
Arjuna mendapatkan banyak ucapan selamat dari para mafia karena ia lolos dari hukuman pengadilan 13 Demon Heads.
Hanya satu vote yang menginginkan ia masuk dalam kurungan penjara, siapa lagi jika bukan Jordan.
Arjuna berjalan mendekati Afro yang memasang wajah dingin kepada kawannya, karena Arjuna belum memenuhi janjinya untuk membawa Sandara kembali seperti kesepakatan dengan barter foto Naomi kala itu.
Dua pemuda yang dulunya begitu akrab bagaikan saudara, kini malah terlihat saling membenci.
Bau perselisihan diantaranya begitu pekat terasa. Afro dan Arjuna duduk saling memunggungi seraya menikmati makanan di piring mereka.
Jonathan kembali ceria, setelah diberikan banyak nasehat oleh orang-orang yang peduli padanya. Pandangannya teralih ke dua pria yang saling mendesis ketika kepergok saling melirik.
Kening Jonathan berkerut seperti terheran-heran. Yuki dan Torin mendatangi Jonathan yang malah bertolak pinggang, tak menikmati hidangan seperti tamu lainnya.
"Kau mau apa, Nathan?" tanya Yuki bingung.
"Udah, ikut aja," jawabnya menoleh sedikit seraya berjalan. Yuki dan Torin yang penasaran, ikut merapat. "Kak Juna. Katanya, si Jordan mau nikah sama Naomi tahun ini loh. Musim gugur," ucap Jonathan tiba-tiba.
"Benarkah?" tanya Arjuna langsung melotot. Jonathan, Yuki dan Torin mengangguk membenarkan. Afro tersenyum sinis. "Aku juga. Aku akan menikahi Tessa di hari yang sama dengan pernikahan Jordan. Pesta pernikahanku akan sangat meriah," sahutnya mantap.
Praktis, para mafia yang mendengar hal tersebut terkejut. Sedang Arjuna, terlihat cuek saat menikmati makanannya.
"Tak bisakah kau menikah di hari dan tanggal yang berbeda?" tanya Torin meringis.
"Semua kuundang. Awas saja tidak datang," jawab Arjuna mengancam, dan menunjuk semua orang di ruang jamuan dengan garpu dalam genggamannya.
Jordan yang mendengar hal tersebut terlihat seperti tak peduli. "Kekanak-kanakan. Undangan pernikahan yang berisi paksaan dan ancaman," ucapnya dengan wajah datar, dan ternyata Arjuna mendengarnya.
Afro melirik Jordan dan Arjuna bergantian dengan senyuman. Ia terlihat menikmati pertikaian dua pria yang sejak dulu tak pernah akur.
"Aku akan memaafkanmu jika kau datang ke pesta pernikahanku," ucap Arjuna menunjuk Afro yang duduk di sampingnya.
"Execuse me? Apa aku tak salah dengar? Kau yang harusnya minta maaf padaku!" jawabnya kesal menunjuk Arjuna dengan garpu.
"Kau meledakkan rumah dan membuatku hampir mati!"
"Jangan berlebihan! Aku tahu bagian mana yang kuledakkan. Kau tak akan mati!" sahutnya garang.
Arjuna dan Afro saling melotot. Keduanya malah perang garpu dari tempat mereka duduk. Jonathan serta semua orang yang melihat terkejut, dan segera menyingkir.
Ternyata perkelahian itu semakin seru saat Afro menggigit tangan Arjuna yang mencengkeram kedua telinganya.
KRAUKK!!
"Arrghhhh!!"
"Wah, ikan piranha paman BinBin kabur satu!" celetuk Jonathan riang.
Yuki dan semua orang yang mendengar tertawa. Perkelahian dua pemuda itu malah dijadikan taruhan. Jonathan memegang lembaran dollar dalam dua genggaman tangan.
"Aku menjagokan Arjuna!" sahut Yusuke seraya menyerahkan segepok uang ke tangan Jonathan.
"Oke, siapa dukung Afro?" tanya Jonathan dengan mata berbinar.
__ADS_1
"Aku! Aku penasaran dengan kemampuannya," sahut Torin semangat.
Suasana Ballroom jamuan riuh seketika. Jordan terlihat malas dan memilih pergi diikuti oleh Mix serta Match di belakangnya.
Di ruang tempat Tessa disekap.
Han, Kai dan Vesper menunjukkan wajah dingin ke hadapan wanita cantik berambut pirang tersebut.
Tessa yang sudah sadar, meskipun terlihat lesu, terlihat gugup karena dipandangi tajam oleh para senior 13 Demon Heads.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Kau mengatakan jika sudah mengawasi Arjuna sejak kecil. Kau menyebutkan jika mengenal Theo Sanders. Apa hubunganmu dengannya?" tanya Han tajam dengan sebagian wajah tertutup sebuah topeng besi yang Kai buatkan untuknya. Tessa terlihat gugup. "Aku sengaja mengajak Kai dan Vesper karena mereka bisa melihat kebohongan dari seseorang. Aku tak ingin menggunakan gas halusinasi padamu. Aku tak mau, anakku menikahi autis."
Tessa tersentak. Entah kenapa ucapan Han terdengar menusuk hatinya. Vesper menarik nafas dalam dengan kaki menyilang, menunggu jawaban dari Tessa di sofa panjang.
"Sanders dan Paulina berteman dengan salah satu pemimpin No Face sebelum diriku. Aku diajak ke Jerman kala itu. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi ... aku melihat Arjuna berada di halaman belakang, berpura-pura menjadi pemain opera. Dari sanalah, aku mengaguminya," jawabnya terlihat gugup.
Han melirik Kai dan Vesper bergantian. Keduanya mengangguk pelan seakan mengatakan jika ucapan Tessa sebuah kejujuran. Han menarik nafas dalam.
"Lalu?"
"Ya, begitulah. Aku membuat permohonan kepada pemimpin No Face yang membawaku itu. Aku mengatakan jika aku menyukai Arjuna, dan ingin dinikahkan saat sudah dewasa nanti. Ternyata permintaanku ini seperti memberikan kabar gembira bagi orang-orang The Circle. Mereka mulai membuat strategi, dan begitulah ... semua petaka yang menimpa kalian karena keinginanku bersama Arjuna. Aku ... minta maaf," sambungnya tertunduk seraya memainkan jemarinya di atas pangkuan.
Han mengembuskan nafas panjang. Vesper dan Kai saling memandang dengan wajah datar.
"Apakah pendahulumu itu telah meninggal?" tanya Vesper, dan Tessa mengangguk. "Pastinya No Face tahu jika kau kini mengkhianati mereka. Apa kau tak apa? Kau bisa dibunuh oleh Venelope dan orang-orangnya."
"Aku tak peduli. Sudah cukup aku mengabdi kepada mereka selama ini. Namun, aku khawatir jika Venelope memiliki rencana lain dengan Sandara dalam cengkramannya. Aku tak tahu apa yang ia inginkan dengan gadis itu. Apakah sejalan dengan Mr. White atau tidak, aku tak tahu. Maaf," sambungnya yang kini berani menatap mata orang-orang yang memandanginya tajam.
"Baik. Hanya saja, Mr. White merubah penampilannya."
"Merubah penampilannya bagaimana?!" tanya Kai memekik. Vesper langsung memegangi tangan suami termudanya agar tetap tenang. Namun, Han berdehem kencang. Vesper melepaskan kembali sentuhannya, ia yang kini tertekan.
"Bukan perubahan yang mengerikan. Mr. White mengecet rambut Sandara menjadi pirang kecoklelatan. Ia juga suka mendandaninya dengan make-up. Sandara jadi terlihat lebih dewasa. Namun, jika benar Mr. White meninggal, siapa yang mengurusnya sekarang? Semoga bukan Venelope," jawabnya terlihat bingung.
"Apa kau tahu, markas atau tempat persembunyian Venelope selain yang didatangi oleh orang-orang kami?" tanya Han serius, tapi Tessa menggeleng.
"Aku rasa ... jika ingatan Sierra benar pulih, ia bisa memberikan kalian jawaban dari semua hal rumit ini. Aku bahkan yakin, jika Tobias saja tak tahu apa yang Sierra tahu. Oleh karena itu, Sierra ditunjuk sebagai pengganti Madam, yang artinya, ia tahu segalanya."
Wajah tiga orang itu serius seketika. Mereka terlihat tegang. Ketika tiga orang itu akan pergi dari kamar, Tessa kembali memanggil.
"Ada apa?" tanya Han ketus.
"Maaf. Aku ... hanya ingin bertanya. Apakah ... aku bisa menikah dengan Arjuna? Aku sungguh mencintainya, Tuan Han," tanya Tessa penuh permohonan.
Han berdiri diam menatap Tessa tajam. Vesper melangkah maju seraya merangkul lengan Han lembut. Kai diam menyimak di bingkai pintu.
"Kita bicarakan setelah persidangan Sierra selesai. Bersabarlah. Makan malammu akan diantar ke kamar. Untuk sementara waktu, kau akan dikurung di tempat ini, jadi ... buatlah dirimu nyaman," jawab Vesper dengan senyuman, tapi malah membuat Tessa gugup.
Vesper, Kai dan Han keluar dari kamar Tessa, membiarkan gadis itu untuk beristirahat.
Keesokan harinya. Sierra telah datang bersama Lucy dan Yohanes yang mengawal. Sierra terlihat gugup.
__ADS_1
Tobias yang diberi tahu jika Sierra menjalani persidangan mengamuk, dan ngotot ingin terbang ke Inggris, tapi Eko dan empat Biawak sudah tiba lebih dulu di rumahnya untuk mengurung si pria pemarah agar tak keluar dari sarang.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Awas saja, jika Sierra sampai di hukum, atau tubuhnya terluka, aku tak segan menguliti kalian satu persatu dalam keadaan hidup!" ancamnya melotot dan menunjuk lima pria di depannya dengan nafas menderu.
"Hih, serem. Pasti sakit banget, tapi ... gak takut. Wek," jawab Eko sembari menjulurkan lidah.
Seharian, Tobias mengamuk. Ia merusak barang-barang yang masuk dalam jangkauannya.
King D, Otong, dan Jubaedah, terpaksa dikurung di tempat bermain agar tak melihat pria yang selalu bertelanjang dada itu mengumpat.
"Udah berapa rupiah, Bro?" tanya Eko sembari menyeruput kopi lalu menikmati singkong goreng buatan isterinya di pinggir taman.
"Ya ... kalau itungan Cokelat tepat, udah sekitar 150 juta lah itu perkakas yang dirusakin Tobias," jawabnya seraya melihat angka digital pada kalkulatornya.
"Mantan pedagang furniture ya kudu tepat dong itungannya," sahut Biawak Hijau seraya mencomot kacang rebus di sampingnya.
"Cokelat 'kan gak update harga terbaru semenjak jadi Biawak. Lagian, enak-enak dagang diculik. Bikin kaget aja," sahutnya mengenang masa lalu.
"Tapi, beruntung banget kamu, Cokelat. Waktu mau dibedah, pak Tejo mengurungkan niat setelah melihat tatomu. Hanya karena tatomu lebih bagus darinya, kamu gak jadi mati karena diambil organnya," kekeh Biawak Kuning sembari melihat Tobias melempari ikan-ikan tak bersalah di kolam dengan batu-batuan sebesar kepala.
"Ho-oh. Pertama kalinya dalam hidup, Cokelat menyebut 'Alhamdulilah' karena gak jadi mati. Hahahaha!" jawabnya yang diakhiri dengan tawa dan diikuti oleh kawan-kawannya.
"Diam! Kalian bahagia di atas penderitaanku, hah?!" pekik Tobias lantang dengan nafas tersengal.
"Dih, kegeeran. Udah, lanjutin ngamuk sono. Kita lagi asik cerita juga, nimbrung aja," sahut Biawak Putih kesal.
Tobias masih melotot tajam menatap lima pria yang duduk santai menikmati siang di hari yang terik.
Lysa yang melihat suaminya belum reda meluapkan emosinya, membuatnya ikut andil dalam bersandiwara.
"Aduh, Toby. Perutku sakit," ucapnya terlihat kesakitan saat muncul dari koridor.
Kepala Tobias langsung menoleh ke arah isterinya yang jalan tertatih.
"Nah lo, nah lo, binimu kenapa itu? Samperin cepet, malah bengong!" ucap Biawak Cokelat menunjuk Lysa yang berwajah pucat.
Tobias segera keluar dari taman dengan tergesa. Ia membopong Lysa dan menggendongnya ke kamar.
Kelima pria asal Indonesia itu sibuk berbisik dan bergosip. Dewi yang melihat jika kondisi sudah aman terkendali segera keluar, seraya membawa satu set perlengkapan kebersihan ke hadapan lima pria yang sedang bergembira itu.
"Jangan bilang kita suruh bersih-bersih," ucap Eko menatap wajah isterinya yang tersenyum penuh maksud.
"Udah ngopi, makan kacang, makan singkong, udah kenyang to. Ayo, dibersihin. Nanti King D, Otong sama Jubaedah bisa ketusuk sama pecahan-pecahan barang itu. Ayo, cepet," ucapnya seraya memberikan sapu kepada lima pria tersebut dengan paksaan.
Eko dan keempat BIAWAK hanya bisa patuh karena Dewi melotot seraya duduk di tempat mereka menikmati kudapan tadi. Dewi kini menikmati kopi, singkong dan kacang rebus layaknya Nyonya besar.
"Yang bersih ya. Semangat!" ucapnya memotivasi, tapi kelima pria itu malah cemberut.
****
makasih tipsnya. lele padamu💋💋💋
__ADS_1
hari ini pengumuman pemenang Simulation. Doain lolos ya😆 ngarep. Ditunggu tipsnya utk up eps selanjutnya di jam2 siang😁 kl gak ada lele up novel lain. Tengkiyuw ❤️