
Jerman, Apartemen Marlena yang kini ditempati oleh Lysa, Tobias, Yuki, bayi Fara, Pion Damian, dan Darwin.
Terlihat, Lysa seperti mengalami tekanan dalam hidupnya setelah ia menyatakan keluar dari keanggotaan 13 Demon Heads demi memilih hidup layaknya warga negara sipil.
Yuki duduk di samping sahabatnya mencoba menenangkan hati Lysa yang kalut. Torin ikut duduk di sana menghadap dua wanita yang dirundung kebimbangan.
"Oke, masalah ini cukup pelik. Anggota Dewan memutuskan untuk tak menggunakan The Circle Jonathan karena berpikir jika Miles dendam padanya. Terlebih, kabar mengejutkan datang jika Cassie, kekasih Jonathan dulu hamil anaknya. Banyak dugaan terjadi," ucap Torin membuka obrolan.
"Maksudmu ... Miles balas dendam kepada Jonathan karena anaknya dihamili olehnya begitu?" tebak Yuki, dan Torin mengangguk.
"Tapi kalian dengar sendiri yang dikatakan oleh Javier padaku. The Eyes yang kutempatkan di Pos Daruratnya terkena dampak juga. Javier mengatakan jika Miles menginginkan Toby. Aku sungguh tak mengerti dengan semua pola penyerangan ini," ungkap Lysa mengutarakan pemikirannya.
"Mungkin saja Miles tak setuju usai ia mengetahui jika Tobias memilih membubarkan The Circle dan No Face yang telah ia pegang teguh selama ini, dan menganggap keinginan suamimu untuk menjadi pengusaha legal layaknya warga sipil lelucon untuknya," sahut Yuki.
"Ya, itu bisa saja. Miles sengaja memancing kemarahan Tobias agar ia memiliki alasan untuk berperang. Sayangnya, jejak Miles tak kita temukan, termasuk para pria narkotika itu. Mereka raib begitu saja. Namun aku cukup yakin, jika mereka mengawasi gerak-gerik kita, Lysa," tegas Torin.
Lysa dan Yuki mengangguk setuju. Suasana kembali hening. Lysa, Yuki dan Torin terlihat berpikir serius tentang hal ini.
"Aku akan bicarakan hal ini dengan Toby," ucap Lysa seraya berdiri. Yuki dan Torin mengangguk.
Lysa pergi meninggalkan dua kawannya menuju ke ruang kerja. Yuki terlihat pusing. Wanita cantik itu memijat kepalanya yang terasa berat. Torin beranjak dari dudukkannya dan mendekat.
"Kau tak apa? Kau terlihat pucat dan lesu akhir-akhir ini," tanya Torin menatap wanita berwajah Asia itu dengan saksama.
"Saat aku mulai merasakan nyaman dengan kehidupan layaknya orang normal, masalah muncul, Torin. Akankan kita berperang lagi? Kukira, setelah orang-orang itu memutuskan membubarkan kelompok dari musuh bebuyutan kita selama ini, masalah akan selesai," jawab Yuki lesu.
Torin menatap Yuki lekat lalu meraih kedua tangannya lembut. Yuki menoleh dan mendapati Torin tersenyum manis padanya.
"Sebelum hal buruk terjadi, maukah kau menikah denganku?"
Yuki mematung seketika. Ia malah mengedipkan matanya berulang kali terlihat kaget dan bingung.
"Aku serius. Aku ... mungkin memang tak sehebat atau sekeren Sergei. Namun jujur, Yuki. Aku sangat menginginkan memiliki keluarga. Setelah kematian seluruh anggota keluargaku, hanya Axton keluargaku, tapi setelah meninggalnya psikopat itu, aku ... kesepian, seperti kehilangan gairah hidup. Aku juga sama sepertimu, mulai menikmati hidup layaknya warga negara yang baik tanpa terlibat jauh dalam dunia mafia," ucapnya menjelaskan dan masih memegang tangan Yuki erat.
"Mm, soal itu ...," jawab Yuki gugup dengan pandangan tertuju pada genggaman tangan Torin di atas pangkuannya.
"Apa aku tak salah dengar?" sahut Lysa tiba-tiba berdiri di kejauhan dengan wajah lugunya.
"Oh!" kejut Yuki langsung melepaskan genggaman tangan Torin. Keduanya malah salah tingkah, Lysa tersenyum.
"Hei, aku rasa itu keputusan yang bagus, Yuki. Kau memang butuh pendamping, dan aku rasa ... Torin mengenalmu cukup baik. Kalian pernah bertempur bersama, dan kalian juga dari latar belakang keluarga yang setara. Apalagi yang mengganggu pikiranmu untuk menjawab 'ya'?" tanya Lysa seraya mendekat.
Yuki terlihat gugup. Torin menatap Yuki saksama yang menundukkan wajah.
"Oh, aku taku. Pasti kau takut dengan Eiji 'kan? Kau trauma saat dia pernah menolak hubunganmu dengan Sergei saat itu. Benar 'kan?" tanya Lysa menunjuk dan Yuki langsung melebarkan mata seperti kepergok.
"Jadi ... alasanmu ragu karena Eiji? Oke, aku akan meneleponnya sekarang juga," jawab Torin langsung mengeluarkan ponsel, tapi malah membuat Yuki panik dan berusaha menahannya.
Namun, Torin yang bersungguh-sungguh dengan keinginannya tak peduli. Yuki makin panik sampai menggigit ujung jarinya, Lysa terkekeh.
"Hallo? Torin?" tanya Eiji dengan suara diperdengarkan dari sambungan telepon.
__ADS_1
"Hai, Kakak ipar," jawabnya riang.
"Kakak ipar? Apa maksudmua berkata demikian?" tanya Eiji langsung ketus.
"Oh maksudku ... calon Kakak ipar."
"Apa kau salah menelepon orang?" tanya Eiji terdengar kesal.
Yuki makin panik dan meminta panggilan itu diputus, tapi Torin menolak dan memegang ponsel itu erat dalam genggamannya. Lysa menahan tawanya.
"Tidak, Eiji. Mm, aku ... menyukai Adikmu, dan berkeinginan untuk menikahinya. Jadi ... tolong jangan dipersulit. Restui kami ya," jawabnya santai, tapi membuat Yuki ingin meremat pria di depannya.
Lysa terkekeh di belakang sofa karena sikap Torin sungguh tak beretika.
"Ha? Kau bilang apa?"
"Aku ingin menikahi Adikmu! Jangan dipersulit!" jawabnya berteriak.
Spontan, Lysa tertawa terbahak karena Torin ngotot. Yuki serasa ingin pingsan, ia langsung terlentang di sofa seakan nyawanya melayang entah ke mana.
"Kemari, dan bicara yang benar. Jangan main-main," tegasnya.
"Oke. Aku akan terbang besok. Jadi ... siapkan restumu, jangan mengecewakanku ya. Sampai jumpa, Kakak ipar," jawabnya dengan senyum terkembang lalu menutup telepon.
"Toriiinn!" teriak Yuki lantang dan memukul lengannya kuat hingga pria itu meringkuk di atas sofa menahan kemurkaan calon isterinya.
"Ya Allah, sungguh, ini mengejutkan dan seru sekali. Ayolah, Yuki. Torin bahkan sudah berani meminta restu pada Eiji. Pergilah besok. Jangan khawatirkan perusahaan, aku dan para Pion bisa mengurusnya," ucap Lysa dengan senyuman, tapi Yuki malah cemberut.
Torin terkekeh dan meninggalkan calon isterinya menuju ke kamar tempat ia tinggal sementara waktu karena membahas konflik dalam jajaran 13 Demon Heads.
Lysa mendekati sahabatnya dan duduk di sebelahnya. Yuki terlihat gelisah.
"Kalian berdua pasti akan disetujui oleh Eiji. Aku yakin itu," ucap Lysa dengan senyum terkembang, dan Yuki hanya diam dengan pandangan tertunduk. Lysa menatap sahabatnya lekat. "Ada apa? Apa yang mengganggumu? Apakah Sergei?"
Yuki menghembuskan nafas panjang. "Tidak. Aku ... entahlah, Lysa. Aku selama ini tak berani menaruh perasaan berlebih pada Torin. Aku takut dikecewakan seperti saat aku bersama Sergei dulu. Kau tahu 'kan, kami saat itu juga hampir menikah. Aku bahkan tak peduli jika Eiji tak merestui hubungan kami. Bagiku, selama Sergei mencintaiku dan selalu ada untukku, hidupku sempurna meski harus selalu waspada setiap saat karena kami ... mafia," ucapnya mengutarakan perasaan. Lysa mengangguk paham. "Lalu sekarang ... tiba-tiba saja, Torin mengatakan ingin menikah denganku. Aku takut jika ... aku tak cukup mencintainya untuk membuatnya bahagia, Lysa. Bagaimana jika dia kecewa padaku?" tanya Yuki sampai keningnya berkerut.
"Kau tak akan mengecewakanku, Yuki. Aku cukup mengenalmu. Mungkin, kau tak begitu mengenalku, tapi ... jika kita bersama, kita bisa belajar saling mengenal. Jangan terlalu dipikirkan. Kecemasan dan ketakutanmu berlebihan," sahut Torin tiba-tiba keluar dari kamar seraya memegang ponselnya.
Yuki makin gugup dan pandangannya kembali tertunduk.
"Aku ... pinjam Yuki dulu ya, mungkin ... seminggu?" tanya Torin menaikkan salah satu alis meminta izin pada bos calon isterinya.
"Sure," jawab Lysa dengan senyuman.
Torin juga meminta izin kepada Lysa untuk mengajak Yuki makan malam di luar. Yuki tak bisa menolak karena Torin mengatakan ini adalah salah satu cara agar mereka saling mengenal.
Tentu saja, Lysa mengizinkan dan berharap sahabat semasa kecilnya itu sejak di Camp Militer bisa merasakan kebahagiaan seperti dirinya.
Malam itu, Yuki pergi keluar bersama Torin. Lysa di rumah bersama bayi Fara ditemani dua Pion yang kini ikut bekerja di Perusahaan Elektronik peninggalan mendiang Rose Marlena.
Hari berikutnya. Rusia, Kastil Borka.
__ADS_1
Eiji sudah memasang wajah bengis ketika mendapati calon pengantin itu telah duduk di hadapannya terlihat gugup.
Monica terlihat santai seraya menyeruput teh hangat dari sebuah cangkir keramik di pangkuannya. Semenjak memiliki anak, Monica lebih feminim, meski tak pernah memakai rok.
"Mm, aku ...," ucap Torin tergagap.
"Mana nyalimu? Kemarin kau berlagak saat meneleponku. Kau serius atau tidak ingin mempersunting Adikku, ha?" tanya Eiji garang.
Torin menelan ludah. Monica tersenyum tipis karena jarang sekali Eiji bisa bersikap layaknya mafia sungguhan.
"Mm, Yuki, bantu aku," bisik Torin menyenggol wanita berambut merah muda yang duduk di sebelahnya terlihat gugup.
"Aku harus bicara apa?" jawabnya ikut berbisik.
"Jika urusanmu di sini sudah selesai, pulanglah. Tak ada lagi yang perlu dibicarakan," ucap Eiji ketus lalu beranjak dari dudukkan. Torin panik karena Eiji berpaling darinya dan melangkah pergi.
"Kau lakukan hal ini lagi padaku? Apa tak cukup yang kaulakukan pada Sergei dulu?" tanya Yuki tiba-tiba yang membuat langkah Eiji terhenti. Monica meletakkan cangkir di pangkuannya dengan pandangan tertunduk.
"Aku hanya meminta kepada pria di sebelahmu untuk mengatakan tujuannya datang kemari. Namun sepertinya, dia tak punya nyali. Aku kecewa, karena ucapannya tak seserius seperti saat ia meneleponku kemarin. Sebaiknya kau berpikir ulang untuk menikahinya. Dia bukan tipe pria yang mau ambil resiko," jawab Eiji masih memunggungi tamunya.
Praktis, mata Torin melebar. Ia merasa tertohok dengan ucapan Eiji yang menyinggung harga dirinya.
Tiba-tiba, Torin berdiri dan hal itu mengejutkan Monica serta Yuki. Keduanya menatap Torin saksama.
"Aku ingin menikahi Yuki, Tuan Eiji. Tolong, restui kami. Aku sangat mencintainya dan ingin hidup bersama dengannya untuk selamanya!" ucapnya lantang lalu membungkuk seperti penghormatan budaya Jepang. Yuki terkejut.
Monica tersenyum tipis seraya meletakkan cangkir teh di pangkuannya ke atas meja di hadapannya dengan anggun. Eiji membalik tubuhnya dan menatap Torin tajam dari tempatnya berdiri.
Yuki terlihat gugup saat Eiji mendekati Torin dengan wajah dingin seperti tak ada harapan untuknya. Yuki menundukkan wajah terlihat pasrah dengan apapun jawaban Kakaknya nanti.
"Kenapa sulit sekali mengatakan hal itu, Torin? Kau membuatku cemas," ucap Eiji seraya menepuk pundak kiri pria di hadapannya. Praktis, mata Yuki dan Torin melebar. Torin menegakkan badan dan menatap Eiji saksama. Pria Asia di depannya itu tersenyum dengan anggukan. "Aku merestui kalian Semoga ... kalian selalu bahagia."
Praktis, Yuki langsung membungkam mulutnya mendengar jawaban dari sang Kakak yang sangat ia harapkan. Yuki menutup mulutnya dengan kedua tangan dan membuat mata berlinang. Eiji mengulurkan tangan kanannya dengan senyuman.
"Kau tak ingin memeluk Kakakmu? Sudah lama sekali kita tak bertemu, Yuki-Chan. Kau ... terlihat tangguh dan mungkin sebentar lagi akan menjadi Ibu."
Yuki bergegas mendatangi sang Kakak lalu memeluknya erat. Eiji tersenyum lebar balas memeluk sang Adik dan mencium keningnya penuh kasih sayang.
"Maaf, jika Kakak tak bisa memberikanmu kebahagiaan. Semoga ... dengan adanya Torin, hidupmu akan sempurna," ucap Eiji yang membuat Yuki menangis terisak.
Torin mendekat dan ikut memeluk Eiji dengan senyum terkembang di punggungnya. Eiji merasa aneh, tapi membiarkan dirinya dipeluk.
Monica dengan sigap mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Zaid dan Yena.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
lele sebel. udah tinggal save naskahnya ilang. pengen rasanya aku banting leptopnya😤 sabar-sabar. btw tengkiyuw tipsnya mak ben😍 kwkwkw vote koinnya gila, aku aja gak pernah ngetips segini utk diriku sendiri. makasih yaa lele padamu💋💋💋
__ADS_1