4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Senjata Makan Tuan*


__ADS_3

Di sisi lain. Jonathan kembali ke Ceko bersama timnya dan langsung menemui paman BinBin yang telah menunggu di mansion ditemani dua asisten cantiknya. Ungu genit juga berada di sana, meski terlihat dua lelaki itu saling membenci satu sama lain.


Hadi juga ikut hadir. Salah satu anggota The Kamvret tersebut ingin memberikan laporan keuangan dan meminta persetujuan Jonathan untuk modifikasi mobil tua non-tempur dari pelanggan sipil yang tinggal di Praha/Prague. Namun, Hadi masih berada di ruang kerja untuk merapikan laporannya.


"Paman," sapa Jonathan dengan senyum terkembang memeluk pria tua itu.


"Sudah baca pesanku?" tanya BinBin balas memeluk dan Jonathan mengangguk.


Anak ketiga Vesper tersebut memanggil Sierra yang terlihat sibuk dengan tablet dalam genggamannya seperti sedang memeriksa sesuatu. Gadis cantik itu dengan sigap mendatangi BinBin yang menatapnya tajam.


"Jonathan sudah mengatakan semuanya padaku, dan aku telah menyimpulkan," jawabnya cepat dan terlihat serius.


"Apa yang kautemukan?" tanya BinBin menyipitkan mata.


"Miles akan datang kemari."


"What?!" pekik Jonathan dan semua orang yang berada di sana terkejut seketika.


Tak lama.


"Jo! Tim gagakmu membelot! Ada segerombolan orang bertopeng datang ke bengkel. Mereka lemparin bom asap dan gas halusinasi ke anak buahmu. Mobil tempur kita dicolong semua! Jingukk!" pekik Hadi lantang dengan nafas tersengal mendatangi kumpulan orang-orang yang berkumpul di ruang tengah.


"Yang 35 orang itu?!" tanya Jonathan melotot.


"Iya. Mereka kaya di cuci otak, terus tau-tau pada masuk ke mobil. Liat nih," jawab Hadi seraya memberikan tablet yang merekam semua kejadian baik di luar atau dalam bengkel dari kamera pengawas.


"Lacak dari GPS di mobil-mobil tersebut," sahut Ungu Genit langsung berdiri.


"Oia, kamu bener! Oke, sebentar," jawab Hadi seraya membalik tubuhnya untuk segera ke pusat kendali.


Saat Jonathan dan lainnya mengikuti Hadi di belakang, tiba-tiba ....


BLUARRR!!


"TIARAP!" teriak BinBin lantang yang langsung memegangi kepala dua asistennya dan mendekap keduanya dalam posisi telengkup di lantai, saat tiba-tiba saja dinding di sisi kanan mereka meledak dan melubangi lantai dua di rumah megah itu.


DODODODOOR!! PRANGG!!


Hadi spontan menutup kepalanya dengan kedua tangan dan terus berlari dengan tubuh membungkuk saat serencengan peluru memberondongnya ketika melewati sederetan jendela kaca di sisi kanan menuju ke tangga.


DUK! DUK! DUK!


"Suara itu ...," ucap Jonathan yang berhasil menghindari serangan dengan tiarap di lantai seperti BinBin bersama Sierra, Ungu dan Click and Clack di dekatnya. "MINI DOMINO!" teriaknya lantang.


Benar saja, BOOM! BOOM! BOOM!


KRAKKK!

__ADS_1


"AAAAAA!" teriak orang-orang di lantai dua saat lantai yang mereka pijak ambles setelah getaran hebat dan ledakan besar terjadi di lantai dasar.


Tubuh orang-orang itu terperosok dengan sangat cepat. Mereka kesulitan untuk bertahan karena serangan yang tiba-tiba. Tubuh mereka saling menimpa di atas reruntuhan puing.


"Hah! Hah!" engah Jonathan saat ia merasa tubuhnya sakit di semua bagian. Sierra mencoba bangun di mana orang-orang dalam kubu Jonathan terluka karena insiden itu.


Di luar kediaman Jonathan.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Ha! Memang sangat hebat karya Jonathan. Habiskan seluruh amunisi. Timbun mereka semua di rumah itu. Kita balas perlakuan keji mereka kepada para leluhur kita. Ratakan!" perintah Miles lantang dari sebuah mobil tempur karya Jonathan.


"Yes, Sir!"


KLIK!


SWOOSH!


"MISIL!" seru Ungu Genit saat melihat beberapa misil meluncur dari selongsong mobil tempur buatan Jonathan yang berjejer di jalanan aspal kawasan rumahnya.


Praktis, mata semua orang melebar. Orang-orang itu mencoba untuk segera bangun karena mereka tertimbun reruntuhan, tapi ....


BLUAR! BRUSHH!


"ARRGHHH!" erang orang-orang itu saat luncuran misil meratakan bangunan di sisi selatan dan meruntuhkannya.


Jonathan dan lainnya tertimbun, tak bisa menghindar dari senjata buatan Vesper Industries yang diterapkan dalam mobil tempurnya.


Semua anggota tim gagak yang membelot karena terkena dampak gas halusinasi segera turun dari mobil.


Namun, ketika sekumpulan pria itu telah siap dengan pistol dalam genggaman untuk menembak, tiba-tiba saja, DOR! DOR! DOR!


"Shitt!" pekik Miles langsung menoleh ke asal suara tembakan dan mendapati Venelope telah berdiri tegak dengan pistol dalam genggaman.



Venelope terlihat fokus dengan bidikannya. Ia terus menembak dan menghabiskan seluruh amunisi dari jenis pistol revolver. Miles dengan sigap masuk kembali ke mobil dan meminta anak buahnya untuk mundur.


Venelope berlari seraya memasukkan peluru-peluru tersebut dengan cepat mencoba menghentikan aksi kabur Miles. Namun, SWOOSH!


Mata Venelope melebar, ketika sebuah misil diluncurkan dari bagian belakang mobil tempur Jonathan ke arahnya. Venelope berlari sekencang-kencangnya menghindari lontaran dari senjata RPG tersebut.


BLUARRR!!


"Arghhh!!"


BRUKK!

__ADS_1


Venelope jatuh dalam posisi tengkurap terkena gelombang ledakan yang cukup besar di dekatnya. Beruntung, dirinya sempat menghindar meski dampak serangan itu tetap membuatnya terluka dan tak sadarkan diri.


Naas, serangan itu tak terdeteksi oleh jajaran 13 Demon Heads karena kediaman Jonathan dilengkapi pemancar fatamorgana. Alarm penyerangan juga tak dikirimkan. Orang-orang itu tergeletak dan tertimbun di reruntuhan tanpa ada yang menyelamatkan.


Hingga entah sudah berapa lama mereka tak sadarkan diri.


PIP ... PIP ... PIP ....


Perlahan, Jonathan membuka matanya di mana seluruh tubuhnya terasa kaku dan nyeri. Pemuda itu melirik sekitar dan mencoba membuka matanya lebih lebar.


Rumah sakit? tanyanya dalam hati karena bibirnya terasa kering dan tenggorokannya sakit.


Ia melirik dan melihat beberapa orang berbaring di ranjang pasien dengan perlengkapan medis terpasang di sekujur tubuh mereka dalam kondisi tak sadarkan diri.


Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari sepasang sepatu dengan langkah berat. Jantung Jonathan berdebar, tapi ia tak bisa menoleh karena lehernya terpasang penyangga entah apa yang terjadi padanya.


Praktis, mata Jonathan melebar saat ia mengenali seragam yang dipakai pria tersebut layaknya Kapten pasukan khusus militer. Jonathan menelan ludah.


"Speak English?" Jonathan memejamkan mata sejenak lalu membukanya sebagai tanda jika ia bisa bahasa tersebut.


Terjemahan.


"Kami telah mengidentifikasi data diri kalian. Jadi ... diserang oleh sesama mafia? Miris sekali," ucap pria berseragam hitam tersebut dengan sebuah papan kayu dalam genggamannya berisi lembaran kertas yang dijepit. Jonathan tak bisa menjawab karena lehernya terasa sakit.


"Siapa musuh kalian kali ini?" tanyanya membungkukkan badan. Jonathan masih diam tak bisa menjawab. Bibirnya terasa kaku.


"Tak usah repot-repot menjawabnya. Kalian bisa mengatakannya saat di penjara nanti. Ada segudang pertanyaan siap menunggu kalian, dan apapun hasilnya, kalian akan mendekam di penjara, untuk, selamanya. Selamat," ucap pria berseragam itu dengan senyum merekah.


Pria yang terlihat berumur hampir 50 tahun itu kembali berdiri tegak seraya melihat para tahanannya yang masih tak sadarkan diri.


Jantung Jonathan berdebar kencang. Ia melihat beberapa pria berseragam militer masuk ke ruangan lalu mendorong ranjang-ranjang pasien tersebut ke suatu tempat.


"Oia, satu lagi. Terima kasih atas aksi menghebohkan kalian. Kini ... kami tahu, kenapa kalian sangat sulit sekali ditemukan. Yah, mengenal benda ini?" tanya pria itu saat anak buahnya menenteng sebuah pemancar fatamorgana radius 500 meter dalam genggaman meski telah rusak.


Mata Jonathan melebar, ia ingin melawan, tapi ternyata, kedua tangan, kaki dan pinggangnya diikat kuat.


"Hahaha! Akhirnya, teknologi Vesper Industries kami dapatkan. Dengan ini, jajaran 13 Demon Heads, tidak akan pernah menemukan keberadaan kalian," ucapnya dengan senyum terkembang.


Jonathan panik, saat dua tentara mendorong ranjang pasiennya menuju keluar dari ruangan tersebut.


Jonathan pucat seketika, bukan karena sakit yang dideritanya, tapi saat ia melihat sebuah pesawat kargo telah siap untuk membawanya serta seluruh orang-orangnya ke dalam benda terbang itu entah menuju ke mana.


Jonathan memejamkan matanya rapat serasa ingin menangis, tapi air matanya tak bisa keluar.


Ia melihat para tentara militer itu menatapnya tajam dengan wajah bengis, lengkap dengan persenjataan dalam genggaman. Jonathan pasrah, dan hanya bisa bernafas semampunya karena dadanya terasa sesak.


***

__ADS_1


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


__ADS_2