
...IPO IPO IPO...
...AWAS AWAS AREA ORANG DEWASA!...
...YANG MASIH BOCIL MINGGIR!...
Jordan seperti kehilangan kesadaran untuk beberapa saat. Entah bagaimana caranya ia sudah berada di atas ranjang dan kini berbaring tanpa satu helai pun kain di tubuhnya.
Hingga pemuda itu merasakan sebuah sentuhan menggelitik di kakinya. Jordan menumpu tubuh bagian atasnya dengan siku.
Matanya terkunci pada Naomi yang kini merangkak di tubuh bagian bawahnya sembari mendaratkan kecupan di kakinya bergantian.
Jantung Jordan serasa mau meledak, saat bibir tipis itu telah sampai di titik menara. Mata Jordan melebar ketika ujung pelurunya dilahap secara perlahan oleh mulut sang kekasih.
Waktu terasa begitu lambat. Pemuda bermanik biru tersebut bisa merasakan misilnya terkena pelumas dan gerigi lembut sedang memolesnya di dalam sana.
Jordan roboh dan memegangi kepalanya yang mendadak terasa berat. Pikirannya kacau, dan malah bisa dibilang tak dapat berpikir karena terlalu nikmat.
"Agh ...," rintihnya lirih yang lolos begitu saja dengan mata terpejam rapat.
Naomi menyeringai. Wanita cantik itu bisa merasakan pinggul Jordan bergerak dengan sendirinya seperti meminta untuk dimasukkan lebih dalam lagi di mulutnya, tapi Naomi memilih untuk memberikan sesuatu yang lebih dahsyat.
Jordan membuka mata saat ia merasa jika pekerjaan memoles sudah selesai. Namun, segitiga Naomi yang sudah tak berpelindung yang malah di arahkan ke misilnya.
Kening Jordan berkerut, saat melihat Naomi berusaha memasukkan miliknya yang telah tegang dengan memeganginya lembut agar tak menyakitinya.
Jordan bisa merasakan ujung tumpulnya ditekan kuat, dan sensasi sulit itu malah membuat ia tak sabar untuk segera merasakan level selanjutnya.
SLUP!
"Oh!" kejut Jordan saat miliknya masuk dalam selongsong misil dan mulai dikongkang agar semakin padat.
Jordan terlena, meski nafasnya terasa tercekik. Ia bisa melihat dengan jelas wajah Naomi memerah dan begitu menikmati sensasi yang mengalir dalam tubuhnya saat ia menaik-turunkan pinggulnya.
Jordan terpancing. Ia yang masih ragu menyentuh isterinya malah terkejut, saat Naomi meraih jemari tangannya lalu ia letakkan di buah dadanya.
__ADS_1
Naomi menempelkan kedua tangan Jordan seperti meminta untuk dipijat. Jordan mulai paham. Perlahan, ia meremat dua gumpalan ranum itu dan Naomi mulai merintih.
Jordan perlahan menyadari, setiap sentuhan yang ia berikan ke tubuh Naomi, gelanyar nikmat muncul dan membuat lawan mainnya menjadi semakin agresif.
'Ah, harus dipicu. Aku paham,' ucapnya dalam hati dengan jantung berdebar.
Jordan semakin kuat meremat, tapi gumpalan itu malah semakin padat dan bulatan menggemaskan di tengah ikut mengeras. Jordan bingung dengan teknis kerja dua gundukan indah itu.
Semakin ia menekannya, gumpalan itu malah menyumbul. Seakan tangannya tak cukup untuk menangkap keduanya.
'Indah sekali. Pemandangan ini sangat indah. Suara rintihan Naomi seperti senandung angin berbisik,' ucapnya dalam hati yang semakin ingin melakukan lebih.
BRUK!
Naomi jatuh ke pelukan Jordan dan terlihat mulai lelah dengan aksinya. Namun, Jordan masih bersemangat. Ia bergulung ke samping dan kini ada di atas tubuh sang isteri.
Dua netra mereka saling berpandangan dan kembali menyatu dalam bibir tipis yang mereka rekatkan.
Naomi melebarkan kakinya dan Jordan bisa merasakan miliknya tertelan sepenuhnya. Jordan kembali merasakan sensasi luar biasa saat Naomi memegangi kedua pantatnya dan mendorong pinggulnya agar misilnya semakin masuk ke dalam.
'Sungguh aneh. Semakin basah dan licin, malah semakin nikmat. Oh, aku tak mau ini cepat berakhir,' pintanya dalam hati yang sudah jatuh dalam kenikmatan.
Pemuda berambut cokelat itu merasa bebas dan lebih leluasa dalam beraksi. Ia tak bisa menghentikan aktivitas liarnya di malam pertamanya itu.
Jordan sudah tak canggung lagi. Ia malah menjadi agresif hingga nafasnya menderu. Peluhnya sudah bercampur dengan gairah untuk terus bercinta.
Kulit Naomi yang halus dan tubuhnya yang padat karena ia wanita petarung, membuat Jordan terlena karena lawan mainnya mampu mengimbanginya.
Rintihan sang isteri membuatnya menjadi kecanduan. Dan praktis, menenggelamkannya dalam romansa percintaan.
"Hem, apakah kau puas dengan pelayananku, Nona Naomi?" tanya Jordan saat ia mendekatkan wajahnya hingga bisa merasakan hembusan nafas sang kekasih di kulitnya.
Naomi tak bisa menjawab. Matanya terpejam, dan hanya suara rintihan kenikmatan yang ia sajikan dalam setiap pelayanan ekstra dari sang suami.
Jordan semakin ganas dalam dorongannya. Energinya meluap dan membuat Naomi tak berkutik saat Jordan menyiksanya dengan sodokan kuat si daging panjang.
__ADS_1
Naomi tak bisa berhenti untuk terus memanggil nama Jordan tiap ia mengerang. Jordan semakin kasmaran. Darahnya mendidih. Ia menciumi, memijat dan terus menyodokkan miliknya tanpa henti hingga Naomi pasrah dengan yang dilakukan sang suami.
"Oh!" kejut Naomi saat Jordan tiba-tiba saja menekan tubuhnya.
Tubuh Jordan menegang ketika ia menggelontorkan seluruh amunisinya bahkan tak ada aba-aba.
Nafas Naomi terengah. Ia yang sudah lemas karena keagresifan Jordan hanya bisa pasrah saat suaminya menggelinjang hebat di atas tubuhnya seraya memeluknya erat.
Naomi tersenyum. "Aku harap, akan menjadi bayi yang lucu dan kuat saat besar nanti, sama seperti Ayahnya," bisik Naomi sembari mengelus rambut berkilau Jordan.
"Hem," jawab Jordan dengan senyuman dan membiarkan tubuhnya tergolek di atas sang isteri.
Naomi terkekeh, tapi perlahan ia menyingkirkan tubuh suaminya karena terasa berat. Jordan menatap Naomi yang kini memandanginya lekat dengan senyuman.
"Aku mau lagi," pinta Naomi sambil menggigit bibir bawahnya terlihat malu.
"What?"
"Kau lelah?" tanyanya kecewa.
"Tidak. Sepertinya ... misilku masih bisa diluncurkan sekali lagi," jawabnya dengan senyum tipis.
Senyum Naomi terkembang. Ia merapatkan tubuhnya dan mencium bibir Jordan untuk kesekian kali.
Jordan sudah tak canggung lagi. Ia mulai terbiasa dengan sentuhan lembut sang isteri, bahkan ia tak rela melepaskan tubuh Naomi yang sudah menjadi candu baginya.
"Kau milikku, dan tak akan kubiarkan siapapun menyentuh, atau memilikimu," tegas Jordan berucap di telinga kiri sang isteri.
Naomi tersenyum. "I love you, Jordan," ucapnya seraya mengelus lembut wajah sang suami dengan jemari tangannya, menelusuri tiap jengkal lekukan indra di paras mempesona pria yang kini menjadi teman hidupnya.
***
Eps ini anggap aja bonus. Baik kan ekeh. Lagi mumet soalnya krn banyak kerjaan ampe bingung mau selesein yg mana dulu.
Tipsnya lele sisipin di next eps aja. Tar mimin baca dia gelisah (geli-geli basah) kan lele bingung tanggungjawabnya.
__ADS_1
Oia sekalian info. Nanti mulai senin tgl 4 Okt sd minggu 10 Okt, lele akan up 1 eps dulu karena udah ditagih sama MT buat setor naskah SIMULATION untuk di cetak.
Tetep tips koin aja, tar lele bayar utang pas luang. Boom like audio book jangan lupa ya. Tengkiyuw~