
Ternyata, kedatangan Lysa seperti telah ditunggu oleh para Black Armys yang mendapatkan peringatan di warung ramen daerah Yokohama.
Para Black Armys penjaga itu tak segan melakukan aksi balas pada Lysa yang sudah gelap mata dengan aksinya.
Padahal ia sudah diyakinkan oleh anak buah Vesper jika sosok yang ia cari tak ada di tempat tersebut.
Namun ternyata, dugaan Lysa terbukti. Ia sengaja memancing para kloningan pembunuh Tobias agar muncul di tempat ia melakukan keributan.
"Akhirnya kaumuncul juga!" seru Lysa geram dan segera keluar dari sebuah kedai Ramen milik sang ibu—Vesper.
Lysa selalu melakukan aksinya di malam hari ketika toko telah tutup. Ia sengaja menunggu dan menyerang di jam tersebut karena tak ingin melibatkan polisi dalam aksinya kali ini.
Meskipun tangannya terluka dan terkilir karena aksi sebelumnya, hal itu tak menyurutkan ambisinya untuk mencari pembunuh Tobias.
"Lysa sekarang berada di Shizuoka? Hem, aku mengerti. Jika dia sudah datang ke sana, tak mungkin akan datang lagi. Dia pasti akan bergerak ke tempat lain. Terima kasih informasinya. Bereskan kekacauan yang dia buat. Anggaplah, ini salah satu latihan kalian," tegas Kai dari sambungan telepon yang ia terima dari laporan salah satu markas Vesper yang diserang.
"Kai," panggil Vesper yang tiba-tiba muncul ke kamar Kai di rumah pondok tersebut.
Kai dengan sigap menutup panggilan telepon tersebut. Ia segera beranjak mendatangi sang isteri yang kini telah kehilangan seluruh rambutnya. Vesper meminta rambutnya dicukur habis karena mengalami kerontokan parah.
"Ya, Sayang. Kenapa kaubangun? Kaulapar? Ingin kumasakkan sesuatu?" tanya Kai penuh perhatian seraya mendatangi sang isteri. Vesper menggeleng dengan wajah pucat.
"Apa kau sudah tahu di mana anak-anakku berada? Aku ingin menemui mereka. Aku ... merindukan mereka, Kai. Setidaknya, biarkan aku bertemu mereka untuk terakhir kali," tanya Vesper sendu menatap wajah suami termudanya.
Kai terlihat iba dengan kondisi sang isteri yang terlihat makin memburuk dari hari ke hari karena sudah tak ada lagi serum sebagai penunjang hidupnya.
"Belum, Sayang. Aku akan mengusahakannya. Percaya padaku dan Han. Mereka akan segera kemari. Bersabarlah," jawab Kai dengan senyuman seraya mengelus pipi sang isteri lembut.
"Aku hanya ingin minta maaf pada mereka karena tak bisa menjadi Ibu yang baik. Aku ... tak bisa memberikan contoh kepada mereka. Kini, anak-anakku pergi dariku. Mereka pasti membenciku," ucap Vesper terlihat sedih dengan pandangan tertunduk.
Kai langsung memeluk Vesper erat sampai matanya terpejam. Vesper balas memeluk Kai dengan lesu.
"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Mereka pasti akan datang, tunggu saja. Ayo, kuantar kau ke kamar lagi. Kau harus banyak beristirahat, Sayang," pinta Kai dan Vesper mengangguk pelan.
Vesper berjalan perlahan di samping Kai dengan merangkul tangannya. Kai berusaha untuk tetap tegar di samping sang isteri yang mulai rapuh dari hari ke hari.
Kai membaringkan Vesper di ranjang dan menemaninya tidur. Perlahan, Vesper memejamkan mata. Kai memeluk isterinya yang kini tidur di bahunya.
"Bertahanlah, Sayang. Akan kukabulkan permintaanmu. Bertahanlah," ucap Kai sedih dan berusaha keras menahan air matanya.
...***...
Kali ini, Lysa bertemu dua orang yang membawa pedang pembunuh Tobias. Lysa geram karena dugaannya benar jika banyak kloningan dan ia dipermainkan.
Lysa tak memberi ampun kali ini. Meskipun ia melawan dua orang itu dengan satu tangan, hal itu masih membuatnya tak mampu bertahan melawan serangan yang ditujukan padanya.
SRETT!
"Arrghhh!" rintih Lysa ketika tangan kanannya terkena sabetan pedang pembunuh Tobias yang kali ini bilahnya tajam karena pedang itu sungguhan.
Lysa masih menggengam pedang Silent Blue miliknya dengan kuat. Namun, Lysa yang sudah bosan, ingin segera menyelesaikannya.
"Di mana dia? Di mana orang yang membunuh suamiku Tobias?!" teriak Lysa lantang yang kembali berlari ke arah dua orang tak dikenalnya itu.
Dua orang itu kini waspada karena Lysa menyalakan laser pedang tersebut. Lysa dengan agresif terus menyudutkan lawannya hingga mereka tak bisa berkutik.
Pedang mereka terbelah karena tak sepadan dengan Silent Blue ciptaan BinBin itu.
"Harrghh!"
KRASSS! GLUNDUNG ... BRUKK!
__ADS_1
"Entah kalian pembunuh sebenarnya atau bukan. Bagiku ... kalian sama saja," ucap Lysa bengis saat pedang lasernya berhasil menebas dua kepala musuh ketika pedang mereka telah kehilangan ketajamannya.
Lysa memungut dua pedang yang telah rusak itu dan menjadikannya satu dengan pedang temuan lainnya.
Lysa mematikan laser pedangnya dan segera pergi dari tempat itu dengan berlari kencang sebelum ada yang melihat aksinya.
Namun siapa sangka, para Pion masih mengamati pergerakan Lysa dari jarak jauh.
"Bagaimana?"
"Aku yakin, diantara orang-orang yang muncul itu, pembunuh asli belum menampakkan diri. Semua orang itu masih kloningannya. Pembunuh asli, tak mungkin dikalahkan begitu mudah. Terlebih, orang yang ia bunuh kala itu adalah Tobias," tegas Pion Dakota yang mengamati dengan teropong di sebuah pohon tak jauh dari lokasi.
"Hem. Aku juga berpikir demikian. Oke, terus ikuti Lysa. Jangan sampai ketahuan," sahut Pion Dexter dari sebuah mobil tempat ia mengintai.
"Copy that," jawab semua Pion yang mengawasi di sekitar tempat.
Lysa berlari tergesa menuju ke tempat sepi menuju ke Suruga Bay di malam yang sudah larut.
Napas wanita itu tersengal. Ia terluka lagi tiap bertemu dengan kloningan pembunuh Tobias yang entah jumlah mereka berapa, seakan tak ada habisnya.
Lysa duduk dengan lemas dan kembali sedih. Tubuhnya sakit, begitupula hatinya. Ia sendirian mencari pembunuh suaminya dan tak ada yang membantunya.
Ia hanya ditemani cahaya rembulan yang terlihat begitu penuh malam itu di tengah kesunyian malam.
"Tak ada yang peduli padaku," ucapnya sedih dengan mata berkaca.
Saat Lysa sedang termenung, ia melihat sebuah kapal di lautan seperti tak bergerak. Mata Lysa menyipit dan ia mengambil teropong untuk melihatnya lebih jelas.
"Itukan ...," ucapnya langsung melebarkan mata.
Seketika, Lysa langsung berdiri. Orang yang berdiri di geladak kapal nelayan itu seperti menunggunya.
Orang itu melambaikan tangan memintanya untuk datang ke sana. Lysa melihat sekitar dan bingung bagaimana caranya ia pergi ke kapal tersebut.
Namun, ia merasa jika satu-satunya cara untuk mengetahui siapa pembunuh sebenarnya adalah dengan mendatangi pria yang memakai kostum serupa dengan ciri-ciri pembunuh Tobias.
"Agh, sial!" gerutu Lysa yang nekat untuk berenang sampai ke kapal tersebut.
Lysa memplester lukanya agar darah tak menyeruak ketika ia menceburkan diri ke dalam air nanti. Bagaimanapun, ia yakin tetap ada hiu atau ikan predator lain yang akan mengincarnya.
Saat Lysa nekat untuk berenang, tiba-tiba, ia melihat ada kilatan lampu dari sisi kanan yang menarik perhatiannya.
Lysa menoleh dan mendapati sebuah kayak yang berada di tepian pantai tanpa pemilik. Lysa segera berlari ke arah kayak itu lalu melihat sekitar.
Lysa tak mendapati penjaga kapal dayung itu. Lysa mengambil jaket pelampung yang tersedia dan mengenakannya dengan tergesa.
Ia lalu mendorong kayak itu ke tepi air dan BYUR!!
Dengan sigap, Lysa mengambil dayung yang telah tersedia di dalam kayak tersebut dan menggunakannya.
Lysa menahan perih pada lukanya karena ia harus mendayung kuat menuju ke kapal nelayan tersebut.
Lysa terus mendayung dengan sekuat tenaga. Orang yang mengenakan kostum dan membawa pedang pembunuh Tobias seperti sengaja menunggunya di pinggiran kapal dengan santai.
Ia masih menutupi wajahnya dengan caping. Orang itu menikmati jagung rebus dalam genggaman. Lysa makin geram karena ia merasa dipermainkan olehnya.
Hingga akhirnya, "STOP!" seru orang itu seraya mengarahkan bonggol jagung yang telah habis ke hadapan Lysa saat kayak tersebut hampir tiba di kapal.
Mata Lysa menajam dan masih memegang dayung dalam genggamannya. Orang itu berdiri perlahan. Sosoknya tak ia kenali termasuk suaranya karena tertutupi oleh gelapnya malam.
__ADS_1
"Jika kau menemukan pembunuh Tobias, apa yang akan kaulakukan selanjutnya?" tanya orang itu yang suaranya disamarkan seperti menggunakan sebuah alat.
"Aku akan membunuhnya," jawab Lysa tegas.
Orang itu mengangguk. Namun tiba-tiba, ia mengambil sebuah botol kaca yang telah ia persiapkan sejak kemunculannya di samping kakinya.
Lysa melihat orang itu melemparkan botol tersebut ke arahnya. Dengan sigap, Lysa langsung menangkap botol tersebut meski harus menahan sakit.
Lysa melihat ada surat dalam botol itu. Ia mengambil dan membuka gulungan dalam botol itu lalu membaca isinya. Beruntung, cahaya bulan masih menerangi meski redup. Praktis, mata Lysa melebar.
"Jika kaubersedia melakukan kesepakatan denganku, tanda tangani dengan darahmu. Kuberikan pembunuh Tobias saat ini juga, tepat di depanmu," tegasnya.
Tanpa pikir panjang, Lysa melepaskan balutan dari plester yang menutup luka barunya. Lysa mengoleskan telunjuk kirinya ke luka yang mengeluarkan darah itu dan membubuhkan tanda tangan di kertas tersebut.
Lysa menggulung kertas itu lagi dan memasukkannya dalam botol. Ia melemparkan dengan sekuat tenaga ke arah pria bercaping.
Dengan sigap, orang itu menangkapnya. Lelaki tersebut membuka gulungan dan melihatnya. Ia lalu memasukkan kertas itu lagi ke botol setelah memastikan kesepakatannya.
Mata Lysa menajam dan tangannya dengan sigap menarik pedang Silent Blue. Ia siap untuk menemui pembunuh Tobias dan mengakhiri nyawa orang itu.
Namun seketika, mata Lysa melebar. Ia melihat tiga orang muncul dari dalam kapal dengan pakaian serupa.
Lysa waspada dan mengganti senjatanya dengan busur panah. Ia membidik empat orang itu sekaligus dengan satu buah panah peledak yang di arahkan ke kapal.
Pria itu meminta agar Lysa menahan serangannya. Lysa tetap membidik dengan sorot mata tajam ke arah kapal jika ternyata ia dibohongi.
Namun, Lysa melihat keanehan dari tiga orang yang berdiri di sekeliling pria tersebut. Mata Lysa menyipit saat ia melihat tiga orang itu melucuti pakaian yang dikenakan pria yang memberikannya botol tadi.
Seketika, mata Lysa terbelalak lebar ketika caping itu dilepaskan dari kepalanya.
"To-Tora?" tanya Lysa tergagap.
Tora merentangkan kedua tangannya. Ia yang sudah bertelanjang dada dan hanya menutupi tubuh dengan celana panjang yang ia kenakan terlihat siap untuk dibunuh.
"Lakukan. Selesaikan dendammu, dan berjanjilah, setelah itu ... kautunaikan janjimu yang telah kautorehkan dengan darahmu. Aku minta maaf, Lysa. Ya, akulah pembunuh suamimu, Tobias. Dia pantas mati atas Mitsuki, Tokio dan semua orang yang telah dibunuhnya. Lakukanlah," ucap Tora menatap Lysa sendu di pinggiran kapal.
Praktis, tangan Lysa gemetar. Ia melihat tiga isteri Tora melepaskan caping yang selama ini menutup sosok mereka.
Tiga wanita itu menundukkan wajah terlihat begitu sedih. Mereka meneteskan air mata dan berdiri di sekitar suami mereka yang telah siap untuk mati.
"Lakukanlah, lalu ... hentikan kegilaan ini. Temui keluargamu, mereka merindukanmu," ucap Tora sendu.
Tangan Lysa bergetar hebat. Air matanya mengalir deras karena tak pernah menduga jika Tora-lah pembunuh suaminya selama ini.
Ia baru tahu alasan Tora membunuh sang suami. Dendam yang sama, nyawa dibalas dengan nyawa, membuat Tora nekat membunuh pria yang dicintainya.
Lysa tak menyangka jika selama ini Tora masih menyimpan dendam pada pria bertato itu atas kematian Mitsuki dan Tokio.
"Hiks, hiks, arrghhhh!!" teriak Lysa lantang dengan air mata saat ia melesatkan panahnya ke tubuh pria berkepala botak itu.
"Tora-san!" teriak tiga isteri Tora saat Lysa melepaskan panahnya dengan air mata menetes, membanjiri wajahnya.
SHOOT! BLUARRR!
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Uhuy😍 tipsnya kapan upnya kapan. kwkwkw😆 tengkiyuw tipsnya. Lele padamu❤️ Selamat tahun baru imlek bagi yang merayakan. Selamat liburan!