4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Amplop Merah Maroon*


__ADS_3

Afro dengan sigap menarik tangan Sandara dan mengajaknya menjauh dari orang-orang yang dibuat shock dengan penuturannya.


Vesper berjalan melenggang menuju ke sofa dan duduk di sana. Doug mengikuti Vesper seraya memanggil pelayan untuk menyajikan kudapan untuk para tamunya.


Para bodyguard Vesper, Red Ribbon dan Jibran akhirnya ikut duduk. Mereka membiarkan Sandara menyelesaikan masalahnya dengan sang kekasih.


Afro membawa Sandara ke taman di halaman belakang rumahnya dengan tergesa. Sandara terlihat sedih dan hanya bisa menurut di mana pemuda itu terlihat kecewa padanya.


"Kau membuat kesepakatan berbahaya seperti itu pada Sudan? Berapa jumlah para kolektor itu? Bagaimana dengan kemampuan tempurnya?" tanya Afro menatap Sandara tajam.


"Mereka ... ada 11 pemimpin termasuk om Ahmed. Mereka memiliki pasukan berkerudung. Seperti para SYLPH, tapi ... berjumlah banyak," jawab Sandara tertunduk.


Afro terlihat makin terkejut dan tertekan dengan pengakuan Sandara.


"Tessa, Sierra, Click and Clack, Cassie, Tobias, Venelope dan para Pion, mereka kini berada di pihak kita, Dara. Termasuk anggota pasukan The Eyes, Gagak dan The Circle lainnya. Kau gila dengan menumbalkan mereka demi janin tak berayah itu?" tanya Afro melotot di depan gadis cantik di depannya.


Seketika, mata Sandara melebar.


"Kau pikir aku senang dengan keadaan ini, ha? Aku hamil dari pria yang tak kucintai! Aku menderita dalam cengkeraman No Face selama ini. Aku terluka dan bahkan hampir mati! Aku membunuh pria yang menyelamatkan nyawaku selama disiksa mereka! Aku sendirian di luar sana! Kau ke mana?! Kau pengecut yang takut dengan gertakan papaku hingga tak berani mencariku! Kau pengecut, Kak Afro!" teriak Sandara meluapkan semua isi hatinya.


Afro tertegun mendengar perkataan dari mulut gadis yang kini berlinang air mata. Afro terdiam.


"Aku memberikan pengecualian untukmu. Hanya untukmu. Bukan Tobias, bukan Sierra, bahkan yang lainnya. Kuberikan kau hidup atas nyawaku, tapi kau mengatakan seolah-olah aku tidak waras?" tanya Sandara dengan wajah berkerut menahan tangis.


Afro diam menatap Sandara saksama terlihat tertekan.


"Kak Nathan lebih mementingkan para wanitanya dan tak peduli dengan keselamatanku. Aku datang padanya untuk menyelamatkannya, tapi dia mengabaikanku. Kau tahu apa yang kurasakan saat itu hingga saat ini? Hem?" tanyanya tegas dengan wajah sudah memerah. Afro menggeleng. "Sakit hati," ucapnya penuh penekanan.


"Dan kak Juna, kak Lysa. Apa mereka mencariku? Tidak. Aku bahkan sampai tak tahu sudah berapa lama aku disembunyikan dari dunia. Mereka bisa merasakan kebahagiaan dengan menikah dan memiliki keluarga. Sedang aku? Apa yang kudapatkan? Luka yang sangat menyakitkan di fisik dan hatiku. Aku seperti dilupakan. Seakan jika aku ditemukan sudah menjadi bangkai, mereka hanya menangis, tapi berujung dengan merelakan. Begitukah ... kisah hidupku? Semenyedihkan itukah?" tanya Sandara menatap Afro lekat.


"Dara ...," panggil Afro lirih terlihat sedih.


"Kau lebih memilih Tessa dan lainnya ketimbang aku? Seperti yang dilakukan oleh kak Nathan?" tanya Sandara sedih.


Afro tak menjawab. Ia berjalan mendekati Sandara seperti ingin memeluknya, tapi gadis itu melangkah mundur.


"Aku tak butuh pelukan. Aku butuh ... pembuktian," tegasnya.


"Apa yang kau inginkan dariku sebagai pembuktian?"


"Kill them. Bunuh orang-orang The Circle itu. Jika kau tak bisa melakukannya, aku rasa ... sudah cukup penantianku. Aku tak mau berharap lagi. Kau ... akan menjadi masa laluku. Dan aku, akan mencintai Jibran sebagai gantinya," jawab Sandra serius dengan wajah dingin.


Mata Afro terbelalak lebar. Ia terlihat shock dengan permintaan Sandara. Pandangan Afro tak menentu, ia terlihat enggan melakukannya.


"Aku sudah tahu. Pengorbananmu tak sebanding dengan cintaku padamu, Kak Afro. Seperti yang kukatakan, kau, pengecut," ucap Sandara seraya berpaling dan melangkah pergi.


"Dara!" panggil Afro lantang, tapi gadis cantik itu melangkah dengan cepat tak menghiraukan seruan dari pemuda yang memanggil namanya seraya berlari untuk menggapainya.


Di ruang tamu kediaman Elios.


"Oh, dia sudah datang. Sepertinya ... kita sudah tahu hasilnya," ucap Jibran dengan senyuman saat melihat kedatangan Sandara dengan wajah dingin. Semua orang tegang seketika.


"Jibran," panggil Sandara berjalan cepat ke arahnya.


"Yes, My love," jawabnya seraya berdiri dengan senyum menawan.

__ADS_1


"Kita menikah."


Praktis, mata semua orang melebar.


"No!" bantah Afro yang muncul dengan napas tersengal seraya memegangi perutnya yang kembali terasa nyeri. Ketegangan kembali terasa di ruangan besar itu. "Tidak! Aku bilang tidak!" serunya lantang berjalan dengan langkah gusar mendatangi Sandara yang berdiri memunggunginya. "Dia, milikku. Kau, menyingkirlah. Bukankah, kau hanya ingin anak darinya nanti, ha? Kalau begitu, pergilah. Kau akan mendapatkan bayimu setelah ia lahir nanti," tegas Afro langsung memeluk Sandara dan tak mengizinkan kekasihnya itu bertatapan dengan Jibran.


Afro menunjuk pria berambut abu-abu putih itu tajam dengan napas menderu. Jibran balas menatap Afro dalam diam yang terlihat marah padanya.


"Dara. Kau ingin menikah dengan Afro atau Jibran?" tanya Vesper tenang di sofanya.


"Kak Afro belum mengatakan bersedia dengan persyaratanku, Mah," jawab Sandara.


Vesper, melirik Afro yang terlihat gugup dan masih memeluk Sandara erat.


"Aku ... aku setuju," jawabnya dengan napas terengah.


"Aku tak dengar," sahut Sandara yang membuat semua orang terlihat tegang.


"Aku setuju! Akan kulakukan!" jawab Afro lantang dengan mata melotot dan terlihat lelah dengan tekanan yang diterimanya.


"Terima kasih, Kak Afro. Tak salah aku mempertahankan cintaku padamu selama ini," ucap Sandara seraya melepaskan pelukan dan menatap Afro lekat.


Afro memegangi wajah Sandara dengan kedua tangannya. Ia mengantukkan dahinya ke dahi gadis cantik itu dengan mata terpejam.


"Sungguh, kau membuatku seperti orang gila, Dara. Berhentilah membuatku khawatir," ucap Afro terdengar bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


"Aku berjanji, ini yang terakhir. Tak akan kubiarkan mereka menyiksaku lagi," jawabnya menatap Afro lekat yang masih memejamkan mata.


Jibran menghembuskan napas panjang terlihat kecewa. Vesper tersenyum lalu berdiri dari tempatnya duduk.


Vesper melirik Doug, dan pria itu mengantarkan Jibran karena pria tampan itu akan bermalam di kediaman Afro. Jibran akan kembali ke negaranya esok hari.


Vesper memberikan waktu bagi Afro dan Sandara untuk saling melepas rindu. Namun, ia meminta agar Sandara pergi ke dokter kandungan untuk memeriksa kehamilannya. Afro setuju.


Sore itu juga, keduanya pergi ke rumah sakit dijaga oleh 10 anggota Red Ribbon. Sedang Red Ribbon yang tersisa, mengajak Jibran makan malam di kediaman Afro.


Terlihat pria tampan itu seperti mulai akrab dengan para anggota Red Ribbon milik Vesper.



Kamar Vesper, Kediaman Afro.


"Eko," ucap Vesper seraya memberikan sebuah amplop berwarna merah marun kepada salah satu bodyguard-nya yang berdiri di hadapannya. Eko menerimanya dan memegangnya erat tak dibuka.


"James," panggil Vesper yang melakukan hal sama. James menerimanya terlihat serius.


"Tora." Pria berkepala gundul itu juga menerima seraya membungkuk hormat.


"Seif." Lelaki berkulit hitam bertubuh besar itu juga melakukan hal yang sama.


"Buffalo, Drake," panggil Vesper seraya memberikan masing-masing amplop untuk keduanya.


"Dan ... Eiji," ucap Vesper menyerahkan dengan senyuman.


"Ini ... apa nona Lily?" tanya Eiji penasaran.

__ADS_1


"Bukalah saat kalian sudah di kamar. Ingat, ini ... rahasia kita. Hanya aku, kalian, Kai dan Han saja yang tahu. Sisanya, tak ada," jawab Vesper duduk di pinggir ranjang dengan wajah sendu.


"Lainnya?" tanya James heran. Vesper menggeleng.


"Aku percaya dengan orang-orangku yang selama ini setia padaku. Hanya saja ... aku tak ingin mereka terlibat terlalu jauh. Aku mengandalkan kalian dan dua suamiku untuk menyelesaikan ini semua. Bisakah ... aku mengharapkan kalian untuk menyelesaikan konflik turun-temurun ini?" tanya Vesper.


Para bodyguard itu terlihat ragu dan saling memandang, tapi pada akhirnya mengangguk.


Vesper mempersilakan orang-orangnya untuk meninggalkan dirinya di kamar sendirian.


Buffalo keluar paling akhir karena ingin memastikan Vesper tidur dengan nyaman. Buffalo menyelimuti tubuh Vesper dan meninggalkan kecupan kasih di keningnya.


"Terima kasih, Fal. Semoga ... kau selalu bahagia. Tinggal sedikit lagi, dan semuanya akan selesai," ucap Vesper dengan mata terpejam.


Buffalo hanya mengangguk dengan senyuman tak menjawab. Entah kenapa, ucapan Vesper terasa menyesakkan untuknya.


Para bodyguard Vesper yang penasaran dengan isi surat itu segera kembali ke kamar untuk membukanya.


Jantung mereka berdebar kencang seketika. Para bodyguard Vesper yakin jika isi surat itu berisi permintaan yang memiliki resiko sangat besar dan berdampak ke seluruh jajaran.


"Oh, shitt," umpat lirih semua bodyguard Vesper saat membuka dan membaca isi surat itu di kamar masing-masing. Ekspresi terkejut, tapi penuh tekanan, terlihat jelas di wajah mereka.


Keesokan harinya, Jibran pamit pulang ke negaranya. Jibran diantar oleh 5 anggota Red Ribbon sampai ke bandara. Pemuda tampan tersebut terbang menggunakan pesawat komersil kelas bisnis.


Afro sudah memantapkan hatinya jika ia memilih Sandara di hadapan Vesper dan orang-orangnya siang itu di kediamannya.


Sandara terlihat malu saat sedang didandani oleh Buffalo di kamarnya. Malam itu, Afro ingin mengajak gadis cantik itu untuk makan malam berdua di atap rumah.


Afro masih trauma dengan kejadian terakhir. Ia khawatir jika mereka akan diserang lagi jika muncul di tempat umum mengingat Miles dan orang-orangnya belum menampakkan diri lagi.


"Terima kasih, Afro, atas kemurahan hatimu untuk menerima Sandara kembali. Kepedulianmu sangat dibutuhkan Sandara untuk memulihkan traumanya," ucap Vesper berjalan berdampingan dengan calon menantunya di sepanjang jalan setapak taman belakang.


"Saya yang seharusnya mengucapkan terima kasih karena membawa Sandara kembali, Nyonya," jawab Afro sungkan.


"Sudah tugasku sebagai Ibu untuk melakukannya," jawab Vesper lirih dan Afro mengangguk pelan. "Afro ... bisakah kau melakukan satu hal padaku, tanpa melibatkan Sandara. Hanya kita berdua saja?" tanya Vesper seraya menghentikan langkah.


"Apa itu, Nyonya?" tanya Afro menatap Vesper serius.


"Informasikan padaku semua pergerakan Sandara mengenai penyerangannya kepada The Circle. Aku hanya ingin memastikan jika aksinya tak terlalu mencolok sehingga militer harus turun tangan. Bisakah ... aku mengandalkanmu?" tanya Vesper menatap pemuda tampan itu penuh harap.


"Ya, tentu saja. Saya tahu, Anda tak mungkin diam saja, Nyonya Vesper. Aku mungkin memang tak bisa membaca pikiranmu, tapi ... sepertinya Anda bisa mengerti apa yang kupikirkan," jawabnya dengan senyuman. Vesper tersenyum tipis. "Biar kutebak. Anda sengaja membawa Jibran kemari agar aku cemburu bukan? Hem, itu berhasil, sangat berhasil." Vesper tersenyum lebar menunjukkan gigi putihnya. "Aku berjanji akan selalu mencintai Sandara, Nyonya. Dia benar tentang satu hal. Aku terlalu takut dan pengecut selama ini. Mungkin sudah waktunya, aku menunjukkan diri tak bersembunyi untuk melindungi orang yang kucintai. Terima kasih, Nyonya. Kau berperan banyak di hidupku," ucap Afro berwajah sendu.


Vesper tersenyum lebar dan memeluk Afro erat. Afro balas memeluk hingga matanya terpejam.


"Berhentilah memanggilku, Nyonya. Panggil aku Ibu atau sejenisnya, terserah saja," pinta Vesper dan Afro mengangguk senang.


"Mom," jawabnya dengan senyum terkembang. Vesper balas tersenyum saat keduanya kembali berhadapan.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


__ADS_1


Udah ni eps bonusnya. Panjang nih. Semoga syuka dan tengkiyuw tipsnya😍 Ditunggu sogokannya lagi untuk besok🤭 Lele padamu❤️


__ADS_2