
Semua orang tampak serius mendengarkan. Obama Otong dan Dewi isteri Eko, diminta untuk menemani anak-anak bermain di ruangan khusus. Jeremy, Yu Jie dan Victor duduk di depan layar menyaksikan tayangan tersebut.
Ternyata, surat Vesper dituliskan dalam bahasa Inggris. Souta tampak gugup, tapi ia tak ingin mengecewakan orang-orang yang menunggu isi surat itu untuk dibacakan.
Souta bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia.
"Apa kabar semuanya? Maaf, jika tulisanku sulit untuk dibaca. Penyakit ini cukup membuatku tersiksa. Aku bisa membayangkan betapa tegarnya Antony Boleslav ketika ia harus berjuang karena penyakit jantung yang selama ini memperangkapnya," ucap Souta yang membuat keluarga Amanda termenung.
Mereka teringat akan mendiang pria garang yang sangat meninggalkan kesan di hati tersebut.
"Aku juga minta maaf jika kalian terluka karena ikut bertempur bersamaku. Aku sudah bisa memprediksi saat kutuliskan surat ini, termasuk ketika kumemberikan misi pada Souta," ucapnya yang membuat suasana hening seketika.
"Terima kasih atas kesetiaan kalian padaku selama ini. Terima kasih atas kepercayaan kalian dengan menunjukku sebagai pemimpin kelompok mafia 13 Demon Heads untuk meneruskan pendahulu-pendahulu kita yang telah tiada dalam memperjuangkan kekaisaran ini. Hanya saja, aku tak melihat masa depan cerah untuk anak cucuku. Anak cucu kita. Oleh karena itu, kuputuskan untuk mengakhirinya dengan melenyapkan Miles karena dia kuanggap satu-satunya keturunan Flame yang tak bisa diselamatkan dari kobaran dendam," sambung Souta yang membuat kening para mafia berkerut.
"Jika surat ini dibacakan, berarti ... usaha kita berhasil untuk menyelesaikan perselisihan dengan The Circle. Oleh karena itu, jika kalian masih menganggapku sebagai pemimpin yang dihormati, lakukan beberapa keinginan terakhirku ini," imbuh Souta yang membuat mata semua orang melebar seketika.
Souta membuka lipatan kertas dan menarik napas dalam. Para mafia yang berkumpul di ruangan besar itu tampak tak sabar mendengar permintaan terakhir Vesper.
"Pertama. Biarkan keturunan Flame terakhir hidup. Kulihat kasih sayang dalam diri mereka. Aku sengaja memberikan beberapa hukuman pada mereka dengan mengorbankan perasaan anak-anakku. Kuyakin, anak-anakku akan membenciku karena hal ini. Namun, hal itu perlu dilakukan untuk mengetahui tujuan mereka sebenarnya."
Praktis, Cassie, Sierra, Venelope, para Pion D dan Click and Clack terkejut mendengar pengakuan dari Vesper tersebut.
"Vesper ... sengaja membuat kita berhadapan dengan anak-anaknya? Begitu maksudnya?" tanya Venelope dan Cassie mengangguk membenarkan.
"Aku sebagai Ibu meminta maaf pada kalian, Lysa, Arjuna, Jonathan dan Sandara. Kupilih keempat anakku karena darahku dan darah ayah mereka mengalir dalam jiwa mafia. Kupilih kalian karena tak ada orang lain yang akan sanggup menerimanya. Aku sangat yakin, pengalaman buruk yang kuberikan dari garis takdir yang sengaja kubuat, akan menjadikan kalian kuat dan bijak di masa depan untuk menyelamatkan orang-orang terkasih."
Siapa sangka, tulisan yang dibacakan Souta membuat dampak yang luar biasa bagi empat anak Vesper.
Mereka tak menyangka jika sang ibu memang benar menggunakan keempat anaknya untuk mencapai tujuan.
Namun kali ini, bukan kebencian dan dendam yang mereka rasakan. Entah kenapa, mereka berempat diam seperti mencoba untuk tetap bersabar untuk mengetahui alasan sebenarnya dari pengorbanan diri mereka itu.
"Maaf, jika banyak orang yang akan terlibat dalam hal ini. Semua kejadian buruk ini memang akulah induknya. Jadi, jika empat anakku mengatakan akulah sumber petaka, hal itu adalah benar. Jangan salahkan mereka. Namun dari sini kalian bisa melihat, anak-anakku sudah mulai mengenal cara kerjaku. Mereka mulai memahaminya meski dengan rasa benci yang teramat sangat hingga ingin membunuhku."
Seketika, mata Lysa dan tiga anak Vesper lainnya melebar. Yang dituliskan Vesper, sama persis dengan yang mereka rasakan saat itu.
Kebencian yang mendalam pada sang ibu, membuat mereka bertekad untuk membunuhnya.
Souta menarik napas dalam. Ia terlihat tertekan membaca surat terakhir pemberian Vesper padanya.
Eko menepuk pundak Souta dan pemuda itu mengangguk terlihat siap untuk meneruskan membaca.
"Aku membuatnya, dan kini kuterima penderitaanku atas pengorbanan anak-anakku. Oleh karena itu, jika kumengatakan rela mati di tangan anak-anakku, itu adalah benar. Aku ... Ibu yang buruk. Jangan meniruku karena hanya akulah yang bisa melakukannya," ucap Souta yang membuat dada keempat anak Vesper sesak seketika.
__ADS_1
"Dia sengaja melakukannya. Dia mengorbankan kita," ucap Sandara dan diangguki ketiga anak Vesper yang lain.
Para mafia lainnya masih berdiri di tempat mereka berada, tapi pandangan orang-orang itu tertuju pada empat keturunan Vesper yang terlihat serius mendengarkan.
"Hal ini sangat perlu kulakukan mengingat orang-orang The Circle sangat membenci kita. Kulihat, dendam ini tak akan berakhir sampai generasi cucuku. Untuk menghentikannya, kugunakan empat anakku untuk mengubah takdir. Dan ternyata, berhasil. Tobias mencintai Lysa. Tessa mencintai Arjuna. Begitupula Cassie dan Sierra yang mencintai Jonathan. Sayang, cinta sejati belum berpihak pada gadisku Sandara. Maafkan Mama, Dara. Mama kehabisan waktu untuk membuatmu menemukan cinta sejati. Namun, Mama percaya, kau bisa mendapatkannya dengan caramu sendiri. Mama, mencintai kalian semua," ucap Souta yang membuat Sandara menundukkan wajah terlihat sedih. Kai menatap puteri tunggalnya iba.
"Pengalaman buruk membuat sifat seseorang berubah. Yang baik bisa menjadi jahat dan sebaliknya. Semua harus dites untuk memastikan kebenarannya. Sepanjang aku masih bisa membuka mata dan mendengarkan, hal itu benar. Beberapa keturunan Flame berubah. Mereka berubah menjadi baik karena mencintai anak-anakku. Sayangnya, hal sebaliknya terjadi. Anakku malah membenci orang-orang yang tulus menyayangi mereka. Semoga, sebelum kematian menjemputku, mereka sadar jika disayangi oleh banyak orang. Mereka memiliki keluarga, dan itulah 13 Demon Heads."
Mata semua mafia langsung melirik keempat anak Vesper tajam yang duduk di kursi roda. Mereka tampak shock dan terdiam dengan pandangan tak menentu.
"Kedua. Karena banyaknya penderitaan yang melibatkan banyak orang, kuingin agar cucu-cucuku terbebas dari petaka ini. Biarkan mereka lupa siapa Vesper. Biarkan mereka tak mengetahui apa itu 13 Demon Heads dan The Circle. Biarkan mereka tak tahu siapa kita sebenarnya selama ini. Hapus ingatan mereka dari dunia mafia. Biarkan mereka hidup tenang tanpa terseret oleh masa lalu yang kelam. Hapus ingatan mereka," ucap Souta menegaskan yang membuat Sun dan Arjuna saling memandang.
Permintaan Vesper sama persis dengan yang diungkapkan oleh Arjuna saat itu. Perlahan, Arjuna menyadari jika ucapan sang ibu ada benarnya. Darahnya dan darah Han mengalir dalam dirinya.
Pemikiran sang ibu secara tidak langsung senada dengan dirinya. Arjuna membungkam mulutnya rapat.
Dirinya tak percaya dengan yang dituliskan sang ibu padahal ia baru memikirkannya beberapa waktu yang lalu.
"Me-menghapus ingatan? Gas halusinasi?" tanya Victor menatap Jeremy saksama dan sang profesor mengangguk membenarkan.
"Ketiga. Jika hitunganku tak meleset, masih tersisa 1500 Black Armys milikku. Tawarkan pada mereka kebebasan karena aku tak lagi bisa menjamin hidup setelah kutiada. Kutak mau membebani para penerusku untuk melanjutkan pekerjaanku. Namun, jika mereka menolak dan tetap ingin mengabdi pada jajaranku, kupercayakan pada keempat anakku untuk mengayomi mereka. Jangan telantarkan mereka. Orang-orang yang dianggap sampah oleh masyarakat membutuhkan kalian. Jadi ... jangan kecewakan mereka. Tak usah mengikuti gaya kepemimpinanku, kalian tak akan bisa. Maaf, jika tugas ini nanti membebani kalian, tapi aku percaya pada kemampuan kepemimpinan empat anakku dengan cara mereka sendiri. Mama menyayangi kalian."
Lysa menutup wajahnya dengan dua tangan. Ia terlihat terguncang dengan tulisan sang ibu yang malah membuat hati dan pikirannya tak karu-karuan. Jonathan diam memandangi lantai entah apa yang dipikirkan.
Han dan Kai tersenyum. Mereka mengangguk pelan dan terlihat tak masalah dengan hal itu. Empat anak Vesper menatap ayah dan papa mereka saksama dalam diam.
"Aku menyayangi kalian, anak-anakku. Lucy, Naomi, Sun, Afro, Yuki, Torin, Javier dan Souta. Oleh karena itu, aku tak ingin hidup kalian sengsara setelah kutiada. Kuberikan asetku pada kalian dan tolong, jaga dengan baik. Kembangkan, dan buatlah hidup kalian sejahtera dari peninggalanku," ucap Souta terkejut karena ia juga termasuk di dalamnya.
"Nyo-nyonya Vesper memberikan hartanya pada kita?" tanya Yuki menatap Torin dengan wajah berkerut, dan putera mendiang Bardi mengangguk membenarkan terlihat tak percaya dengan yang diucapkan oleh pemuda Jepang itu.
Souta terlihat bingung, tapi Eko mengangguk dengan senyuman seakan mengatakan jika hal itu tidak apa-apa. Souta kembali membaca lipatan terakhir dari Vesper.
"Para bodyguard-ku. Maaf, jika selama aku hidup, pekerjaan utamaku adalah merepotkan kalian. Rasanya, hariku tak cerah jika tak melibatkan kalian dalam tiap pekerjaanku. Mungkin, karena aku terlalu menyayangi kalian. Bahkan, aku selalu menganggap kalian adalah saudara dan saudariku, bukan pengawalku," ucap Souta yang membuat Eiji berlinang air mata, termasuk yang lain.
Eko langsung menutup wajahnya dengan surban yang selalu melilit lehernya. Ia membiarkan dua matanya menjadi merah tergenang air mata terlihat oleh para mafia.
"Para agent Colombia. Sampai kapanpun, kita akan selalu menjadi satu tim. Sepuluh orang, dan akulah orang kesepuluh itu. Aku sangat sedih saat harus kehilangan teman-teman kita ketika berjuang dulu. Aku sangat kecewa ketika ada dari kita yang harus mati. Kenangan dengan kalian tak pernah kulupakan. Terima kasih karena kalian selalu menjagaku meski aku tak lagi menjadi agent. Kenangan itu, akan kubawa sampai mati."
Tiba-tiba saja, para pria itu langsung menutup wajah mereka. Kenangan mereka bersama dengan Vesper saat menjadi Lily kembali teringat.
Kala itu, Vesper terpaksa menggantikan salah satu agent yang tewas karena ketidaksengajaannya hingga membawanya kepada Erik Benedict, pria yang menyakitinya, tapi juga mencintainya.
"Atas kesetiaan kalian, telah kusiapkan bekal untuk melanjutkan hidup. Semoga, kalian terima pemberianku dan menjaganya dengan baik. Terima kasih, Para Agent-ku," imbuh Souta yang membuat S serta lainnya mengangguk menahan kesedihan.
__ADS_1
"Para SYLPH. Pengabdian kalian sejak kita bertemu di Afganistan hingga hari ini tak pernah kulupakan. Kalian para pejuang wanita terhebat dan terkuat yang pernah kujumpai. Aku sangat kagum pada kalian. Didikan ayahku Komandan Zeno, membuat kalian tak hanya tangguh, tapi juga memiliki jiwa ksatria. Kalian menemukan cinta sejati pada akhirnya. Atas pertolongan kalian dan pengorbanan kala itu, kuberikan hartaku yang telah kupersiapkan. Terimalah, dan jaga dengan baik. Aku menaruh hormat pada kalian semua. Terima kasih," ucap Souta yang membuat Verda serta lainnya berlinang air mata di tempat mereka berada.
"Selanjutnya, orang-orang yang dulunya mengabdi pada tuan Sutejo. Aku sangat berterima kasih karena pada akhirnya kalian percaya padaku untuk meneruskan kepemimpinan beliau. Aku tak mengenal pak Sutejo dengan baik, tapi beliau percaya padaku dengan menyerahkan aset-asetnya. Aku tak ingin menjadi manusia yang tamak. Kerja keras kalian selama ikut bersamanya dan bersamaku, sudah kupersiapkan sejak lama untuk kukembalikan pada kalian. Itu hak kalian. Oleh karena itu, tunggulah surat yang sudah kukirimkan untuk kalian yang seharusnya akan diterima ketika musim semi nanti. Maaf, jika harus menunggu lama," ucap Souta yang membuat Eko, The Kamvret dan para Biawak tersentak.
"Ki-kita dikasih pesangon sama mbak Vesper gitu?" tanya Biawak Cokelat terkejut.
"Iya, Bro. Bener, Bro. Ya Allah, aku sampai menyebut namamu," ucap Biawak Hijau ikut tercengang.
"Lalu ... para anggota Dewan 13 Demon Heads sekalian. Suatu kebanggan bagiku yang dulunya bukan siapa-siapa bersanding bersama kalian untuk menjadi penguasa dengan cara kita masing-masing. Aku tak menyangka akan bisa berjaya sampai sejauh ini. Namun, masaku telah habis. Setiap orang yang bernyawa pasti akan mati dan saatnya bagiku untuk menutup mata. Kuselesaikan tugas terakhirku dengan menuntaskan dendam. Maaf, jika tugas terakhirku tidak maksimal dan membuat diantara kalian harus kehilangan orang-orang terkasih. Aku bukan Tuhan yang bisa mengendalikan semuanya. Aku hanya seorang manusia yang berakhir menjadi seorang penjahat. Aku ... manusia kotor yang bersalah. Maafkan aku sebagai permintaan terakhirku," ucap Vesper yang membuat para anggota Dewan terpaku meski wajah mereka menunjukkan kesedihan.
"Terakhir," ucap Souta yang membuat semua orang terkejut. "Jangan menangisi kepergianku. Akan kusampaikan salam kalian semua kepada para pendahulu kita yang telah tiada. Akhirnya, aku bisa bertemu dengan ayah dan ibuku, Hashirama dan Jiao Yu. Semoga, mereka tak menyesal karena melahirkan puteri sepertiku. Mungkin, harapan mereka saat kubesar nanti tak sesuai, tapi ... aku berusaha keras untuk menjadi seorang puteri yang membanggakan. Doakan aku saat bertemu para pendahulu, mereka tak marah karena mengecewakan mereka. Semoga, kami tak bertengkar saat di alam sana nanti," ucap Souta yang membuat beberapa mafia senior tersenyum karena bagi mereka itu sedikit lucu.
"Kalian keluargaku, selamanya akan seperti itu sampai akhir napasku. Kak Han, Kai ... terima kasih sudah menemani hari-hariku dan sabar dengan segala keegoisanku. Aku tak pernah menyangka bisa merasakan kebahagiaan ketika menikahi kalian berdua bersama empat anak kita. Kalian selalu ada di sisiku dan memaafkan segala kesalahanku. Maaf, jika aku tak bisa menjadi seorang isteri seperti harapan kalian. Namun, satu hal yang harus kalian tahu, sampai akhir hidupku, aku sangat mencintai kalian. Akan kusimpan rapat cinta ini dalam kuburku. Jangan pernah lupakan aku, dan ... jangan mengikuti kematianku. Berjanjilah untuk menjaga anak-anak kita. Pastikan cucu-cucu kita hidup tenang sampai pada akhirnya kalian menyusulku. Aku bersumpah, jika kalian nekat bunuh diri, aku akan melemparkan kalian kembali ke Bumi!" bentak Souta, tapi hal itu membuat Han dan Kai terkekeh.
"A-aku hanya mengikuti tulisan Vesper-sama," ucap Souta tergagap saat ditatap tajam oleh Eko yang akhirnya tak menangis lagi.
"Bikin kaget aja loh, tapi kamu cocok jadi pendongeng. Ya udah, lanjut," ucap Eko yang kembali menurunkan surbannya.
Souta mengangguk lalu membuka halaman terakhir, tapi ternyata kosong. Hanya saja, ada tulisan di ujung bawah kertas itu.
"Apa tulisannya, So?" tanya Eko yang ikut mendekatkan wajahnya ke tulisan kecil itu.
"Selamat tinggal semua. Aku ... menyayangi kalian semua. Vesper."
Praktis, mata Souta dan Eko saling bertatapan. Benar saja, tiba-tiba ....
PIIPPP ....
Jeremy, Victor, dan Yu Jie menoleh. Mereka terkejut saat melihat detektor jantung di tubuh Vesper menyuarakan bunyi yang sangat mereka takuti.
"Vesper!" teriak Jeremy panik.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
Tengkiyuw tipsnya💋 Jadi ... ya begitulah. Jadi eps kali ini judulnya bagi-bagi warisan😆 Gak ush nangis kalau kalian gak kebagian. Lele padamu❤️
__ADS_1