4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Tak Disangka*


__ADS_3

Ternyata, pertempuran masih berlanjut. Para Pion berhasil meringkus para penjaga pabrik dan Mansion. Hanya saja, sosok Sabu dan Ganja tak ditemukan oleh anggota tim Arjuna yang bertugas.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Sun!" panggil Arjuna saat mereka kehilangan sosok pria bertopeng yang menutupi tubuhnya dengan jubah.


"Saya ambil sisi kanan dan Anda kiri. Pemancar Fatamorgana telah dilumpuhkan. Kini kita bisa saling berkomunikasi, Tuan Muda," jawab Sun dengan nafas tersengal setelah mereka harus melewati belasan anak buah sosok tak dikenal selama pengejaran.


"Baiklah. Hati-hati. Informasikan apapun yang kau dapat padaku," tegas Arjuna sembari melangkah ke sisi kiri.


Sun mengangguk dan segera berlari pelan dengan senapan laras panjang dalam genggaman. Arjuna mengeluarkan teropong suhu untuk mencari keberadaan pria tersebut.


Namun, teropongnya seperti tak berfungsi ketika ia arahkan ke sebuah ruangan yang memiliki pintu berwarna putih dengan sebuah tanda "Jangan diganggu".


Hal itu semakin memperkuat kecurigaan Arjuna karena ada larangan pada handle pintu.



Arjuna menyiagakan pistol di tangan kanan dan tangan kiri membuka pintu tersebut. Arjuna berdiri di balik dinding dan terlihat, ketegangan di wajahnya.


CEKLEK ....


DOR! DOR!


"Agh! Benar-benar menyusahkan!" gerutunya yang tak sungkan untuk melemparkan Granat Rainbow Gas berwarna hitam.


Suara ledakan dan rintihan terdengar di dalam ruangan. Arjuna menambah serangannya dengan melemparkan Granat Tabung.


Suara nyaring dari lontaran peluru senjata tersebut terdengar memekakkan telinga. Suara dari beberapa benda di dalam ruangan hancur karena serangan peluru tajam tersebut yang tak kalah serunya.


"Sungguh berisik. Harusnya senjata itu perlu di perbaharui," gerutu Arjuna seraya menyuntikkan serum penawar dari gas tersebut ke lengannya.


Arjuna menarik nafas dalam dan mengintip saat suara dari Granat Tabung sudah tak terdengar. Arjuna mengendap masuk ke dalam dan melihat tempat tersebut sudah porak-poranda.


Namun, matanya melebar ketika mendapati sebuah lubang yang hanya bisa dilewati dengan cara merangkak.


Lubang itu seperti sengaja dibuat untuk kabur. Arjuna memindahkan meja yang menutupi lubang tersebut dan mencoba untuk melewatinya.


Dan benar saja, ia melihat pria berjubah merah berlari dengan beberapa orang yang melindunginya.


Nafas Arjuna menderu, tapi tubuhnya tersangkut karena tas ransel yang ia gendong di punggungnya.


Arjuna kembali merangkak mundur dan bergegas melepaskan tasnya. Ia mengambil senjata lain untuk menghentikan aksi melarikan diri orang-orang tersebut.

__ADS_1


"Ayo ... cepat, cepat," ucapnya tergesa saat mengambil senapan pelontar granat yang terisi beberapa jenis dari Rainbow Gas.


Arjuna tengkurap dan membidik dari celah lubang itu ke kumpulan orang-orang yang mulai tak terlihat karena memasuki hutan rimbun.


SHOOT! SHOOT!


BLUARRR!! BUZZ!!


Suara rintihan terdengar. Beberapa pohon tumbang di antara kepulan asap berwarna-warni yang menyeruak dalam hutan itu sampai ke atas pohon.


Arjuna segera menghubungi tim yang tersambung dengannya untuk bergerak ke posisinya. Beberapa anggota segera merespon dan bergegas menuju arahnya.


"Aku melihat kepulan gas warna merah muda! Arjuna ada di Barat Laut! Aku melihat pergerakan dari dalam hutan, sepertinya mereka menuju ke Laguna. Aku akan menghadangnya di jembatan!" sahut Ivan dari panggilan radio.


Terlihat helikopter melayang di atas kawasan pabrik. Ivan, Bojan dan Martin bisa melihat dengan jelas kekacauan di bawah sana.


"Copy that!" jawab beberapa anggota tim setelah mendapatkan informasi tersebut.


Arjuna bergegas keluar dari lubang sembari membawa tas ranselnya lagi. Ia berlari mengejar ke dalam hutan dengan masker gas sudah ia kenakan.


Sebuah masker khusus yang bisa menetralisir racun dari Rainbow Gas tanpa harus menyuntikkan serum.


Namun, saat Arjuna mulai menginjak dedaunan kering di hutan tesebut, tiba-tiba ....


GRAB!!


Arjuna langsung menggoyangkan kakinya hingga cengkeraman itu terlepas. Matanya melotot dan mundur dengan cepat sembari menatap sosok wanita yang terlihat mengenaskan karena terkena dampak dari kombinasi Rainbow Gas.


"He-Help," rintihnya.


Kening Arjuna berkerut. Ia seperti mengenali wanita tersebut. Namun, bukannya ditolong, Arjuna malah menatapnya tajam sembari melangkah pelan mendekati wanita itu.


"Ka-kau ...." Arjuna tersentak saat ia menyadari jika wanita itu tewas dengan mata terbuka dan seluruh tubuhnya berdarah karena kulitnya mengelupas.


Jantung Arjuna berdebar kencang. Ia melihat sekeliling dalam hutan dan mendapati beberapa orang tewas karena dampak dari gas tersebut.


"Oh!" pekiknya lagi ketika melihat dua wanita yang ia kenali telah tergeletak tak bernyawa dengan kondisi sama.


Nafas Arjuna menderu. Kepalanya pusing seketika dan pandangannya serasa kabur. Arjuna melangkah mundur seperti orang linglung.


GRAB!!


"Hah?!" teriaknya kaget dan langsung membalik tubuhnya.

__ADS_1


Arjuna mendapati Sun, Biawak Putih dan anggota lain yang berkumpul di belakangnya.


"Anda tidak apa, Tuan Muda? Apa Anda terkena dampak gas? Namun, Anda memakai masker. Apa Anda terlambat mengenakannya?" tanya Sun cemas dan langsung melepaskan masker Arjuna, di mana kepulan gas sudah hilang di hutan itu.


"Om, Om, kau kenal tiga wanita itu?" tanya Arjuna menunjuk ke dalam hutan dengan wajah pucat.


Biawak Putih segera masuk ke dalam hutan untuk memeriksa. Sun memegangi pundak Arjuna karena Tuan Mudanya itu seperti akan roboh.


Tak lama, Biawak Putih kembali dengan wajah serius.


"Jangan bilang kalau ini ulah si Adipura. Itu tiga isterinya yang dikasih sama Sultan. Apa maksudnya?" tanya Biawak Putih dengan mata melotot saat ia melihat mayat tersebut.


"Oh, aku kira penglihatanku bermasalah, ternyata benar," ucap Arjuna seperti orang sesak nafas.


Kening semua orang berkerut. Biawak Putih menjauh dari kumpulan orang-orang untuk melakukan panggilan entah kepada siapa.


Arjuna diberikan minum oleh Sun dari botol air mineral yang ia bawa dalam tasnya, dan putera dari Han tersebut langsung meneguknya hingga habis.


"Apa pria itu kakek Adipura? Tapi kenapa?" tanya Arjuna terlihat bingung menatap Sun. Asistennya tersebut menggeleng pelan tidak tahu.


"Juna. Sebaiknya kamu kembali ke kapal. Ivan dan lainnya sedang mencoba menangkap orang-orang yang kabur. Serahkan pada kami, kamu istirahat aja. Ini perintah ibumu, jangan membantah," ucap Biawak Putih dengan ponsel dalam genggaman.


Arjuna mengangguk. Saat anggota tim lainnya diajak oleh Biawak Putih untuk ikut mengejar dalam hutan, tiba-tiba ....


BLUARRR!!


"OM IVAN! MARTIN! BOJAN!" teriak Arjuna lantang saat melihat di atas langit. Helikopter yang dikendarai oleh tiga anggota Dewan senior itu meledak.


"Cepat! Cepat!" ajak Biawak Putih. Dan segera, semua orang masuk ke hutan. Mereka berlari menuju ke arah jatuhnya helikopter dengan Arjuna ikut bersama mereka.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE (amazon.com)


uhuy. siapa nih para reader LAP yang udah punya medali fans GOLD? Kuy bagi yang belom segera ya~


Akan ada gift away menanti bagi kalian yang udah punya label ini. Lomba hanya di khususkan bagi akun yang punya medali fans tersebut.


Gimana caranya dapet medali itu? Rajin-rajinlah like setiap karya Lele termasuk kasih komen. Balesin komen antar reader, kasih tips, vote vocer, koin juga termasuk hitungan untuk bisa mencapai level Gold. Semangat!! Merdeka!!


__ADS_1


__ADS_2