
Di sisi lain, tempat Bambang, Iwan, dan Bayu berada.
"Mereka beneran gak ada kabar. Kita harus waspada. Siapa tahu Kai dan Eko disergap oleh musuh. Segera hubungi pusat, minta kiriman bantuan," perintah Bambang berbisik karena ia sudah mencoba puluhan kali untuk menghubungi markas, tapi tak tersambung.
Bayu menelepon Pusat Komando di Borka. Tentu saja, Eiji panik dan segera meneruskan informasi ini ke Pos Darurat terdekat dari Markas Javier di Afrika Selatan.
Ikhsan, salah satu anak buah Javier yang ditugaskan di sana, segera mengirimkan 1 regu Black Armys beranggotakan 10 orang milik Vesper untuk membantu penyelidikan.
Dibutuhkan kurang lebih 4 jam penerbangan untuk tiba di Angola.
Orang-orang itu terbang menggunakan pesawat sipil dengan set Silent Gold agar tak terlacak oleh sistem keamanan di Bandara termasuk Rainbow Gas tanpa bom yang teridentifikasi seperti sebuah aksesoris gantungan kunci.
Para Black Armys menyamar dengan mengaku sebagai pemain theater yang akan memeriahkan sebuah acara di Luanda, Angola. Petugas Bandara pun percaya dan mereka berhasil terbang hari itu juga tanpa kesulitan.
Di Markas Rumah Pondok tempat Kai dan Eko bertugas.
"Hati-hati," ucap Bambang dengan pistol siap dalam genggaman.
Iwan mematikan mesin dan mendayung perahu tersebut agar pergerakan mereka tak diketahui. Mereka juga sengaja melabuhkan perahu sejauh 100 meter dari Markas dan berjalan melalui tepian.
"Gimana?" tanya Bambang yang bersembunyi di balik semak dan mengintai luar pondok.
"Sensor panas deteksi ada orang di dalam sana, tapi cuma satu," jawab Bayu dari teropong.
"Oke. Bambang jalan duluan, lindungi ya," ucapnya serius. Bayu dan Iwan mengangguk siap.
Bambang mengendap masuk dengan hati-hati mendekati Pondok dari sisi Timur mengincar jendela. Ia akan menyusup dari dalam kamar, di mana sensor panas mendeteksi ada pergerakan manusia di ruang tengah tempat Kai dan Eko bekerja.
Bambang berhasil masuk dari jendela kayu kamarnya. Bayu kembali meneropong dan mendapati sensor panas dari Bambang yang mendekati orang tak dikenal itu.
Namun seketika, "Weh! Mereka berantem! Masuk, Wan, masuk!" pekik Bayu panik.
Dua anggota The Kamvret segera berlari menuju Pondok dari pintu depan dengan tergesa. Saat sudah di depan pintu, DUAKK!!
"Arghhh!"
BRUKK!
"Adoh! Alah biyung, boyokku," keluh Iwan karena wajahnya terhantam pintu dengan keras dan langsung terdorong ke belakang menabrak Bayu. Dua pria itu jatuh bergulung-gulung sampai ke halaman.
Sosok putih itu keluar dengan membawa dua buah koper besar dan berlari kencang menuju ke perahu motor yang tadi digunakan oleh anggota The Kamvret untuk melarikan diri.
"Woi!" teriak Bambang sembari memegangi hidungnya yang berdarah dan mata berkedip berulang kali seperti orang hilang kesadaran.
__ADS_1
"Siapa itu, Bam?" tanya Iwan seraya berdiri sembari memegangi pinggangnya.
"Gak tau, tapi Bambang yakin kalau itu cewek. Tadi Bambang gak sengaja pegang buah dadanya. Hehe," ucapnya terkekeh dengan darah menetes dari lubang hidungnya.
"Hem, mesum. Pantes mimisan," sahut Bayu malas.
"Ini bukan mimisan karena mesum, sembarangan! Bambang kena tonjok. Sumpah, itu cewek pukulannya kuat banget. Tangannya dari batu apa ya, sampai linglung Bambang," jawabnya seraya mendongak agar darah yang menetes di hidungnya kembali masuk ke dalam.
"Eh, Kai sama Eko gimana?" tanya Iwan panik seraya berjalan masuk ke Pondok dengan tertatih.
Tiga orang itu kembali masuk ke dalam rumah untuk mencari keberadaan mereka. Para pria itu awalnya panik, tapi kemudian bernafas lega.
Kai dan Eko tergeletak di sofa seperti orang tidur, tapi mereka yakin jika mereka pingsan entah siapa pelakunya.
"Bangunin cepat! Bayu barusan coba hubungi tim Jonathan gak bisa. Katanya 2 jam gak kasih kabar, kita harus ke sana. Ini udah satu jam, tinggal sejam lagi. Semoga mereka gak papa," ucap Bayu cemas.
Iwan dengan sigap melepaskan kaosnya. Bayu dan Bambang bingung.
Seketika, "Huekkkk! Ohok! Ohok!" Eko langsung terbangun dan batuk-batuk seperti orang mau muntah.
Dua anggota The Kamvret menyingkir dan bergidik ngeri karena cara membangunkan Iwan tidak rasional.
Iwan menggunakan ketiaknya yang berambut lebat mengalahkan rindangnya pepohonan di luar Pondok untuk menyadarkan Eko.
"Hehe, gak dong. Bambang pilih kasih. Bambang akan bangunin dengan kasih sayang," jawabnya yang kini duduk perlahan dan bertingkah genit. Kini, tiga pria itu bergidik ngeri.
"Kai, Sayang. Bangun dong. Mau jatah gak? Nanti keburu diambil sama Han loh. Bangun dong, Yang," ucapnya mesra seraya mengelus pipi halus Kai.
"Nggilani! Awas kamu deket-deket Eko. Demi Tuhan Yang Maha Kuasa, tak sunat kamu," ucap Eko bengis menunjuknya.
Bambang tertawa terbahak. Dan ternyata, tawanya itu berhasil membangunkan Kai meski matanya masih sayu. Empat pria itu bersorak gembira. Kai terlihat bingung karena Iwan duduk di sampingnya bertelanjang dada.
"Agh, bau apa ini?" ucapnya mengibaskan tangan di depan wajah dan terlihat mual.
Iwan langsung menyingkir dan memakai kembali bajunya. Eko, Bayu, dan Bambang menahan tawa. Iwan bersiul seraya memalingkan wajah sambil berdiri.
"Eko? Apakah ... kita pingsan?" tanya Kai langsung melebarkan mata.
"Iyes, Eko yakin gitu. Tadi tau-tau ada gas di dalem rumah terus kita tepar. Kurang ajar, siapa itu yang lakuin. tapi, kita kok gak papa ya?" tanya Eko seraya meraba tubuhnya karena ia tak merasakan sakit apapun.
"Eh, orang tadi bawa koper gede loh. Cek, cek, jangan-jangan ada barang yang hilang!" pekik Bambang mengingatkan.
"Wadoh!" sahut Eko langsung panik.
Lima orang itu sibuk mengecek perlengkapan yang mereka bawa untuk memastikan tak ada barang yang hilang, tapi ternyata, ada beberapa.
__ADS_1
"Pemancar fatamorgana radius 1 km dan 500 meter hilang!" teriak Bambang dari sebuah kamar tempat ia menyimpan alat itu.
"Rainbow gas satu set ilang! Uasuuuu!" sahut Eko dari kamar lainnya.
"Koper si Hadi ilang. Semua isi kopernya berserakan di lantai," sahut Iwan dari kamar kawannya itu sembari menggenggam semvak serta celana kolor keluar pintu.
"Perahu kita ilang, Bro!" sahut Bayu memegangi kepalanya saat menyadari jika perahu yang ia sandarkan di pinggir sungai raib.
"Maling kurang ajar! Beneran Eko sunat kalo ketemu. Gemes sampai ubun-ubun sumpah!" pekiknya kesal.
"Eh, dia cewek, Ko. Yakin, Bambang," ucapnya sembari menggerakkan kedua telapak tangan di depan dada seperti meremat-remat sesuatu.
"Ha? Cewek. Siapa lagi tuh?" tanya Eko terlihat berpikir serius.
"Gak tau. Dia pakai topeng, jubah putih. Semua serba putih," sahut Bambang mantab.
"Wait-wait. Semua perlengkapan kita memiliki GPS. Aku akan mencari lokasinya, kita masih bisa mengejar," ucap Kai memecah keriuhan.
Kai segera memeriksa perlengkapan mereka yang hilang dengan bantuan GIGA. Satelit Theresia menemukan lokasi benda-benda itu. Letaknya tak jauh dari tempat mereka berada.
"Dari rutenya aku yakin, jika dia akan meninggalkan Angola. Segera susul ke Bandara," perintahnya tegas.
Iwan, Eko, dan Bayu segera meninggalkan lokasi dengan mobil yang berada di sana.
Namun ternyata, "Uassuuuu! Bannya dirobek, Suuu! Bener-bener cewek sialan! Dia bikin kita kaya orang bego yang gak bisa ngapa-ngapain. Eko dendam kesumat!" teriaknya marah hingga suara teriakannya terdengar sampai ke dalam pondok.
Kai menghela nafas. Namun, ia tak habis ide. Ia mengunci lokasi peralatannya itu dan meneruskan temuannya kepada Eiji jikalau sinyal itu hilang. Eiji menerima tugas darurat itu dengan cekatan.
Kawan seprofesi Kai dulu saat menjadi bodyguard, dengan sigap memetakan rute kemungkinan perempuan tersebut meninggalkan Angola dari semua jadwal penerbangan hari itu.
Eiji juga menyusup ke kamera Bandara untuk menangkap sosoknya yang tak diketahui seperti apa wujud aslinya.
Eiji dan petugas di Pusat Komando Kastil Borka terlihat sibuk untuk mengungkap sosok yang sudah dua kali muncul dan tak diketahui dari pihak mana ia berasal.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
doain semoga novel The Red Lips lolos review dan bisa publish di MT. abis itu jadwal up makin ambrul adul karena lele on going 5 novel. kwkwkw😆
Masih eps bonus ya, jadi lunas ya bonus 2 epsnya. Jangan lupa tips koinnya karena mulai besok up ditentukan dari tips koin yg masuk. lele ngikutin jejak matre mbak Vesper demi kelangsungan hidup di Mangatoon sebab level novel betah di 7. kwkwkw. Lele padamu❤️
__ADS_1