jadi selama ini kau hanya berlagak terkena gas halusinasi untuk mengetahui rencana Sandara? Great, kami semua tertipu," keluh Lucy dengan wajah sebal.


"Kalau gak gitu, mana Putih bisa tahu," sahut Pria gondrong itu seraya mengambil botol air mineral lalu meneguknya.

__ADS_1


"Kita udah yakin kalau Putih gak mungkin tumbang gitu aja. Pasti dia bikin trik. Bener 'kan, untung kita tepat waktu," sahut Cokelat seraya memberikan handuk untuk kawannya.


"Uhuk! Uhuk!"


"Stt, udah sadar," bisik Biawak Kuning dengan wajah serius.


Biawak Putih, Cokelat, Kuning dan Lucy mengangguk pelan. Wajah mereka berubah datar seketika.


"Hah, hah, kalian?" tanya Sandara terkejut saat ia membuka mata dan mendapati wajah-wajah yang dikenal.


Saat Biawak Putih akan membuka mulut untuk menjelaskan, tiba-tiba saja ....


"Sandara! Kau tak akan lolos dariku! Mati kau!" teriak Sudan yang sosoknya muncul dari balik bukit dengan helikopter dan senjata membunuhnya.


"Buset! Gak ada capeknya!" seru Biawak Cokelat dengan mata melotot.


Dengan sigap, Lucy mengemudikan perahu karet tersebut menuju ke bibir pantai. Tempat itu ramai oleh pengunjung karena kawasan wisata.


"Serang kita kalau berani!" seru Biawak Cokelat menantang.


Namun, Sudan yang sudah gelap mata, tak menghiraukan banyaknya sipil yang sedang menikmati keindahan pantai di hari menjelang sore.


"Gas aja, Lus! Tabrak!" seru Biawak Kuning sudah berpegangan kuat pada badan kapal.


"Agh! Pegangan!" seru Lucy lantang yang nekat menerobos bibir pantai di mana banyak pengunjung sedang duduk menikmati keindahan pantai.


"AAAA!" teriak orang-orang saat sebuah perahu dengan kecepatan penuh menerobos pantai pasir putih tersebut hingga naik ke atas daratan.


DODODODOOR!


"AAAAA!" teriak pengunjung histeris saat muncul sebuah helikopter mengejar dengan menggelontorkan seluruh peluru membidik perahu karet tersebut.


"Jump!" titah Sandara yang dengan sigap melompat tak menunggu kawan-kawannya.


"Bocah edan, kita ditinggal!" seru Cokelat kesal, tapi pada akhirnya melompat.


Sandara melihat Sudan masih membidiknya. Sandara sengaja berlari diantara kerumunan orang-orang yang berusaha kabur agar tak terbunuh.


"Heh, ayo!" ajak Biawak Putih kepada tiga kawannya. Biawak Cokelat, Kuning dan Lucy mengangguk.


Mereka berlari berlawanan arah meninggalkan Sandara. Biawak Putih yang akhirnya paham dengan watak Sandara memutuskan untuk menyudahi membantunya.


Putih yang juga telah mengetahui rencana dari Miles setelah membaca pesan dari Biawak Kuning, memilih menggunakan cara sendiri untuk menyelesaikan dendam antara Kolektor dengan Sandara nantinya tanpa sepengetahuan puteri dari Kai.


"Udah dipersiapkan?" tanya Biawak Putih seraya berlari bersama tiga kawannya.


"Udah, Kang. Kita segera pergi dari sini menuju Bulgaria. Cokelat berhasil menghubungi salah satu Kolektor dan dia mau bertemu setelah pakai embel-embel Ahmed, pak Sutejo dan Vesper. Beruntung, nama Biawak dikenal sama mereka. Herannya, kok Eko bisa gak tau ya? Apa mungkin, gak semua informasi pak Tejo beberkan ke si gundul?" tanya Biawak Cokelat heran.


"Embuhlah. Pikir nanti. Cepet pergi," ajak Biawak Putih saat mereka telah berhenti di sebuah mobil yang telah disiapkan oleh Lucy.


Kali ini, Biawak Kuning mengemudikan mobil untuk membawa kawan-kawannya menyeberang menuju ke Bulgaria demi misi khusus.


Sedang Sandara yang masih sibuk melarikan diri dari Sudan, tak menyadari jika ia sudah terpisah dengan kawan-kawannya.


Sandara akhirnya sendiri setelah ia berhasil lolos dari kejaran Sudan. Sandara kebingungan ke arah mana ia harus pergi.


Sandara memutuskan untuk bersembunyi di sebuah rumah peristirahatan yang jauh dari pantai di mana tempat itu sepi seperti tak ada tamu yang menginap.


Sandara masuk begitu saja ke sebuah kamar setelah ia mengambil kunci di meja resepsionis. Sandara mengunci dirinya di kamar dan membiarkan dalam kegelapan.


Napas gadis itu tersengal dan akhirnya duduk dengan lesu di samping kasur. Sandara terlihat begitu sedih. Ia meneteskan air mata, tapi tak menangis.


"Di mana Biawak Putih dan lainnya? Kenapa hidupku begitu sulit? Kenapa semua orang ingin membunuhku? Apakah ... mereka tak lagi peduli padaku?" tanya Sandara seraya memeluk tubuhnya dengan pakaian masih basah.


Gadis itu menekuk lutut dan memeluknya. Sandara membenamkan wajahnya di balik lututnya.


Gadis itu bersedih. Hatinya kembali terpuruk usai mengalami kejadian yang tak ada habisnya ingin merenggut nyawanya.


***



uhuy tengkiyuw tipsnya❤️ puanjang nih epsnya 2k lebih smg puas meski lele lemas karena diare melanda😩 doain cepet sembuh ya❤️ amin~

__ADS_1


__ADS_2