4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Saudaraku, Sekutuku


__ADS_3

Ngetiknya nahan mual dan puyeng. Entah dapat berapa kata. Cemangat!! Tengkiyuw tipsnya. Lele padamuh❤️ Jangan lupa vote vocernya ya keburu angus😁



---- back to Story :


Di tempat Sandara berada.


Gadis itu tiba di Jepang, Kastil Hashirama diantar oleh Arthur. Namun, orang-orang yang dicari Sandara tidak berada di tempat itu. Bahkan, para penjaga mengaku tak mengetahui hal tersebut.


"Nyonya Vesper dan anak-anak lainnya memang ada di sini selama beberapa waktu, tapi mereka sudah pergi. Hanya saja, kami tak tahu di mana keberadaan mereka. Kami bicara jujur," ucap salah satu Black Armys Ninja ditatap Sandara tajam, di mana semua mafia dalam jajaran 13 Demon Heads tahu, gadis cantik itu bisa melihat kebohongan dari raut wajah seseorang terutama matanya.


"Bagaimana?" tanya Arthur dengan alat translator di salah satu telinganya.


"Dia bicara jujur," jawab Sandara lalu melihat sekitar dari tempatnya berdiri.


"Untuk meminimalisir serangan Miles, Vesper-sama dan orang-orang kepercayaannya tak memberitahukan ke mana tujuan mereka berikutnya jika singgah di suatu tempat. Bahkan berita terakhir yang kami dapat, Miles menyerang kediaman Arjuna, Sun yang melaporkan hal ini. Kejadian itu, merenggut Tessa dan juga puterinya yang keberadaannya kini tak tahu di mana," sahut Black Armys Ninja lainnya.


"Kak Juna memiliki bayi?" tanya Sandara terkejut. Semua orang mengangguk.


Sandara diam sejenak lalu menatap Arthur saksama.


"Kita temua kak Juna," pintanya yang membuat Arthur melebarkan mata.


"Juna? Aku bahkan tak tahu dia di mana," jawab Arthur, tapi Sandara seperti tahu di mana menemukan kakaknya.


Sandara meminta dua orang Black Armys yang ditanyainya untuk memberikan detail informasi terakhir tentang kakak tirinya itu. Dua orang itu membeberkan semua.


Keesokan harinya, Sandara terbang meninggalkan Jepang bersama Arthur. Kali ini, Sandara tak ingin melibatkan banyak orang.


Entah apa yang Sandara rencanakan, tapi mereka akan berkunjung ke kediaman Andreas Balconi yang kini ditempati oleh Arjuna.


Kedatangan Sandara diinformasikan oleh Black Armys Ninja yang memberikan informasi pada puteri Kai.


Sun membaca pesan itu dari ponselnya, tapi ia sengaja tak meneruskan kabar tersebut kepada Arjuna. Sun seperti memiliki rencana dalam diamnya itu.


"Tuan Muda. Apakah Anda akan menetap di sini, atau akan kembali ke Hong Kong?" tanya Sun sopan mendatangi Arjuna yang murung di kamar sedang melihat keluar jendela di mana jenazah Tessa ia kuburkan di halaman rumahnya.


"Kenapa harus Tessa, Sun?" tanya Arjuna sedih.


Sun menarik napas dalam. "Anda merindukannya?" Arjuna mengangguk pelan masih memunggungi asistennya. "Itu tandanya, Anda mencintai Tessa, Tuan Muda. Anda mungkin tak menyadarinya, tapi kami semua bisa melihatnya. Anda mulai bisa menerima keberadaan Tessa saat ia tinggal bersamamu di Hong Kong. Sikap Anda berubah," sambung Sun masih berdiri tegap di belakang Tuan Mudanya.

__ADS_1


"Berubah?" tanya Arjuna menoleh dan akhirnya mendapati sosok Sun di sana. Sun mengangguk.


"Anda sudah lebih dewasa dalam bersikap, meski ... rasa benci Anda pada keluarga masih bersikukuh di dalam sana," jawab Sun seraya menunjuk dada Arjuna di kejauhan. Arjuna terdiam. "Saya ingin memberitahukan sebuah rahasia antara saya dan Tessa. Apakah Anda mau mendengarnya?" tanya Sun.


"Aku sudah tahu. Aku tak sengaja mendengarnya saat kau dan Tessa berbincang," jawab Arjuna dengan pandangan tertunduk.


Sun terkejut. Ia tak menyangka jika Tuan Mudanya mengetahui hal itu.


"Lalu? Tindakan Anda?"


"Pasti orang suruhan ibuku yang membawa Loria pergi. Aku harus menemukannya. Aku ingin tahu, kenapa ibuku memisahkanku dengan bayiku? Kau tahu, Loria peninggalan satu-satunya dari Tessa untukku. Aku berjanji akan melindunginya setelah aku gagal memenuhi janjiku untuk melindungi Tessa," jawab Arjuna kembali sedih.


"Hem, saya mengerti. Saya akan membantu Anda, Tuan Muda," jawab Sun sopan.


Tiba-tiba, Miguel masuk ke kamar Arjuna dengan Tulio bersamanya. Sun dan Arjuna menatap dua orang itu lekat yang berbicara dengan bahasa Inggris. Terjemahan.


"Kami sudah mengurus semuanya di kantor kepolisian. Untung saja para polisi itu mau bekerja sama. Namun, kita jadi harus mengeluarkan banyak uang untuk menutup mulut mereka serta pergerakan wartawan," ucap Tulio melaporkan.


"Hem. Bungkam mereka semua. Sumpal mulut orang-orang itu dengan uang milikku. Sudah cukup namaku menjadi menjadi trending topic. Aku tak mau menggeser para artis yang namanya kuserobot karena aksiku," jawab Arjuna berkesan pamer.


Sun, Miguel dan Tulio hanya mengangguk pelan karena merasa ucapan bos mereka ada benarnya.


"Eh? Artis? Apakah ... ada kabar dari Sandara?" tanya Arjuna tiba-tiba yang kini beranjak dari samping jendela.


"Benarkah?" tanyanya memastikan dan Sun mengangguk.


Senyum tipis terbit di wajah Arjuna. Ia lalu meminta orang-orangnya untuk membereskan rumah yang masih berantakan.


Pencarian Loria tetap dilanjutkan di mana Arjuna mengutus Jose, Greco, Ringgo dan Simon untuk menemukan anak semata wayangnya.


Keesokan harinya, Sandara tampak terkejut saat mendapati Sun sudah menunggunya di pintu penjemputan Bandara. Sun menyalami Sandara dan Arthur di mana mobil penjemput telah menunggu mereka.


"Pasti Black Armys mama yang mengirimu pesan. Apakah ... kak Juna tak keberatan aku datang berkunjung?" tanya Sandara saat sudah duduk berdampingan dengan Sun di mobil.


"Ya, dia sangat senang kaudatang mengunjunginya. Tuan Muda ... sedang terpuruk," ucap Sun berkisah.


"Hem, aku juga," jawab Sandara tertunduk.


Sun diam tak lagi mengajak Sandara berbincang karena raut wajah gadis cantik itu terlihat sedih seperti teringat kenangan pilu.


Setibanya di rumah Andreas, Arjuna sudah berdiri di depan pintu rumahnya bersama anak buahnya. Sandara terkejut karena Arjuna tersenyum saat mata mereka bertemu meski di kejauhan.

__ADS_1


"Wow, kamu terlihat dewasa, Dara," ucap Arjuna memuji.


Sandara berjalan perlahan menuju ke arah kakaknya di mana dulu mereka memiliki banyak kisah manis ketika masih kecil.


"Aku merindukanmu, Kak Juna," ucap Sandara memeluk Arjuna erat. Arjuna terkejut, tapi membalas pelukan itu. "Afro menceraikanku dan memilih Venelope sebagai pendamping hidupnya. Aku kecewa padanya."


Praktis, ucapan Sandara membuat semua orang kaget, termasuk Sun.


"Benarkah?" tanya Arjuna langsung melepaskan pelukan dan Sandara mengangguk pelan dengan wajah tertunduk. Arjuna tampak marah sampai mengigit bibir bawahnya, tapi berusaha ia tahan. "Lupakan Afro, kenapa harus mencintai lelaki seperti dia? Sun lebih baik darinya," ucap Arjuna santai seraya menunjuk Sun yang melotot karena dirinya kini dilibatkan.


Sandara menoleh ke arah Sun yang terlihat bingung dan kaget dalam waktu bersamaan.


"Kau mau menikah denganku?" tanya Sandara begitu saja dengan wajah datar.


"Ha? Aku? Mm ... mm," jawabnya tergagap.


"Hahahaha! Kami hanya bercanda, Sun. Lihatlah, wajahnya jadi jelek begitu," tawa Arjuna seraya merangkul Sandara untuk masuk ke rumahnya.


Sun bernapas lega. Ia sampai memegangi dadanya seperti terkena serangan jantung. Orang-orang terkekeh termasuk Arthur karena Sun seperti tak siap jika diminta menikah.


"Aku turut berduka atas kematian Tessa, Kak. Maaf, aku tak datang untuk membantu. Aku tak tahu," ucapnya.


"Tidak apa. Aku juga minta maaf karena tak datang saat kau sendirian di luar sana," jawab Arjuna berjalan berdampingan dengan adiknya menyusuri koridor seperti menuju ke suatu tempat.


"Itu ... makan Tessa?" tanya Sandara saat melihat sebuah batu nisan.


Arjuna mengangguk. "Mama membawa Loria. Jujur, aku sebenarnya agak lega jika itu benar adanya. Namun, aku ingin tahu alasannya memisahkanku dengan bayiku."


"Sepertinya, orang-orang tak tahu di mana keberadaan Loria. Aku dari Kastil Hashirama di Jepang karena kudengar mama sakit. Namun, aku tak menemukannya di sana. Mama sepertinya berpindah-pindah untuk menghindari kejaran Miles," jawab Sandara yang membuat Arjuna langsung menoleh ke arahnya.


"Lalu? Di mana anakku?" tanya Arjuna tampak panik.


"Entahlah, tapi aku akan membantu. Hanya saja, kumerasa anak buah Miles semakin berkurang karena ia terus melakukan gempuran dan beberapa kali kalah. Aku juga sudah membunuh beberapa orang-orang pentingnya," jawab Sandara dengan wajah datar.


Arjuna menatap Sandara lekat. "Soal pager, apakah kau sudah tahu?"


Sandara mengangguk. "Kau sudah menemukan berapa?"


"Dua puluh. Sisanya, belum. Aku tak memiliki banyak waktu dan anak buah untuk mengeceknya satu per satu," jawab Arjuna tampak frustasi.


"Akan kubantu. Bukankah ... kita saudara? Sudah seharusnya kita saling membantu. Kita bunuh Miles," ucap Sandara menatap Arjuna lekat dengan wajah datarnya.

__ADS_1


"Hem. Kita bunuh Miles," jawab Arjuna dengan anggukan.


Orang-orang yang berdiri di belakang Arjuna terlihat siap untuk memburu Miles. Sun dan Arthur saling memandang dalam diam seperti memikirkan sesuatu.


__ADS_2