4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Menyesakkan Hati*


__ADS_3

Sandara lesu seketika. Rasa sesak kini menyelimuti hatinya. Matanya bergerak mengikuti kerangkeng yang turun perlahan. Gadis cantik itu meneteskan air mata.


"Oh, gadis kecil kita menangis. Sepertinya ia tahu apa yang akan terjadi," ucap wanita bercadar emas mengejek kepiluan Sandara.


"Kenapa kalian begitu keji?! Kenapa harus Liu?!" tangis Sandara dalam amarahnya. Jerapah itu terlihat kebingungan dan tampak normal tak seperti hewan-hewan buas lainnya. "Mau kalian apakan dia?!" teriak Sandara lantang dengan emosi memuncak.


"Apakah ... kau bisa menyelamatkan nyawanya?" tanya MC melebarkan mata.


Sandara terlihat bingung. Jerapah itu keluar dari kerangkeng besi yang mengurungnya. Sandara berlari mendekati hewan kesayangannya yang kini sudah tinggi dan telah dewasa.


"Hiks, Liu. Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Sandara memeluk leher hewan malang itu yang kini menurunkan lehernya. Liu seperti bisa mengerti kesedihan sang majikan.


Semua penonton terdiam melihat Sandara dan Liu jerapah seperti berkawan akrab.


"Oh, pemandangan yang sungguh indah. Nah, kita lihat, apakah Liu bisa bertahan di arena ini? Hehehe."


Mata Sandara terbelalak ketika pintu di ruangan itu terbuka, dan muncul sebuah kerangkeng besi dengan hewan berkaki empat yang juga ia kenali, tapi terlihat buas dan liar.


Sandara menjadikan dirinya tameng ketika menyadari, hewan tersebut adalah Afro si anjiing.


"Kalian apakah Afro?!" teriak Sandara marah.


"Yah, sedikit serum monster untuk membuatnya agresif."


Afro di masukkan dalam kerangkeng besi. Liu jerapah terlihat gelisah. Ia mengeluarkan suara seperti tahu jika hal buruk akan terjadi. Sandara segera menyiagakan pedangnya dan berdiri di depan Liu untuk melindunginya.


'Liu adalah hewan. Meskipun dia hewan peliharaan, tapi instingnya tetap tak bisa membuatku mengendalikannya. Jika tak hati-hati, aku bisa terinjak olehnya. Ini sulit,' ucap Sandara terlihat bingung dengan tindakannya karena Liu mulai panik.


KLANG!


"Hargggg," erang Afro dengan mulut berliur dan mata merah ketika pintu kurungannya di buka.


Afro masuk melalui pintu yang Sandara gunakan tadi. Sandara masih berdiri di depan Liu, meski jerapah itu mulai melangkahkan kakinya ke belakang dengan leher bergoyang-goyang naik-turun karena panik.


"Arrrr!"


"Afro, stop!" teriak Sandara lantang ketika Afro si anjiing mulai berlari ke arahnya dengan beringas.Dan benar saja, Liu panik dan berlari.


DUKK!! BRUKK!!


"Agh, Liu!" teriak Sandara lantang, saat tubuhnya tersenggol kaki jenjang Liu dan membuatnya jatuh tersungkur. Namun ternyata, Afro tak mengincar si jerapah, ia membidik Sandara.


Badan Liu yang besar terhantam kurungan besi hingga suara getarannya mengejutkan semua orang.


Afro fokus pada sasarannya. Sandara memasukkan pedangnya kembali ke dalam sarung dan menggunakan sarung tersebut untuk menghentikan aksi dari Afro.


BRAKK!!


"Egghhh, Afro!" teriak Sandara kencang, saat rahang Afro tertahan oleh sarung pedang ketika akan menggigitnya.


Sandara beradu kekuatan dengan Afro yang berusaha untuk menggigitnya dengan ganas. Ketika suasana tegang mencekam, sebuah kurungan diturunkan dari atas.

__ADS_1


Kepala Sandara mendongak saat gadis Asia itu dalam posisi berlutut mempertahankan tubuhnya yang terus di dorong dan berusaha digelimpangkan oleh Afro.


"Roarrr."


"Oh, Lion?" ucap Sandara dengan wajah berkerut saat ia menyadari jika hewan dalam kurungan tersebut adalah singa milik ayahnya—Kai.


BRANG!!


"Agh!" Sandara merintih karena tak mampu melawan kekuatan Afro, ditambah memang ia tak ingin melukainya. Punggung Sandara terhantam dan kini terpepet jeruji besi.


Kurungan Lion telah mendarat di lantai arena yang dikelilingi jeruji besi menjulang tinggi sampai ke atap. Lion keluar dari kurungan dan melihat Liu si jerapah kembali gelisah karena kedatangannya.


"LION!" teriak Sandara lantang dan dengan sigap melepaskan dorongan kuatnya pada sarung pedang. Sandara dengan cepat menarik pedang Persia-nya dan bergulung ke samping.


"Hargh! Grrr," erang Afro melemparkan sarung pedang yang tersangkut di rahangnya ke samping.


Empat makhluk itu kini saling menunjukkan posisinya di empat sisi dari arena itu. Para penonton terlihat tegang.


Tampak di sana, seekor anjiing yang terkena serum monster. Seekor singa dan jerapah normal tak terkena serum. Yang terakhir, seorang gadis kecil bersenjata pedang dengan kuda-kuda bertahan memposisikan senjata tajamnya melintang di depan tubuh dengan darah merembes di bahunya.


Sandara melihat kepala serigala yang terpenggal di samping kakinya. Sandara terpikirkan untuk menggunakan cara yang sama untuk mengalihkan perhatian dari dua hewan karnivora itu.


GLUNDUNG ....


Lion mengendus bangkai kepala serigala itu, tapi bukannya di makan, Lion malah menggunakannya seperti bola untuk bermain.


Kening Sandara berkerut. Ia menyadari satu hal jika Lion sudah makan dan ia kenyang. Tak ada niatan baginya untuk menyerang, Sandara tersenyum miring.


Sandara menusuk bangkai tikus dan melemparkannya ke arah Afro, tapi hewan itu malah menganggap gerakan Sandara sebagai tanda jika ia mengajaknya bertarung.


"No, Afro! No!" teriak Sandara lantang dengan mata melotot.


DUANGG!!


"Arrrrggg!" Lion mengamum. Ia berlari ke arah Afro dan menyerangnya dari samping. Tubuh Afro terlempar dan menghantam jeruji besi.


Sandara terkejut dan melihat Lion berdiri di depannya, mengaum lirih, menunjukkan jika ia yang berkuasa di tempat itu. Senyum Sandara merekah.


"Hah, entah kau mengerti atau tidak yang kukatakan, tapi ... kalahkan dia, Lion. Kita harus selamat dari tempat ini," ucap Sandara dengan nafas tersengal menatap Lion penuh harap, meski ia menjaga jarak.


Sandara terlihat takut dengan hewan tersebut karena Lion seperti akan menggigitnya.


"Grrrr, guk! Guk! Hargggh!"


KRAUKK!!


Lion mengerang. Afro menyerangnya dan kini menerkam punggungnya dengan kuku tajam menancap di kulitnya saat singa itu lengah karena memperhatikan Sandara.


Mata Sandara terbelalak melihat pertarungan antara Lion dan Afro dalam kurungan. Sandara gemetaran dan tak bisa bergerak karena dua hewan itu bertarung sengit penuh dengan luka karena tak mau mengalah. Sandara merangkak mendekati Liu, menyingkir dari pertarungan.


BRANG!!

__ADS_1


"Aaaaa!" teriak Sandara, ketika tubuh Afro terlempar dan menghantam jeruji besi tepat di depannya merangkak. Afro merintih kesakitan, meski ia tetap terlihat buas. Mata Sandara melotot dan tubuhnya mematung ketika kepala Afro bergerak ke arahnya dan mengerang, siap untuk mencabiknya. "No, Afro, no," ucapnya sedih.


"Harrghhh!"


SREETT!!


"Agh!" rintih Sandara saat Afro melompat ke arahnya hingga Sandara jatuh terlentang. Ia menggunakan tangan kirinya untuk menahan gigitan Afro yang hampir mengenai wajahnya. "Agghhh!" erang Sandara saat Afro mengoyak lengannya hingga yukata-nya robek dan gigitan itu mengenai kulit mulusnya.


KRAUKK!!


"Harrghhh!" Afro merintih dan gigitannya terlepas.


Tangan Sandara berdarah hebat. Ia terkapar di lantai dengan wajah pucat dan tubuh gemetaran.


Sandara melihat Lion menerkam tubuh Afro dan menggigit lehernya hingga anjiing itu merintih karena singa itu tak melepaskan gigitannya.


"Hiks ... Afro ...," tangis Sandara sedih, saat melihat Afro tewas karena gigitan Lion.


Sandara tengkurap di lantai, tak peduli dengan luka di tubuhnya. Hatinya terasa tercabik melihat hewan tersebut mati mengenaskan karena terkena serum monster hingga tak mengenalinya.


Kesedihan meraup jiwanya. Sandara menangis sejadi-jadinya. Ia membiarkan tubuhnya tengkurap di atas lantai di saksikan semua orang.


"Oh, sungguh malang nasib Afro anjiing manis kita. Hem, itulah hukuman bagi siapapun yang berusaha menolongmu, Sandara. Dan ... melihat Lion sepertinya berpihak padamu, dia ... juga harus dihukum," ucap MC keji.


Tangis Sandara sirna. Matanya langsung terbuka dan wajahnya terangkat meski sudah tergenang air mata.


Ia melihat pintu kerangkeng dibuka dan Venelope muncul dengan sebuah pistol dalam genggaman terarah ke tempat Lion berada.


"No!"


SHOOT! CLEB!


"Arrrrr!" Lion mengerang, ketika perut sampingnya tertusuk peluru bius dengan cairan berwarna hijau mulai mengalir masuk ke tubuhnya.


"No!" teriak Sandara lantang dan berusaha merayap lalu melepaskan suntikan bius yang tersisa setengah.


Mata Sandara terbelalak saat Lion mulai menunjukkan sisi lain darinya. Wajah Sandara berkerut. Terlihat jelas, ketakutan dan kesedihan bercampur jadi satu dalam dirinya.


"No, Lion no ...," ucapnya kembali menangis seraya bergerak mundur ketika mulut Lion mulai berliur dan matanya berubah merah dengan erangan serta kuku runcing yang mencuat dari balik bulu lebatnya.


More info :




***


makasih tips koinnya. lele padamu❤️ sebelum baca eps berikutnya sebaiknya baca dikit dulu part akhir eps sebelumnya biar feel-nya lebih terasa. biasakan baca seperti itu tiap mau buka eps baru yg lele sajikan. tengkiyuw


__ADS_1


__ADS_2